Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Racun Siksaan Petir


__ADS_3

"Aaarrggggghhhhh….." Aria berteriak keras, terlihat sangat kesakitan.


"Apa itu? Cairan apa itu? Master, apa yang harus kulakukan?" Theo mulai panik melihat keadaan Aria.


"Nona muda..!!!!" Master Estro yang mendengar teriakan Aria dari kejauhan ikut panik.


"Tuan muda, apa yang terjadi dengan nona muda?" Teriak Master Estro.


"Master…!!!" Theo yang juga belum memahami apa yang terjadi, hanya bisa bertanya panik kepada Tiankong.


"Tenangkan dirimu, sekarang juga bekukan tubuhnya dengan Mana Es, setelah itu segera salurkan Mana Cahaya untuk meredakan rasa sakit gadis muda ini!" Tiankong mulai memberi intruksi.


Tanpa menunda, Theo segera melaksanakan intruksi masternya. Dia membekukan tubuh Aria, kemudian menyelimutinya dengan mana Cahaya. Setelah Theo melakukan hal tersebut, Aria tampak mulai sedikit tenang. Kemudian kehilangan kesadaran.


"Sekarang apa lagi?" Tanya Theo.


"Sekarang bawa dia pergi dari sini dahulu, menjauh dan cari tempat aman. Aku akan menjelaskan kondisinya di perjalanan. Ular ini masih berbahaya, kita juga tak tahu sampai kapan formasi jebakan akan mampu menahannya." Jawab Tiankong.


Theo mengangguk mengerti, dan mulai mengangkat Aria yang dalam kondisi membeku, menyisakan bagian kepalanya yang tak tertutup es.


"Master Estro, aku akan membawa nona Aria ke tempat aman, tolong tahan orang tua itu. Setelah ini aku akan mencari cara untuk mengabarimu." Teriak Theo.


Setelah mengatakan hal itu, Theo segera bergerak dengan cepat menjauh tanpa menunggu jawaban dari Master Estro.


Master Estro yang mendengar teriakan Theo hanya mengangguk. Setelah itu eksresinya berubah sangat serius, menatap tetua house Ironhead yang ada dihadapannya dengan tatapan bengis.


"Berdoalah Nona mudaku baik-baik saja, dengan begitu, setelah menghabisimu, aku akan mempertimbangkan untuk menyisakan sedikit keturunan dari House Ironhead tetap hidup." Kata Master Estro dingin.


Ia kemudian mulai mengeluarkan seluruh auranya dan menerjang maju dengan segenap kekuatan. Melihat hal itu, tetua House Ironhead melakukan hal yang sama, dan mulai maju menerjang juga. Bentrokan kembali terjadi.


***

__ADS_1


Disisi lain, Theo saat ini memanggul Aria di pundaknya. Menggunakan Mana Gravitasi, dia bergerak cepat menjauh area Pohon Kuno tanpa melihat kebelakang sekalipun.


"Master…" Theo kembali bertanya kepada masternya.


"Hmmm, Ular Petir Ungu adalah salah satu Spirit Beast yang legendaris, jarang sekali terlihat bahkan di masa ku." Tiankong mulai menjelaskan.


"Ular ini termasuk Spirit Beast yang sangat berbahaya, selain mampu mengendalikan Mana Petir, Ular ini juga tersohor dengan racun nya yang ganas."


"Racun Siksaan Petir. Begitu racun tersohor ini disebut. Orang yang terkena racun ini akan mengalami siksaan seperti tersambar petir di sekujur tubuhnya, siksaan ini bahkan akan masuk menerobos kedalam tulang-tulangnya."


"Menyebabkan rasa sakit yang sangat tak tertahankan." Tiankong menutup penjelasannya.


"Racun Siksaan Petir? Mengapa aku tak pernah mendengarnya? Tak ada catatan sama sekali yang menyebut racun ini di dalam perpustakaan kastil." Kata Theo.


"Itu karena memang racun ini adalah racun yang langka, bukankah kubilang Ular Petir Ungu adalah Spirit Beast Legendaris? Itu disebut legendaris karena memang jarang sekali terlihat." Jawab Tiankong.


"Keberadaan ular ini bahkan masih di ragukan, dan hanya ada dalam beberapa catatan kuno. Kemunculannya tadi merupakan pertama kali aku melihatnya secara langsung."


