Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Menambah Daftar Musuh


__ADS_3

EVENT KHUSUS MINGGU INI : POPULARITAS 800K BUKA GEMBOK DAN PUBLISH SECARA UMUM CHAPTER SPIN OFF…!


Caranya mudah, cukup sempatkan beri like serta komentar di tiap chapternya novel Seven Deadly Child ini. Atau sempatkan buka chapter2 sebelumnya yang belum sempat di like untuk sekedar memberi like atau komentar.


Event 800k Popularitas untuk Spin Off (Arthur Wild : Putra kegelapan) Dimulai…!


Periode event : Minggu 28 Juni - Sabtu 04 Juli 2020.


Sekian, selamat menikmati Chapter terbaru ^^


------------


(Beberapa hari pasca kejadian di Nameless Market)


"Baiklah, mari kita berangkat!" Kata Theo tampak sangat bersemangat.


Tepat pada hari ini, acara lelang akbar yang rutin dilakukan Gaia Treasure setiap satu tahun sekali akan dilaksanakan. Hal ini membuat jiwa pedagang Theo, menjadi sangat bersemangat semenjak dia bangun tidur tadi pagi.


"Boss… apakah acara lelang ini begitu menarik?" Tanya Arthur, dia belum pernah melihat Theo seantusias ini.


"Tentu sangat menarik! Bayangkan, akan ada berbagai sumberdaya berharga, yang biasanya akan sulit kau beli bahkan jika kau punya uang karena sangat sulit di temukan!"


"Namun kali ini, sumberdaya-sumberdaya ini dikumpulkan dalam satu tempat, dan dijual secara terbuka bagi siapapun yang bisa membelinya!" Kata Theo menjelaskan.


"Hmmm… tetap saja tak begitu menarik, biasanya aku hanya tinggal meminta pada ayahku bila menginginkan sesuatu, dan yang kuinginkan itu akan segera datang padaku!" Jawab Arthur.


"Hahh… kau hanya tak tahu saja apa itu sumberdaya berharga! Jangan samakan sumberdaya-sumberdaya ini dengan jajanan atau benda-benda remeh yang kau minta dari ayahmu!" Sergah Theo.


"Tetap saja boss... Lagian juga aku tak memiliki banyak bekal mutiara Mana! Si pak tua itu hanya memberiku uang saku segini!" Kata Arthur, seraya mengeluarkan kantong uang miliknya dari dalam Spacial Ring yang di beri Theo beberapa minggu lalu.


Setelah memindai sekilas, Theo bisa melihat bahwa yang ada di dalam kantong hanyalah beberapa ratus mutiara Mana Perunggu. Hal ini segera membuat sudut-sudut mata Theo mulai berkedut.


'Pak tua Bernard sungguh pelit!' Gumam Theo dalam hati.


"Sudah sekarang ikut saja! Nanti kalau disana ada sumberdaya yang membuatmu tertarik, katakan padaku, aku akan berusaha mendapatkannya untukmu!"


"Ohh… benarkah? Baiklah kalau begitu!" Jawab Arthur, kini tampak sedikit antusias.


"Hahh… bersikap sok keren di awal, seolah tak tertarik dengan acara lelang! Bilang saja kau hanya tak punya uang! Sehingga malas untuk ikut!" Dengus Theo, melihat perubahan sikap tiba-tiba Arthur.

__ADS_1


"Hehhehe…" Mendengarnya, Arthur hanya terkekeh.


"Hmmm… dua orang anak udik ingin ikut acara lelang? Sungguh lucu!"


Ketika Arthur dan Theo hendak meninggalkan tempat. Sebuah suara meremehkan terdengar dari arah belakang.


Mendengarnya, Arthur dan Theo segera menoleh, dan ketika melihat siapa yang bicara, keduanya langsung memasang wajah tak perduli dan memalingkan wajah mereka lagi, seolah tak pernah melihat dan mendengar kata-kata orang itu.


"Bocah sialan!"


Melihat itu, orang ini segera memaki marah. Dia merasa terhina karena dua orang Junior berani bersikap tak peduli padanya.


"Master Estro, lupakan saja kedua orang ini! Sebaiknya kita segera ketempat lelang! Melihat dua orang ini hanya membuat Moodku tidak baik lagi!" Kata Aria.


"Hmmm… baik!" Jawab Master Estro singkat, kemudian kembali melihat kearah Theo dan Arthur.


"Kalau saja nona muda sedang tidak terburu-buru, aku sudah memberi kalian pelajaran!" Dengus Master Estro.


"Arthur, mau lomba lari lagi? Terlalu lama disini membuat tubuhku gerah, itu hanya perasaanku saja atau memang suasana disini sangat suram!" Kata Theo, masih memasang wajah tak perduli pada Master Estro dibelakangnya.


"Hmmm… Boss, bukan hanya suasana suram, disini bahkan mulai tercium aroma khas pemakaman!" Jawab Arthur.


