Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Kisah Knight Legendaris


__ADS_3

Satu hari berselang, kini Asmodeus telah selesai menyerap Kristal Beast dari Ular Petir Ungu. Kulit tubuhnya menjadi dominan berwarna ungu, ekor panjang berujung lancip miliknya, berubah menjadi ekor panjang yang sama persis dengan ekor Ular Petir Ungu. Satu hal yang tak berubah, yakni dua tanduk raksasa di kepalanya.


Setiap kali Asmodeus tersenyum, dua taring kecil juga akan muncul disela-sela bibirnya. Namun hal ini anehnya membuat paras dan senyuman Asmodeus, menjadi terlihat semakin menggoda.


"Master, bagaimana penampilanku sekarang? Apakah terlihat cantik?" Tanya Asmodeus centil, sambil melayang kegirangan, merasa bentuk tubuhnya semakin menarik.


"Yahh, kau terlihat sangat menawan!" Jawab Theo secara spontan, karena memang Asmodeus terlihat cantik.


Mendengar jawaban Theo, Aria yang juga memperhatikan, menjadi cemberut. Dia mendekati Theo dan menginjak kakinya dengan keras.


"Apa maksudmu dengan menawan? Apa kau seorang pedofil?" Gerutu Aria.


"Apa maksudmu? Pedofil apa hah?" Bentak Theo, merasa tak terima dikatai pedofil.


"Jika memang tidak begitu, kenapa kau terus memandangi loli kecil ini dengan tatapan liarmu?" Bentak Aria balik.


"Tatapan liar? Apa maksud…." Theo hendak menyanggah Aria sekali lagi, namun Asmodeus tiba-tiba mendekat.


"Master, kalau memang aku begitu menawan, kenapa kau tak memanjakanku?" Kata Asmodeus dengan nada manja, sambil kembali memeluk lengan tangan Theo.


Sikap Asmodeus ini entah kenapa membuat Theo menjadi merinding. Tak tahu harus bersikap seperti apa. Kata-kata yang akan dia ucapkan sebelumnya langsung tercekat berhenti di tenggorokan. Membuatnya terdiam.


"Kau loli sialan tak tahu diri! Berhenti menggerayangi mastermu dengan sikap manjamu itu! Itu tindakan yang tak pantas!" Bentak Aria, menarik Theo kembali.


"Hmmmm…. Apa hubunganmu dengan master? Kenapa kau mengatur apa yang ingin kulakukan? Aku dan Master terikat oleh ikatan batin yang nyata!" Jawab Asmodes, kembali memeluk Theo dengan manja.


"Lihat, bahkan master tak menolaknya!" Kata Asmodeus melanjutkan, tatapan matanya semakin nakal memandang Aria.


"Kau….!!!" Aria sangat kesal sampai tak tahu lagi apa yang harus ia katakan.

__ADS_1


Dia kemudian mulai memandang Theo dengan tatapan dingin. Mengeluarkan dua pisau kecilnya.


"Theodoric Alknight! Aku peringatkan padamu, sebaiknya segera memasukkan bocah hina ini kembali ketempatnya, atau kau akan menyesal!" Kata Aria dingin, tatapannya kini mengarah ke tempat diantara dua kaki Theo.


"Hahhahahhaha….. entah kenapa, kau sangat berbakat menciptakan suasana riang yang sangat menarik dan menghibur!" Tiankong tiba-tiba muncul. Seperti biasa, kemunculannya berbarengan dengan tawa liar.


"Aku benar-benar puas telah mengangkatmu sebagai murid! Hahahhahaha…"


Sementara Tiankong tertawa puas, Theo sekarang mulai berfikir, apakah dengan memiliki gerbang dosa adalah sebuah anugrah atau sebuah kutukan. Kenapa setiap bocah dosa yang keluar, memiliki sikap yang sangat aneh dan menyebalkan.


Baal dengan sikap kekanakannya yang keterlaluan, Mammon dengan sikapnya yang tak memiliki ekspresi, dan kali ini ada Asmodeus dengan sikap menggodanya yang sama sekali tak singkron dengan wujudnya yang seorang anak kecil.


"Tunggu apa lagi? Masukkan loli ******* ini kembali? Kenapa kau justru terlihat menikmati pelukannya!"


Ketika Theo masih terbenam dalam pemikirannya tentang gerbang dosa, teriakan Aria kembali terdengar.


"Emmmm… master, kata-katamu sungguh menyakiti hati gadis kecil ini." Asmodeus mengeluh, tapi keluhannya ini menggunakan suara menggoda yang sangat centil. Pelukannya semakin mengencang.


Melihat hal itu, mata Aria semakin memerah. "Theodoric Alknight…!!!!!"


