
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Kemah Besar kelompok Bandit Serigala)
*Woooshhhh…!!!
*Tap…!!!
Meirin mendarat dengan ekpsresi wajah suram di depan pintu gerbang kemah besar. Ia tampak mengabaikan para penjaga dan segera masuk kedalam perkemahan dengan langkah kaki bergegas.
***
(Kemah rapat)
"Apa katamu?"
*Brakkkk…!!!!
Thomas berteriak marah sembari menghancurkan meja kayu di hadapannya saat mendengar laporan yang di sampaikan Meirin.
"Bagaimana bisa! Drani mati? Sedangkan nasib Zota tak di ketahui?" Gumam Thomas. Wajah bulatnya memerah tak mampu menahan emosi.
"Dari awal, pihak lawan memang sudah menyiapkan rencana sergapan!" Jawab Meirin.
"Dan yang paling buruk, pria tua berkelas Emperor dari kelompok Bandit Kumbang Gurun mengatakan, bahwa nasib para tahanan yang tertangkap, akan berakhir di eksekusi mati 3 hari dari sekarang!" Tambah Meirin.
"Aaaarrgghhhhh….!!!"
*Bammmm….!!!
Laporan terakhir yang disampaikan oleh Meirin, membuat Thomas tampak semakin frustasi. Ia melangkah dengan kaki berat menuju deretan perabot hias, sebelum kembali meluapkan emosi dengan menghancurkannya.
"Aku sungguh bodoh! Ini seperti sedang memberi tambahan makan siang gratis pada pihak lawan dengan mengirim kalian untuk melakukan misi pengintaian!" Ucap Thomas. Wajahnya semakin memerah.
__ADS_1
"Jika Boss kembali! Bagaimana aku harus menjelaskan situasi ini? Benar-benar musibah! Kenapa juga ia selalu membuatku yang bertanggung jawab pada kelompok ketika sedang pergi!" Dengus Thomas.
"Meirin! Kau benar-benar tak tahu nasib Zota? Lalu bagaimana dengan Yaseya?" Tanya Oscana. Yang dari tadi ikut mendengar laporan situasi tim pengintai.
"Hmmmm… Yaseya, menurut mata-mata Drani, ia saat ini sedang dalam kondisi tragis! Terus disiksa oleh kelompok Bandit Kumbang Gurun karena tak mau buka mulut untuk memberi bocoran informasi apapun tentang kelompok kita!"
"Sementara Zota… Entahlah! Sudah kubilang diawal, terakhir aku menoleh untuk melihat situasi, itu adalah tepat ketika pria tua berkelas Emperor menebas kepala Drani! Dan saat itu juga, Zota tampak berhasil melancarkan satu serangan menyelinap pada sang pria tua! Menebas tangan kanannya!" Jawab Meirin.
"Setelah kejadian itu, aku memilih dengan cepat meninggalkan tempat. Hal terakhir yang kudengar hanyalah, teriakan Zota yang ingin agar aku menyampaikan pada Boss besar, bahwa ia merasa sangat terhormat telah di beri kesempatan untuk bergabung dengan kelompok Bandit Serigala!" Tutup Meirin.
"Seharusnya aku yang merasa terhormat, bisa merekrut anggota dengan dedikasi luar biasa sepertinya!"
Tepat ketika Meirin menyelesaikan penjelasan tentang situasi terakhir yang ia ketahui, satu suara tiba-tiba terdengar dari luar kemah rapat. Bersamaan dengan suara tersebut, hawa kehadiran yang begitu mendominasi, serta sedikit aura membunuh yang terasa begitu dingin, bocor memasuki kemah rapat.
"Tidak!" Gumam Thomas. Saat mendengar suara tersebut.
Bersama dengan gumaman Thomas, Theo melangkah masuk kedalam kemah rapat. Diikuti dengan anggota tim ekspedisi kelompok Bandit Serigala yang lain.
"Thomas! Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Theo. Dengan nada dingin. Menatap tajam kearah si Gendut.
"B- Boss…! Maaf! Situasinya benar-benar di luar kendaliku!" Jawab Thomas, dengan nada bergetar.
Mendengar jawaban Thomas, aura yang keluar dari dalam tubuh Theo kini menjadi semakin berat. Menekan siapapun yang sedang berada di dalam kemah rapat.
"Yang kutanyakan adalah… Apa yang masih kau lakukan disini! Bukankah sudah jelas ada satu kawan kita yang tertangkap musuh! Satu lagi tak jelas nasibnya! Dan bahkan, ada satu juga yang telah mati!" Gumam Theo.