Mendengarnya, sudut-sudut mata Master Estro mulai berkedut. "Kalian bocah-bocah biadap! Beraninya….."


***


(Gaia Treasure)


"Ramai sekali!" Kata Arthur, ketika melihat kerumunan orang yang ada di depan pintu masuk Gaia Treasure.


"Itu normal, bagaimanapun juga ini adalah lelang akbar! Sebaiknya kita segera ikut menegantri masuk!" Jawab Theo.


Ketika sampai di depan pintu masuk, Theo bisa melihat antrian di bagi menjadi 4 baris. Setiap baris mewakili undangan yang di terima oleh setiap orang.


Baris pertama yang terlihat paling ramai dan panjang adalah mereka yang mengantri di depan pintu masuk kelas biasa. Kemudian di sebelahnya dengan kerumunan yang tampak memiliki lebih sedikit orang, adalah mereka yang mengantri di pintu masuk kelas Spesial.


Dipisahkan oleh sekat sebuah papan besar, terdapat dua pintu lain yang tampak tak begitu ramai, yakni pintu kelas Istimewa, dan terakhir pintu VIP yang bahkan tak memiliki antrian.


Theo dan Arthur masih mengamati antrian dan pintu-pintu masuknya sampai suara seseorang terdengar dari belakang mereka.

__ADS_1


"Hmmm… tak kusangka akan bertemu dengan gembel dari keluarga Alknight di tempat seperti ini!"


Mendengar itu, Theo segera menoleh kebelakang. Dan begitu melihat siapa yang baru saja berbicara, dia langsung mengerutkan dahinya.


"Benar kata kak Issabela, kau ini benar-benar seperti lalat saja! Muncul dimanapun dan sulit sekali diusir!" Kata Theo, ketika melihat Lagor Estrabat, yang beberapa hari lalu dipukulnnya dengan telak, kini muncul lagi di hadapannya.


"Mulut yang pedas! Brother Lagor, kau kenal bocah ini?" Tanya seorang pemuda berwajah tampan, dengan rambut pirang dan mata biru disamping Lagor.


"Hmmm… Brother Alex, dia adalah tuan muda ketiga dari House of Alknight yang sempat kuceritakan padamu beberapa hari lalu, namanya Theodoric Alknight!" Jawab Lagor, sambil menatap Theo dengan tatapan penuh kebencian.


"House Alknight? Sungguh menarik!" Jawab pemuda yang di panggil Alex, kini mulai tersenyum dan menatap Theo dengan tatapan menyelidik.


Beberapa saat kemudian, sambil mempertahan senyumnya, Alex tiba-tiba melancarkan gelombang listrik transparan kearah dahi Theo.


Theo yang merasakan serangan ini, dengan cepat mengaktifkan Mana Listriknya untuk merilis gelombang yang sama, berusaha memblokir serangan tersebut.


*Bzzzttt…..


Benturan listrik transparan yang tak bisa dilihat siapapun selain Theo dan pemuda bernama Alex, menimbulkan suara berderak ringan ketika saling bentrok satu sama lain.


"Hmmm… kau ingin aku membunuhmu disini?" Dengus Theo, menatap pemuda bernama Alex dengan tatapan penuh kebencian.


Yang di lakukan Alex tadi adalah satu hal yang sangat tercela dalam pertarungan antar Knight, yakni serangan tersembunyi yang bertujuan untuk menghancurkan kondisi mental lawan.


Wajar bila Theo sangat marah, sedikit saja Theo tidak waspada dan terkena serangan tadi, saat ini dia akan berakhir menjadi orang ***** yang kehilangan kesadarannya.


"Hahhaa.. tuan muda ketiga, kenapa begitu serius! Desas-desus tentangmu sudah sampai di telingaku jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Ice Lotus City beberapa hari lalu!"


"Aku yakin dengan semua kemampuanmu yang dibicarakan orang-orang, serangan macam tadi tak akan menjadi masalah untukmu!"


"Anggap saja tadi adalah salam perkenalan dariku!" Jawab Alex, dengan nada santai.


"Ohh... Kalau benar begitu, bolehkan aku tahu siapa nama lengkap tuan muda terhormat ini?"


"Mungkin dilain waktu kita bisa sedikit meregangkan otot, dan berbagi pengalaman tempur bersama!" Tanya Theo, kali ini mulai menatap lawannya dengan sorot mata penuh ketajaman.


Mendengarnya, senyum di wajah Alex semakin lebar. Cenderung kearah menyeramkan.


"Namaku adalah Alexis Helsinsberg, tuan muda kelima dari House of Helsinsberg yang agung!"

__ADS_1


"House of Helsinsberg?"


Mendengar pemuda di hadapannya mengatakan bahwa dia berasal dari House of Helsinsberg. Satu dari 10 Biggest Knight Group yang selama ini menjadi pendukung dibalik bayangan bagi para pemberontak Housenya, tatapan Theo menjadi semakin tajam. Dia juga mulai sedikit membocorkan aura dari dalam tubuhnya.


__ADS_2