
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*wooshhh….
Hanya sekejab Theo menghilang bersama dengan derak ringan listrik merah, sebelum kemudian kembali lagi ke posisinya semula.
"Hahh… hahh… hahh… "
"Gouughh…. Uhukkk…!"
Begitu Theo muncul, dia bernafas dengan sangat berat, diiringi kemudian kembali memuntahkan seteguk darah segar.
Dan yang paling mengejutkan Arthur serta Aria adalah, Theo tak kembali seorang diri, melainkan bersama dengan pria tua bernama Alejandro yang kini terbaring di sebelahnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Alejandro dengan ekspresi terkejut ketika pertama kali membuka matanya.
Bagaimana dia tak terkejut, dirinya yang beberapa saat lalu sudah menutup mata, pasrah menerima kematian, tiba-tiba kini berada di tempat yang berbeda ketika membuka mata kembali.
"Apa yang kau lakukan!" Hampir sama dengan Alejandro yang sangat terkejut, Aria juga bertanya dengan ekspresi yang tak jauh berbeda.
"Boss…!!" Disusul kemudian Arthur.
Berbeda dengan Alejandro yang meskipun terkejut, tapi memiliki titik-titik harapan di wajahnya. Arthur dan Aria memiliki ekspresi sebaliknya, mereka menjadi sangat cemas. Keduanya bukan orang bodoh, kakek tua yang ada di hadapan mereka saat ini adalah target dari Knight kelas tinggi satunya, bila dia tau bahwa targetnya ada disini, tentu kelompok mereka akan sangat terancam.
"Tenanglah, aku sudah memikirkan semua!" Kata Theo singkat, sejurus kemudian dia mulai mengalirkan Mana Es diujung jarinya, dilanjutkan dengan gerakan mengayunkan tangan.
"Ice Projection!" Theo menggunakan teknik Ice Projectionnya, untuk menyamarkan keberadaan orang-orang yang ada disekitar.
"Kurasa ini cukup untuk mengulur waktu, pria yang ada disana tak akan menyadari keberadaan kita untuk beberapa waktu kedepan!" Lanjut Theo. Setelah itu dia mulai duduk bersila, mengeluarkan sejumlah pil obat serta Mutiara Mana perak.
Dengan cepat dia kemudian menelan semua pil obat, dilanjutkan dengan menyerap Mutiara Mana Perak untuk kembali mengisi Mananya, serta mengedarkan energi obat kedalam Element Seednya yang kini tengah terluka parah.
Melihat itu, Aria yang sebenarnya masih sangat kesal, segera memberikan Joy kecil yang ada dipelukannya kepada Arthur, tanpa berkata apapun dia mengambil posisi disebelah Theo, kemudian mengalirkan Mana Airnya kedalam tubuh Theo, membantu untuk memulihkan diri.
__ADS_1
Setelah beberapa saat proses pemulihan, Aria yang tak tahan untuk terus diam..
"Ck.. kau ini! Setidaknya setelah ini beri kami penjelasan yang masuk akal!" Dengus Aria, terlihat sangat kesal dengan sikap Theo yang bertindak seenaknya, tanpa memberi penjelasan apapun.
Namun, meskipun memasang sikap kesal, dia juga tak bisa menyembunyikan ekspresi khawatirnya ketika kini menyadari kondisi terluka parah di dalam tubuh Theo.
Sementara Arthur yang juga masih belum bisa menangkap situasi, serta tak bisa melakukan apapun untuk membantu kondisi Theo, hanya diam termenung, tak tahu harus berbuat apa, sambil memeluk Joy Kecil. Tatapannya jatuh bergantian kearah Theo dan juga pria tua yang ada disebelahnya.
***
(Beberapa saat kemudian)
*Booommmm…..!
*Bboooooommmm…!!!
*Booommmmmm…!!!
Ledakan-ledakan dengan daya ledak yang lumayan besar menggema di mana-mana, Beladro yang kini memiliki ekspresi sangat marah, terlihat sedang membabi buta menghancurkan area di sekitarnya.
"Sialaann!!!!"
"Cepat keluar…!!!"
"Aku tau kau masih ada di sekitar sini!" Bentak Beladro dengan penuh amarah.
Sebelumnya, dia yang sempat termenung sebentar, akibat hilangnya tubuh Alejandro secara tiba-tiba, akhirnya sadar ketika teringat tentang keberadaan listrik merah yang muncul sesaat sebelum tubuh kakaknya itu menghilang.
Dengan pengalamannya yang sudah sangat matang di medan pertempuran, dia dapat menduga, bahwa ada orang lain, yang memiliki teknik gerakan kelas tinggi, sedang berusaha menyelamatkan Alejandro dengan membawanya pergi.
Namun, dia juga tahu, teknik gerakan kelas tinggi macam itu, yang bahkan tak mampu dilihat oleh Knight dengan kelas King seperti dirinya, pastilah membutuhkan sejumlah Mana yang sangat besar.
