Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
323 - Jamuan Makan


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hmmm… Sepertinya aku datang sedikit terlambat!" Ucap Lucius. Ketika dirinya sampai di lokasi Theo membunuh Bethany.


"Padahal aku ingin sekali menghabisi wanita ini dengan tanganku sendiri!" Tambah Lucius. Sambil menatap kearah tubuh tak bernyawa Bethany.


"Kenapa tak bilang padaku sebelumnya saat melakukan transmisi suara? Aku bisa saja menyisahkan hidangan penutupnya padamu tadi!" Jawab Theo, sembari membersihkan tangan kanannya yang masih berlumuran darah.


"Lupakan saja! Setidaknya bisa melihat dia mati dengan cara menggenaskan seperti ini, itu sudah lebih dari cukup!"


"Kau tak langsung membunuhnya bukan?" Tanya Lucius.


"Haha.. Tentu saja tidak! Aku membawa neraka keputusasaan padanya terlebih dahulu sebelum membunuhnya!" Jawab Theo santai.


"Nanti akan kujelaskan detailnya padamu!" Tambah Theo, begitu melihat ekspresi wajah penasaran Lucius saat mendengar kata-katanya yang terakhir.


"Lucius Braveheart!"


Theo dan Lucius hendak melanjutkan obrolan sampai tiba-tiba suara seorang wanita terdengar.


"Ohhh… Nona Hella! Lama tak bertemu! Bagaimana kabarmu?" Tanya Lucius, setelah melihat sosok Hella.


"Sangat baik! Jika ada waktu luang, aku ingin melakukan pertandingan ulang denganmu!" Ucap Hella. Sambil mengangkat Tombak Es ditangannya.


"Hmmm… Sepertinya kau menemukan senjata yang bagus! Biar kutebak, itu pemberian Theo?" Tanya Lucius. Sambil melirik kearah Theo.


"Pertanyaan yang tak berhubungan sama sekali!" Jawab Hella, menolak menjawab pertanyaan Lucius.


"Aku tak tau bagaimana kau bertemu dengan Theo, berakhir menjadi kawan seperjalanannya. Namun, bila punya pilihan, aku sangat tertarik untuk melakukan hal yang sama! Sepertinya dia selalu punya stok barang berharga yang tak ada habisnya!" Ucap Lucius. Kini ganti melirik kearah Gerel yang juga mulai berjalan mendekat.


"Dan siapa nona muda ini?" Tanya Lucius.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Lucius, Gerel tampak tak terlalu peduli, terlihat tak berniat menjawabnya.


"Dia adalah Gerel Khan! Nona muda pertama Barbarian Tribe!" Jawab Theo.


Jawaban Theo, segera membuat Lucius mengerutkan kening, sebelum dilanjutkan dengan ia kembali memandang kearah Theo dengan tatapan penuh pemikirian.


"Sepertinya keputusanku untuk menerima tawaran aliansi beberapa tahun yang lalu, benar-benar sudah sangat tepat!" Gumam Lucius.


"Berhenti mengatakan basa-basi tak penting! Bagaimana? Apa kau menerima tantanganku?" Tanya Hella sekali lagi. Saat melihat Lucius kini mulai mengabaikannya.


"Nona muda! Harap jaga nada bicaramu!"


Lucius belum sempat menjawab pertanyaan Hella sampai sebuah suara serak seorang pria tua yang di barengi dengan munculnya aura berat sangat menekan, tiba-tiba hadir tak jauh di lokasi kelompok Theo sedang berbincang.


"Salam tetua!" Ucap Theo cepat, sambil menangkupkan tangan. Memberi hormat kesuatu arah.


Sementara Hella dan Gerel yang merasa tertekan dengan aura berat tersebut, segera mengikuti melihat kearah dimana Theo memberi hormat. Namun, yang dilihat oleh keduanya hanyalah udara kosong.


"Meskipun kau adalah nona muda dari House of Asgard! Namun ketahuilah batasanmu!"


Saat Hella dan Gerel masih menatap kearah udara kosong, sesosok pria sepuh dalam sekejap dan tanpa memberi riak kehadiran apapun sebelumnnya. Seketika muncul di hadapan keduanya.


"Lucius sekarang adalah Lord dari House Braveheart! Jadi, bila kau ingin menantang! Setidaknya kau harus berada di posisi yang sama! Hanya ayahmu, Lord dari House Asgard saat ini yang memiliki kedudukan serta kualifikasi untuk menantangnya!"


"Salam Leluhur Suci Pertama!" Ucap Lucius, memberi salam tangan yang sama seperti yang dilakukan Theo begitu melihat sosok yang baru saja hadir.


"Tetua Leluhur! Ini hanya kesalah-pahaman kecil! Kawanku ini pasti tak tahu bahwa sekarang Lucius adalah seorang Lord!" Jawab Theo.


"Aku tahu itu! Yang kusampaikan tadi hanya sekedar kalimat nasehat sederhana!" Jawab Leluhur Pertama.


