
Catatan Penulis :
Tolong luangkan sedikit waktu buat membaca. ^^
Selamat malam kawan-kawan. kali ini penulis cuma ingin sedikit mengingatkan. Sabtu siang besok, tepatnya jam 12. Akan menjadi batas waktu bagi penulis untuk mengumumkan 3 besar Vote yang berhak menerima karya Spin Off eksklusif yang di tulis oleh penulis.
Sebagai tambahan, penulis juga akan memberikan karya Spin Off kepada 3 orang lain secara acak, yang penulis pilih dari siapapun yang menurut penulis paling sering meninggalkan komentar di setiap chapternya. Atau mereka yang rutin mengirim Vote kepada penulis tiap harinya.
Jadi tolong, siapapun yang penulis FOLLOW, untuk FOLLOW BACK penulis, agar lebih memudahkan penulis untuk berkomunikasi. Karena ada satu pemenang minggu lalu yang belum memfollow back penulis, sehingga saya kesulitan untuk memberikan hadiah karya Spin Offnya. ^^
Terakhir, ada dua karya Spin Off yang telah siap.
Gregoric Alknight : Sang Perkasa. (diberikan kepada siapapun yang memenangkan Vote tertinggi atau terpilih acak pertama kali.)
Arthur Wild : Putra Kegelapan. (diberikan kepada mereka yang sudah pernah mendapat cerita pertama diatas, alias mereka yang memenangkan jumlah Vote tertinggi dua minggu lalu.)
Sekian Note penulis kali ini, selamat menikmati Chapter terbaru! ^^
------------
"Master, aku ingin tubuh itu!" Kata Mammon, namun ekspresi wajahnya sangat datar.
"Ohhh, Mammon. Apa kau masih mengingatku?" Tiankong yang melihat sosok Mammon maju mendekatinya.
"Tentu saja aku ingat, kau mantan Master." Kata Mammon dengan datar, menoleh sebentar kemudian mengabaikan Tiankong.
"Master aku ingin tubuh itu!" Mammon kembali melihat kearah Theo, mengulang kalimatnya lagi. Sambil menunjuk tubuh Hydra.
"Hahhh…. Tetap saja menyebalkan, Baal lebih asyik dari pada kau!" Dengus Tiankong kemudian terbang menjauh.
"Hahhahaha… akhirnya ada yang bisa kujadikan sekutu dengan benar!" Kata Theo bersemangat, dia sangat puas melihat ekspresi kesal Tiankong.
Saat Theo masih terlibat obrolan dengan Mammon dan Masternya, orang-orang lain dilokasi tersebut yang tak bisa melihat Tiankong tampak kebingungan.
"Kenapa kau selalu saja berbicara sendiri seperti orang gila?" Kata Aria.
__ADS_1
"Dan makhluk apa lagi itu yang kau keluarkan?" Tanyanya kemudian.
Tak seperti Aria yang berani bertanya langsung dengan agak kasar, Ketua Arsegio dan Aurelas hanya bisa saling memandang satu sama lain, mereka juga penasaran dengan sosok Mammon, namun tak mempunyai keberanian untuk bertanya. Takut bertindak tak sopan dan terkesan menyelidik.
"Sebelum ini kura-kura imut, yang bisa menjadi makhluk raksasa yang menyeramkan, selain itu ada monyet kuning yang bisa berubah menjadi tongkat. Sekarang makhluk apa lagi?" Tanya Aria sangat penasaran.
Theo yang kebingungan harus menjawab seperti apa, mulai ingin mengalihkan perhatian lagi. "Susah menjelaskannya sekarang, lain kali akan kujelaskan." Kata Theo.
Mendengar jawaban Theo, Aria segera menjadi cemberut. Dia menginjak kaki Theo dengan keras. "Aku adalah calon istrimu, dan kau terus-menerus merahasiakan apapun dariku? Aku tak bisa terima!" Bentak Aria.
"Calon istri….. ituu…. " Theo masih merasa canggung dan tak biasa mendengar kata istri dari mulut Aria. Namun sebelum Theo bisa menyelesaikan kata-katanya…
"Apaa? Kau mau bilang apa?" Bentak Aria. Mata nya mulai menatap diantara dua kaki Theo dengan tajam. Sejurus kemudian dia juga mengeluarkan dua pisau kecilnya.
Melihat hal itu, punggung Theo segera merasa dingin, kedua tangannya secara reflek menutup dan melindungu area kejantananya.
"Ini benar-benar sebuah bencana!" Gumamnya lirih.
"Apa? Apa yang kau katakan?" Tanya Aria, matanya semakin tajam menatap Theo.
"Bu…bukan apa-apa, lupakan, iya aku tak akan merahasiakan apapun setelah ini, aku janji!" Kata Theo buru-buru.
"Master, aku ingin tubuh itu!"
Ditengah-tengah suasana mencekam, Mammon terbang tepat di muka Theo, mengulang kata-katanya lagi, dengan ekspresi datar.
Melihat itu, Theo malah menjadi kesal. "Iyaaa, iyaa, kau ingin tubuh itu! Tak usah mengulang-ulangnya lagi, dan apa-apaan ekspresi datar itu! Sungguh meyebalkan!" Bentak Theo.
"Kauuu inii…!!!!" Theo hendak memarahi Mammon lagi, namun suara Aria di sebelahnya menghentikannya.
"Katanya kau ingin menjelaskan? Tunggu apa lagi? Jelaskan makhluk menyebalkan apa ini?" Tanya Aria sambil menunjuk Mammon yang terbang melayang.
