Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
416 - Leluhur


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Tuuu…!!!"


Joy kecil yang telah memakan semua serbuk besi, kini menatap Theo dengan tatapan memelas, menyebabkan Theo benar-benar semakin gemas.


"Hahhahaha….! Kau sudah memakan semuanya! Masih kurang? Untuk makhluk kecil sepertimu, nafsu makan yang kau miliki sungguh tak biasa!" Ucap Theo.


"Tuuuu…!! Tuuu….!!" Jawab Joy Kecil, dengan raut wajah sedikit kesal saat Theo menyebutnya sebagai makhluk kecil.


"Hahhaha…! Iya, iya, kau bisa tumbuh sebesar gunung!" Tanggap Theo.


"Tuuuu…???"


"Tidak! Aku percaya! Aku benar-benar percaya!Jangan berubah ke ukuran tubuh aslimu sekarang! Bisa-bisa kau menghancurkan seluruh ruangan gua ini!" Ucap Theo.


"Tuuu…!" Jawab Joy Kecil, kini dengan ekspresi wajah puas saat mendengar kata-kata Theo.


"Hei lihat yang ada disana! Sudah kuduga, serbuk-serbuk besi ini pasti berasal dari makhluk itu!" Kata Theo. Sembari mulai berjalan kesalah satu sudut gua.


Saat ini, tepat di hadapan Theo, terdapat sebuah bunga dengan kelopak raksasa berwarna perak cerah. Kelopak itu sendiri, berdiri tegak ditopang oleh sebuah tangkai panjang tipis yang menjulang sangat tinggi.


"Huuuu….. huuu…. Huuu… "


Bunga itu sendiri, terus bergerak-gerak seperti sedang bergoyang mengikuti satu irama kelam, bersama alunan tangkainya, satu suara mendayu aneh juga mulai terdengar samar. Suara mendayu ini entah kenapa membuat siapapun yang mendengarnya, akan segera berdiri bulu kuduknya, merinding seketika.


Karena suara yang keluar dari bunga aneh tersebut, terdengar seperti sebuah tangisan, tangisan dari orang yang tengah dalam kesedihan yang sangat mendalam.


"Bunga Udumbara Serbuk Besi!" Gumam Theo. Sambil melihat dengan tatapan takjub pada salah satu variant bunga Udumbara di temukannya.


"Bentuknya sama persis dengan gambar yang ada di dalam buku catatan peninggalan Master!" Tambah Theo.

__ADS_1


"Tuuuu….?"


Theo masih memandang dengan tatapan penuh ketakjuban pada bunga Udumbara Serbuk Besi dihadapannya, sampai kemudian, suara Joy kecil kembali terdengar.


"Apa? Tidak! Kau tak boleh memakannya!" Jawab Theo. Sambil menoleh kearah Joy kecil yang saat ini sedang hinggap disalah satu bebatuan gua.


"Tuuuu….!!"


"Sudah pasti rasanya enak bagimu! Karena bunga Udumbara Serbuk Besi ini memiliki kandungan Mana Besi pekat yang terus terproduksi dari Kristal Plantnya!" Jawab Theo.


"Tuuu…???"


"Kenapa tak boleh memakannya? Karena kita masih membutuhkan Bunga Udumbara ini! Jika kau memakannya sekarang, itu artinya tak akan ada lagi kabut Serbuk Besi! Bila tak ada kabut Serbuk Besi, maka para pengejar yang ada di belakang akan bisa menyusul kita ke lokasi ini!" Ucap Theo.


"Apa kau paham?" Tanya Theo kemudian.


"Tuuu….!!! Tuuuu….!!!"


"Hahahahha….! Iya aku tau kau kuat! Aura pelindung ciptaanmu bisa menahan mereka! Tapi bagaimana jika mereka membawa orang yang lebih banyak lagi?" Tanya Theo.


"Tuuuu….!!!"


"Tidak! Kau tak akan bisa menahannya! Aku tak meragukan di masa depan kau akan bisa melakukan hal itu, tapi untuk saat ini, kau belum cukup kuat! Kita perlu berkembang lebih jauh lagi untuk bisa melakukan itu!" Ucap Theo.


"Tuuuu….!!!"


"Lagipula, aku juga punya rencana khusus untuk Kristal Plant dari Bunga Udumbara Serbuk Besi ini!" Tambah Theo.


"Tuuuu….!!!"


"Anak baik! Sekarang kau bisa kembali!" Ucap Theo, seraya menarik kembali Joy kecil kedalam tatto segel.


Tak berapa lama kemudian, Theo segera berjalan keluar dari dalam gua. Membiarkan Bunga Udumbara Serbuk Besi kembali memproduksi kabut Serbuk Besi. Sehingga bisa tetap menahan para pengejar yang ada di belakang.


"Ice Projection!" Ucap Theo. Mengeksekusi teknik Ice Projection pada pintu masuk gua ketika ia telah berada di luar. Menyamarkan keberadaan gua kecil dimana di dalamnya terdapat Bunga Udumbara Serbuk Besi.


"Untuk sementara, kita biarkan tetap tersembunyi dulu!" Gumam Theo.


***


(Reruntuhan kuno suku Osiris)

__ADS_1


"Benar-benar pemandangan yang luar biasa!" Ucap Guan Zifei. Saat melihat reruntuhan benteng suku Osiris yang ada di hadapannya.