"Dalam situasi seperti ini, sebagai orang yang memegang otoritas tertinggi selama aku tak ada di tempat, kau hanya akan memaki kesal dan mengeluh?" Tanya Theo sekali lagi. Semakin menambah tekanan berat yang dirasakan setiap orang. Percikan enam atribut Mana kini juga mulai samar berderak di sekitar tubuhnya.
"B-Boss...." Ucap Thomas, berusaha kembali menjelaskan dengan mulut bergetar.
"Diam!" Bentak Theo.
"Penjelasannya nanti saja! Sekarang, panggil seluruh wakil pemimpin! Atur agar mereka menyiapkan divisinya masing-masing! Kelompok Bandit Serigala, bergerak memasuki Gurun Purba malam ini juga! Kita menuju kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun dengan kekuatan penuh!" Ucap Theo.
"Meirin! Kau pimpin jalan!" Tambah Theo.
"Sementara itu, apa ada orang lain lagi yang tahu dimana lokasi kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun?" Tanya Theo kemudian. Sambil memandang menyapu sekitar.
Mendengar pertanyaan Theo, setiap orang dalam kemah rapat mulai saling pandang satu sama lain, tampaknya, tak ada satupun dari mereka selain Meirin yang tahu lokasi kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun.
Sampai kemudian, satu suara terdengar dari arah pintu masuk kemah rapat.
"Boss! Aku tahu dimana lokasinya!" Ucap Yahuwa, dengan tubuh penuh balutan perban, ia di papah oleh Syakira memasuki kemah rapat.
__ADS_1
"Kau masih mampu berdiri sendiri?" Tanya Theo.
Pertanyaan Theo, segera disambut Yahuwa dengan mendorong Syakira kesamping. Berusaha sekuat tenaga berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
"Aku mampu!" Jawab Yahuwa.
"Bagus! Kau antar aku ke kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun sekarang juga!" Ucap Theo. Seraya mulai berjalan keluar kemah rapat.
Melihat Theo berjalan keluar, seluruh orang segera mengikuti.
"Boss! Kau bergerak terlebih dahulu? Berapa orang yang ingin kau bawa? Aku akan menyiapkannya secepat mungkin!" Tanya Thomas. Dengan langkah tergesa, mengekor Theo.
"Tak perlu! Kau jalankan saja intruksi yang tadi kuberikan! Atur seluruh divisi untuk bergerak dalam satu kelompok!" Jawab Theo.
"Ahhh… Lalu?" Tanya Thomas.
"Thomas! Ingin tahu memang satu hal yang baik! Tapi ada kalanya kau harus belajar menutup mulutmu itu! Lakukan saja intruksiku! Aku hanya perlu Yahuwa menemaniku sebagai penunjuk jalan!" Dengus Theo.
Satu dengusan yang segera membuat Thomas tak berani lagi mengucapkan kalimat apapun.
Dan bertepatan dengan diamnya Thomas, Theo mengayunkan tangan ringan dua kali. Mengeluarkan dua hal dari dalam gelang ruang-waktu. Glory Land Warship, dan Raja Naga Hitam.
Sama halnya dengan ekpsresi wajah tim ekspedisi ketika pertama kali melihat Glory Land Warship, setiap orang yang ada di kemah besar yang kebetulan berada dekat dengan lokasi dimana Theo menempatkan kapal perang tersebut, segera memasang ekspresi wajah takjub begitu melihatnya.
"Sasi! Gunakan realm kecil dari Istana Emas untuk menampung semua anggota! Ikuti arahan Meirin untuk membawa mereka semua kelokasi dimana kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun berada!" Ucap Theo.
"Akan kulaksanakan!" Jawab Sasi, dari dalam Glory Land Warship.
Jawaban Sasi, segera disambut dengan anggukan singkat oleh Theo, sebelum menoleh kearah Yahuwa.
"Yahuwa! Tunjukkan jalannya!" Ucap Theo. Seraya melakukan satu lompatan keatas punggung Raja Naga Hitam.
"Baik!" Jawab Yahuwa, dengan menahan rasa sakit, ikut naik keatas punggung sang Raja.
"Terbang!" Gumam Theo.
"Groooooaaaahhh…..!!!!!"
Raja Naga Hitam berteriak liar untuk beberapa saat, tampak marah, seperti bisa memahami situasi hati tuannya, sebelum kemudian, mulai mengepakkan sayap berdurinya. Terbang cepat menembus kegelapan langit malam.
Disisi lain, melihat Theo telah meninggalkan tempat, Thomas yang sempat termenung memandang kearah langit, tak pernah bosan mengagumi cara terbang mendominasi yang dilakukan Raja Naga Hitam, kini mulai melihat sekitar.
"Tunggu apa lagi? Kalian juga mendengar apa yang di katakan Boss tadi! Segera kumpulkan setiap orang!" Seru Thomas lantang.
__ADS_1