
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Di luar gua, hampir setengah hari setelah Theo memasuki gua.)
"Kabutnya sudah berhenti keluar dari tadi, tapi kenapa si bodoh itu belum keluar juga! Apa kita periksa saja kedalam?" Kata Aria, mulai terlihat khawatir.
"Hmmm… Boss sudah bilang, jangan ada yang ikut masuk! tunggu saja di luar, kau ini tuli atau apa?"
"Dan kenapa kau terus memanggil Boss dengan sebutan bodoh? Dibanding dengannya, kau ini jauh lebih bodoh!" Dengus Arthur.
"Apa kau bilang?" Aria yang sudah dalam suasana hati tidak baik, segera terpancing emosi.
"Aku bilang kau bodoh, terus kenapa? Kau tak terima?" Kata Arthur.
"Kau berani?" Aria mulai mengeluarkan dua pisau kecilnya.
"Kenapa tidak? Kapan aku pernah takut denganmu hah?" Bentak Arthur, mulai membentuk Dark ball di telapak tangannya.
Aria yang sudah emosi, hendak maju menerjang kearah Arthur. Namun, disaat bersamaan, Arthur yang posisinya menghadap kearah pintu masuk gua, melihat pergerakan dari sana.
Arthur segera memicingkan mata untuk melihat lebih jelas, dan ketika sudah pasti yang membuat pergerakan adalah Theo yang tengah berjalan keluar dari dalam gua, dia segera menghapus Dark Ballnya, kemudian mulai berlari kearah pintu masuk gua.
"Booss…..!!!" Teriak Arthur sambil berlari.
Sementara Aria yang melihat itu, juga ikut menoleh kebelakang. Sesaat kemudian, ketika dia juga melihat sosok Theo keluar dari dalam gua, dia berlari menerjang, dengan gerakan yang lebih cepat dari Arthur.
*Boooommmm…..!
Tanpa peringatan apapun, Aria melancarkan pukulan keras kepada Theo. Membuatnya terpental jauh.
"Uhuuukkkk….!!!"
"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila atau apa?" Bentak Theo begitu mendarat, setelah terpental oleh pukulan Aria.
"Bosss…!!!" Sementara Arthur, segera merubah arah larinya menuju Theo yang dilempar oleh pukulan Aria.
__ADS_1
"Kau nenek sihir gila!" Bentak Arthur kepada Aria, saat sudah sampai di posisi Theo.
"Masih berani memakiku? Lain kali, bila kau kembali bersikap seenaknya sendiri seperti tadi, aku bukan cuma akan memukulmu! Aku akan mematahkan kaki dan tanganmu agar tak bisa berbuat seenaknya lagi!" Bentak Aria balik.
"Kau gila!" Bentak Theo
"Yahh.. kau psikopat gila!" Arthur ikut menambahi.
*Wooshhh….
*Jlepp.. jleep….
Mendapat makian lagi, Aria tak memberi jawaban, hanya dengan cepat melempar kedua pisau kecilnya. Yang dengan tepat mendarat pada tanah yang cuma berjarak beberapa sentimeter dari benda kejantanan Theo.
Melihat dua pisau kecil yang hampir saja mengenai benda kejantanannya, Theo segera merasa dingin di punggungnya. Kini dia mulai menatap Aria yang memasang ekspresi sedikit menyeramkan.
"Ini benar-benar musibah? Master, apakah benar-benar tak ada cara untuk menarik lagi Janji langit yang kau katakan padaku dulu?" Kata Theo, masih dengan ekspresi ngeri melihat kearah Aria.
"Hahhahaha…. Terima saja nasibmu! Hahhahah….!!"
"Aku bahkan sudah tak sabar melihat kalian menikah! Belum ada sebulan, mungkin kau sudah akan kehilangan benda kejantananmu itu! Hahahhaha…!!!" Tiankong mulai tertawa lepas.
Mendengar itu, Theo menjadi semakin ngeri, dia tak bisa membayangkan harus menikahi gadis iblis di hadapannya ini, hanya memikirkannya saja, sudah membuat benda kejantanannya bergetar, mengerut ketakutan.
**
(Beberapa saat kemudian)
Ketika suasana sudah kembali menjadi tenang, Theo kini membawa Aria serta Arthur untuk sedikit memasuki mulut gua. Dia kemudian menyerap satu mutiara Mana Perak. Setelah sedikit mengisi simpanan Mananya, ia mengaktifkan teknik Ice Projectionnya. Menjaga agar posisi mereka tak terdeteksi.
