
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Issabela terlihat termenung, memandang keluar dari keretanya. Entah dia sedang menikmati pemandangan atau hanya memandang kosong keluar. Saat ini ia tengah dalam perjalanan kembali ke Akademi Surga menggunakan kereta yang di tarik oleh Spirit Beast berbentuk Rusa Kutub.
"Nona muda?"
"Ahhh, iya. Sudah sampai mana kita?" Sapaan dari wanita paruh baya membuyarkan lamunan Issabela.
"Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah bukit merak." Jawab wanita paruh baya tersebut.
Wanita ini adalah tetua ke sembilan dari House Alknight, Lady Iruana Alknight. Satu-satunya wanita dalam house yang berhasil masuk kedalam jajaran tetua.
Prestasinya yang berhasil masuk kedalam jajaran tetua, mencatatkan namanya sebagai tetua wanita pertama dalam beberapa dekade terakhir di dalam house. Hal ini membuatnya menjadi idola dan panutan bagi para Knight wanita muda house Alkinght. Salah satunya adalah Issabela.
Bagi Iruana, Issabela sudah ia anggap sebagai muridnya sendiri. Karena dari kecil, dia sudah di tugaskan untuk merawat dan melatih Issabela mengenai dasar-dasar seorang Knight. Hal ini membuat hubungan keduanya sangat dekat. Apalagi Issabela sudah menganggap Iruana sebagai ibu keduanya.
"Bibi.. maafkan aku, akhir-akhir ini aku jadi sedikit tidak fokus ketika berlatih." Kata Issabela tiba-tiba.
Mendengar hal itu, senyum hangat menghiasi wajah Lady Iruana. Dia membuka kedua tangannya. Melihat hal itu, Issabela segera maju dan memeluk wanita di hadapannya.
"Nona muda, bukankah sudah kubilang, jangan pernah mencoba untuk terlihat tetap kuat dihadapanku, kau boleh menjadi dirimu sendiri dan meluapkan segalanya." Kata Lady Iruana lembut sambil mengusap rambut Issabela.
Issabela mulai menangis sesenggukan, meluapkan segala ekspresi yang selama ini dia tahan untuk tak ditunjukkan dihadapan ayah serta kedua saudaranya. Karena dia tak ingin terlihat sebagai beban.
"Bibi aku benci pertunangan ini, aku tak ingin terikat, aku ingin bebas dan menjadi seorang Knight yang menopang House seperti dirimu." Kata Issabela di tengah isak tangisnya.
Melihat Issabela yang sudah ia anggap seperti muridnya sendiri dalam keadaan seperti ini, Lady Iruana hanya bisa menghela nafas.
Lady Iruana merupakan satu-satunya tetua selain Lord Arduric dan Master Bosweric yang menentang pertunangan Issabela. Namun suara mereka kalah dengan tuntutan kebutuhan House. Seperti halnya Lord Arduric, Lady Iruana juga merasa sakit hati, murid satu-satunya yang ia didik dengan sepenuh hati, harus jatuh menjadi alat politik house.
"Sungguh menyedihkan, di usiamu yang masih sangat muda, kau harus ikut menanggung beban berat house kita." Kata Lady Iruana. Tangannya mulai bergetar karena kesedihan.
"Berhenti…!!!!"
Saat Issabela dan Lady Iruana masih hanyut dalam kesedihan, suara keras terdengar dari luar kereta.
"Apa yang terjadi?" Lady Iruana yang mendengar teriakan itu, segera bertanya kepada kusir dari dalam kereta.
"Lady, kita di hadang oleh sekelompok Bandit!" Jawab sang kusir.
"Bandit? Berani sekali!" Ekspresi wajah Lady Iruana segera menjadi menyeramkan. Dia saat ini sedang dalam suasana hati yang tidak baik, karena keadaan Issabela.
"Ahhh, lupakan, kebetulan aku juga memerlukan orang untuk di hajar, mereka datang tepat waktu." Katanya lagi.
"Nona muda, tolong tunggu disini, akan kuselesaikan ini dengan cepat."
__ADS_1
Issabela hanya mengangguk ringan, dia masih dalam kondisi malas untuk melakukan apapun, lagi pula sudah biasa ada Bandit rendahan yang mencoba merampok kereta perjalanan diwilayah bukit merak ini. Hanya saja bandit yang menghadang mereka saat ini sepertinya akan menendang plat besi keras.
