
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Boss! Kelompok Rock Tribe memakan umpannya!" Ucap Thomas, memberi laporan kepada Theo yang saat ini sedang menyalin salah satu buku kuno perpustakaan kastil gelang ruang-waktu.
"Hmmmm… Dengan ikan sebesar itu, memang akan mengejutkan jika mereka tak tertarik!" Jawab Theo tanpa menoleh.
"Kuharap Sasi bisa menahan begitu banyak pengunjung di dalam Istana Emas untuk waktu yang relatif lama!" Tambah Theo.
"Boss! Makhluk yang kau sebut Goblin itu cukup licik! Jadi, kurasa waktu yang bisa ia beli akan lumayan banyak!" Tanggap Thomas.
"Bagaimana dengan kelompok Tribe besar lain? Moon and Sun Tribe?" Tanya Theo.
"Awalnya kelompok Rock Tribe berhasil menutup informasi tentang keberadaan Istana Emas dengan sangat rapat. Mereka bahkan membuat barikade penghadang puluhan Mil dari lokasi!"
"Namun, tentu saja berkat kelompok kita yang menyebarkan informasi pada pihak Sun and Moon Tribe, kelompok tersebut sekarang menyadari keberadaan Istana Emas!"
"Sama halnya dengan Rock Tribe, Sun and Moon Tribe saat ini telah mengkoordinasi hampir seluruh anggotanya untuk melakukan perjalanan menuju lokasi Istana Emas berada!"
"Saat waktunya telah tiba, bila Rock Tribe masih bersikeras tak ingin membagi Ikan yang mereka temukan, hanya tinggal masalah waktu sampai kedua kelompok Tribe besar ini terlibat konflik!" Tutup Thomas.
"Hahhaha…! Sifat dasar manusia! Diantara keserakahan dan nafsu percintaan, jatuh terlalu jauh pada dua hal tersebut, maka akan mudah bagi siapapun untuk berada dalam manipulasi orang lain!" Kata Theo. Kini mulai menaruh pena dan menutup buku salinannya.
"Hmmm… Kata-kata yang mendalam! Akan kuingat itu!" Tanggap Thomas.
"Dengan sifat kikirmu itu? Aku meragukannya!" Balas Theo.
"Hahhaha…! Boss, aku tak seburuk itu!" Jawab Thomas.
__ADS_1
"Omong kosong! Jika kau berada di posisi yang sama dengan kelompok Tribe itu, pasti hasilnya akan sama saja!" Sahut Theo.
"Itu…. Hahahahha….!" Mendengar jawaban Theo, Thomas yang merasa apa yang dikatakan Boss Besarnya ini sungguh tepat, tak bisa memberi tanggapan balik. Berakhir tertawa lepas.
***
(Markas Bandit Langit Hitam)
"Boss! Masih belum ada kabar dari Zota beserta anggota kelompok lain yang memilih tetap setia ikut bersamanya!" Ucap salah seorang anggota Bandit Langit Hitam berpenampilan serba hitam dengan kain penutup yang menutupi seluruh wajahnya.
"Hmmmm… Darsa, apa kau sudah mencari dengan benar? Dengan kemampuan melacakmu, aku meragukan kau sama sekali tak bisa menemukan jejak kakakku itu!" Sahut Boss Besar Bandit Langit Hitam.
"Boss! Dari nada bicaramu, kau seolah menuduhku sengaja menyembunyikan jejak Zota!" Jawab anggota Bandit Langit Hitam yang tadi dipanggil dengan sebutan Darsa.
Akibat kain hitam yang menutupi seluruh wajahnya, tak ada orang di dalam kemah rapat kelompok Bandit Langit Hitam yang bisa melihat ekspresi wajah Darsa.
Hal ini tentu saja menyebabkan Boss Besar Bandit Langit Hitam, sedikit melirik kearahnya dengan tatapan curiga.
"Darsa, bagaimanapun juga, kau adalah salah satu wakil pemimpin yang telah lama mengikuti kakakku! Dari fakta tersebut, wajar bila aku sedikit memiliki prasangka buruk padamu!" Ucap Boss Besar Bandit Langit Hitam.
"Hmmmm… Dan kau sendiri adalah orang pertama yang menjadi anggota kelompok Bandit Langit Hitam! Bersama dengan kakakmu, kau merintis kelompok ini! Dari fakta tersebut, selain kakakmu, jelas kau yang paling tahu bagaimana karakterku!" Ucap Darsa.
"Sesederhana itu!" Tutup Darsa.
Mendengar jawaban Darsa, Boss Besar Bandit Langit Hitam segera menarik kembali tatapan mata curiganya. Seperti kata Darsa, ia sangat memahami karakter anggotanya tersebut. Sehingga bisa menilai bahwa semua yang Darsa katakan sebelumnnya adalah benar.
Lagipula, selain Darsa adalah salah satu anggota Bandit Langit Hitam paling senior, ia juga merupakan wakil pemimpin yang memiliki peran cukup besar dalam kelompok. Kemampuan melacaknya yang sangat akurat, membuat Darsa dan divisi pelacaknya begitu di segani dalam kalangan Bandit Langit Hitam.