Setelah merasa aman, Theo memulai proses mengisi seluruh simpanan Mana di Element Seednya lagi.
Melihat hal itu, Aria dan Arthur yang mengetahui proses ini akan membutuhkan waktu seharian penuh, kini mulai menyibukkan dirinya dengan hal-hal lain.
Aria tampak menggosok-nggosok serta membersihkan dua pisau kecilnya, terlihat sangat menyayangi dua pisau tersebut. Sementara Arthur, kini mulai kembali membaca manual teknik pengendalian Elemen kegelapan yang di berikan Theo kepadanya.
**
(Keesokan harinya)
"Boss.. bagaimana? kau sudah mendapatkan bunga itu?" Tanya Arthur, ketika melihat Theo telah selesai mengisi simpanan Mana di Element Seednya.
"Tentu saja!" Jawab Theo singkat.
Kemudian dengan satu ayunan tangan ringan. Kelopak raksasa Bunga Udumbara Embun keluar di dahapan Theo.
__ADS_1
"Wow, besar sekali! Jadi ini Bunga Udumbara yang legendaris itu!" Kata Arthur, sangat antusias melihat kelopak bunga dihadapannya.
"Yahh, ini hanya tubuhnya. Meskipun memang termasuk sumber daya yang sangat langka, dan bisa di jadikan sebagai bahan membuat beberapa obat kelas Illahi. Yang lebih penting lagi, adalah ini…"
Sejurus kemudian, setelah berkata demikian, Theo kembali mengayunkan tangan. Kali ini sebuah benda mirip Kristal Beast keluar di telapak tangannya.
"Ohh, apakah itu Kristal Beast dari bunga ini?" Tanya Arthur.
"Hampir benar, lebih tepatnya ini adalah Kristal Plant." Jawab Theo.
"Kristal Plant? Aku tak pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya!" Kata Arthur, penasaran. Kemudian maju kedepan untuk melihat lebih jelas Kristal yang ada ditangan Theo.
Berbeda dengan Arthur, Aria memasang ekspresi sedikit terkejut, kemudian maju kedepan, dan dengan cepat mendorong Arthur kesamping. Tanpa mengatakan apa-apa, dia kemudian meraih Kristal Plant yang ada di tangan Theo.
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Theo dan Arthur hampir secara bersamaan.
"Bukan apa-apa, aku ingin Kristal Plant ini! Aku mau kau memberikannya padaku!" Kata Aria, dengan ekspresi memerintah.
"Apa-apaan sikapmu itu? Kau bahkan tadi memukul boss! Sekarang seenaknya sendiri mengambil hasil jeri payahnya!" Bentak Arthur.
"Kenapa kau ikut campur? Untuk ukuran seorang lelaki, kau terlalu cerewet!" Bentak Aria balik.
"Apa kau bilang?" Bentak Arthur balik, tak terima.
"Hahhh… kalian berdua, diam! Selalu saja ribut!" Bentak Theo.
"Pokoknya aku tak mau tau, Kristal ini punyaku!" Dengus Aria.
"Dasar nenek sihir! seenaknya saja!" Bentak Arthur lagi ketika melihat sikap Aria.
"Sudahh… diamm!!!" Bentak Theo lebih keras lagi, terlihat sangat frustasi.
"Aku tak masalah memberikannya padamu! Tapi apa kau tahu cara menggunakannya?" Tanya Theo kepada Aria kemudian.
Mendengar itu, Aria mengeluarkan dua pisau kecilnya. "Tentu saja aku tahu, dua pisauku ini, bukanlah pisau biasa. Keduanya adalah seperangkat senjata kelas S." Jawab Aria.
"Hanya saja, kekuatannya di segel dan ditekan oleh ayahku, agar aku yang masih seorang Immortal, tetap bisa menggunakannya!" Lanjut Aria.
"Ohh, jadi seperti itu?" Tanya Theo, kini dengan ekspresi tertarik ketika mendengar jawaban Aria.
"Yahh.. seperti itu, jadi Kristal Plant ini untukku! Setelah kembali ke House, aku akan mencari penempa yang bisa melebur Kristal ini kedalam pisauku!" Jawab Aria.
"Hahhaa.. kalau memang yang kau katakan itu benar, bahwa pisaumu adalah senjata kelas S. Maka tak perlu repot-repot menunggu sampai kembali ke Housemu!" Kata Theo. Sejurus kemudian, dengan satu ayunan tangan, dia mengeluarkan seperangkat alat penempaan.
"Sekarang juga, aku sendiri yang akan membantumu meleburkannya!"
__ADS_1