"Hmmm hanya seorang nenek tua? Apa yang coba akan kau lakukan?" Kata salah seorang bandit ketika melihat Lady Iruana keluar dari dalam kereta.
Kelompok bandit ini beranggota cukup banyak, kurang lebih sepuluh orang, beberapa dari mereka membawa bendera berlambang lebah hitam.
"Nenek, sebaiknya dengan patuh serahkan semua barang muatanmu. Maka kau mungkin akan bisa selamat tanpa terluka setelah ini." Kata bandit lain.
Mendengar hal itu, Lady Iruana yang memang dalam kondisi tidak baik suasana hatinya, menjadi semakin geram.
"Kalian katak dalam sumur yang mencari kematian!" Kata Lady Iruana dingin. Aura Mana Angin yang kuat segera menyebar dari dalam tubuhnya.
Melihat aura kuat yang keluar dari Lady Iruana, beberapa bandit menjadi gentar, ketakutan. "Nenek sebaiknya kau patuh, tidakkah kau lihat bendera yang kami bawah? Kami adalah anggota dari kelompok bandit Lebah Hitam."
"Dan tidakkah kau lihat lambang dari bendera yang berkibar diatas kereta? Kami adalah rombongan dari House Alknight! Beraninya bandit rendahan seperti kalian menghadang perjalananku!" Bentak Lady Iruana balik dengan lantang. Aura yang ia keluarkan juga semakin meluas.
"Hou… House Alknight?" Salah satu bandit segera bergetar ketakutan.
"Bukankah kau bilang itu adalah lambang dari salah satu house kecil di pinggiran Hutan Pinus Beku?" Salah satu Bandit mengajukan protes kepada kawannya.
Kawan di sebelahnya yang mendengar protes dari temannya, bukannya memberi pembelaan, malah tersenyum aneh.
Kemudian dia memberi isyarat tangan, bersamaan dengan isyarat tersebut, beberapa anggota bandit segera membunuh kawan-kawan yang ada di sebelahnya. Lima orang tersisa setelah mereka saling bunuh. Kelima orang ini yang telah membunuh kawan-kawannya sendiri, kini menatap kearah Lady Iruana dengan tajam.
Lady Iruana yang melihat hal itu, sekarang berubah menjadi waspada, entah kenapa ada perasaan yang mengatakan bahwa situasi akan menjadi berbahaya.
"Nenek, serahkan nona mudamu sekarang juga, maka kami akan mempertimbangkan untuk membunuhmu tanpa rasa sakit." Kata salah satu bandit yang masih memegang pisau penuh darah.
"Siapa kalian sebenarnya?" Ketika menyadari, yang diincar oleh kelompok ini adalah Issabela. Lady Iruana sekarang sadar, mereka bukan kelompok bandit biasa.
Bersamaan dengan itu, empat orang di belakang berubah kedalam mode Knightnya masing-masing, bersiap maju menyerang.
Kini Lady Iruana tertegun, lawan-lawannya ternyata adalah kelompok dengan Kelas General awal, sama seperti dirinya.
"Cepat bawa nona muda pergi dari sini!" Teriak Lady Iruana. Melihat kondisi menjadi sangat berbahaya. Dia segera berubah kedalam Mode Knightnya juga.
Namun, bersamaan dengan teriakan Lady Iruana, kelompok Bandit melempar senjata rahasia milik mereka. Membunuh pengawal rendahan kelas Immortal dan kusir kereta dalam sekali serang.
"Senjata rahasia itu, kalian bedebah dari House Ironhead!" Bentak Lady Iruana Geram.
"Hahaha tidak masalah kau tahu atau tidak, setelah ini kau akan mati, dan setiap orang akan tahu, kelompok yang menyerang adalah bandit Lebah Hitam!"
"Bibi ada apa?" Teriak Issabela terkejut.
Issabela yang mendengar keributan, tak tahan dan melangkah keluar dari dalam kereta, nemun pemandangan pertama setelah ia keluar adalah kelompok penjaga yang telah tak bernyawa.
"Nona muda cepat pergi dari sini! Aku akan menahan mereka!" Teriak Lady Iruana.
"Tidak, aku tak akan meninggalkanmu!" Jawab Issabela.
"Tidak ada waktu untuk berdebat! Tetua ke tujuh belas, sampai kapan kau akan bersembunyi? Cepat bawa nona muda sekarang juga!"
