
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Gurun Pasir Berisik)
*Bzzzzzttt….!!!!
*Bzzzz….!!!!
*Bzzzzzttt….!!!
*Boooommmmm….!!!
Suara lantang dari derak ledakan ratusan baut listrik berwarna kuning cerah, terdengar menggema di salah satu wilayah Gurun Pasir Berisik.
"Sergapan!"
"Sergapan!"
"Kita di serang!"
Ratusan ledakan listrik tersebut, segera di sambut dengan teriakan panik sekelompok orang yang berlari tunggang-langgang menuju sebuah areal perkemahan yang cukup besar.
Mendengar teriakkan orang-orang tersebut, areal perkemahan yang awalnya tampak riang dalam suasana pesta. Kini tiba-tiba berubah menjadi berhawa berat.
"Serangan? Kelompok Tribe mana yang dengan cukup bodoh berani menyerang markas besar Bandit Rubah Gurun!" Teriak seorang wanita berpenampilan kekar dengan seluruh tubuh berbalut pakaian dari kulit Spirit Beast.
"Boss! Itu, bukan Kelompok Tribe!" Jawab anggota Bandit Rubah Gurun dengan ekspresi wajah panik.
"Bukan Kelompok Tribe?" Tanya sang Boss Besar dengan raut wajah heran.
Namun, belum sempat anggotanya memberi tanggapan apapun, sang Boss besar dikejutkan dengan suara derak langkah kaki keras yang membawa kepulan debu bergerak cepat mendekati perkemahan Banditnya dari arah utara.
"Apa itu?" Gumam Boss Besar Bandit Rubah Gurun dengan mata terbuka lebar begitu kini bisa melihat cukup jelas gerombolan yang bergerak mendekat dengan cepat tak jauh dihadapannya.
Gerombolan tersebut tak lain adalah kelompok Bandit Serigala pimpinan Sanir. Bersama puluhan orang kepercayaannya yang merupakan mantan anggota Bandit Halilintar, Sanir memimpin di garis depan sambil menunggangi Serigala Hitam yang di pinjamkan Theo kepada kelompoknya.
__ADS_1
50 orang dengan menunggangi Serigala Metalik berwarna hitam, kini melaju kencang sedikit meninggalkan kelompok di belakang, tampak akan membuka serangan dan memberi dobrakan pertama pada markas utama musuh.
"Semuanya bergerak! Ambil perlengkapan tempur masing-masing! Bersiap menyambut serangan!"
Melihat hal itu, Boss Besar Bandit Rubah Gurun yang sebelumnya sempat tertegun, segera dengan tergagap mengatur kelompoknya.
*Bzzzzzttt…!!!
*Bzzzzzttt….!!!
Namun langkahnya sudah cukup terlambat. Ditambah fakta bahwa mereka dari awal tak dalam kondisi siap untuk melakukan pertempuran karena sedang dalam posisi berpesta, membuat pasukan penunggang Serigala Hitam pimpinan Sanir yang membuka serangan, dapat dengan mudah menerobos masuk kedalam area perkemahan.
Kelompok Sanir yang telah berhasil memasuki wilayah musuh, dengan liar melancarkan aksi-aksi brutal menggunakan senjata rahasia beratribut listrik kuning. Menghabisi lawan-lawan mereka dengan serangan berdaya hancur luas.
Sementara itu, seperti tak mau ketinggalan dengan orang-orang yang menungganginya, para Serigala Hitam dengan buas menerkam dan mencabik setiap lawan yang berada dekat dengan posisinya. Menambah pemandangan brutal dari serangan yang sedang terjadi.
Tak lama kemudian, setelah serangan pembuka berhasil di lancarkan dengan cukup sempurna, kelompok Bandit Serigala yang sebelumnya masih tertinggal di belakang, akhirnya berhasil menyusul. Sambil mengibarkan panji-panji kebanggaan Bandit Serigala, mereka ikut masuk bergabung kedalam pesta.
Perkembangan situasi tersebut, membuat kelompok Bandit Rubah Gurun yang dari awal sudah terdesak, kini terjebak dalam situasi tanpa harapan. Tinggal menunggu waktu sampai seluruh kelompok mereka di bantai habis.
Hanya beberapa orang kelompok elite anggota Bandit tersebut yang sekarang tampak masih bisa bertahan dengan susah payah. Mereka adalah kelompok wakil pemimpin yang sedang membentuk garis pertahanan kecil bersama dengan sang Boss Besar.
Dalam situasi tertekan, pandangan mata Boss besar Bandit Rubah Gurun menangkap satu sosok yang menurutnya tak asing. Begitu melihat sosok tersebut, raut wajahnya segera berubah marah.
"Sanir Khan kau br*ngsek!" Bentak sang Boss Besar.
"Ohhh… Hereda! Boss Besar Bandit Rubah Gurun yang perkasa! Lama tak jumpa!" Ucap Sanir. Sambil memasang satu senyum tipis di wajahnya.
