
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Daerah Gurun)
Saat ini, rombongan Theo yang telah menyelesaikan urusan di kota Gurun Zordan, sedang melakukan perjalanan kembali menuju perkemahan markas Bandit Serigala.
"Boss! Beberapa jam lagi kita akan sampai!" Ucap Yahuwa, dari atas kendali kereta perjalanan.
"Aku tahu itu!" Jawab Theo singkat dari dalam kereta.
"Harus kuakui, cara Boss Besar mendapat sumberdaya benar-benar kacau! Ini seperti kita sedang merampok Death Arena! Hahahha…!" Ucap Yaseya, yang sedang berada di samping Yahuwa.
"Yahh…! Sekarang aku tau kenapa si Gendut begitu bersikeras untuk ikut!" Sahut Yaseya.
"Boss! Kau benar-benar sesuatu! Seorang yang menyandang tiga gelar Kaisar Death Arena!" Tambah Yaseya. Mengomentari Theo yang kini merupakan seorang Kaisar Tongkat, Kaisar Fisik, dan Juga Kaisar Bayangan setelah beberapa hari sebelumnya berhasil memenangkan Arena Senjata Rahasia.
"Jangan lupa juga pencapaian si kecil Razak! Dia merupakan Kaisar Fisik termuda dalam sejarah!" Tanggap Yahuwa.
"Yahh…! Itu benar! Kalian berdua sungguh luar biasa! Membuat darahku mendidih saja!" Jawab Yaseya.
"Omong kosong! Jika memang seperti itu, lalu kenapa kalian sering bermalas-malasan! Tak pernah berlatih dengan giat!" Sahut Theo dari dalam kereta.
Mendengar kata-kata Theo. Seketika mulut Yahuwa dan Yaseya terdiam. Tak berani memberi tanggapan apapun. Masih terekam jelas diingatan mereka bagaimana nasib Thomas yang telah dengan sembarang menjawab kata-kata Theo ketika ia sedang kesal.
Perjalanan kemudian berubah menjadi hening saat tak ada siapapun yang kembali membuka obrolan. Sampai kemudian, Theo yang sedang dengan santai menyalin salah satu buku koleksi perpustakaan gelang ruang-waktu, tiba-tiba berubah serius ekspresi wajahnya.
"Boss! Ada apa?" Tanya Razak, begitu menyadari perubahan ekspresi Theo.
"Aura yang begitu mendominasi! Seorang Emperor!" Ucap Theo. Ekspresi wajahnya berubah buruk.
__ADS_1
Tanpa menunda, ia kemudian segera melompat keluar dari dalam kereta. Tindakan Theo tersebut, tentu saja mengejutkan Yahuwa, Yaseya dan juga Razak yang tak mengerti tentang apa yang sedang terjadi.
"Aku akan kembali ke perkemahan terlebih dahulu!" Ucap Theo. Seraya mengeluarkan sosok raksasa Raja Naga Hitam dari dalam Gelang ruang-waktu.
Tanpa menunggu jawaban dari ketiga orang yang saat ini masih menatapnya dengan tatapan bingung, Theo melompat keatas punggung Raja Naga Hitam. Terbang cepat meninggalkan ketiganya.
*Woooshhhh….!!!!
Raja Naga Hitam, terbang membelah langit dengan kecepatan penuh.
"Sialan! Siapa orang ini! Semoga saja aku bisa sampai tepat waktu!" Gumam Theo.
Sebelumnya, Theo bisa merasakan satu aura kuat yang begitu mendominasi dimana bisa di pastikan olehnya berasal dari tubuh seorang Emperor kelas menengah sedang bergerak dengan sangat cepat menuju kelokasi tempat perkemahan Bandit Serigala berada.
Hal ini tentu saja membuat Theo yang tak bisa memastikan siapa gerangan orang tersebut, menjadi sangat khawatir.
***
(Perkemahan Bandit Serigala)
*Booommmm….!!!
Ledakan beras tersebut, tak lain berasal dari pendaratan seorang pria tua dengan rambut serta jenggot tebal di wajahnya yang sepenuhnya putih.
Namun, meskipun berwajah keriput dan memiliki rambut putih, pria tua ini berperawakan tubuh sangat gagah dan berotot. Begitu kekar. Dibawah tatapan ratusan pasang mata, pria ini melangkah keluar dari balik kepulan debu sambil mengeluarkan aura yang sangat menekan.
Menyebabkan setiap orang anggota Bandit Serigala yang terfokus pandangannya kearah sang pria tua, kini memiliki ekspresi wajah buruk saat nafas mereka mulai tercekat karena tekanan aura yang dikeluarkan pria tua tersebut.