Bersamaan dengan teriakan Lady Iruana, seorang tetua berbaju hitam keluar dari semak-semak. Tanpa berbicara, dia memukul leher Issabela, membuatnya pingsan dan membawanya berlari menjauh.
"Kejar orang itu!" Melihat hal itu, kelompok House Ironhead yang menyamar menjadi Bandit mulai panik.
__ADS_1
Lady Iruana menggunakan segenap tenaganya untuk menahan mereka, tapi bagaimanapun juga kelas mereka berimbang, dia hanya bisa menahan dua diantaranya, meloloskan tiga orang mengejar tetua ketujuh belas yang membawa Issabela.
**
Tetua ketujuh belas berlari tanpa menoleh kebelakang sekalipun, dia bisa merasakan tiga aura kuat yang dengan cepat mengejar di belakangnya. Keadaan ini berlangsung dalam beberapa jam.
Dalam kekalutan, dan ketika sudah mulai letih karena kehabisan Mana, ketua ketujuh belas dengan frustasi melompat kesalah satu jurang rendah di deretan perbukitan yang ia lalui.
Dia mendarat dengan keras di dasar jurang, jatuh berguling, melepaskan Issabela dari gendongannya. Mendapat goncangan karena terjatuh, Issabela mulai sadar kembali.
"Dimana ini? Dimana Bibi?" Teriak Issabela dengan panik ketika menyadari ia sudah tidak berada di lokasi sebelumnya.
"Nona muda, tenangkan dirimu, kita masih dalam bahaya!" Tetua ketujuh belas mencoba menenangkan Issabela yang panik.
Namun, tidak lama setelah itu, dia bisa mendengar suara mendarat dari tiga orang tak jauh dibelakang posisinya.
"Kau cukup ulet juga untuk seorang yang hanya kelas Immortal Surga." Kata salah seorang Bandit yang berhasil menyusul.
"Ini gawat!" Tetua ketujuh belas mulai panik.
"Sekarang kau bisa mati!" Kata salah satu bandit, mulai maju menyerang.
*Wuuuusshhhhh….
Ketika bandit ini menyerang, tiba-tiba hembusan angin dingin menyeruak disekitar mereka.
"Angin apa ini?" Bandit yang hendak menyerang segera menghentikan langkahnya.
*Kraakkk… krakkkk…
Suara retakan aneh juga mulai terdengar di belakangnya.
"Hmmm?? Suara apa itu?" Bandit ini menoleh kearah sumber suara, namun yang dilihatnya, segera menggetarkan hatinya, wajahnya menjadi ngeri.
Saat ini, dua orang kawan yang sebelumnya berada di belakang bandit ini, telah membeku, tubuh mereka dipenuhi retakan. Terlihat akan pecah kapan saja.
Issabela yang melihat kejadian ini juga menjadi terkejut, dia kemudian melihat kearah dimana angin ini berasal. Itu berasal dari sebuah bunga raksasa aneh berwarna putih yang terus bergoyang-goyang meskipun tak ada hembusan angin di sekitarnya.
"Bunga itu?"
Bersamaan dengan Issabela mengatakan hal itu, angin yang berhembus dari bunga semakin membesar.
Issabela yang awalnya terkejut, mulai sadar, dia kemudian segera berubah menjadi Mode Soul Knightnya, tanpa menunda mengaktifkan teknik kubah es pelindung miliknya. Membekukan lingkungan sekitarnya, dia berlindung di dalam kubah es bersama dengan tetua ketujuh belas.
Beberapa saat kemudian, ketika hembusan angin sudah tak terdengar, Issabela memecah kubahnnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah gumpalan pecahan es dari sisa-sisa tubuh ketiga orang bandit yang mengejarnya.
Dia kemudian mulai berjalan kearah bunga raksasa berwarna putih. Melihat hal itu, tetua ketujuh belas menjadi khawatir.
"Nona muda, itu berbahaya!" Teriak ketua ketujuh belas.
Issabela mengabaikannya, tetap berjalan mendekati bunga. Setelah sudah sangat dekat, ia dengan lembut menyentuhnya.
"Jangan khawatir, bunga ini tidak akan menyakitiku, ini adalah Udumbara Es yang legendaris." Kata Issabela. Kemudian mulai membentuk pedang es dan memotong tangkai bunga.
Dia mengambil Kristal Beast dari bunga Udumbara, melihatnya sejenak, tekad kuat terpancar dari matanya.
__ADS_1
"Dengan ini aku akan menjadi lebih kuat lagi."