
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmmmm…! Lebih baik mati dari pada harus menjadi Bandit!" Dengus tetua Sun Tribe.
"Ohhh…! Sesuai keinginanmu!" Jawab Theo, seraya memberi transimisi suara pada Sasi.
Bersamaan dengan transmisi suara dari Theo, Sasi yang mendapat intruksi, segera melaksanakannya. Mengatur formasi Istana Emas yang mengendalikan patung emas raksasa dan tiga Demonic Beast, untuk membuat mereka bergerak secara serentak menuju kearah Tetua Sun Tribe.
*Bammmm…!!!
"Groooooaaaahhh…!!!"
"Roooaarrr….!!!"
Dalam sekejap, hanya dengan satu terjangan. Keempat Boss terakhir dari permainan Istana Emas tersebut, menggencet tetua Sun Tribe. Menyebabkan sang tetua yang sama sekali tak menduga bahwa Theo akan bersikap sangat kejam dengan memerintahkan keempat makhluk mengerikan ini menyerangnya secara bersamaan detik itu juga, menjadi tak sempat melakukan pergerakan apapun.
Ia hanya sempat membelalakkan mata dengan sangat lebar sambil memasang ekspresi wajah kosong sebelum patung emas raksasa menghujamkan pilar besi berukuran sama besar dengan tubuhnya.
Tetua Sun Tribe yang menerima serangan telak, masih bisa bertahan hidup meskipun hampir semua bagian tubuhnya hancur. Namun, disaat terakhir, tetua Sun Tribe yang sudah sekarat, nyatanya tak mendapat belas kasihan dari Theo.
Ia hanya memandang dengan tatapan santai saat tiga Demonic Beast liar yang menerjang bersama patung emas raksasa, kini mulai mencabik dan saling berebut tubuh hancur tetua Sun Tribe.
Mereka memakan setiap bagian tubuh pria tua malang itu. Menyebabkan tetua Sun Tribe, yang merupakan salah satu eksistensi terkuat di wilayah Gurun Kematian, kini mati tanpa menyisahkan satu bagian tubuh sama sekali. Bahkan genangan darahnya yang berceceran pada lantai ruangan. Juga mulai di jilati oleh tiga Demonic Beast yang selesai memakan tubuhnya.
Melihat pemandangan tersebut, tiga Boss Besar Bandit yang berada di dalam ruangan, segera mengambil beberapa langkah mundur kebelakang. Tatapan mata mereka bergetar hebat, tampak shock dengan nasib tragis tetua Sun Tribe.
__ADS_1
Dalam benak ketiga Boss Besar ini, apa yang di lakukan oleh Theo sungguh amat kejam bahkan untuk ukuran seorang Bandit.
Situasi kemudian berkembang hening untuk sesaat ketika setiap orang kini masih memandang dengan tatapan kosong kearah bekas sisa keberadaan dari tetua Sun Tribe yang hanya berupa bercak-bercak darah. Itupun akan segera ikut lenyap karena ketiga Demonic Beast masih terus menjilatinya. Tampak tak ingin menyisahkan sedikitpun dari tubuh mangsanya.
"Saudaraku!"
Dalam keheningan total, satu suara lirih yang sedikit bergetar akhirnya terdengar memecah suasana. Yang berbicara tak lain adalah tetua Moon Tribe. Selesai bergumam, ia dengan tatapan sangat marah, kini melihat kearah Theo.
"Kau bocah keji! Kalian para Bandit memang harus dimusnahkan dari muka Gaia Land ini!" Bentak Tetua Moon Tribe, kemudian tanpa menunda, terbawa oleh rasa marah. Bergerak cepat menuju kearah Theo sambil mengacungkan pedangnya.
"Hmmm.... Meskipun sedang di kendalikan oleh amarah, harus kuakui bahwa insting bertarungmu cukup tajam!" Ucap Theo.
"Dari pada meluapkan emosi pada para Boss ruangan yang telah membunuh kawanmu, kau memilih menyerangku sebagai orang yang mengendalikan mereka!"
"Tapi, dengan tubuh penuh lukamu itu, apa yang kau lakukan sekarang sama saja dengan menjemput kematian!" Tutup Theo, sebelum satu medan tak kasat mata, kini mulai menyebar keseluruh ruangan. Menjadikan tubuhnya sebagai pusat medan tersebut.
"Medan Gravitasi!" Gumam Theo.
*Wuunggg….!!!
"Urrgghhhh….!!!"
*Buuugggg….!!!
Tarikan gravitasi yang bertambah puluhan kali lipat, menyebabkan tetua Moon Tribe yang tadi menerjang maju kedepan, tak kuasa menahan bobot tubuhnya. Jatuh berlutut tepat ketika pedangnya akan sampai di leher Theo.
Disisi lain, Theo yang melihat tetua Moon Tribe kini berlutut di hadapannya. Mulai kembali memasang seringai lebar penjahat jalanan. Sambil menatap rendah kearah tetua Moon Tribe.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Theo.
