
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmmm…. Sungguh bodoh memberi lawan kesempatan!" Gumam pria bertudung, sebelum mulai mengayunkan kedua pisau kembar di tangannya.
Bersamaan dengan ayunan tersebut, kabut aneh berwarna putih pekat dan berhawa sangat dingin, kini mulai menyebar luas di seluruh Ring Arena. Menutup visi siapapun untuk bisa melihat apa yang sedang terjadi.
"Hahhaha….! Sekarang apa yang bisa kau lakukan!" Teriak pria bertudung dalam pekatnya kabut putih. Merasa sangat puas karena telah bisa menjebak Theo.
Di dalam kabut aneh tersebut, ia sebagai pemilik dua pisau kembar, tampak bisa mengendalikan sepenuhnya pergerakan dari kabut yang kini menyelimuti seluruh Ring Arena.
Karena memiliki kendali atas kabut putih, pria bertudung bisa melihat dengan jelas apapun yang berada di dalam selimut kabutnya. Selain itu, ia juga bisa dengan bebas memindahkan siapapun orang yang terjebak di dalam.
Sambil memasang senyum lebar penuh kemenangan, pria bertudung mulai melakukan langkah-langkah koordinasi, mengatur dua kawannya untuk melancarkan serangan kombinasi menyelinap kepada Theo.
Disisi lain, Theo sendiri yang kini terjebak di dalam kabut, dan menjadi target beberapa serangan menyelinap, tampak tak memiliki ekspresi wajah panik sedikitpun. Sorot matanya masih sangat tajam. Bahkan masih mempertahankan seringai lebar di wajahnya.
"Eye of Agamoto aktif!" Gumam Theo.
Bersamaan dengan gumamannya, mata hitam yang terbuat dari rangkaian segel aneh, mulai terbuka tepat ditengah dahi Theo. Aura kegelapan yang intens, juga mulai terpancar keluar dari sorot mata hitam yang tajam ini.
*Slaaaassshhh…!!!
*Slaaaassshhh….!!!
*Dentang….!!!
Didalam pekatnya kabut putih, dimana tak ada satupun penonton bisa melihat apa yang sedang terjadi, suara-suara benturan antar logam kini terdengar nyaring.
Hal ini menyebabkan ribuan penonton yang dari tadi seluruhnya memfokuskan perhatian pada jalannya pertarungan di Arena Pedang, dimana berjalan begitu menarik sejak detik awal pertandingan dimulai, mulai memasang ekspresi wajah tak sabar. Merasa tontonan menarik mereka telah di rampok oleh taknik aneh yang dikeluarkan oleh pria bertudung anggota Barbarian Tribe.
"Ahhh….!!! Sialan! Itu curang!" Teriak salah satu penonton dengan wajah kesal.
Teriakan salah satu penonton ini, segera menyulut emosi para penonton lain.
__ADS_1
"Yahhh…!! Itu curang! Teknik apa itu? Bukankah Arena Pedang seharusnya hanya terfokus pada penggunaan teknik pedang?" Sahut penonton lainnya.
"Aku setuju! Meskipun peserta bertopeng sebelumnnya juga mengeluarkan teknik aneh, tapi ia masih menggunakan serangan-serangan gerakan pedang yang sangat indah dalan menebas setiap lawannya!"
"Pihak Dark Guild! Ini curang! Teknik itu jelas merugikannya pria bertopeng!"
"Itu benar!"
"Hentikan pertarungannya!"
"Tidak seru sama sekali!"
"Menyebalkan!"
Ratusan makian dan teriakan protes kini menggema di seluruh tribun penonton. Menyebabkan suasana Death Arena menjadi sangat gaduh.
"Diam kalian semua!" Bentak salah satu Assassin Dark Guild yang bertugas sebagai penjaga keamanan.
"Bukankah kalian hanya merasa kesal karena tak bisa melihat jalannya pertandingan! Kenapa berkembang menjadi permintaan menuntut keadilan!" Tambah Assasin Dark Guild lainnya.
Disisi lain, merasa situasi mulai berkembang menjadi tak terkendali, tetua Dark Guild yang bertugas sebagai pembawa acara segera turun tangan untuk meredam suasana.
"Para penonton! Harap bersikap lebih bijak! Kalau mau membahas tentang aturan, teknik yang di keluarkan oleh peserta nomer 56, tidaklah melanggar aturan apapun!" Ucap sang tetua.
Mendengar kata-kata dari tetua Dark Guild, para penonton yang jelas masih tak terima, karena memang kebutuhan mereka sebenarnya adalah tontonan, tetap melontarkan beberapa kalimat protes.
Namun, karena merasa tak ada aturan yang di langgar, kali ini pihak Dark Guild sebagai penyelenggara Death Arena, hanya mengabaikan. Tak memberi tanggapan apapun.
Sampai kemudian, beberapa penonton mulai melakukan aksi melempar sampah kearah Ring Arena. Tindakan yang memicu penonton lainnya untuk melakukan hal yang sama sebagai tanda protes.
