
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Aula utama House Wildbear)
Beberapa saat setalah Theo undur diri.
"Jadi menurut kalian, apa maksud rencana besar yang di katakannya barusan? Yang mengharuskan kita untuk merahasiakan kesepakatan aliansi ini, bahkan kepada orang-orang House Alknightnya sendiri?" Tanya Lord Bernard.
"Hmmm… tuanku, kupikir rencana besar ini ada hubungannya dengan alasan dia meninggalkan Glaire Empire untuk beberapa waktu kedepan." Jawab Master Dario.
"Ada desas desus yang mengatakan, House Alknight saat ini tengah menjalin kerjasama dengan salah satu dari 10 Biggest Knight Group, yakni House of Braveheart dari Blackwood Empire."
"Dikatakan, Nona muda mereka yang bernama Issabela, telah bertunangan dengan tuan muda House Braveheart."
"Meskipun informasi yang kita dapat juga mengatakan hubungan ini tak berdampak baik untuk House Alknight."
"Namun, akhir-akhir ini ada desas-desus lain, Nona muda dari House Braveheart yang tengah berkunjung ke House Alknight, terlihat dekat dengan tuan muda Theo."
"Hmmmm… Aria Braveheart? Gadis yang di juluki iblis wanita itu?" Tanya Lord Bernard memotong.
"Ya itu benar, beberapa hari ini, dia terus menempel tuan muda Theo." Kata Master Dario, melanjutkan.
"Omong kosong! Kau tahu reputasi dari gadis ini bukan? Dia bahkan dengan dingin berani menghancurkan masa depan seorang tuan muda dari salah satu House besar!" Kata Lord Bernard.
"Tuanku, kuyakinkan padamu, rumor ini tidaklah salah!" Jawab Master Dario.
"Hmmm…?" Dengus Lord Bernard, memberi tanda untuk Master Dario melanjutkan.
"Itu… itu karena Nona Aria, di temani salah satu tetua House Braveheart, dalam beberapa hari ini terlihat mendirikan kemah tak jauh dari pintu gerbang kita!" Master Dario menutup penjelasannya.
Mendengar itu, setiap orang yang ada diruangan terlihat terkejut dan saling tatap satu sama lain.
"Jadi kau mau bilang, dia rela berkemah, hanya untuk menunggu Theo?" Tanya Lord Bernard lagi.
"Selain alasan itu, aku tak terifikir ada alasan lain." Jawab Master Dario.
__ADS_1
"Dan terakhir, aku bisa menduga, tujuan tuan muda Theo meninggalkan Glaire Empire adalah untuk menuju Blackwood Empire, tepatnya dia akan berkunjung ke House of Braveheart."
"Bisa kupastikan, dia akan menawarkan hal yang sama seperti yang dia tawarkan ke house kita kepada House Braveheart. Yakni membentuk Aliansi resmi."
"Kesimpulannya, tuan muda Theo, saat ini sedang menghimpun kekuatan, dan ini pasti berhubungan dengan rencana besar yang dia katakan sebelumnya!" Tutup Master Dario, dengan ekspresi serius.
Mendengar hal itu, Lord Bernard menjadi terdiam untuk sesaat. Sampai akhirnya senyum lebar mulai menghiasi wajahnya, terlihat telah memahami sesuatu.
"Hahhahahhaha…. Hahahhahaha….. !" Setelah tersenyum lebar, Lord Bernard tiba-tiba tertawa lantang.
"Sungguh menarik, ini sungguh menarik. Aku sudah tak sabar, aku ingin rencana besar ini secepatnya terlaksana!" Katanya dengan ekspresi antusias dan senyum lebar yang aneh.
"Ini akan menjadi salah satu peristiwa paling besar di Glaire Empire!"
"Hahahhahha…. Hahahhahha… pemuda yang sungguh menarik! Hahahhahah….."
***
(Tak jauh dari pintu Gerbang House Wildbear)
"Apa yang kau lakukan disini? Kau sedang piknik atau apa?"
Theo yang melihat Aria berkemah tak jauh dari pintu gerbang, segera bertanya dengan ekspresi terkejut.
"Hmmmm… oh… jangan bilang kau sedang mengikutiku lagi?" Tanya Theo, dengan ekspresi menggoda.
"Apa katamu? Dari mana sumber kepercayaan dirimu itu?" Bentak Aria.
"Lalu apa lagi? Tak ada alasan lain!" Dengus Theo, masih dengan ekspresi menggoda.
"Kau... Aku hanya menikmati pemandangan danau yang ada di depan!" Bentak Aria, mulai salah tingkah.
Ketika Theo dan Aria masih terlibat obrolan saling mengejek. Master Estro yang dari tadi diam mengamati di samping Aria, tiba-tiba ikut masuk dalam obrolan.
"Anak muda, berhenti menggoda nona mudaku!" Kata Master Estro dingin.