"B*jingan! Cepat selesaikan saja!" Bentak tetua Moon Tribe. Dengan tubuh yang saat ini telah menerima banyak luka parah, ia paham bahwa tak akan bisa melakukan apapun. Merasa tak bisa menghindari takdir kematiannya.
"Hmmmm… Aku bisa saja memberimu kematian yang cepat sebagai tradisi rasa hormat dari seorang junior pada senior." Gumam Theo.
"Tapi, mengingat kau sebelumnnya berniat merampokku dengan menginginkan Istana Emas, maka bisa kita lupakan hal-hal tentang tata krama dan adat istiadat dalam pertarungan antar Knight!"
__ADS_1
"Seorang tetua Tribe yang terus mengatakan bahwa kelompok Bandit adalah sampah, malah bersikap layaknya seorang Bandit! Sungguh lucu!" Tutup Theo. Seraya memberi satu transmisi suara pada Sasi.
Bersamaan dengan transmisi suara tersebut, seperti kejadian sebelumnya, kelompok Boss Besar ruangan Istana Emas yang baru saja menyelesaikan urusan dengan sisa-sisa darah tetua Sun Tribe, kembali bergerak liar. Kali ini menerjang kearah tubuh tetua Moon Tribe yang masih berlutut di hadapan Theo.
Dengan hasil tersebut, secara tak terduga, dua orang tetua dari salah satu Tribe paling berpengaruh di wilayah Gurun Kematian, yakni Sun and Moon Tribe, mati tanpa menyisahkan satu bagian tubuh pun yang bisa dimakamkan dalam usahanya menaklukan Istana Emas untuk mendapat sumberdaya berharga.
Kejadian tersebut, tentu saja membuat empat orang tersisa dalam ruangan, yakni tetua Black Rock Tribe, serta tiga Boss Besar Bandit, Reizel, Drani, dan Meirin yang mana saat ini masih jatuh berlutut tak kuasa menahan tarikan gravitasi berat yang tiba-tiba terjadi di dalam ruangan, hanya bisa menatap dengan tatapan kosong kearah Theo.
"Dua telah membuat pilihan! Sekarang, bagaimana dengan kalian?" Tanya Theo, menatap ganti keempat orang yang sedang menatapnya. Masih dengan seringai lebar yang kini tampak bagaikan iblis menyeramkan bagi setiap orang yang memandangnya.
Mendengar pertanyaan Theo, keempat orang ini segera memasang ekspresi wajah ketakutan. Tak tahu harus menjawab seperti apa. Sampai kemudian…
"Aku memilih bergabung dengan kelompok Bandit Serigala!" Ucap Drani, Boss Besar Bandit Rakun Gurun.
'Untuk saat ini, turuti saja keinginannya! Setelah keluar dari Istana Emas, aku bisa kabur kapan saja! Lihatlah nanti, setelah kondisiku pulih, Bandit Serigala akan musnah!' Gumam Drani dalam hati.
Jawaban Drani, segera disusul oleh kedua Boss Besar Bandit yang lain. Reizel dan Meirin, mereka jelas memiliki pemikiran sama dengan apa yang ada dalam benak Drani.
Ketiganya bahkan sudah mulai saling lirik, seolah mengatakan untuk akan bekerja sama dan menyatukan tiga kelompok aliansi besar mereka setelah nanti keluar dari Istana Emas. Menggempur habis kelompok Bandit Serigala.
"Ahhh…! Pilihan yang cukup bijak!" Ucap Theo.
"Pak tua! Bagaimana denganmu?" Tanya Theo kemudian. Pada tetua Black Rock Tribe yang masih belum memberi jawaban apapun.
Mendengar kata-kata Theo, tetua Black Rock Tribe tampak menggertak giginya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya juga sepakat untuk bergabung. Sebagai seorang tetua dari salah satu Tribe besar, ini jelas adalah sebuah penghinaan baginya untuk mengatakan bergabung dengan kelompok Bandit.
Hampir sama dengan ketiga Boss Besar Bandit, tetua Black Rock Tribe sudah sangat ingin segera keluar dari Istana Emas, Sehingga detik itu juga bisa mencabik-cabik tubuh pemuda kurang ajar di hadapannya.
"Bagus! Karena semua sudah sepakat! Kita lanjutkan ke tahap selanjutnya!" Ucap Theo.
"Sasi, buka ruangan sebelah!" Tambah Theo.
Dengan intruksi Theo, satu pintu rahasia yang menghubungkan ruang itu dengan satu ruang lain, kini terbuka. Dan begitu setiap orang melangkah masuk kedalam ruangan sesuai intruksi dari Theo, mereka kini dapat melihat satu susunan formasi besar tergambar pada lantai ruangan.
"Setiap dari kalian, berdiri pada satu lingkaran formasi sekarang juga!" Ucap Theo.
__ADS_1