Melihat hal ini, tentu saja para penjaga keamanan dari Dark Guild yang seluruhnya adalah Assassin profesional, dengan geram menatap kearah tribun penonton. Aura kegelapan intens kini mulai semerbak menyelimuti seluruh Tribun.
"Hahh…! Sebenarnya apa yang sedang kalian risaukan? Kalau mau membahas kerugian, andai kalian bisa melihat yang terjadi di dalam sana, mungking kalian justru mulai merasa kasihan pada kelompok 3 orang petarung dari Barbarian Tribe!"
Di tengah kegaduhan yang terjadi, salah satu penonton yang memiliki perawakan sepuh, memberi komentar. Menyebabkan orang-orang yang ada di sekitarnya, dimana bisa mendengar kata-kata pria sepuh tersebut, segera menoleh sambil mengerutkan kening.
"Pak tua, kau bisa melihat apa yang terjadi di atas Arena Pedang?" Tanya penonton sebelah pria sepuh.
"Yah, kurang lebih begitu!" Jawab sang pria sepuh, ia tak lain adalah Tetua Delario yang sedang menyamar sebagai penonton. Membantu Theo untuk bertaruh atas namanya sendiri.
"Bagaimana jalannya pertarungan?" Tanya penonton sebelumnnya.
Mendengar pertanyaan tersebut, tetua Delario tak segera memberi jawaban, matanya yang saat ini diselimuti oleh aliran Mana Kegelapan pekat, masih terfokus melihat kearah Ring Arena Pedang.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau akan tahu sendiri hasilnya!" Jawab Tetua Delario, dengan ekspresi wajah sangat antusias.
"Tuan muda, kau benar-benar sesuatu! Kekuatan pinjaman dari salah satu Iblis terkuat, Gusion?"
"Pantas saja Lord Santiago memberimu gelar Godfather! Sekarang aku mengerti!" Gumam Delario.
Gumaman yang di sambut oleh penonton di sebelah yang sebelumnya bertanya, dengan tatapan heran tak mengerti.
Sementara itu, suasana tribun penonton masih sangat gaduh dan mulai tak terkendali, membuat beberapa Assasin Dark Guild yang berjaga hendak melakukan tindakan, sampai kemudian, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras seperti orang sedang sangat kesakitan dari atas Ring Arena Pedang yang masih berselimut kabut putih tebal.
Teriakan-teriakan tersebut, mau tak mau membuat kegaduhan yang terjadi, mulai mereda. Setiap penonton kini kembali memfokuskan perhatian kearah Ring Arena Pedang.
Beberapa saat kemudian, setelah teriakan kesakitan yang sangat memilukan terdengar, kabut putih tebal yang dari tadi menyelimuti Ring Arena Pedang, perlahan menghilang.
Dan begitu para penonton sudah bisa melihat dengan jelas, pemandangan mengejutkan segera mereka dapati diatas Ring.
Theo yang menurut hampir seluruh penonton akan menjadi pihak yang di rugikan dari teknik kabut aneh sebelumnnya, kini justru masih berdiri tegak tanpa luka apapun di tubuhnya.
Sementara ketiga lawannya, dua mati dengan bagian tubuh terpotong menjadi beberapa bagian, dan satu lagi yakni pria bertudung, menggeliat kesakitan diatas lantai Ring Arena Pedang sambil menekan salah satu lengannya yang telah buntung.
Tudung sang pria sendiri saat ini telah terbuka, sedangkan dua pisau kembar yang menjadi senjatanya, tergeletak di lantai tak jauh dari hadapannya.
"Bagaimana bisa? Kenapa kau bisa membaca teknikku?" Ucap anggota Barbarian Tribe. Sambil mengerang menahan rasa sakit.
Mendengar pertanyaan tersebut, Theo tak menjawab, hanya mulai berjalan perlahan kearah dua pisau kembar. Ia memungut dua pisau tersebut, memandang dengan tatapan mendalam.
"Kau bertanya bagaimana bisa? Sungguh lucu!" Gumam Theo.
"Bagaimana bila kukatakan padamu bahwa akulah yang telah menempa dan memasukkan Kristal Plant dari Bunga Udumbara Embun kedalam dua pisau kembar ini?" Tanya Theo.
"Kau…" Mendengar kata-kata Theo, anggota Barbarian Tribe segera memasang ekspresi wajah terkejut. Begitu terkejut sampai tak bisa meneruskan kalimatnya.
"Kabut Mistis Abadi, sungguh nostalgia!" Gumam Theo pelan, sebelum kembali mengarahkan pandangan pada anggota Barbarian Tribe.
"Sebelum aku memenggal kepalamu dan memberikannya pada Lucius sebagai hadiah, Kau punya kata-kata terakhir?"
"Sirius Braveheart!" Tanya Theo, dengan seringai lebar kembali menghiasi wajahnya.
----
Note :
Hari minggu, satu chapter.
__ADS_1