Fakta-fakta tersebutlah yang menyebabkan Boss Besar Bandit Langit Hitam tampak tak mau terlalu menyinggungnya. Itu hanya akan semakin menambah konflik internal yang saat ini masih sedikit bergejolak di dalam tubuh kelompok Bandit Langit Hitam akibat perebutan posisi Boss Besar beberapa waktu lalu.
"Hmmmm… Aku hanya tak akan pernah bisa memimpin dengan tenang sebelum menyingkirkan Zota untuk selamanya!" Ucap Boss Besar Bandit Langit Hitam.
"Perintahkan divisimu untuk terus melakukan pencarian! Bagaimanapun juga, aku ingin secepatnya melihat kepala Zota menjadi penghias pintu masuk perkemahan Bandit Langit Hitam!" Tutup sang Boss Besar.
"Kulakukan sesuai intruksimu!" Jawab Darsa. Kemudian tampak akan mengambil langkah meninggalkan kemah rapat.
Namun, langkah Darsa terhenti ketika dari arah luar, salah satu anggota Bandit Langit Hitam yang tampaknya adalah petugas patroli, tiba-tiba berjalan dengan langkah kaki tergesa memasuki kemah rapat.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah panik anggota yang baru masuk ini, Darsa yang memasang ekspresi wajah tertarik secara rahasia di dalam kain penutup wajah hitamnya, menghentikkan langkah yang ia ambil. Ingin ikut mendengar kabar genting apa yang akan disampaikan sang petugas patroli.
"Boss! Berita darurat!" Ucap petugas patroli.
"Berita darurat apa yang menyebabkan kau begitu panik?" Tanya Boss Besar Bandit Langit Hitam.
"Apakah Zota dan kelompok pengkhianat lain akhirnya sudah mulai putus asa dan memutuskan untuk melakukan serangan bunuh diri pada kelompok kita?" Lanjut sang Boss Besar. Dengan ekspresi wajah antusias.
"Ahhh… Itu memang Zota!" Jawab petugas patroli.
Satu jawaban yang segera membuat seluruh wakil pemimpin Bandit Langit Hitam yang saat ini sedang berada di kemah rapat, mulai mengerutkan kening masing-masing.
Meskipun mereka yang berada di lokasi adalah orang-orang setia faksi Boss Besar yang sekarang memimpin, dimana merekalah juga yang membantu adik Zota melakukakan kudeta dan mengambil alih posisi Boss Besar, namun setiap orang ini sangat paham karakter Zota.
Ia yang telah berpengalaman memimpin kelompok Bandit Langit Hitam sebagai Boss Besar selama puluhan tahun, tentu saja tak akan sebodoh itu.
"Jadi memang dia! Inilah saatnya! Hahahha…!" Ucap Boss Besar Bandit Langit Hitam, segera berdiri dari kursinya.
Di pengaruhi oleh rasa antusias dan ketakutan tersembunyi pada sosok kakaknya. Ia tampak tak memiliki pikiran jernih seperti halnya para wakil pemimpin.
"Boss! Itu memang Zota! Tapi ia tak bergerak dengan kelompok mantan anggota Bandit Langit Hitam yang masih setia dengannya!" Tambah petugas patroli.
Kata-kata anggotanya tersebut, membuat Boss Besar Bandit Langit Hitam mulai sedikit berfikir jernih.
"Jelaskan dengan benar!" Ucap Boss Besar Bandit Langit Hitam.
"Zota saat ini bergerak bersama kelompok Bandit lain! Dari lambang yang mereka kibarkan, itu tampak seperti deskripsi dari lambang satu kelompok Bandit yang akhir-akhir ini pergerakannya cukup meresahkan!"
"Kelompok Bandit Serigala?" Tanya Darsa tiba-tiba. Dengan intonasi nada tertarik setelah dari tadi hanya diam mengamati.
"Itu benar! Terlebih, sepertinya mereka tak setengah-setengah dalam rencana penyerangan kali ini! Jumlah anggota yang mereka bawa, adalah ribuan orang!" Tutup petugas patroli. Tak bisa menyembunyikan ekspresi wajah paniknya.
Mendengar kata-kata petugas patroli, suasana kemah rapat segera menjadi hening. Setiap orang jatuh kedalam pemikiriannya masing-masing.
"Hmmm… Kenapa begitu panik!" Ucap Boss Besar Bandit Langit Hitam tiba-tiba. Memecah keheningan.
"Mereka hanyalah Bandit kemarin sore! Bisa apa kelompok Bandit ini di wilayah Gurun Kematian!"
__ADS_1
"Cepat panggil semua kelompok Bandit yang berada di dalam naungan kita! Jika mereka menginginkan pertempuran! Maka kita hanya harus menyambutnya!"
"Mari buat para Bandit ingusan yang berjalan keluar terlalu jauh dari rumahnya yang nyaman itu, bertemu dengan ganasnya habitat Gurun Kematian!" Tutup Boss Besar Bandit Langit Hitam. Dengan ekspresi wajah menyeramkan.