
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Bammmm…!!!
*Baaammm….!!!!
*Baaammm…!!!
Suara benturan antar logam menggema keras memenuhi ruangan saat Thomas dengan Gada raksasanya mulai menghantam puluhan patung emas yang menerjang kearahnya.
Sementara Razak, menggunakan teknik gerakan miliknya, bergerak gesit menghindari setiap serangan yang mengarah padanya. Berlindung di belakang tubuh raksasa Thomas dan beberapa kali melancarkan serangan tinju kuat kearah patung emas saat melihat ada kesempatan.
"Hmmmm… Tak ada habisnya, meskipun mereka tak terlalu kuat, tapi jumlahnya sungguh berlebihan!" Ucap Thomas. Setelah menghempaskan salah satu patung emas dengan pukulan Gada keras.
Razak sendiri yang mendengar kalimat keluhan Thomas, tak memberi tanggapan apapun, ia masih bergerak gesit menghindari setiap serangan patung emas. Mencoba tak banyak bicara untuk menghemat staminanya yang terbatas.
Kondisi yang di hadapi Thomas dan Razak bertahan untuk waktu yang relatif lama, sampai tubuh Raksasa Thomas yang dari tadi ia pakai untuk menahan serangan puluhan patung, kini tampak sudah mulai diambang batas dengan banyak bekas luka memenuhi sekujur tubuhnya.
Meskipun patung-patung emas yang sedang ia hadapi menurut Thomas tak terlalu kuat, mereka sebatas dan sebanding dengan Knight kelas General tahap awal. Tapi jumlah patung yang terlalu banyak, membuat Thomas menjadi kewalahan. Apalagi ia juga harus bertarung dengan membagi fokus. Sebisa mungkin melindungi Razak dari serangan patung emas dengan mengumpankan tubuh raksasanya sebagai samsak hidup.
Dalam situasi yang benar-benar membuat ia sangat frustasi tersebut, Thomas kemudian memilih berfikir keras, mencari cara terbaik untuk keluar dari situasi sulit yang sedang ia hadapi.
"Kau harus tenang Thomas! Tenangkan dirimu, jika itu adalah Boss, apa yang akan ia lakukan dalam situasi seperti ini?" Ucap Thomas, berbicara dan bertanya pada dirinya sendiri.
"Formasi!" Gumam Thomas.
"Formasi! Cari pusat formasi!"
Sambil menahan dan melancarkan serangan Gada raksasa, Thomas yang seperti telah mengerti sesuatu, saat ini mulai melihat sekeliling.
Sampai kemudian, pandangan matanya menangkap dan terfokus pada salah satu sudut dinding ruangan yang pada permukaannya, tergambar satu formasi rumit yang sedikit transparan.
"Hmmm… Itu dia! Pasti disana pusat formasinya!" Ucap Thomas.
Ia sudah akan melakukan langkah maju kedepan untuk mendekati sisi dinding yang memiliki gambar ukiran formasi sampai kemudian, pukulan keras dari beberapa patung emas yang menyerang secara hampir bersamaan, mendarat cepat di sekujur tubuhnya. Membuat langkah maju Thomas terhenti.
"Ciihhh…!!! Sepertinya ia tahu aku sudah menemukan pusat formasinya. Sehingga mulai berhenti bermain-main dan membuat seluruh patung emas menyerang secara serentak dengan cara membabi-buta!" Dengus Thomas.
__ADS_1
"Razak! Dengarkan aku!" Teriak Thomas.
"Ya!" Jawab Razak singkat.
"Aku akan menahan mereka semua! Gunakan teknik gerakan terbaikmu untuk menuju ke sisi dinding sebelah sana! Ukiran gambar formasi yang ada di dinding tersebut, pastilah pusat dari formasi yang mengendalikan patung-patung di ruangan ini!" Seru Thomas.
"Dimengerti!" Jawab Razak sekali lagi. Singkat padat dan jelas.
Mendengar jawaban Razak, Thomas kini mulai mengangkat Gada raksasa miliknya dalam posisi lebih tinggi. Menggunakan segenap tenaga, dan sedikit terlihat kesusahan, Thomas dengan dua tangan, mengangkat Gada raksasa tepat diatas kepalanya.
*Bammm….!!!
*Bammmm….!!!!
*Baaammmmm….!!!
Bersamaan dengan aksi Thomas tersebut, puluhan patung yang masih melakukan serangan-serangan kearahnya, kini berhasil mendaratkan puluhan pukulan senjata pada tubuh Thomas yang sepenuhnya terbuka.
Thomas sendiri yang kini menerima puluhan serangan secara langsung, mulai menggertakkan gigi-giginya. Tampak menahan rasa sakit. Sebelum kemudian, aliran Mana Tanah intens, mulai menyeruak disekitar tubuhnya. Terfokus dengan sangat padat pada senjata Gada raksasa yang kini sedang ia angkat tinggi diatas kepala.
"Roh Naga Bumi, aku memanggilmu!" Gumam Thomas.
*Wung…!!!!
Gumaman Thomas, disambut dengan dengungan ringan mulai terdengar dari arah Gada raksasa miliknya, sebelum sebuah aura aneh yang terasa sangat asing, mulai menyebar menyelimuti area sekitar.