Oleh karena itu, teknik ini hanya akan bisa digunakan sekali saja. Kesimpulan terakhir yang bisa dia ambil, orang itu, masih ada tak jauh disekitar area ini, bersama dengan Alejandro.
*Boommmm….!!!
*Booommmmmm….!!!!
*Booommmmmmm….!!!
Ledakan keras terus menggema dimana-mana, Beladro terlihat ingin menyisir semua area dengan menghancurkan setiap incinya.
"Bosss….!!! Jika terus begini, posisi kita akan terpapar!" Arthur yang dari tadi melihat situasi diluar kubah penyamaran, kini mulai panik.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Arthur, dan merasakan getaran-getaran dari ledakan dahsyat yang ada diluar, Aria yang sebelumnya berkonsentrasi membantu pemulihan luka Theo, kini terlihat mulai tak bisa fokus.
Sementara Theo sendiri, terlihat masih tetap tenang, dia merasa percaya diri dengan kubah penyamarannya, di tambah dengan adanya Joy kecil serta Tiankong, dia merasa kabur dari sini bukanlah hal yang sulit. Terlebih lawannya adalah Knight yang sudah dalam kondisi terluka sangat parah.
Oleh karena itu, dia memutuskan untuk tetap fokus memulihkan dirinya, sambil sebisa mungkin mengisi persediaan Mananya yang terserap habis akibat memaksakan diri menggunakan kubah pelindung Joy kecil, serta sepatu kelas Ilahi miliknya secara berturut-turut.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka mata. Dan ketika pertama kali membuka mata, tatapannya langsung fokus pada pria tua rentah yang baru saja ia selamatkan.
Kondisi pria tua ini sangat menggenaskan, tubuhnya penuh luka, serta hanya menyisahkan tulang dan kulit. Dia tampak sudah kesusahan untuk bernafas, terlihat bisa mati kapan saja.
"Anak muda, sejauh yang kuingat, aku sama sekali tak mengenalmu! Uhukk…!" Pria tua ini dengan nafas beratnya, memaksakan diri untuk membuka obrolan.
"Yah, kita memang tak pernah bertemu sama sekali!" Jawab Theo singkat.
Mendengar itu, pria tua segera ingin kembali bertanya, namun terlihat sangat kesusahan untuk bebericara.
"Jangan membuang-buang nafasmu, kau yang paling tahu bahwa ajalmu sudah dekat." Kata Theo.
"Bila kau ingin menanyakan alasan kenapa aku menolongmu? Itu cuma karena aku telah mendengar semua obrolan antara kau dan orang itu! Yang kalau tak salah adalah adikmu." Kata Theo lagi, sambil menunjuk kearah Beladro.
"Yang perlu kau tahu, aku hanya merasa seperti melihat ayahku sendiri pada sosokmu! Kisah antara kau dan adikmu, hampir mirip dengan kisah ayahku dan adiknya."
"Houseku juga sedang dalam masalah yang sama, yakni ancaman kudeta yang di pimpin oleh pamanku sendiri!"
"Aku hanya merasa memiliki kedekatan emosional denganmu karena kemiripan situasi ini. Tak ada alasan lain."
"Jadi, bila kau punya permintaan terakhir, katakan saja, aku akan berusaha membantumu memenuhinya."
"Setidaknya, anggaplah ini sebagai permintaan maaf karena tak bisa melakukan apapun. Diriku yang sekarang masih terlalu lemah." Theo menutup kata-katanya dengan kepala menunduk. Berusaha menunjukkan bahwa dia dengan segenap hati merasa menyesal karena tak mampu membantu lebih.
Mendengar penjelasan dan sikap Theo, Alejandro segera sedikit merasa tergagap. Pandangan matanya terlihat sangat tersentuh dengan semua kata-kata Theo.
Dari pengalaman hidupnya yang sudah sangat panjang, pria tua ini dapat melihat bahwa Theo memang membuka semuanya, tanpa ada indikasi maksud atau tujuan tersembunyi apapun.
"Uhukkk.…" Alejandro kembali terbatuk, kali ini dengan segumpal darah keluar dari mulutnya.
"Anak muda, kau tak berhutang apapun padaku, namun bila kau berkenan melakukan satu hal, pria tua ini akan benar-benar bersyukur, seluruh keluarga Blackku akan benar-benar bersyukur."
"Dan kami adalah keluarga yang tahu bagaimana membalas budi." Jawab Alejandro, dengan terbata-bata dan nafas berat.
"Lupakan semak belukar, katakan permintaanmu!" Jawab Theo singkat. Menatap Alejandro dengan tatapan penuh ketajaman.
Alejandro sedikit terpanah melihat tatapan penuh ketajaman Theo, sesaat kemudian dia mulai tersenyum. Dan dengan gerakan ringan dia mengayunkan tangannya, sebuah Orb berwarna hitam pekat dengan simbol aneh tepat di tengahnya, keluar dari dalam cincin spacialnya.
__ADS_1
"Cari putraku! namanya Santiago, berikan Orb ini kepadanya!"