Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
335 - Aku Juga Mau!


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Boss! Kita sudah hampir sepenuhnya menaklukan Gurun Darah Gersang! 70% dari populasi kelompok Bandit memutuskan bergabung dengan kita, 20% dibantai, dan kini menyisahkan 10% yang belum sempat kita kunjungi!" Ucap Thomas. Memberi laporan pada Theo dalam rapat evaluasi harian antar wakil pemimpin.


"Kelompok Bandit mana saja yang belum sempat kita kunjungi ini?" Tanya Theo.


"Sebenarnya cuma satu kelompok Boss!" Sahut Oscana.


"Satu kelompok Bandit?" Tanya Theo heran.


"Yahh… Mereka adalah Kelompok Bandit terkuat di wilayah Gurun Darah Gersang sebelum kelompok kita mendominasi!" Jawab Yahuwa.


Mendengar itu, Theo kini mulai mengerutkan kening. "Kelompok Bandit Halilintar?" Tanya Theo. Kini paham kelompok Bandit mana yang di maksud oleh Yahuwa.


"Itu benar Boss!" Kali ini Yaseya yang menjawab.


"Bandit Halilintar, kelompok Bandit yang beberapa dekade terakhir mendominasi Gurun Darah Gersang dan memiliki jumlah anggota cukup besar, 10% dari seluruh total populasi Bandit di wilayah ini!" Lanjut Yaseya.


Penjelasan Yaseya yang sebenarnya sudah di ketahui Theo, disambut olehnya dengan mulai menaikkan salah satu alis.


"Jadi bagaimana Boss? Kelompok Bandit ini terkenal dengan harga dirinya yang tinggi! Kemungkinan besar mereka akan menolak ketika kita menyuruh tunduk! Apa langsung di musnahkan saja?" Tanya Thomas. Begitu melihat Theo tak segera memberi tanggapan.


Mendengar pertanyaan Thomas, Theo tak segera memberi jawaban. Tampak terlihat berfikir sejenak sebelum terlihat menemukan satu ide.


"Akan sangat disayangkan bila kelompok Bandit ini dimusnahkan! Kudengar mereka memiliki kemampuan khas!" Ucap Theo.


"Baiklah! Aku akan mengambil alih dari sini! Biar aku pergi ke markas mereka seorang diri!" Tambahnya.


"Boss! Apa yang kau katakan? Itu terlalu gegabah!" Jawab salah satu wakil pemimpin tua, begitu mendengar ucapan Theo.


"Tenang saja, aku punya rencana! Lagipula bila situasi berkembang menjadi tak baik, aku masih cukup percaya diri untuk bisa kabur!" Jawab Theo.

__ADS_1


"Meskipun sebenarnya mungkin aku tak perlu kabur juga sih!" Tambah Theo, kini dengan seringai lebar di wajahnya.


"Hmmmm… Boss apa kau yakin tetap ingin pergi seorang diri? Aku tahu kau kuat tapi setidaknya…"


Wakil pemimpin tua hendak kembali meyakinkan Theo untuk setidaknya membawa beberapa orang, namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Theo memotong.


"Cukup…! Aku tahu apa yang kulakukan! Jadi, tak perlu berdebat lebih jauh! Itu akan merepotkan!" Ucap Theo.


"Hmmmm… Baiklah! Jadi kapan kau akan pergi?" Tanya wakil pemimpin tua.


"Sekarang juga!" Jawab Theo cepat. Seraya mulai berjalan keluar.


"Sekarang? Apa tak perlu persiapan dulu? Kenapa terburu-buru?" Tanya Thomas, berjalan mengikuti Theo di belakang bersama para wakil pemimpin Bandit Serigala lainnya.


"Semakin cepat akan lebih baik! Mereka tak akan menduga kedatanganku pada malam hari seperti ini setelah seharian penuh kelompok Bandit Serigala melancarkan aksi penaklukan kelompok Bandit lain!" Jawab Theo.


Tepat ketika Theo menjawab pertanyaan Thomas, ia sudah berada diluar kemah. Pemandangan Theo dan para wakil pemimpin yang keluar secara bersamaan dari dalam kemah segera menarik perhatian sebagaian besar anggota Bandit Serigala yang seperti biasa masih menunggu diluar kemah rapat. Menanti hasil evaluasi harian dimana menentukan langkah Bandit Serigala keesokan harinya.


Dibawah tatapan heran setiap orang, Theo mengayunkan tangannya dengan ringan. Bersamaan dengan ayunan tangannya, sesosok makhluk raksasa melompat keluar dari dalam Gelang ruang-waktu.


*Wuuuusshhh…!!!!


"Groooooaaaahhh….!!!!"


Setiap orang anggota Bandit Serigala kini bisa melihat, diatas langit perkemahan mereka, sesosok makhluk raksasa mengerikan berwarna hitam pekat, sama dengan warna langit malam, terbang berputar beberapa kali, sampai kemudian melakukan manuver menukik tajam turun dengan cepat. Mendarat dengan debuman keras dihadapan Theo.