Fenomena aneh yang terjadi disekitar Thomas, ditutup dengan satu suara raungan ringan yang terdengar entah dari mana. Suara raungan ini, begitu mencekam, terasa sangat dekat, namun juga jauh disaat bersamaan. Seperti berasal dari sebuah dunia lain. Sebuah dimensi lain yang tak dapat di lihat oleh mata telanjang.
"Naga Bumi menaklukan seluruh daratan!"
Teriak Thomas begitu suara raungan aneh terdengar untuk beberapa saat. Teriakannya tersebut, diiringi dengan Thomas mulai melakukan gerakan menghujamkan Gada raksasa miliknya kearah depan. Memukul keras lantai ruangan yang ada di hadapannya.
*BOOOOOMMMMMM….!!!!
Pukulan keras Thomas tersebut. Selain menyebabkan beberapa patung yang berdiri di hadapannya kini hancur berantakan dalam posisi tergencet Gada raksasa, juga membuat aliran Mana Tanah yang ada di sekitar ruangan, tiba-tiba berubah menjadi sangat kacau. Berderak dengan berisik dan mulai menghancurkan seluruh lantai ruangan.
"Bocah! Sekarang!" Teriak Thomas sekali lagi, sesaat setelah melancarkan serangan dahsyat yang membuat puluhan patung terjebak pada retakan-retakan lantai ruangan. Tertahan gerakannya masing-masing.
Mendengar intruksi Thomas, tanpa menunda, Razak yang dari awal memfokuskan aliran Mana Besi pekat disekitar pada kedua kepalan tangan, kini ganti fokus mengalirkan semua Mana Besi kearah dua kakinya.
"Langkah menjelajah Bumi!" Gumam Razak. Sebelum mulai menghentakkan kaki kanannya pada lantai ruangan.
*Bammm…!!!
*Woooshhhh….!!!
Dengan satu hentakan kaki, Razak menerjang kedepan. Keluar dari balik punggung Thomas yang dari tadi melindunginya.
__ADS_1
Razak mendarat beberapa meter dari lokasinya semula, kemudian dengan kaki kiri kembali menginjak tanah, membuat hentakan kedua.
*Bammm…!!!
Dorongan langkah keduanya tersebut, membuat Razak berhasil melewati beberapa patung penjaga sekaligus. Meskipun memang serangan beberapa patung yang saat ini terjebak pada retakan lantai ruangan hampir mengenainya, namun Razak berhasil menghindari setiap serangan di detik terakhir sebelum serangan tersebut mengenai tubuhnya.
Bocah ini mendarat sekali lagi dari lompatannya yang kedua dalam beberapa meter, dan dengan ini hampir sampai pada sisi dinding yang sekarang berada tak jauh di hadapannya.
Dengan gerakan gesit, Razak yang telah mendarat, tak menunda waktu terlalu lama sampai kembali membuat hentakan ketiga, kali ini menggunakan kedua kakinya.
*Baaaammmmm….!!!
*Braakkk…..!!!
Hentakan ketiga ini, membuat Razak bergerak sangat cepat, menerjang tanpa kendali sampai menabrak sisi dinding yang sedang ia tuju.
"Bocah, kau tak apa-apa?" Teriak Thomas, begitu melihat Razak menabrak dinding ruangan.
"Tak masalah!" Jawab Razak singkat.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan pada ukiran gambar formasi ini?" Tanya Razak, sambil menunjuk ukiran formasi rumit di hadapannya.
"Ahhh….!!!"
Mendengar pertanyaan Razak, Thomas hanya bisa sedikit termenung. Ia kini sadar tak tahu banyak tentang formasi, membuatnya menjadi bingung harus memberi intruksi lanjutan macam apa pada bocah itu.
"Bongkar formasinya!" Dalam keadaan frustasi, Thomas secara reflek memberi intruksi yang tak mungkin di lakukan Razak.
"Bagaimana caranya!" Tanya Razak dengan ekspresi wajah polos yang khas.
Bersamaan dengan pertanyaan polos Razak, beberapa patung yang terjebak pada retakan lantai ruangan, saat ini sudah mulai berusaha merangkak keluar.
Thomas yang melihat hal itu, tentunya menjadi semakin panik dan frustasi.
"Bahhh…! Persetan! Gunakan serangan terkuatmu dan hancurkan saja dinding formasinya!" Teriak Thomas.
*Woooshhhh….!!!
Tanpa mempertanyakan apapun, Razak segera mulai menghimpun aliran Mana Besi pekat kembali terfokus pada kedua kepalan tangan.
"Menempa Tubuh Surgawi! Pukulan Dewa Besi!" Ucap Razak. Sebelum mulai melancarkan pukulan keras beratribut Mana Besi intens, pada dinding formasi yang ada di hadapannya.
*Booommmm….!!!
Pukulan Razak, dalam sekejap berhasil menghancurkan dinding tersebut. Dan bersamaan dengan hancurnya dinding, sebuah jam raksasa kini terlihat di balik reruntuhan.
--------------
__ADS_1
Note : Cuma mau mengingatkan, karena sekarang hari minggu, jadi cuma up satu chapter.