
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Death Arena)
"Selamat datang! Para pemuda berjiwa panas! Kalian sangat di sambut di Death Arena ini!" Seru seorang lelaki paruh baya dengan wajah penuh bekas luka, saat melihat rombongan Theo berjalan memasuki pintu gerbang Death Arena.
Mendengar seruan tersebut, Theo segera berjalan menuju kearah sang pria sepuh yang saat ini sedang duduk bersila diatas meja.
"Ini adalah tempat registrasi! Dan aku adalah petugas registrasinya! Jadi, apa tujuan kalian datang malam ini? Ingin menjadi penonton, atau mendaftarkan diri sebagai petarung?" Tanya pria sepuh, saat kelompok Theo sudah berada di hadapannya.
Di dalam aula penyambutan Death Arena sendiri, saat ini tampak lalu lalang puluhan pengunjung. Kondisi di dalam Death Arena begitu kontras dengan keadaan luar. Malam yang sudah sangat larut, membuat keadaan di luar Death Arena sangat sepi, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di dalamnya, dimana sangat ramai pengunjung. Tampaknya semakin larut, maka akan terus bertambah ramai pengunjung Death Arena.
"Hmmm... Pak tua, kami adalah pendatang baru, dan ini adalah kunjungan pertama kami, jadi mungkin bila berkenan, tolong jelaskan terlebih dahulu satu atau dua hal yang perlu kami ketahui tentang Death Arena!" Tanya Theo.
"Ahhh… Pendatang baru ya! Maka mungkin akan sedikit memerlukan waktu agak panjang untuk memberi kalian penjelasan! Sejujurnya ini sangat merepotkan!" Dengus sang pria sepuh.
"Tak masalah! Kami punya cukup banyak waktu! Jadi mulai jelaskan saja! Lakukan tugasmu dengan benar!" Ucap Theo, tampak tak peduli dengan keluhan yang tadi sempat terlontar dari mulut pria sepuh di hadapannya.
"Hohoho…! Pemuda yang cukup menarik! Bagaimana mungkin aku tak melihat setitik ketakutan sama sekali pada sorot matamu? Sementara aku yakin semenjak kau tadi berjalan melihat kearahku, kau sudah mencoba untuk mengukur tingkat kultivasiku!"
"Yang tentunya tak berhasil kau lihat, dimana menunjukkan aku memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi darimu! Sebuah fakta yang biasanya akan membuat orang lain sedikit memasang sikap hormat dan sopan kepadaku! Menjaga mulut agar tak menyinggung pria tua ini! Dan sekarang, kau justru bersikap sebaliknya!"
__ADS_1
"Hahahha… Benar-benar menarik!" Ucap pria sepuh, kini mulai memandang Theo dengan cara pandang yang berbeda. Tak lagi menganggapnya sekedar bocah ingusan yang sedang iseng mengunjungi Death Arena untuk meningkatkan gengsi dan kekerenan.
"Pak tua, untuk ukuran orang dengan usia sepertimu, apakah dirimu sadar bahwa kau ini terlalu banyak bicara?" Ucap Theo.
Mendengar kata-kata Theo, pria sepuh segera mengerutkan keningnya. Tampak sedikit kesal dan tersinggung.
"Bocah! Jaga sikapmu! Jangan pikir hanya karena aku sedikit memuji, maka aku akan membiarkanmu terus bersikap kurang ajar!" Dengus pria sepuh, sambil mulai sedikit membocorkan auranya yang merupakan Knight dengan kelas King.
Disisi lain, Theo yang merasa lawan bicaranya kini mulai mencoba menekan dirinya dengan menggunakan aura, segera ikut membocorkan auranya juga. Dalam sekejap meredam tekanan aura si pria sepuh.
"Kau bilang aku bersikap kurang ajar? Bila aku kurang ajar, lalu dengan apa aku harus menyebut pria tua tanpa sopan santun sepertimu? Mencoba menelisik dan memindai seluruh tubuh seorang junior!"
"Dan lihatlah kini! Semakin bertindak tak sopan dan tak tahu malu dengan mencoba menekan seorang junior menggunakan aura!" Dengus Theo, dengan sorot mata penuh ketajaman. Kini juga mulai menyebarkan auranya lebih intens lagi. Dimana perlahan menekan balik aura sang pria sepuh.
Mendengar kata-kata Theo, pria sepuh bukan semakin kesal, tapi justru ekspresi kesalnya tiba-tiba lenyap, digantikan dengan ekspresi antusias penuh kepuasan.
"Hahhahha… Pemuda bermulut tajam yang sangat menarik! Kau lolos ujian!" Ucap pria sepuh.
"Ujian?" Gumam Theo, kini mulai menarik kembali aura miliknya. Yang mana dari tadi sudah menarik perhatian hampir seluruh pengunjung lain yang ada di aula penyambutan.
"Biasanya bocah-bocah seperti kalian, akan segera kutendang keluar dari sini setelah sedikit basa-basi ringan, hahahhaah….!" Ucap pria sepuh. Menutup kalimatnya dengan tawa lantang.