"Kau yang menyebalkan!" Mammon yang mendengar kata-kata Aria, balik mengatai Aria.
"Apa kau bilang?" Aria segera merasa tak terima mendengar kata-kata Mammon.
"Jadi selain cerewet kau juga tuli, aku bilang kau menyebalkan!" Kata Mammon, masih dengan ekspresi datar.
"Kau berani!!" Bentak Aria.
"Aaaarggggghhhh…. Kalian cepat hentikan!" Theo yang berada di tengah posisi dua orang ini segera menjadi frustasi.
"Hhahahahahhahaha…… rasakan itu, Mammon adalah sekutu yang baik, sungguh lelucon, hahhahahahha….." Tiankong yang melihat Theo menjadi frustasi, segera tertawa lepas. Sangat puas.
"Diammm!!!!" Theo semakin frustasi mendengar kata-kata dan tawa Masternya.
Sementara dua ketua Klan yang melihat ini, kembali hanya bisa saling memandang satu sama lain, mereka mulai merasa berada di tempat dan waktu yang salah.
__ADS_1
"Seorang istri memang sangat menyeramkan! Untunglah aku memutuskan tetap melajang." Kata ketua Arsegio.
**
Beberapa saat kemudian, situasi kembali menjadi agak tenang. Theo membawa Aria agak menjauh dan mulai menjelaskan tentang asal-usul Mammon dan Baal. Namun tentu saja, menggunakan cerita versi karangan bebas. Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada Aria.
Sementara kedua tetua dari awal hanya mengambil sikap pasif, tak berani ikut masuk dalam obrolan. Mereka mulai takut dengan sosok Aria.
Ditengah situasi tenang. "Master, tubuh itu!" Mammon kembali melayang di hadapan Theo, mengatakan kata yang hampir sama sambil menunjuk tubuh Hydra.
"Diam!" Theo kembali kesal. Dia tak habis pikir, kenapa setiap bocah dosa yang muncul di hadapannya mempunyai sikap aneh yang sangat menyebalkan.
Mammon adalah perwujudan dari roh gerbang Keserakahan yang paling akhir di taklukan Theo ketika menaklukan tiga gerbang dosa. Dan seperti nama gerbangnya, roh Mammon dipenuhi dengan sifat serakah.
Namun berkebalikan dengan jati dirinya, entah kenapa ekspresi Mammon begitu datar, seperti tak memiliki keinginan apapun. Hal ini menyajikan pemandangan aneh yang sangat kontras, karena meskipun Mammon terus merengek menginginkan tubuh Hydra, ekspresinya terlihat sangat datar.
"Hahahhaha…. Sudahh, tenangkan dirimu, meskipun aku sendiri sangat terhibur, saat ini bukan waktu yang tepat untuk kesal. Hahhaha…." Kata Tiankong tiba-tiba, ia melayang mendekati Theo.
"Hmmm, kau juga menyebalkan, kau tau itu bukan?" Dengus Theo.
"Hahhahah.. sudah, dengarkan aku untuk sekarang!" Kata Tiankong.
"Kehadiran Mammon disini sungguh akan bisa membantu masalahmu bila dimanfaatkan dengan baik." Tiankong mulai menjelaskan.
"Maksudmu?" Theo yang penasaran, memotong kata-kata Masternya.
*Bletaaakkkkkkkkk……
Aliran Mana tak kasat mata tiba-tiba memukul kepala Theo dengan keras.
"Auchhhhh…." Theo segera mengelus kepalanya yang sakit.
"Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah memotong penjelasanku!" Dengus Tiankong.
Theo hanya diam mendengarnya, menyadari kesalahannya, dan Tiankong mulai melanjutkan penjelasannya begitu melihat Theo sudah diam kembali.
"Perwujudan senjata dari Mammon adalah senjata rahasia dengan bentuk enam pisau lempar. Hal ini tak terlepas dari sifat dosa yang di bawah olehnya, yakni dosa keserakahan." Tiankong kembali mulai menjelaskan.
"Dosa keserakahan mendorong Mammon untuk selalu menginginkan semuanya, oleh karena itu, dosa ini membentuk enam pisau lempar tadi, karena setiap enam pisau lempar, akan memiliki enam atribut elemen yang berbeda."
"Karena karakteristik ini, secara umum, akan sangat sulit menemukan Spirit Beast yang memenuhi syarat untuk tubuhnya digunakan oleh Mammon. Karena jarang ada Spirit Beast yang memiliki atribut enam elemen."
"Namun kali ini, aku tak tahu apakah di kehidupanmu sebelumnya kau secara tak sengaja mempunyai hubungan dengan dewa keberuntungan atau apa, karena yang ku tahu, kau adalah bocah yang sangat beruntung."
"Hydra di hadapanmu, adalah salah satu dari sedikit makhluk yang karakteristiknya cocok dengan kebutuhan Mammon!"
"Kau bisa menggunakan Mammon untuk membantumu menyerap Mana sisa yang di keluarkan makhluk ini, dan dalam prosesnya, kau juga akan bisa memberi tubuh yang cocok untuk Mammon." Tiankong menutup penjelasannya.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Tiankong, Theo kini secara kasar mengerti maksud dari Masternya. Dia kemudian mulai menoleh kearah Mammon.
"Master, tubuh itu, aku ingin." Kata Mammon lagi, masih dengan ekspresi datarnya ketika Theo mulai melihat kearahnya.