"Itu masih beberapa hari yang lalu kau mengirim utusan untuk memohon perlindungan kelompokku! Dan sekarang, apa maksud semua ini?!" Bentak Hereda.
"Pertanyaan yang cukup sederhana! Meskipun otakmu tak terlalu pintar, harusnya kau sudah tau jawabannya bukan?" Balas Sanir.
"Aku berubah pikiran! Memutuskan bergabung dengan kelompok Bandit Serigala! Dan kebetulan kau ada disini, aku menawarkan untuk kelompok Bandit Rubah Gurun melakukan hal yang sama!" Lanjut Sanir.
Mendengar kata-kata Sanir, raut wajah marah Hereda justru semakin menjadi.
"Teruslah bermimpi! Mati saja!" Bentak Hereda, seraya melakukakan terjangan kedepan menuju kearah Sanir.
"Boss! Jangan gegabah!" Teriak para wakil pemimpin Bandit Rubah Gurun saat melihat Boss Besarnya tiba-tiba melakukan langkah menerjang.
Menggunakan senjata berupa Palu raksasa yang ia angkat sangat tinggi, Hereda tampak ingin melakukan bentrok langsung dengan Sanir yang masih duduk diatas Serigala Hitam.
Disisi lain, Sanir yang melihat wanita kekar berotot tersebut menerjang kearahnya, hanya menggeleng beberapa kali sambil merubah senyum tipisnya menjadi senyum merendahkan.
"Sebagai sesama wanita, aku merasa kasihan dengan tingkat kecerdasanmu!" Gumam Sanir, sebelum mulai memberi tanda isyarat dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Bersamaan tanda isyarat tersebut, puluhan senjata rahasia yang seluruhnya dialiri dengan derakan listrik kuning, terbang melaju sangat cepat menghujam tubuh Hereda.
*Jlepp…!!!
*Jlepp…!!!
*Jlepp…!!!
Suara ringan dari tubuh yang tertancap benda tajam terdengar begitu puluhan senjata rahasia mendarat di tubuh Hereda. Namun, seperti tak kenal rasa sakit, wanita kekar ini tak terhentikan langkahnya, masih menerjang maju kedepan menuju kearah Sanir.
*Bzzzzzttt….!!!!
*Bzzzzzttt….!!!!
*Bzzzzzttt….!!!!
*Blaaaaaaaazzzzzzttttt…..!!!!
"AAARHHHHGGGG….!"
Baru ketika aliran listrik kuning yang berderak pada setiap senjata rahasia meledak dengan intensitas tinggi, langkah Hereda terhenti, ia jatuh berlutut dan mulai berteriak keras kesakitan. Sebelum akhirnya jatuh tumbang kedepan dengan nafas berat.
Melihat lawannya telah tumbang, Sanir mengarahkan Serigala Hitam tunggangannya untuk berjalan mendekat. Menatap dengan tatapan tajam pada Hereda yang telah tumbang.
"Sudah berakhir! Kau memilih tunduk atau mati?" Ucap Sanir.
"Kau…"
Hereda masih tampak memasang wajah sengit, hendak menjawab kata-kata Sanir. Namun, dengan cepat Sanir memotong.
"Hereda! Sebelum kau memberi jawaban bodoh, sebagai sesama wanita, aku akan memberi satu kesempatan terakhir! Lihatlah sekelilingmu!" Ucap Sanir.
Mendengar kata-kata Sanir, Hereda mulai menyapu sekitar, dimana ia bisa melihat, seluruh kelompok Bandit Rubah Gurunnya, kini telah di lumpuhkan. Banyak juga yang mati dalam kondisi tubuh menggenaskan. Pemandangan tersebut, membuat tatapan mata Hereda seketika berubah kosong.
"Nasib mereka ada di tanganmu! Semua tergantung jawabanmu! Sekarang, katakan padaku! Kau mau tunduk atau mati!" Tutup Sanir.
Mendengar pertanyaan Sanir, Hereda tak segera memberi jawaban, ia tampak menunduk sejenak, sebelum kembali mengangkat wajahnya. Menatap tajam mata Sanir.
"Sanir, pasti ada satu alasan kuat yang bisa membuat orang sepertimu berakhir tunduk dibawah kaki orang lain!"
"Katakan padaku, apakah itu layak?" Tanya Hereda tiba-tiba.
"Sangat layak! Dan meskipun aku sekarang memutuskan bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, tak pernah sedetikpun Boss Besar Bandit Serigala menganggapku berada di bawah kakinya!"
"Lagipula, visi Bandit Serigala bisa di bilang sejalan dengan visi kelompok Bandit Halilintar!" Jawab Sanir.
__ADS_1
"Sejalan dengan visi Bandit Halilintar? Jangan konyol! Apa kau mau bilang mereka melakukan pergerakan sebesar ini hanya untuk membebaskan para budak wanita?" Sahut Hereda.
"Ohh, Tidak juga! Kami kelompok Bandit Serigala, memainkan game yang lebih besar lagi!" Ucap Sanir, dengan sorot mata penuh keantusiasan dan senyum lebar.