"Jadi ini benteng pertahanan terkuat dari suku yang menjadi rival utama suku Thousand Beastku di masa lalu!" Tanggap Darsa.


"Kuakui pola bangunan ini sangat estetik dan cantik! Namun tetap saja, tak bisa melebihi kecantikan wanita pujaan hatiku! Nona Snakewoman!" Ucap Zhou Kang. Ikut memberi komentar.


"Tutup mulutmu! Jika ingin membandingkan, kau harus memakai ukuran yang sesuai! Bagaimana bisa satu reruntuhan kuno dibandingkan dengan kecantikannya seorang wanita!" Bentak Sanir. Entah kenapa dari awal pertemuan dengan Zhou Kang, ia tampak begitu membencinya.


"Sekali lagi kau menyebut namaku secara sembarangan, jangan salahkan aku jika…." Gerel hendak ikut menambahi, sampai kemudian, kalimat ancaman yang hendak ia ucapkan, dipotong dengan cepat oleh Zhou Kang.


"Nona Snakewoman, bagaimana jika kutemani jalan-jalan! Menikmati pemandangan menakjubkan dari reruntuhan kuno yang….."


*Bammmmmm….!!!


Belum sempat Zhou Kang menyelesaikan kalimatnya, satu tendangan keras mendarat di dadanya. Gerel tanpa basa-basi menyerang Zhou Kang dengan segenap tenaga yang ia miliki. Menyebabkan Zhou Kang terlempar agak jauh.


"Tendangan cinta!" Ucap Zhou Kang. Seraya kemudian seperti biasa, mengelus dadanya sendiri. Diakhiri dengan mencium tangannya.


"Berhenti melakukan itu! Apa kau tak lihat ekpsresi wajah menjijikkannya setiap kali kau menyerang pria t*lol ini!" Bentak Hella.


Mendengar bentakan Hella, Gerel kini dengan cepat ganti menatap kearahnya. "Berhenti mengaturku!" Ucap Gerel. Dengan intonasi nada dingin.


"Ohhhh… Kini aku malah mulai berfikir bahwa kau sendiri juga menikmati kelakuan pria t*lol itu! Oleh sebab itu terus menerus melakukan tendangan cinta kepadanya!" Sahut Hella.


"Apa kau bilang?" Bentak Gerel. Benar-benar tak menyangka Hella akan melontarkan satu kalimat menusuk yang tentu saja segera membuat Gerel semakin kesal.


"Aku bilang tendangan cinta! Terus kau mau apa?" Jawab Hella, dengan ekspresi wajah sangat provokatif.


Mendengar kata-kata Hella, Gerel tanpa menunda segera mengeluarkan senjata cakram kembar miliknya. Berniat maju menerjang kearah Hella. Namun, belum sempat ia mengambil satu langkah pun, satu hawa berat yang sangat intens, tiba-tiba menyebar luas, menekan siapapun yang sedang berada di lokasi.


Hawa berat yang berasal dari arah pintu masuk reruntuhan kuno tersebut, tentu saja segera menarik perhatian setiap orang. Situasi berubah hening ketika pandangan mata seluruh anggota tim ekspedisi, kini terfokus kearah pintu masuk.


Sampai kemudian, rangkaian ukiran formasi kuno yang ada di sekitar dinding tebing reruntuhan, mulai menyala terang. Merambat dan terfokus pada ukiran rune formasi raksasa yang berada tepat diatas pintu masuk reruntuhan benteng kuno suku Osiris.


Formasi raksasa yang kini telah aktif, mulai menyala terang dengan warna keperakan, sebelum satu proyeksi cahaya berbentuk sosok raksasa, mulai tampil di hadapan semua orang.


Sosok raksasa ini adalah seorang pria yang sepenuhnya bertelanjang dada, menunjukkan otot-otot kekarnya yang berwarna metalik. Sementara pada kedua tangan, terdapat dua Gauntlet besi yang terlihat sangat mendominasi.


Sosoknya yang tampak bagaikan seorang dewa perang agung dengan sorot mata yang begitu tajam serta menekan, membuat setiap orang yang melihat proyeksi raksasa ini, segera terdorong untuk menundukkan wajah. Benar-benar merasa rendah di hadapan sosok yang kini tampil dalam proyeksi raksasa tersebut.


Proyeksi raksasa yang telah sepenuhnya terbentuk, kini mulai melihat menyisir satu persatu anggota tim ekspedisi. Tatapan matanya sempat tertahan untuk beberapa saat begitu melihat sosok Theo, dimana Theo yang kini sedang ia tatap, tak seperti anggota tim ekspedisi lain yang langsung menundukkan wajah, justru menatap balik proyeksi raksasa dengan sorot mata penuh ketajaman.

__ADS_1


Proyeksi raksasa yang melihat sorot mata Theo, secara samar memasang senyum tipis yang tak terlihat, sebelum kemudian mulai kembali mengalihkan pandangan. Kali ini menatap tajam kearah Razak.


"Razak Khan! Keturunan terakhir suku Osiris! Memberi salam pada leluhur!" Ucap Razak cepat. Segera mengambil sujud penuh dengan membenturkan kepala pada lantai, begitu tatapan mata proyeksi raksasa mengarah kepadanya.


__ADS_2