Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Meninggalkan Desa


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Setelah sedikit kekacauan yang terjadi berhasil diselesaikan oleh Theo dengan cara elegan dan sangat cepat. Kini tak ada lagi yang meragukan kemampuannya. Setiap penduduk desa tersembunyi, generasi Senior maupun Junior, mengakui dan merasa Theo pantas menyandang gelar Pejuang Agung.


"Theodoric Alknight, dari House of Alknight, karena jasamu yang telah menghilangkan kutukan yang membelenggu desa kami selama ribuan tahun, dengan ini kami, kedua ketua Klan dari desa tersembunyi, mewakili seluruh penduduk desa, menganugrahkan kepadamu gelar tertinggi desa, yakni Pejuang Agung yang terhormat!"


Ketua Arsegio memimpin acara penganugrahan dan memberi Theo tongkat yang merupakan simbol bagi penyandang gelar Pejuang Agung.


Theo bersujud, menerima tongkat dengan hati-hati. Setelah itu dia mulai berdiri dan mengangkat tongkat tinggi-tinggi. Tatapan matanya penuh dengan kebanggan.


Melihat upacara sakral telah selesai, suasana segera menjadi riuh kembali, semua jenis alat musik kembali menggema. Setiap penduduk desa merayakan penganugrahan yang di terima oleh Theo.


"Baiklah, sekarang kita lanjutkan pestanya!" Teriak Ketua Arsegio.


Pesta kemudian kembali berlanjut sampai pagi hari. Tak ada penduduk desa yang meninggalkan tempat sampai pesta selesai, semuanya larut dalam kegembiraan.


**


(Tiga hari kemudian)


"Kedua Ketua, aku harap ini bukan sebuah perpisahan!" Kata Theo.

__ADS_1


Saat ini Theo tengah berada di perbatasan desa tersembunyi, tepat di benteng penjagaan yang tertutup segel formasi.


Setelah menetap selama 2 hari, Theo merasa sudah waktunya untuk kembali ke house nya. Karena sebagian besar tujuannya masuk ke wilayah bagian dalam hutan pinus beku, telah tercapai. Selain berhasil menerobos ke kelas Immortal, dia juga berhasil menemukan Kristal Beast yang cocok untuk Mammon.


Dalam dua hari ini juga, dia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan desa tersembunyi, untuk mempelajari berbagai jenis Ilmu Formasi dan Ilmu racun unik yang hanya dimiliki oleh dua Klan legendaris desa tersembunyi. Statusnya sebagai Pejuang Agung membuatnya dianggap sebagai penduduk desa, sehingga di ijinkan mengakses fasilitas-fasilitas desa tersebut.


Dalam prosesnya, dia juga menjadi dekat dengan Armadilo dan Aurega, dua pemuda paling berbakat di desa. Keduanya di beri perintah khusus oleh ketua klan untuk menemani Theo.


Meskipun pada awalnya sedikit enggan karena gengsi, setelah bersama Theo selama beberapa waktu, mereka akhirnya tau bahwa pengetahuan Theo tentang formasi dan racun, tak kalah dari keduanya. Hal ini membuat dua pemuda ini menjadi menghormati Theo dari lubuk hati mereka. Menerima dengan terbuka gelar Pejuang Agung di berikan kepada Theo.


Berbagai hal yang di dapat Theo dalam perjalanannya kali ini, sungguh membuat dirinya berkembang dengan pesat. Meskipun memang dalam proses, nyawanya terancam beberapa kali. Namun menurut Theo, itu semua sebanding. Tak ada makan siang gratis, setiap orang harus berani mengambil resiko untuk menjadi lebih kuat. Kata-kata Masternya tersebut, selalu memberi dorongan untuk terus maju dalam situasi apapun.


"Tuan muda, suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, dan memang ini bukanlah perpisahan. Kedepan desa kami ingin tetap menjalin hubungan baik denganmu dan House Alknightmu." Kata ketua Aurelas menanggapi kata-kata Theo.


"Yah, para generasi muda kami, sudah tak sabar ingin segera melakukan perjalanan melihat dunia luar. Namun, karena desa kami telah terisolasi selama ribuan tahun sebelumnya, tentu harus ada persiapan matang untuk itu." Kata ketua Arsegio ikut menanggapi.


"Tidak masalah, aku akan menunggunya." Kata Theo dengan senyum ramah. Dia kemudian menyerahkan sebuah token kepada ketua Arsegio.


"Bila kalian sudah memutuskan keluar desa, pergilah ke Alknight City, dan berikan token itu kepada penjaga gerbang. Aku akan memberi pesan kepada mereka untuk menyambut dan mengantar kalian." Kata Theo setelah menyerahkan token.


