Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
225 - Impas


__ADS_3

Catatan penulis :


Halo kawan-kawan pembaca, dalam catatan kali ini, saya hanya ingin memberi tahu, bahwa kita sekarang memasuki chapter-chapter akhir dari Arc satu. Puncak dan akhir dari perang di wilayah Hutan Pinus Beku.


Dan, beberapa chapter terakhir yang akan kawan-kawan baca, dimulai dari chapter 225 ini, adalah chapter-chapter paling berat yang pernah saya tulis.


Kenapa paling berat? Nanti teman-teman akan tahu sendiri.


Selamat membaca!


_____________________


"Sialan! Bagaimana ini?" Dengus Aria, sambil melihat kearah dimana medan pertempuran lain berada. Berharap kakaknya Lucius datang.


Sementara dilokasi yang sama, Sirius dan satuan pasukannya yang saat ini menjadi kelompok terabaikan, tak di usik oleh pihak Endless Heavens Sect, memutuskan hanya mengamati situasi, terlihat tak berniat sama sekali membantu Aria dan Arthur yang tengah terpojok.


"Tuan muda? Kita hanya melihat saja?" Tanya anggota pasukan Sirius.


"Hmmm… tak ada opsi lain, aku tak mau berurusan dengan kelompok fanatik Endless Heavens Sect ini!"


"Lagi pula, memang apa yang bisa kita lakukan? orang-orang ini adalah sekelompok Knight berkelas tinggi! Jadi, biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka mau! Kita pikirkan cara kabur paling tak mencolok sambil mengamati situasi!" Jawab Sirius.


Mendengar kata-kata Sirius, seluruh pasukan nya tak berani memberi bantahan apapun, kini mulai ikut mengamati situasi.


'Hahhh….!!! Diam saja juga percuma, ini seperti menunggu kematian!' Dengus Aria dalam hati. Kemudian mulai mengeluarkan dua pisau kecil kesayangannya lagi.


"Kabut Mistis Abadi!"


*Wooooshhhh….!!!


Dengan cepat, Aria kembali mengaktifkan Kabut Mistis Abadi miliknya, menyelubungi seluruh area yang ada di sekitarnya dengan kabut pekat.


"Apa kabutmu ini bisa menghentikan orang itu? Dia bahkan bisa memotong keenam kepala Skull Hydra ku dalam sekali tebasan!" Tanya Arthur, sambil mempertahankan sikap waspada.


"Tak bisakah kau diam barang sebentar saja? Memang kau punya cara lain?" Dengus Aria.


"Hmmm… Aku kan cuma bertanya, kenapa begitu kesal?" Dengus Arthur balik.


"Cahaya keadilan! Segala yang tak terlihat, jadilah terang!"


Saat Arthur dan Aria masih sibuk berdebat, suara Knight Endless Heavens Sect yang sebelumnya menghentikan langkah kabur mereka, kembali terdengar.

__ADS_1


Dan bersamaan dengan terdengarnya suara tersebut, berkas-berkas cahaya gemerlap mulai menerangi sekitar, menembus ketebalan Kabut Mistis Abadi milik Aria.


Cahaya gemerlap ini, semakin lama tampak semakin gemilang, mengambil dominasi kabut Mistis Abadi, kemudian dengan sekali flash terakhir, membuyarkan kabut tersebut. Membuat area sekitar kembali tampak jelas.


"Gouuggghhh….!!!"


Aria yang kabutnya di lenyapkan secara paksa, segera menerima goncangan hebat pada Element Seednya. Dengan wajah pucat pasih, ia memuntahkan seteguk darah,


"Hey, Aria! Kau tak apa-apa?" Tanya Arthur khawatir, saat melihat wajah pucat Aria yang tampak tak memiliki darah.


"Gouuhhhggg…..!!!!"


Namun, Aria yang mendapat pertanyaan khawatir Arthur, tak memberi jawaban apapun, sambil menekan erat dadanya, ia kembali memuntahkan seteguk darah dan langsung jatuh berlutut.


"Heyy….!!!"


Melihat itu, Arthur yang khawatir, segera akan maju membantunya, tapi sebuah serangan leser cahaya, tiba-tiba menerjang cepat kearahnya.


Arthur yang merasakan serangan ini, secara reflek melakukan gerakan mundur kebelakang satu langkah.


Meskipun begitu, karena kecepatan dari serangan leser cahaya ini terlalu berlebihan, Arthur yang sudah bergerak cepat menghindar, tetap tak bisa tepat waktu, leser cahaya ini mengenainya, menembus pundak kanannya.


Arthur segera jatuh berlutut begitu menerima serangan ini, sambil memegang erat pundaknya yang terluka, ia memuntahkan seteguk darah.


Arthur benar-benar tak menyangkah, selain sangat cepat dan kuat, karena mampu menembus Armor miliknya, leser cahaya yang di lontarkan dewa panggilan milik Knight dari Endless Heavens Sect, ternyata juga memiliki efek beruntun dimana langsung memasuki Meridian tubuhnya, bergerak cepat kearah ranah jiwa, dan memberi goncangan pada Element Seed miliknya.


Kini, dalam kondisi berlutut, Arthur memandang ngeri dewa panggilan yang sedang melayang di hadapannya. Dimana sedang bergerak perlahan mendekat kearahnya.


"Hmmm… gadis muda, maafkan telah membuatmu terluka! Kuharap setelah ini kau tak akan ikut campur lagi!" Kata Knight dari Endless Heavens Sect. Tampak tak punya niat apapun pada Aria.