"Lucius, dari pada terus berbincang disini, lebih baik kau menyambut mereka di aula utama House!"


"Bagaimanapun juga, mereka adalah tamu penting yang berperan besar menyelamatkan House kita dari kehancuran! Jika bukan karena tuan muda Theo, aku dan para leluhur yang lain pasti tak akan bisa datang tepat waktu!" Ucap Leluhur Pertama.


"Jadi begitu! Tentu saja! Tuan muda Theo, silahkan!" Ucap Lucius. Kini paham bahwa Theo adalah orang yang berada di balik lolosnya para leluhur suci dari hadangan kelompok gabungan leluhur House Estrabat dan Helsinsberg.


"Apakah sekarang aku harus memanggilmu dengan sebutan Tuanku?" Tanya Theo, sambil memasang senyum sederhana pada Lucius.


"Hahhaha… Khusus untukmu, tak perlu! Bagaimanapun juga, begitu kau bertunangan dengan Aria, meskipun kita semua tahu itu hanyalah langkah politis, namun aku sangat tahu adikku benar-benar berharap padamu, dan sejak saat itu, aku sudah menganggapmu sebagai adik ipar!" Jawab Lucius. Sambil memasang senyum sederhana yang sama.


"Sejujurnya, saat ini aku tak tahu apakah kau benar-benar tulus mengatakan hal tersebut atau tidak!" Jawab Theo. Senyum sederhana di wajahnya berubah menjadi senyum tipis.

__ADS_1


"Hahhahhahahha….!!!!"


Mendengar kata-kata Theo, Lucius tak memberi jawaban apapun, hanya mulai berjalan kedepan sambil tertawa lantang.


Disisi lain, Theo kini melihat kesalah satu puncak tebing tak jauh dari lokasi. Diatas tebing, Belladona menatapnya dengan tatapan seolah memberi laporan bahwa tugasnya telah selesai.


Sebagai tanggapan, Theo membalas tatapan Belladona dengan anggukan singkat. Yang segera disambut oleh Belladona menarik hawa keberadaannya. Menjadi sekelebat bayangan hitam. hilang dalam sekejap.


***


(Keesokan harinya, aula utama House Braveheart)


Dipimpin langsung oleh Lucius, kelompok House Braveheart menyambut Theo beserta Hella dan Gerel dalam jamuan mewah.


"Kakak ipar! Aku punya kabar baik!" Ucap Theo. Saat jamuan sedang berjalan.


"Ohh… Apa itu?" Tanya Lucius.


"Tadi malam aku menerima surat dari ayahku! Dalam suratnya, dia mengabarkan bahwa House Estrabat telah berhasil di musnahkan!" Ucap Theo.


Mendengar itu, aula utama yang sebelumnya menjadi tenang begitu Theo mengatakan ingin menyampaikan suatu kabar, segera menjadi riuh. Setiap orang yang hadir dalam jamuan makan bersorak liar. Benar-benar puas dengan kabar yang mereka dengar.


"Hidup House Braveheart!"


"Hidup House Alknight!"


Seruan-seruan kejayaan menggema memenuhi aula. Suasana jamuan makan seketika menjadi semakin meriah. Semua anggota House Braveheart kini merasa hubungan aliansi yang di buat Lucius beberapa tahun yang lalu dengan House Alknight adalah sebuah langkah brilian.


"Sungguh sebuah keberuntungan bagi House kita memiliki kawan sepeti House Alknight!" Ucap salah satu tetua yang hadir.


"Itu benar! Lord Lucius benar-benar memiliki mata dan visi yang tajam!" Sahut tetua lain.


Situasi meriah ini bertahan untuk waktu yang lama sampai kemudian obrolan utama berlanjut pada bagaimana kelangsungan aliansi kedepannya.


Dalam topik ini, Theo yang memahami bahwa House Braveheart sedang mengalami kemunduran, menyarankan agar mereka mengikuti langkah House Alknight untuk melakukan bisnis pribadi dengan Gaia Son Paviliun.


Menjual beberapa sumberdaya eksklusif milik House Braveheart kepada Gaia Treasure. Menjadikan Gaia Treasure sebagai penyuplai dan juga penyalur barang dagangan mereka tersebut.


Theo menjanjikan, akan membantu House Braveheart membuat kesepakatan dagang yang tak akan merugikan mereka sama sekali dengan Gaia Treasure.


Selain masalah kesepakatan dagang, Theo juga memberi saran agar House Braveheart mendeklarasikan secara terbuka bahwa mereka saat ini sedang menjalin hubungan aliansi dengan House Alknight.

__ADS_1


Dengan begitu, ketika ada lagi yang berniat mengambil keuntungan pada posisi House Braveheart yang sedang menurun, maka mereka akan berfikir dua kali.


Mengambil contoh House Estrabat yang di musnahkan oleh House Alknight, kini tak ada lagi yang akan bertindak gegabah. Jika tak mau berakhir sama dengan House Estrabat.


__ADS_2