"Ingat, kau masih punya urusan yang harus di selesaikan denganku!" Master Estro menutup kata-katanya dengan tatapan mengancam.
Mendengar hal itu, Theo mulai mengernyitkan dahinya. "Pak tua, urusan apa yang kau punya denganku?" Tanya Theo tak paham.
"Kau masih berani bertanya? Kau belum menjawab apa yang telah kau lakukan kepada nona muda ketika dia tak sadarkan diri kapan hari!" Dengus Master Estro, dengan ekspresi geram.
"Kau, bukankah sudah kubilang, aku tidak…." Theo hendak menyanggah dan meluruskan anggapan salah Master Estro, namun baru setengah dia akan menjelaskan, Aria memotongnya.
"Tidak? Tidak apa? Jangan bilang kau mau mengingkari janjimu? Jangan bilang kau tak mau bertanggung jawab? setelah semua yang telah kau lakukan!" Bentak Aria.
__ADS_1
"Semua yang kulakukan? Apa yang kulakukan?" Bentak Theo balik.
Mendengar bentakan Theo, kali ini Master Estro maju kedepan, mendahului Aria yang terlihat akan kembali memaki Theo.
"Kau, sudah kuduga kau memang pemuda tercela, cepat katakan padaku, apa yang telah kau lakukan pada nona mudaku? Kenapa dia meminta pertanggung jawaban!" Bentak Master Estro.
"Pak tua, kau tak tahu apapun, jangan ikut campur!" Bentak Theo balik kepada Master Estro, mulai frustasi dengan situasi kacau ini.
"Kenapa kau membentaknya? Kau tinggal menjawab apa yang ia tanyakan, apa sulitnya?" Kini Aria bergabung disisi Master Estro, ikut membentak Theo.
"Apa yang kau katakan? Bukankah kau tau sendiri, aku hanya membantumu memulihkan diri dari racun!" Jawab Theo, mulai kewalahan melihat dua orang dihadapannya bersatu padu memojokkannya.
"Hanya memulihkanku dari racun? Hanya itu? Kenapa kau tak menjelaskan secara lengkap bagaimana caramu memulihkanku?" Bentak Aria, dia kini mulai mengeluarkan dua pisau kecilnya. Dengan sorot mata tajam, menatap pada lokasi diantara dua kaki Theo.
Melihat hal itu, benda kejantanan Theo segera terasa dingin. "Kau… sudah kubilang berhenti menatapku seperti itu, dan simpan pisau-pisau sialan itu kembali!" Bentak Theo dengan ekspresi ngeri.
Master Estro segera maju selangkah ketika Theo kembali membentak Aria. "Anak muda, kuperingatkan padamu untuk tak terus-menerus menguji kesabaranku!"
"Setelah semua yang kau lakukan pada nona mudaku, kau masih berani terus-terusan membentaknya? Kukatakan padamu, itu sudah bagus kau masih hidup sampai dengan detik ini!" Dengus Master Estro, aura membunuh mulai bocor dari tubuhnya.
"Kau… pak tua, kukatakan padamu, apapun yang saat ini terlintas di pikiranmu, berhenti memikirkannya, aku sama sekali tak melakukan itu!" Bentak Theo, sudah mulai benar-benar frustasi.
Di tengah rasa frustasi Theo, Tiankong tiba-tiba muncul disebelahnya. Masternya ini, entah kenapa seperti memiliki keahlian alami, untuk muncul di saat paling tepat.
"Pffttt…. Hahahhaha… setelah situasi tegang beberapa hari ini, aku akhirnya mendapat hiburan menarik." Kata Tiankong, dengan ekspresi penuh kebahagiaan.
"Master…! Berhenti muncul di saat-saat memuakkan seperti ini, kau sungguh orang paling menyebalkan yang pernah kutemui!" Bentak Theo, ketika Tiankong mulai ikut masuk kedalam kekacauan.
"Hahhahaha….. lanjutkan, lanjutkan seperti itu, kau yang terbaik, hahahhaha…. " Seperti biasa, Tiankong malah tertawa puas, melihat ekspresi frustasi Theo.
Sementara itu, melihat Theo mulai berbicara sendiri lagi, Aria menerobos maju kedepan.
"Lagi-lagi kau berbicara sendiri, sekarang aku paham, setiap kali terdesak, kau akan seperti ini, kau hanya sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan mencoba berpura-pura menjadi gila!"
"Metodemu untuk kabur dari permasalahan ini, sungguh menarik."
"Itu sangat memalukan!" Gumam Aria, dengan ekspresi mengejek.
Mendengar itu, sudut-sudut mata Theo segera berkedut.
"Kabur dari masalah?"
"Pura-pura gila?"
Dia mengulangi kata-kata Aria, merasa sangat tertekan. Kemudian karena tak tahu harus berargumen seperti apa lagi menghadapi tiga orang menyebalkan ini, Theo mulai menjambak rambutnya. Sangat frustasi.
__ADS_1