
"Tssaaaahhhhhh……!!!!!"
*Bzzzttt.. bzzzttt… bzzzttt..
*Blaaaaarrrr…… Booommmm….
Suara desisan ular bersamaan dengan listrik yang terus menyala dari tubuh raksasa Ular Petir Ungu menggema dimana-mana.
Ular ini terlihat dalam kondisi terluka parah, banyak bagian dari kulit ditubuhnya melepuh. Wajah Ular Petir Ungu yang awalnya sudah menyeramkan, kini bahkan semakin menyeramkan lagi, salah satu taringnya meleleh, sementara mata kanannya mengeluarkan air mata darah.
Saat ini, Theo terlihat berlari menghindari serangan ular tersebut dengan cepat dan terburu-buru, sambil menggendong Aria di pelukannya.
"Sialan!! itu tadi berbahaya!" Teriak Theo.
"Aku hanya ingin membantumu!" Bentak Aria tak mau kalah.
"Bukankah sudah kuperingkatkan berkali-kali, cukup perhatikan saja dan jangan ikut campur?" Theo terlihat sangat kesal.
"Kenapa kau begitu cerewet dan suka mengaturku? Aku bukan gadis lemah, aku bisa membantu!" Jawab Aria, ikut kesal.
"Kenapa kau sangat keras kepala? Sedikit saja aku terlambat, kau bisa mati tadi!"
Mendengar hal itu, Aria tak lagi menjawab, hanya mempererat pelukan dan mulai membenamkan wajahnya ke dada Theo.
"Hahhhh…. Tindakanmu justru membuat semua rencanaku berantakan!" Bentak Theo lagi ketika melihat Aria tak memberi jawaban.
Aria kembali terdiam, semakin mempererat cengkramanannya di baju Theo. Sesaat kemudian..
"Maaf.." Katanya lirih.
"Ohh kau bisa minta maaf juga ternyata, seharusnya kau tak perlu susah payah menekan harga dirimu untuk meminta maaf, bila kau menuruti semua intruksiku dari awal!" Kata Theo, masih terlihat kesal.
Mendengar hal itu, Aria mulai melotot. Titik air mata mulai keluar dari kedua matanya.
"Aku sudah minta maaf, kenapa kau masih saja memarahiku? Bahkan ayahku tak pernah bersikap seperti itu padaku!" Kata Aria.
"Berarti ini semua salah ayahmu! Sehingga kau menjadi gadis manja yang keras kepala!" Jawab Theo.
"Kau, sekarang kau malah berani mengatai ayahku?"
"Yahhh, memang salah ayahmu! Tak bisa menjadi ayah tegas dan mendidikmu dengan baik!"
"Coba saja berani berkata seperti itu di depannya!" Bentak Aria.
"Hahhh…. Sudah diam! setelah ini ikuti intruksi dan jangan bertindak gegabah lagi!" Kata Theo.
Setelah berkata demikian, dia mulai berbalik menghadap Ular Petir Ungu yang mengejar agak jauh dari posisinya. Kondisi terluka parah memperlambat pergerakan ular ini.
__ADS_1
"Baal aku memanggilmu!"
*Wooossshhh…
Dengan cepat Baal keluar dari Tatto segel lengan kiri Theo.
"Master kau me…" Seperti biasa Baal yang baru keluar, hendak menjawab panggilan Theo. Namun, Theo memotong kata-katanya.
"Sudah tak ada waktu, berubah saja dalam bentuk senjatamu!" Kata Theo.
*Pooooffff…..
Tanpa menjawab, Baal berubah dalam bentuk tongkat logam kuning.
Ketika Baal sudah berubah menjadi tongkat, Theo melempar Aria yang ada di pelukannya tinggi keatas.
"Apa yang…." Aria yang terkejut ingin bertanya.
Namun, sepersekian detik kemudian, Theo yang sudah menangkap tongkat Baal, mengintruksikannya untuk memanjang. Tongkat Baal memanjang dengan cepat, mengenai kerah baju Aria, dan mendorongnya menjauh mengikuti arah perpanjangan tongkat.
*Woooosshhhhhh…..
Aria terbang menjauh dengan cepat. Setelah cukup jauh, Theo menggunakan Mana Angin untuk memperlebar jarak lagi. Menjauhkan Aria sejauh mungkin. Kemudian dengan cepat menarik Baal kembali dalam kondisi normal.
"Gunakan Mana Esmu agar pendaratanmu tidak terlalu menyakitkan!" Teriak Theo kepada Aria yang sudah cukup Jauh.
Setelah merasa Aria dalam posisi aman, Theo melihat Ular Petir Ungu kini sudah sangat dekat dengannya, desisan sang ular, dan suara derakan listrik yang keluar dari seluruh tubuhnya, mulai terdengar dengan jelas di telinga Theo.
Dalam posisi sulit itu, dia menggenggam tongkat Baal dengan erat. Terlihat akan memtuskan sesuatu.
"Hmmm…. Sepertinya kita harus mencoba teknik baru itu." Kata Theo dingin, menatap Ular petir ungu dihadapannya.