"S-Senior! Boleh saya tahu, siapa anda?" Tanya Thomas gugup. Berusaha dengan sangat hati-hati menjaga nada bicaranya agar tak menyinggung pria tua dihadapannya.
"Hmmm… Sekumpulan Bandit! Apa yang sebenarnya ia lakukan dan inginkan di tempat seperti ini!" Gumam sang pria tua, mengabaikan pertanyaan Thomas.
Merasa lawan bicaranya mengabaikan, Thomas mulai mengerutkan kening, berfikir keras bagaimana cara agar bisa menarik perhatian pria tua tersebut untuk mau mengatakan tujuannya datang tanpa menyinggung.
"Senior! Mohon maaf telah lancang! Ini adalah perkemahan markas besar Bandit Serigala! Bolehkah saya tahu tujuan anda datang berkunjung?"
Saat Thomas masih belum menemukan kata yang tepat, Sanir dengan sigap menggantikan bertanya. Nada suaranya terdengar sangat sopan dan bermartabat. Bagaimanapun juga, wanita ini adalah anak dari seorang Khan, meskipun memang Tribenya telah musnah, tapi ia masih mengingat betul pelajaran tata krama yang ia terima saat masih menjadi Nona muda.
"Hmmmm… Aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian!" Ucap pria tua.
__ADS_1
Mendengar permintaan pria tersebut, ekspresi wajah Sanir berubah cemas.
"Senior! Mohon maaf sekali lagi! Tapi pemimpin Bandit Serigala sedang melakukan perjalanan keluar!" Jawab Sanir.
"Sedang keluar?" Tanya pria tua, dengan ekspresi wajah tak puas.
"I-Itu benar! Ia sedang keluar! Namun, kurasa sebentar lagi seharusnya ia sudah akan kembali! Jadi, bila anda mau sebentar saja…."
Sanir belum sempat menyelesaikan kalimatnya sampai kemudian intensitas aura menekan yang di keluarkan oleh pria tua secara tiba-tiba bertambah kuat. Menyebabkan hampir semua anggota Bandit Serigala kini jatuh berlutut, tak kuasa menahan tekanan yang membebani tubuh mereka masing-masing.
"Kau mau aku menunggu?" Tanya pria tua, dengan sorot mata mematikan.
*Glekkk…!!!
Melihat tatapan penuh nafsu membunuh yang terarah padanya tersebut, Sanir yang dari tadi berusaha keras untuk tak jatuh dalam posisi berlutut, segera merasa kebas pada kedua telapak kakinya. Secara tak sadar kini jatuh berlutut.
Pria tua yang menyaksikan hal tersebut, kini mulai memandang dengan pandangan menyapu sekitar sambil memasang ekspresi wajah remeh untuk sesaat, sebelum tatapannya terhenti ketika melihat Istana Emas megah yang terbang perlahan agak jauh diatas perkemahan.
"Hmmmm… Sesuatu yang cukup menarik!" Gumam Pria tua.
Bersamaan dengan gumamannya, ia secara tiba-tiba melakukakan gerakan melompat keatas, menerjang cepat menuju Istana Emas.
*Boooommmm…..!!!!
Ledakan dahsyat segera menggema begitu pria tua mendaratkan pukulan tinju keras pada bagian bawah Istana Emas yang melayang di udara.
Namun, kejadian tak terduga terjadi, Pria tua yang tampaknya ingin menerobos masuk kedalam Istana Emas dengan menghancurkan permukaannya, kini justru terpental mundur, jatuh dengan keras kembali ke tanah.
"Gaahh….!!! Segel pelindung yang luar biasa!" Ucap pria tua, begitu keluar dari reruntuhan tanah. Ia bisa merasakan saat ini ada sepasang sorot mata yang memandangnya dari dalam Istana Emas.
"Hmmmm… Pandangan yang menyeramkan! Tapi, kita lihat, berapa lama memang pelindungmu itu bisa menahan pukulanku!" Gumam pria tua, merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Sasi kearahnya.
Pria tua tersebut tampak sudah berancang-ancang akan kembali melakukan terjangan sampai kemudian….
*Woooshhhh…!!!
*Boooommmmm….!!!
Satu pendaratan keras tiba-tiba terjadi di hadapannya. Sesosok makhluk raksasa berwarna hitam pekat dengan sayap lebar mengembang penuh duri, kini menatap tajam pria tua dengan tatapan liar.
__ADS_1
"Senior, aku tak tahu siapa dirimu, tapi tolong katakan, kenapa kau membuat keributan dirumahku?" Tanya Theo, dari atas punggung Raja Naga Hitam. Tongkat Logam Baal, terpanggul di pundaknya.