Bagaimanapun juga, meskipun bagi Theo Aria adalah gadis aneh yang egois dan baru saja ia temui, fakta bahwa Aria rela menghadang serangan tetua House Ironhead dan menyelamatkannya bukanlah hal yang bisa di abaikan oleh Theo begitu saja. Dia tak suka berhutang budi, apalagi bila sampai Aria tak bisa di selamatkan, bagaimana Theo bisa membalas hutang budi tersebut. Hal ini membuat Theo menjadi tertekan dan serba salah.


"Aku tak pernah bilang tak ada cara. Hanya saja, kita tak memiliki bahan." Tiankong kembali mulai menjelaskan.


"Untuk menetralkan racun ini, di butuhkan beberapa bahan sumber daya kelas Ilahi. Dan tentu saja, kau tak memilikinya untuk saat ini."


"Sekarang yang bisa kau lakukan adalah mencari tempat aman, kemudian segera menekan racun tersebut. Membeli waktu untuk bisa membawa gadis ini ke kota, sehingga kita bisa mengusahakan dan mencari bahan-bahan untuk membuat obat penawarnya." Tiankong menutup penjelasannya.


Mendengar hal itu, Theo mulai menambah kecepatan gerakannya. Mencari tempat aman untuk melakukan praktek Alchemy guna sedikit membersihkan dan menekan racun.


Setelah lama bergerak, Theo melihat sebuah danau ditepi tebing, dengan air terjun turun dari atas tebing. Disekitar air terjun terdapat kumpulan bunga yang mengeluarkan bau-bauan wangi yang menusuk. Tiankong sendiri bergerak lebih cepat dengan meninjau area sekitar.


"Dibalik air terjun itu ada sebuah gua, kukira itu adalah tempat yang tepat untuk bersembunyi dan istirahat, karena danau itu juga dikelilingi bunga Arsena yang secara alami memiliki aroma untuk menghalau Spirit Beast. Kau bisa memakainya untuk bermalam." Kata Tiankong.

__ADS_1


Mendengar hal itu, tanpa keraguan Theo melompat masuk menembus air terjun dan memasuki gua. Setelah meninjau area gua sebentar, Theo meletakkan Aria di salah satu sudut gua.


"Sekarang bagaimana?" Tanya Theo.


"Pecahkan Es, kemudian gunakan mana Air penyembuh untuk sedikit membersihkan racun di area luar tubuhnya." Jawab Tiankong.


Tanpa menunda Theo segera melaksanakan intruksi, dia memecah es kemudian mulai akan mengalirkan mana air penyembuh. Namun sebelum dia mengeluarkan Mana Air..


"Apa yang kau lakukan? Buka juga semua pakaiannya, itu akan lebih efektif." Kata Tiankong, menghentikan Theo.


Mendengar hal itu, Theo menatap Masternya dengan tatapan ragu. Sementara Aria yang telah terlepas dari Mana Es dan masih dalam kondisi pingsan, mulai berteriak kesakitan lagi


"Tak ada waktu, ikuti semua yang kuperintahkan, atau gadis ini akan mati.!" Bentak Tiankong.


Theo yang sebenarnya masih merasa ragu, tak punya pilihan selain menuruti perintah masternya. Teriakan kesakitan Aria membuatnya panik.


Kraaaakkkk…. Kraaaakkkkk…


Theo melapisi tangannya dengan Mana Cahaya untuk menghalau racun. Dan mulai merobek-robek baju Aria, tak menyisahkan sehelai kain pun.


"Gleeekkk." Theo menelan ludah ketika melihat tubuh telanjang Aria, yang menurutnya sangat menggoda untuk gadis muda seusianya.


Melihat Theo sedikit termenung, Tiankong mulai tertawa. "Hahhahaha.. apa kau tertarik dengan gadis ini?" Tanya Tiankong, dengan senyum aneh.


Mendengar hal itu, Theo mulai merasa Masternya ini mengerjai dirinya lagi, dia sudah curiga proses pembersihan tak memerlukan melepas semua pakaian.


"Hahhh.. Master, apa kau lupa bahwa aku telah mencapai kondisi Anata pada gerbang nafsu. Pffttt…." Theo mendengus, mengejek masternya. Kemudian mulai mengalirkan Mana Air penyembuh untuk membersihkan racun.


"Hahhahhaahha.… Kita lihat saja nanti, kita lihat saja.. hahahhah…" Tiankong yang mendengar jawaban Theo malah tertawa lantang.


Theo hanya mengabaikan Masternya, dan mulai fokus membersihkan racun yang ada di tubuh bagian luar Aria.

__ADS_1


__ADS_2