*Booommmm….!!!


Suara debumam masih terngiang di telinga setiap orang ketika hawa keberadaan yang begitu mendominasi, menyebar luas dari arah sang makhluk yang baru saja mendarat.


"Makhluk apa itu? Apakah itu naga?" Gumam salah satu anggota Bandit Serigala yang kini sudah jatuh terduduk kebelakang.


"Tidak mungkin! Spesies Naga sudah punah ribuan tahun yang lalu!" Tanggap anggota lainnya.


"Lalu makhluk apa itu? Jelas sekali ciri-cirinya tampak sama dengan yang tertulis di catatan-catatan kuno!"


"Entahlah! Tapi bahkan para Naga pun tak ada yang memiliki bentuk tubuh semengerikan itu!"


Diskusi-diskusi bebas mulai terdengar diantara anggota kelompok Bandit Serigala begitu melihat makhluk yang baru saja dikeluarkan dan mendarat di hadapan Theo.


"Boss! Makhluk apa itu?" Tanya Oscana, dengan tubuh bergetar. Ia bersama para wakil pemimpin lain yang berada sangat dekat dengan makhluk tersebut, tentu saja merasa tekanan berat lebih dari yang lain.

__ADS_1


"Ohhh… Anggaplah ini kawan baruku! Aku baru selesai membuatnya beberapa minggu yang lalu!" Jawab Theo.


"Kau boleh memanggilnya dengan sebutan Raja Naga Hitam!" Tambah Theo, seraya mulai mengelus kepala Raja Naga Hitam yang saat ini menunduk kearahnya.


"Raja Naga?" Gumam beberapa wakil pemimpin dengan tatapan bercampur antara ngeri dan takjub.


"Membuat?" Gumam Thomas, sembari melihat kearah Theo dengan tatapan antusias.


Saat setiap orang terfokus dengan Raja Naga Hitam, Thomas disisi lain justru tampak tertarik dengan kalimat yang Theo ucapkan. Mata bulatnya kini begitu cerah melihat punggung Bossnya tersebut.


*Tap…!!!


Setiap orang masih memandang Raja Naga Hitam sampai tiba-tiba Theo melompat menaiki punggungnya. Dimana tampak memiliki satu tempat khusus yang sepertinya di desain Theo sebagi lokasi ia duduk.


"Baiklah, aku pergi dulu! Thomas dan para wakil pemimpin, jaga markas dengan baik! Kegiatan kelompok untuk besok hanya berlatih!" Ucap Theo. Sebelum mulai menggosok punggung metalik Raja Naga Hitam.


"Baiklah kawanku! Kita berangkat sekarang!" Ucap Theo.


"Groooooaaaahhh….!!!!"


Mendengar intruksi dari Theo, Raja Naga Hitam kembali berteriak liar untuk sesaat. Namun itu sudah cukup membuat setiap orang yang berada di sekitar lokasi menutup erat telinganya. Tak kuasa menahan teriakan liar begitu mengerikan sang Naga.


*Woooshhhh…!!!


*Woooshhhh….!!!


*Woooshhhh…!!!


Setelah berteriak keras, Raja Naga Hitam mulai mengepakkan sayap raksasa berdurinya beberapa kali. Menyebabkan hembusan angin liar menerpa seluruh perkemahan. Gerakannya tersebut, diakhiri dengan satu dorongan sayap kuat, Raja Naga Hitam melaju kencang membelah langit malam.


"Boss! Kau benar-benar sesuatu!" Ucap Thomas. Saat sosok Theo yang menunggangi Raja Naga Hitam telah menghilang di telan langit hitam yang pekat.


Bukan hanya Thomas, kini setiap anggota Bandit Serigala baik itu kelompok lama ataupun yang baru saja di rekrut, menatap kearah dimana Theo pergi dengan tatapan penuh penyembahan. Sebagai seorang lelaki, setiap dari mereka tentu memiliki dorongan di dalam hatinya masing-masing dimana mengidolakan untuk memiliki makhluk keren seperti yang ditunggangi Theo.


"Hmmmm… Aku akan meminta Boss membuatkan satu untukku setelah ia kembali nanti! Terserah bagaimanapun caranya! Bila harus merengek dan berlutut, akan kulakukan!" Gumam Thomas.


Ucapan Thomas, membuat Oscana, Yahuwa, serta Yaseya yang berada tak jauh darinya, segera menoleh kearahnya. Kini memiliki pemikiran yang hampir sama.


"Akan kuberikan semua jatah rampokan bagianku setahun penuh!" Ucap Oscana.


"Aku akan menjadi pelayan pribadi Boss selama setahun penuh!" Sahut Yahuwa.

__ADS_1


"Hmmmm… Dasar kalian penjilat!" Ucap Yaseya mencibir. Namun pikirannya sudah berputar keras untuk menemukan cara agar Theo mau memberinya juga.


"Baahhh….!!! Diam kalian! Ikut-ikut saja!" Dengus Thomas. Dengan ekspresi wajah kesal.


__ADS_2