Dan ketika Ular Petir Ungu semakin mendekat, Theo mengambil sebuah kuda-kuda, dalam posisi menyamping, tongkat Baal berada sejajar dengan dadanya mengarah kedepan, ujung tongkat dipengangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menopang bagian tengah tongkat.
"Sikap pertama dari teknik Dosa Kerakusan!"
Bersamaan dengan kata-kata dan sikap Theo, Mana tanah di sekitarnya mulai terangkat, bergerak secara tak beraturan. Tongkat Baal juga mulai bergetar hebat. Mana Tanah yang awalnya bergerak tak beraturan, kemudian mulai membentuk harmoni dan menyelimuti Tongkat yang masih bergetar hebat.
Theo memfokuskan semua tenaganya di tangan kanannya yang menggengam erat tongkat, sementara tangan kirinya berfungsi sebagai pengunci arah tujuan serangan.
"Sikap Memakan Tubuh…!!!!!!!!"
Theo berteriak lantang, mengarahkan tongkat dengan tangan kiri, sejurus kemudian melepaskan semua tenaga yang ditahannya pada tangan kanan, untuk memberi dorongan kuat kepada tongkat Baal.
*Woooooshhhhh….
*Sraaaakkkk…….
__ADS_1
Tongkat Baal yang masih bergetar hebat melaju dengan kencang membelah angin. Tanah di bawahnya juga pecah berantakan mengikuti arah laju tongkat, menimbulkan suara berisik tanah hancur yang khas.
Sementara Ular Petir Ungu yang tampak tak siap dengan perubahan gerakan Theo yang tiba-tiba, sama sekali tak bisa mengubah arah terjangannya. Sehingga dia tetap melaju lurus dengan cepat menghampiri tongkat Baal yang mengarah lurus kearahnya. Benturan pun tak terhindarkan….
*Booooooommmmmmm……!!!!!!
Suara ledakan keras terdengar hebat bersamaan dengan benturan yang terjadi antara Ular Petir Ungu dan Tongkat Baal. Suara ini diiringi dengan hancurnya area sekitar hantaman keduanya. Menciptakan letupan debu dan bebatuan hancur yang terbang berhamburan dimana-mana.
"Hahhh…. Hahhh… hahh….. !!" Nafas Theo mulai putus-putus.
Teknik yang baru saja dia gunakan, merupakan teknik yang menghabiskan sangat banyak simpanan Mana miliknya, yang memang dari awal sudah menipis. Saat ini, Mana di Element Seed nya hampir bisa dikatakan mengering habis.
"Apakah berhasil?" Gumam Theo, matanya tak lepas memperhatikan kepulan debu di hadapannya yang belum sepenuhnya menghilang. Berharap tak ada lagi pergerakan yang muncul dari sana.
Bersamaan dengan gumaman Theo, Tatto di lengan kirinya mulai menyala, Baal kembali kebentuk Rohnya, kemudian tertarik kembali kedalam segel Tatto. Simpanan Mana Theo yang mengering, membuatnya tak mampu mempertahankan pemanggilan Baal.
Theo tak memperdulikan kembalinya Baal, karena dia sudah menduga itu sebelumnya, dia masih dengan fokus mengarahkan perhatiannya ke kepulan debu. Hening beberapa saat, jantung Theo berdebar dengan cepat, namun tak ada tanda-tanda pergerakan.
Ketika Theo mulai akan bernafas lega, kepulan debu juga mulai menghilang, samar-samar tubuh raksasa Ular Petir Ungu mulai terlihat lagi. Bayangan Ular ini tampak diam tak bergerak, sampai kemudian, seberkas listrik ungu tiba-tiba menyala kecil.
*Bzzt..
"Hmmm…." Theo yang melihat itu, segera menjadi waspada lagi.
*Bbzzzztt…
*Bzzttt…. Bzztt…. Bzztt….
Suara derakan listrik yang awalnya cuma sekali, tiba-tiba mulai menyala beberapa kali.
*Bzzttt… bzzz… bzzztt… bzzzztt…
Sejurus kemudian mulai menyala lebih terang, diringi dengan pergerakan kepala Ular Petir Ungu.
"Sialan, kenapa kau masih belum mati juga!" Melihat pergerakan Ular Petir ungu, Theo berteriak frustasi.
Sebelum Ular ini kembali mengisi tenaganya, Theo dengan cekatan mengeluarkan bola-bola formasi dari dalam gelang ruang waktu, tanpa menunda dia membentuk segel tangan dan mengalirkan mana api. Ketika bola mulai menyala, Theo melemparkan ke arah posisi Ular Petir Ungu.
*Boooommmm…!!
Bola meledak dengan keras, disertai dengan kepulan asap beracun hijau keluar dari dalamnya. Merasa kurang untuk membunuh sang Ular, Theo mengulangi melempar bola berkali-kali.
*Boooommmmm!!!!
*Boooommmm!!!!
*Booommm…!!! Boommm…!!
__ADS_1