
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Perkemahan Bandit Serigala)
"Boss! Ikan besar yang kau lemparkan, telah benar-benar menggemparkan dan membuat gaduh seluruh Gurun Kematian!" Ucap Thomas, memberi laporan kepada Theo.
"Hahahha…! Sejujurnya, ini memang agak jauh diatas ekpektasiku! Kredit besar harus kita berikan pada divisi intelejen! Kerja keras mereka dalam menyebarkan rumor, benar-benar luar biasa!" Ucap Theo.
"Sepertinya, aku akan mempertimbangkan permintaan Yahuwa dan Yaseya yang menginginkan satu Serigala metalik pribadi!" Tambah Theo, tampak benar-benar puas dengan kinerja divisi intelejen yang dipimpin oleh Yahuwa dan Yaseya.
"Hmmmm… Boss! Jika mereka dapat, maka aku juga harus dapat! Kontribusiku juga cukup besar, terlebih ketika kau sedang tak berada di tempat beberapa waktu lalu!" Ucap Thomas, sambil memasang wajah memelas.
"Hmmmm…! Bukankah kontribusimu berbanding lurus dengan jatah harian yang kau dapatkan! Dari seluruh wakil pemimpin, kau adalah orang dengan jumlah Mutiara Mana Perunggu harian paling banyak!" Ucap Theo.
"Pengaturanku sudah cukup adil!" Tutup Theo.
"Boss! Ayolah! Kali ini saja! Aku berjanji, jika kau memberiku satu Serigala metalik, kedepan, aku akan bekerja lebih giat lagi untuk kelompok!" Rengek Thomas. Tampak tak mau menyerah begitu saja.
"Hmmmm… Jadi, secara tak langsung kau mau bilang bahwa jika aku tak memberimu Serigala metalik, maka kau tak mau bekerja lebih keras untuk kelompok?"
"Entah kenapa ditelingaku, itu terdengar seperti sebuah ancaman!" Tutup Theo. Menatap Thomas sambil menaikkan salah satu ujung alisnya.
"Bahhh…! Boss! Berhenti memainkan kata! Kau selalu saja seperti itu! Membuat orang lain tersudut dengan kata-kata tajammu! Jelas-jelas aku tak pernah mengatakan apa yang kau tuduhkan tadi!" Ucap Thomas. Wajah bulatnya tampak kesal melihat kearah Theo.
Mendengar kata-kata Thomas, Theo hendak kembali menanggapi, sampai kemudian, beberapa orang memasuki kemah rapat.
__ADS_1
Orang-orang ini tak lain adalah Sanir dan Zota, bersama dengan beberapa anggota divisinya masing-masing.
"Boss! Anggota divisi pelacak melihat ada pergerakan dari arah perkemahan besar kelompok Bandit Langit Hitam!" Ucap Zota, memberi laporan.
"Divisi penyergap siap kapan saja melakukan pergerakan!" Ucap Sanir. Tampak memahami situasi lebih dahulu, sehingga telah siap dan menawarkan divisi yang ia pimpin untuk bergerak lebih dahulu.
"Hmmmm… Jenis pergerakan macam apa?" Tanya Theo.
"Bukan pergerakan besar! Namun terdiri dari beberapa kelompok! Dari pengamatanku, mereka adalah kelompok dari divisi pelacak Bandit Langit Hitam, kebetulan aku kenal betul dengan pemimpin divisi ini, karena ia adalah salah satu orang yang kurekrut pertama kali ketika merintis kelompok Bandit Langit Hitam!" Ucap Zota.
"Ohhh.. Kau kenal cukup baik dengan orang ini?" Tanya Theo. Entah kenapa merasa aneh dengan pergerakan tiba-tiba kelompok Bandit Langit Hitam.
Karena dalam beberapa hari terakhir, meskipun kelompok Bandit Serigala telah berada semakin dekat dengan perkemahan besar Bandit Langit Hitam, mereka sama sekali tak membuat pergerakan apapun. Tampak hanya menghimpun kekuatan, menunggu datangnya serangan untuk melancarkan perlawanan balik dengan kekuatan penuh.
Menurut pandangan Theo, Bandit Langit Hitam cukup percaya diri dengan kekuatan kelompoknya beserta kelompok-kelompok Bandit lain yang berada di bawah naungan mereka. Oleh sebab itu berniat untuk melakukan bentrok langsung dengan kelompok Bandit Serigala ketika sudah sampai di depan pintu rumah mereka. Tak berniat melakukan pergerakan sia-sia dengan melancarkan serangan terlebih dahulu.