Ketika Theo dan kedua ketua sedang terlibat obrolan, Armadilo dan Aurega yang dari tadi berdiri di belakang keduanya tiba-tiba maju kedepan.


"Brother Theo, mungkin kami berdua yang kedepan akan menjadi perwakilan pertama desa untuk berkunjung ke kediamanmu, ketika saatnya tiba aku harap bisa berbagi pengetahuan lagi denganmu." Kata Aurega.


"Yahh, Brother Theo, setidaknya kali ini kita harus tanding ulang, aku sangat ingin berbagi arahan pertarungan denganmu." Armadilo ikut menanggapi, dengan ekspresi bersemangat.


"Aku akan menantikannya.." Jawab Theo, kemudian memberi salam tangan.


Setelah mengucapkan beberapa sapaan singkat kepada para penduduk desa yang ikut mengantar, Theo dan Aria melangkah keluar dari segel formasi.


**

__ADS_1


Theo dan Aria kini melakukan perjalanan untuk menyusuri tempat yang pernah mereka lalui sebelumnya. Menuju lokasi Pohon Kuno, mencari jejak yang mungkin di tinggalkan Master Estro, tetua pengawal Aria.


Perjalanan mereka kali ini berjalan lebih lancar, karena keduanya di beri pengerajin desa tersembunyi beberapa pernak-pernik yang terbuat dari kelopak bunga Arseni, dengan aroma dari bunga ini, banyak Spirit Beast memilih menghindari keduanya. Namun tetap saja, ternyata ada beberapa spesies Spirit Beast yang tak terpengaruh dan menyerang mereka, tapi jumlahnya tak terlalu banyak.


Saat ini, Theo dan Aria terlihat tengah beristirahat di bawah sebuah pohon pinus raksasa. Aria sibuk menyerap persediaan Mutiara Mana yang ia bawa untuk mengisi ulang simpanan Mananya. Sementara Theo terlihat mengeluarkan beberapa bola seukuran telapak tangan dengan beberapa goresan segel formasi di permukaanya. Dengan hati-hati, dia beberapa kali mengisi bola-bola itu dengan serbuk aneh berwarna hijau. Kemudian membentuk segel tangan untuk menutup formasi di permukaan bola.


Aria yang penasaran melihat kegiatan Theo, tak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Sebenarnya mainan apa yang sedang kau kerjakan dengan serius seharian ini?" Tanya Aria.


Aria bertanya demikian karena setiap kali berhenti untuk istrahat, Theo selalu saja melakukan hal yang sama, yakni mengotak-atik serta mengisi bola-bola aneh dengan serbuk hijau.


"Hmmm… anggap saja ini adalah salah satu trik tambahan yang kusiapkan di balik lengan bajuku." Jawab Theo, tanpa menoleh. Masih sibuk dengan bola-bola nya.


Mendengar hal itu, Aria segera menjadi cemberut. "Bukankah kau sudah berjanji untuk menjelaskan apapun yang kutanyakan!" Dengus Aria.


Merasa Aria akan kembali menjadi cerewet, Theo menghentikan kegiatannya. Dia menoleh kearah Aria.


"Bukan aku tak mau menjelaskan, ini agak sedikit rumit. Meskipun kujelaskan, aku ragu kau akan mengerti." Jawab Theo, mulai kesal dengan sikap Aria.


"Apa kau pikir aku ini wanita bodoh? Cepat jelaskan sekarang juga!" Bentak Aria, merasa tersinggung dengan kata-kata Theo.


"Hahhh… dasar nona muda manja! Kalau sudah mau sesuatu, kau selalu saja seenaknya sendiri dan memaksa!" Dengus Theo.


"Apa katamu?" Bentak Aria lagi.


"Hahhh… lupakan, baik akan kujelaskan!" Jawab theo dengan cepat. Tak ingin berurusan dengan kemarahan Aria yang pasti akan berujung dengan terancamnya keamanan Benda berharga yang menggantung diantara dua kakinya.


Sejurus kemudian, Theo melambaikan tangan. Gerakan umum ketika orang akan mengeluarkan sesuatu dari Spacial Ring nya.


Bersamaan dengan lambaian tangan Theo, seonggok tubuh makhluk raksasa keluar dari dalam Gelang ruang waktu, mengisi penuh area pada tanah lapang di hadapan mereka.

__ADS_1


Melihat tubuh makhluk raksasa itu, Aria mulai bangkit dari duduknya, secara reflek melompat menjauh kebelakang.


"Kau gila, itu adalah tubuh Demonic Beast yang disebut Hydra dari desa sebelumnya!"


__ADS_2