
Catatan Penulis :
Selamat malam kawan-kawan.
Penulis kembali menyapa, dan kembali juga cuma sekedar berbagi kebahagiaan. Hari ini, anak pertama penulis mendapat adik perempuan di dunia nyata. Jadi dalam catatan kali ini, penulis ingin mohon doa dari kawan-kawan semua, semoga persalinan Istri saya di beri kelancaran. ^^
Dan untuk update rutin, akan terus penulis usahakan tetap seperti jadwal biasanya. Namun bila hanya ada satu chapter, mohon pengertiannya ya. ^^
Sekian catatan kali ini, selamat menikmati Chapter terbaru. ^^
--------
"Suruh Asmodeus menyerap Petir merah di Pohon itu!" Kata Tiankong tiba-tiba, setelah menyelesaikan kisahnya.
"Apa?" Theo yang terkejut dengan permintaan tiba-tiba Tiankong, pura-pura bertanya. Berharap mendapat penjelasan lebih.
"Apa perlu aku mengulang kata-kataku?" Kata Tiankong dingin. Dia tahu Theo mendengarnya.
"Hehehe.. iya baik!" Jawab Theo canggung.
"Asmodeus, serap petir merah itu!" Kata Theo kepada Asmodeus yang masih memeluk lengan tangannya manja.
"Emmm… kalau Master memintanya, akan kulakukan dengan senang hati!" Jawab Asmodeus dengan nada centilnya. Matanya juga tak henti memandang Aria dengan tatapan nakal, dia merasa menang karena Theo membutuhkannya.
"Kauu….!!" Aria yang menerima tatapan nakal Asmodeus segera menjadi kesal.
Namun Asmodeus tampak tak memperdulikan Aria, dia memberi tatapan nakal sekali lagi sebelum terbang melayang mendekati pohon kuno.
"Loli sialan!" Aria yang melihat sikap Asmodeus, hanya bisa memaki kesal, sambil menghentakkan kakinya ketanah berkali-kali.
Asmodeus kemudian memulai proses penyerapan Petir Merah. Tanpa menghitung Mammon yang memiliki semua atribut elemen, karena merupakan manifestasi dari dosa keserakahan, setiap bocah dosa memiliki atribut bawaan yang berbeda-beda. Bila Baal memiliki atribut tanah, Asmodeus merupakan pengguna atribut petir.
Oleh karena fakta itu, Tiankong meminta Theo untuk memerintahkan Asmodeus menyerap Petir Merah. Sebenarnya Tiankong juga ingin sedikit bereksperimen dengan hal ini, apakah Asmodeus bisa menyerap Petir Merah tersebut atau tidak. Karena bagaimanapun juga, Petir merah adalah bentuk elemen dari hasil mutasi dual Element Seed.
Eksperimen Tiankong ternyata berhasil. Kini di hadapannya, dia bisa melihat Asmodeus dengan sukses menyerap Petir merah kedalam tubuhnya.
"Hmmm… bagaimanapun juga, Six Ancient Thing adalah sesuatu yang diluar nalar." Kata Tiankong, ketika melihat Asmodeus berhasil menyerap Petir merah.
"Unchh… petir ini sungguh menggairahkan!" Asmodeus mulai berkomentar ketika Petir merah mulai memasuki tubuhnya. Terlihat sangat menikmati.
__ADS_1
Bersamaan dengan diserapnya Petir merah oleh Asmodeus, Theo juga mulai merasakan kenaikan yang cukup signifikan pada Element Seednya.
"Ini benar-benar cara yang cepat untuk tumbuh kuat." Kata Theo ketika merasakan kenaikan pada Element Seednya.
"Hmmm, kau cuma di anugrahi oleh seperangkat keberuntungan." Komentar Tiankong, dengan ekspresi sebal.
"Hahaha… kenapa kau sebal begitu Master, bukankah harusnya kau senang muridmu yang tampan ini bisa bertambah kuat." Theo mulai menggoda Tiankong.
"Hmmmmm…..!!" Tiankong yang mendengar itu, hanya mendengus kesal.
"Hahahahha.…!!" Theo mulai tertawa melihat ekspresi Tiankong.
*Bletttaaaaakkkkkkkkk……!
Suara keras terdengar, kepala Theo dipukul menggunakan mana elemen besi tak terlihat oleh Tiankong.
"Master, apa salahku?" Bentak Theo kesal, sambil menggosok kepalanya yang sakit.
"Tidak ada, aku hanya merindukan memukul kepalamu, sudah lama aku tak melakukannya!" Jawab Tiankong singkat dengan ekspresi tak berdosa.
"Apa-apaan….!" Theo semakin kesal mendengar jawaban Tiankong. Masternya ini kadang-kadang sungguh seperti anak kecil yang tak mau kalah, sungguh menyebalkan.
Di tengah perdebatan Master-Murid ini..
Saat ini Theo bisa merasakan dia telah berada di puncak kelas Immortal bumi, proses penyerapan Kristal Beast Ular Petir Ungu, dan di lanjutkan dengan penyerapan Petir Merah oleh Asmodeus, mendorong Element Seednya untuk naik tingkat.