Hal inilah yang menyebabkan Theo saat ini merasa ada yang ganjil ketika mendengar tiba-tiba ada pergerakan yang terjadi di kemah besar kelompok Bandit Langit Hitam. Terlebih itu adalah pergerakan kecil dari divisi pelacak.
"Yah, bisa dibilang, dari seluruh anggota Bandit Langit Hitam, aku adalah orang yang paling mengenal dan memahami karakternya!" Jawab Zota.
"Hmmmm… Pengelana misterius yang bergerak seorang diri di lingkungan keras penuh sarang Spirit Beast Gurun Kematian?" Tanya Theo, mulai mengerutkan keningnya. Tampak sedikit heran.
"Ahhh… Kalau yang ingin kau tanyakan adalah tentang bagaimana ia bisa bertahan hidup, itu karena kemampuan melacak Darsa sangatlah tinggi!"
"Dengan kemampuannya ini, tak sulit baginya untuk sekedar menghindari sarang Spirit Beast!"
"Sebagai gambaran tentang kemampuannya, selama aku menjabat Boss Besar Bandit Langit Hitam, tak pernah sekalipun Darsa melewatkan satu target jika sudah mendapat perintah melacak dariku!" Tutup Zota.
"Menarik! Kalau begitu, sebagai buron terbesar kelompok Bandit Langit Hitam, kenapa Darsa sebagai pemimpin divisi pelacak tak bisa menemukanmu?" Tanya Theo.
"Ahhh… Benar juga!" Gumam Zota.
Mendengar pertanyaan Theo, Zota yang kini baru sadar bahwa adiknya jelas akan mengirim Darsa secara pribadi untuk melacaknya, menjadi tak bisa menemukan penjelasan yang tepat untuk disampaikan pada Theo.
"Sanir, tarik pasukanmu! Tak perlu melakukan pergerakan untuk saat ini!" Ucap Theo tiba-tiba.
__ADS_1
"Zota, ikut bersamaku! Tunjukkan dimana kelompok kecil ini berada! Kita berdua akan menghadang mereka!" Tambah Theo. Kini melihat kearah Zota.
"Ahhh? Boss! Hanya berdua?" Tanya Zota.
"Iya, berdua saja cukup! Aku cuma ingin memastikan sesuatu!" Jawab Theo.
Dengan intruksi Theo, saat itu juga ia membawa Zota untuk pergi menghadang kelompok divisi pelacak Bandit Langit Hitam pimpinan Darsa.
Theo awalnya ingin menunggangi Raja Naga Hitam agar perjalanan bisa lebih cepat, namun karena Zota merengek tak mau naik Raja Naga Hitam lagi, ia akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menunggang Raja Serigala Hitam. Sementara Zota, menunggang salah satu Serigala metalik biasa.
***
"Ahhh…! Zota! Aku tak menyangka kau sungguh sudah menjadi begitu bodoh dengan muncul dihadapanku yang jelas sedang mencarimu!" Ucap Darsa, ketika melihat sosok Zota dihadapannya.
"Hmmmm…. Pikirkan masalah kebodohanku nanti saja! Disini ada satu orang yang ingin sedikit mengobrol denganmu!" Ucap Zota.
"Hahhahaha…! Dan kenapa juga aku harus bersedia untuk melakukan obrolan dengannya? Dengan kemampuan melacakku, aku sudah memindai area sekitar, dan jelas kalian hanya berdua saat ini!"
"Bukankah itu akan lebih baik jika aku memerintahkan pasukan yang kubawa untuk segera memenggal kepalamu? Boss Besar pasti akan sangat senang melihat kepalamu!"
"Sejujurnya, aku sudah bosan mendengar rengekannya yang ingin segera memajang kepalamu di depan pintu masuk perkemahan besar Bandit Langit Hitam!" Tutup Darsa.
*Woooshhhh….!!!
Namun, tepat ketika Darsa menyelesaikan kalimatnya, satu aura kuat tiba-tiba menyeruak dari arah belakang Zota. Menekan lingkungan sekitar dimana Darsa dan pasukan divisi pelacaknya saat ini berada.
"Hmmmm… Sebenarnya, meskipun cuma berdua, aku cukup yakin untuk bisa pergi dari sini kapan saja! Dalam prosesnya, mungkin aku juga bisa membawa kepalamu sebagai oleh-oleh untuk dibawa kembali ke perkemahan Bandit Serigala!"
Dari balik bayangan satu celah tebing, Theo yang masih menunggang Raja Serigala Hitam, perlahan berjalan keluar. Menatap tajam kearah Darsa, dengan seringai lebar menghiasi wajahnya, aura membunuh intens yang begitu dingin, kini juga menyebar luas dari dalam tubuhnya.
---
Note :
Hari minggu, satu chapter.
__ADS_1