"Hmmm… Terserahlah! Sekarang jelaskan saja yang tadi sempat kutanyakan!" Dengus Theo.
"Hahhaha… Baiklah!" Jawab pria sepuh, sebelum akhirnya mulai menjelaskan.
Menurut pria sepuh, pengunjung yang datang ke Death Arena, selain di bagi menjadi dua jenis yang tadi sempat ia sebut yakni penonton dan peserta, ternyata masih di bagi lagi menjadi beberapa pengelompokan lain.
Bagi yang ingin menjadi penonton, dimana pastinya akan menjadi peserta papan taruhan dalam pertandingan Death Arena, mereka akan di bagi menjadi tiga, penonton dengan modal kelas tiga, penonton dengan modal kelas dua, dan penonton dengan modal kelas satu. Pembagian berdasarkan modal ini, bertujuan untuk menentukan tempat duduk dan status dari sang pengunjung Death Arena.
Penonton yang masuk dengan membawa modal 500.000 sampai 1.000.000 Mutiara Perunggu, maka mereka adalah penonton kelas tiga, duduk di ring paling atas dan terluar.
__ADS_1
Yang membawa modal diatas 1.000.000 sampai dengan 3.000.000 mereka adalah penonton kelas dua berada di ring tengah. Sementara pembawa modal 3.000.000 Mutiara Perunggu keatas, dianggap sebagai penonton kelas satu. Mendapat tempat duduk ring paling bawah, dimana berlokasi cukup dekat dengan arena, sehingga bisa mendapatkan visi paling baik untuk melihat jalannya pertarungan diatas arena.
Penjelasan kemudian berlanjut dengan pembagian pengunjung yang mendaftarkan diri sebagai peserta pertarungan.
Pria sepuh menjelaskan, untuk menjaga keseimbangan, ada batasan dalam tingkat kultivasi pertarungan Death Arena, maksimal hanya Knight dengan kelas General yang boleh ikut. Sementara untuk kelas King keatas, akan dilarang. Karena pertarungan di kelas ini, sudah akan memiliki level yang berbeda. Dapat menyebabkan kerusakan parah pada lingkungan sekitar.
Para petarung juga akan dibagi menjadi lima sub kelompok, yang di bedakan dari jenis keahliannya masing-masing. Kelima sub kelompok ini, bertanding di lima arena pertarungan yang berbeda.
Sub kelompok pertama di sebut dengan Arena Tangan kosong. Dalam arena ini, para peserta yang bertanding, hanya akan mengandalkan tubuh fisik mereka. Tanpa senjata. Pemenang dari Arena tangan kosong, akan menyandang gelar Kaisar Fisik.
Sub kelompok kedua, disebut Arena tongkat, dalam arena ini, hanya jenis senjata bertipe tongkat atau tombak yang diperbolehkan. Sang pemenang akan menyandang gelar Kaisar Tongkat.
Sub kelompok ketiga, disebut Arena senjata rahasia. Seperti namanya, hanya pengguna atau ahli senjata rahasia yang bertarung di arena ini. Dengan pemenangnya akan bergelar Kaisar Bayangan.
Sub kelompok keempat, adalah Arena pedang. Dikhususkan untuk para ahli pedang. Pemenangnya mendapat gelar Kaisar Pedang.
Sub kelompok kelima, disebut Arena senjata berat. Arena khusus untuk semua pengguna senjata berat seperti Palu dan Gada, pemenang Arena pertarungan ini, menyandang gelar Kaisar Penghancur.
"Jadi seperti itu!" Ucap pria sepuh, menutup penjelasannya yang sangat panjang dan detail, dengan senyum provokatif kearah Theo.
"Hmmm… Sangat menarik!" Gumam Theo. Tampak tak sedikitpun terprovokasi dengan senyum si pria sepuh. Kini ia terlihat sedang berfikir.
"Bagaimana? Kalian akan mendaftar sebagai apa? Untuk biaya masuknya, 50.000 Mutiara Perunggu perkepala!" Kata pria sepuh.
Mendengar pertanyaan tersebut, Theo tak segera memberi jawaban, tampak sedang bimbang menentukan sesuatu. Sebelum akhirnya setelah beberapa saat berfikir, ia terlihat telah mengambil keputusan.
"Temanku yang berbadan gemuk ini, akan menjadi penonton kelas satu! Kemudian bocah yang ada disana, daftarkan dia di Arena tangan kosong! Sementara aku sendiri, akan mencoba Arena Tongkat!" Kata Theo, seraya mengeluarkan 150.000 Mutiara Perunggu sebagai biaya pendaftaran.
-----
Note :
__ADS_1
Mohon maaf untuk kawan-kawan pembaca semua. Dalam dua hari ini, sepertinya saya akan sedikit sibuk. Jadi untuk membagi waktu, saya memutuskan hanya akan up satu chapter.
Cuma hari ini sama besok saja kok, Mohon pengertiannya ^^