"Aku hanyalah pelayan dewa yang mengemban tugas untuk memusnahkan semua bentuk kegelapan yang ada di dunia! Dan pemuda yang sedang bersamamu ini, memiliki aura kegelapan yang sangat mencekam di dalam tubuhnya!"


"Ia harus segera di musnahkan secepat mungkin, karena bila dibiarkan hidup dan berkembang lebih jauh lagi, keberadaannya hanya akan membawa malapetaka bagi kehidupan di Gaia Land ini!" Lanjut sang Knight, kini mulai menatap Arthur dengan tatapan penuh kebencian.


"Hmmmm… Mengemban tugas dari dewa apanya? Dasar fanatik sinting!" Bentak Aria. Yang entah kenapa merasa sangat kesal dengan sikap dan kata-kata tak masuk akal yang di ucapkan lawan di hadapannya ini.


"Goouuugghhh….!!!"


Sementara Arthur, yang juga merasa kesal, terlihat ingin ikut melontarkan kata-kata makian, namun ketika ia hendak melakukannya, tenggorokannya langsung tercekat oleh aliran darah yang terdorong keluar dari dalam Element Seednya. Menyebabkan ia kembali terbatuk darah sekali lagi.


Bagaimanapun juga, sebelum menerima goncangan dari serangan terakhir, Element Seed milik Arthur sudah terluka karena beberapa kali menerima goncangan lain di pertarungan sebelumnya.

__ADS_1


Pertama saat kelompok Assassin Dark Guild yang menyerang Skull Hydra secara bersama, berhasil melenyapkan makhluk tersebut. Menyebabkan luka pada Element Seed milik Arthur, dan mengharuskan ia untuk mengistirahatkan Skull Hydra sementara waktu.


Namun, dalam kondisi terdesak sebelumnya, Arthur secara paksa memanggil Skull Hydra nya lagi, berniat kabur dari tempat. Tapi lagi-lagi Skull Hydra menerima serangan yang membuatnya lenyap untuk kedua kalinya, menyebabkan luka di Element Seed Arthur menjadi semakin parah.


Dan ketika ia kembali mendapat goncangan pada Element Seednya di serangan terakhir. Hal ini menyebabkan luka pada Element Seed milik Arthur semakin memburuk.


"Goouuuggghhhh….!!!"


Dalam kondisi tertekan, Arthur sekali lagi batuk darah, tapi kali ini darah yang ia keluarkan berwarna hitam legam. Menandakan Element Seed nya butuh perawatan secepatnya.


"Hmmm… gadis muda, aku tak berharap kau akan memahami prinsip kami dari Endless Heavens Sect. Jadi, lebih baik ikuti saranku, dan diam saja disana!" Dengus sang Knight. Sebelum dengan isyarat tangan, memberi perintah pada dewa panggilannya untuk melakukan serangan penghabisan pada Arthur.


Memahami intruksi tuannya, sang dewa mulai mengangkat salah satu pedang kembar yang ia pegang. Gerakan mengangkat pedang ini, segera diiringi dengan aliran Mana cahaya yang begitu gemerlap, mulai terhimpun dengan intens pada pedang yang sedang ia angkat.


Kemudian dengan gerakan menusukkan pedang kedepan, sang dewa melancarkan serangan cahaya leser kearah Arthur, menyasar tepat pada area dadanya.


Melihat serangan itu, Arthur yang bahkan sudah tak bisa menggerakkan ujung jarinya akibat luka parah pada Element Seed miliknya, hanya bisa memandang kosong kedepan dengan mata terbuka lebar. Mulai berfikir apakah ini akhir dari hidupnya.


Namun, Arthur yang sudah mulai pasrah menyambut kematian yang sedang bergerak mendekat, tiba-tiba merasakan dorongan kuat dari samping. Seseorang mendorongnya dengan keras menjauh dari jalur serangan.


*Buuggg….!!!


Tubuh Arthur sedikit terlempar dan mendarat pada sisi bahu yang terluka lebih dulu, membuat rasa sakit dibahunya semakin menjadi. Tapi, ia sama sekali tak memperdulikan rasa sakit tersebut, dalam posisi terbaring, ia menoleh untuk melihat siapa yang barusan menyelamatkan nyawanya.


Dan begitu melihat pemandangan dihadapannya, matanya segera melebar sekali lagi. Kini bukan hanya sekedar melebar, melainkan mulai memerah.


"Tidak…! Apa yang kau lakukan! Kenapa!" Teriak Arthur. Tampak sangat marah. Dalam kemarahannya, aliran mana kegelapan intens yang tampak begitu liar, mulai menyebar keluar dari dalam tubuhnya.


Tepat dihadapan Arthur, pada lokasi dimana ia sebelumnya berlutut, Arthur bisa melihat sosok Aria yang sedang berdiri tegak. Ternyata gadis inilah yang tadi mendorong Arthur menjauh dari lokasi tersebut.


Tapi yang membuat Arthur menjadi sangat marah adalah, perasaan bersalah yang menyelubungi hatinya, merasa tak terima dengan tindakan gadis dihadapanya ini.


Sementara itu, mendengar bentakan dan ekspresi marah Arthur, Aria hanya menatapnya untuk sesaat.


"Sekarang kita impas!" Gumam Aria pelan, sebelum mulai jatuh tumbang ketanah. Dengan dada berlubang.


*Wooooshhhh…..!!!!


*Booooommmmmm…..!!!


Bersamaan dengan tumbangnya tubuh Aria, aura kegelapan ganas, meledak keluar dari dalam tubuh Arthur.

__ADS_1


__ADS_2