"Aarrrgghhhhhhh………!!!!!!" Theo yang merasa tertekan dengan situasinya. Hanya bisa berteriak frustasi, sambil menjambak rambutnya.


"Hahhahahahha….. teruskan seperti itu, kau memang yang terbaik! Hahahahhha…." Sementara Tiankong tertawa semakin keras melihat semua kejadian di depannya. Merasa sangat terhibur dengan kemalangan yang di derita muridnya.


*Bzzzttt…. Bzzztt…. Bzzzztt….


Ketika Theo dan lainnya masih terlibat obrolan, suara derakan listrik tiba-tiba terdengar. Tiankong yang pertama kali menyadari hal itu, segera menghentikan tawanya. Dia menoleh kearah sumber suara.


"Hmmm… aku sempat lupa, bukankah tujuan awal yang menarik kita kesini adalah pohon ini" Kata Tiankong.

__ADS_1


Saat ini, Pohon Kuno yang merupakan sarang Ular Petir Ungu, terlihat mengeluarkan sebuah reaksi aneh. Pohon itu tiba-tiba mengeluarkan deru listrik berwarna merah terang. Aliran listrik ini dengan liar menyelimuti seluruh areal pohon.


"Master?" Theo yang kini juga menyadari fenomena aneh tersebut, bertanya kepada Tiankong.


Tiankong tak menjawab pertanyaan Theo, dia hanya terus memandang kearah Pohon Kuno. Tatapannya tak lepas di salah satu sudut paling tengah pohon itu. Setelah beberapa saat, sudut-sudut bibirnya mulai tersenyum.


"Ketika aku terlempar di era kekosongan, aku pernah mendengar suatu kisah, tentang seorang Knight legendaris yang hidup di era itu." Tiankong yang awalnya diam, tiba-tiba mulai mendongeng.


Mendengar hal itu, Theo yang masih belum mengerti, tak berani memotong. Dengan seksama memperhatikan Masternya.


"Knight ini terlahir dengan bakat yang sangat luar biasa. Dia juga merupakan seorang Penempa yang berbakat. Karunia terbesarnya adalah, dia memiliki Dual Element Seed yang mengalami mutasi. Dual Element Seed Api dan Angin nya, entah kenapa menghasilkan Elemen Petir yang tak biasa, yakni Petir Merah membara. Petir merah ini memiliki daya dekstruktif luar biasa hebat, melebihi elemen petir normal pada umumnya."


"Sebagai seorang Penempa yang hidup di era kekosongan, dimana pamor serta kejayaan dari Six Ancient Thing sedang berada di puncaknya, dia mulai terobsesi untuk membuat suatu benda yang kualitasnya setara dengan Six Ancient Thing."


"Memanfaatkan elemen Petir merah membaranya, dia mengisolasi dirinya dari dunia luar. Menempa tanpa henti selama ratusan tahun. Usaha dan dedikasinya ini ternyata tak sia-sia. Dia berhasil menciptakan seperangkat Armor yang kualitasnya mendekati Six Ancient Thing."


"Kemudian, dengan percaya diri, dia memakai seperangkat Armor ciptaanya, mulai melakukan petualangan ke dunia luar untuk mencari dan menantang siapapun pengguna Six Ancient Thing."


"Tak lama setelah itu, dengan cepat namanya mulai menggema di dunia Knight era kekosongan. Namun, sebelum dia berhasil bertemu dan menantang pengguna Six Ancient Thing. Nasib nahas menimpanya."


"Beberapa pengguna Six Ancient Thing yang mendengar kualitas Armor milik Knight ini, melalukan kerjasama untuk menjebaknya. Mereka mendatanginya lebih dulu sebelum dia menemukan mereka. Memaksa sang Knight menyerahkan Armor ciptaannya kepada mereka."


"Mendengar permintaan tak masuk akal itu, tentu ia menolaknya dengan tegas. Pertempuran besar pun tak terhindarkan antara kelompok pengguna Six Ancient Thing melawan Knight tersebut."


"Namun, meskipun Knight legendaris ini sangat kuat, dia tetap saja kalah dalam pertarungan besar tersebut. Karena harus melawan beberapa pengguna Six Ancient Thing secara bersamaan sekaligus."


"Dengan tubuh penuh luka parah, dia menggunakan semua upaya yang ia bisa untuk melarikan diri."


"Knight legendaris berhasil lolos, namun sudah dalam keadaan meregang nyawa. Merasa nyawanya tak akan bertahan lama, dia memisahkan seperangkat Armor ciptaannya. Menyegel armor-armos ini secara terpisah di beberapa tempat berbeda." Tiankong menutup dongengnya. Tatapan matanya tak lepas dari Pohon Kuno.

__ADS_1


__ADS_2