"Sekarang saatnya!" Ketika Asmodeus mulai mengeluh kesakitan, Tiankong bisa melihat Petir Merah yang menyelimuti Pohon kuno juga mulai berkurang intensitas derakan liarnya.
Dia kemudian mulai melayang mendekati Pohon Kuno, dan dengan cepat membentuk segel tangan, terlihat sedang berusaha memecahkan sebuah formasi. Beberapa saat kemudian, sebuah getaran ringan terasa disekitar pohon. Bersamaan dengan itu, derakan Petir Merah mulai perlahan menghilang.
"Hemm.. aku berhasil." Kata Tiankong.
"Master, apa itu sebuah formasi?" Theo yang melihat seluruh prosesnya, sekarang mulai mendekat dan bertanya, ketika Petir merah sudah benar-benar menghilang.
"Yahh, dan berhenti menanyakan sesuatu yang sudah jelas." Jawab Tiankong.
"Sekarang hancurkan bagian tengah pohon ini!" Kata Tiankong kemudian.
"Ehhh… hancurkan?" Tanya Theo.
__ADS_1
"Berhenti bertanya! Lakukan saja!" Bentak Tiankong mulai kesal.
"Iya… iyaa…." Jawab Theo cepat, melihat Tiankong mulai kesal.
Sejurus kemudian, dia mulai mengumpulkan Mana Besi, dan dengan cepat mengeksekusi teknik Iron Fistnya. Memukul dengan keras tepat di tengah pohon kuno.
"Apa yang kau lakukan?" Aria yang tak mengerti dengan tindakan Theo, segera bertanya kaget.
Menurut Aria, pohon kuno ini adalah sumber daya berharga yang mungkin memiliki banyak manfaat, sikap Theo yang menghancurkan pohon, tentu saja membuatnya kaget.
"Diam saja! Jangan banyak tanya!" Bentak Theo.
Theo sendiri sebenarnya memikirkan hal yang sama dengan yang dipikirkan Aria. Hatinya bahkan sakit ketika pukulannya menghancurkan pohon. Sungguh di sayangkan sumber daya berharga harus terbuang sia-sia seperti ini.
Theo ingin menanyakan alasan Tiankong menyuruhnya melakukan semua ini, namun masternya itu terus saja membentaknya ketika hendak bertanya. Kali ini, ketika Aria menanyakan hal yang sama yang tak bisa atau tak sempat ia tanyakan kepada Tiankong, Theo segera membentaknya. Sama seperti yang dilakukan Tiankong ketika dia terus bertanya. Melampiaskan semua rasa frustasinya.
"Aku hanya bertanya, kenapa kau kesal begitu?" Bentak Aria balik, tampak tak puas.
Ketika Theo dan Aria mulai berdebat, Tiankong melayang mendekati pohon kuno yang telah dihancurkan Theo bagian tengah nya. Sebuah lubang besar tercipta disana. Ternyata bagian dalam pohon ini memiliki rongga yang cukup luas, membentuk sebuah ruangan. Dia kemudian memasuki lubang tersebut dan memeriksa ruangan didalamnya.
Tak lama kemudian..
"Berhenti berdebat dengan gadis itu, dan cepat kemari!" Teriak Tiankong dari dalam rongga pohon.
Theo yang mendengarnya, segera menarik Asmodeus kembali kedalam tatto segel. Kemudian mengikuti Tiankong memasuki rongga pohon. Aria yang melihat hal itu, mengikuti di belakangnya.
Didalam rongga pohon, Theo bisa melihat sebuah ruangan yang cukup luas, dengan deretan obor terpasang di sisi-sisi ruangan, memberi pencahayaan yang cukup. Tiankong sepertinya menyalahkan obor-obor ini ketika pertama kali masuk.
Saat ini, Theo melihat Tiankong berada disalah satu sudut ruangan. Masternya ini tampak memperhatikan dengan seksama sebuah altar batu. Diatas altar, terdapat sepasang sepatu yang terbuat dari logam berwarna putih.
"Master, benda apa itu?" Tanya Theo ketika sampai di sebelah Tiankong.
"Apa kau menyimak ceritaku tentang Knight legendaris dari era kekosongan sebelumnya?" Tanya Tiankong.
Mendengar pertanyaan itu, Theo memberikan anggukan singkat. Menandakan dia menyimak.
"Ketika aku melihat Petir merah di pohon ini, hanya satu kesimpulan yang bisa kuambil." Tiankong mulai kembali menjelaskan.
"Pohon Kuno ini adalah salah satu tempat dimana Knight legendaris tersebut menyegel seperangkat Armor ciptaanya."
__ADS_1
"Dan di hadapanmu sekarang, adalah salah satu dari perangkat armor tersebut. Sepatu kelas Ilahi yang legendaris." Kata Tiankong. Menutup penjelasannya.
"Kelas Ilahi!" Theo mengulang kata-kata Tiankong. Matanya mulai menyala penuh kekaguman.