
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Pertempuran sengit antara Bethany melawan Theo akhirnya di mulai. Menggunakan aura pelindung yang diciptakan oleh Joy kecil, dimana sekarang masih duduk manis di pundaknya, Theo yang telah mengganti senjata pedang kembar Asmodeus dengan enam pisau lempar Mammon, tak hentinya melakukakan serangan-serangan jarak jauh tanpa memikirkan pertahanan.
Sementara Bethany yang berdiri diatas cangkang hijau Spirit Beast kontraknya, terus melakukan serangan balasan dengan melemparkan senjata rahasia beracun miliknya sembari menghujami Theo dengan lendir-lendir beracun yang di tembakkan dari mulut Siputnya.
"Hmmmm… Kau cukup kuat juga! Padahal hanya seorang General!" Gumam Bethany, saat merasa usaha serangan yang dari tadi ia lancarkan, tak mampu menembus aura aneh yang melindungi lawannya.
"Hahhaha…!!! Benarkah begitu? Aku hanya sekedar cukup kuat dimatamu?" Tanya Theo.
"Berhenti bersikap seolah kau adalah jenius muda yang sangat kuat! Kau hanya cukup beruntung memiliki Spirit Beast kontrak berbentuk kura-kura aneh itu! Jika tak ada aura pelindung darinya, kau sudah akan mati dari tadi!" Gumam Bethany.
"Ohhh… Begitu! Jadi sekarang menurutmu aku hanya cukup beruntung?" Tanya Theo lagi.
"Kurang lebih seperti itu! Lagipula ini hanya masalah waktu, memang sampai kapan seorang General sepertimu bisa terus mempertahankan Spirit Beast kontrak melawan seorang King!"
"Aku hanya perlu mengulur waktu dan bermain denganmu sampai simpanan Manamu habis! Setelah itu terjadi, kita lihat apa kau masih bisa memasang seringai lebar di wajahmu itu!" Ucap Bethany, dengan senyum menyeramkan mulai menghiasi wajahnya.
"Hahhahah….! Menunggu simpanan Manaku habis? Kau adalah gambaran nyata dari apa itu yang disebut katak dalam tempurung!" Seru Theo dengan nada riang.
Ia benar-benar merasa konyol dengan pernyataan Bethany yang ingin mengadu simpanan Mana dengannya. Jika saja Bethany bisa melihat kedalam Element Seed Theo, dan menyadari seberapa banyak simpanan Mananya, wanita ini tak akan pernah terfikir untuk melakukan adu ketahan jumlah simpanan Mana dengannya.
"Itu benar! Ini hanya masalah waktu saja!" Tambah Theo. Sambil melihat sekeliling, setelah mengatakan itu, seringai di wajahnya justru semakin melebar.
Disekitar lokasi pertempuran antara Bethany dan Theo, Gerel dan Hella yang diintruksikan Theo untuk melakukan pembantaian sebanyak yang mereka bisa, saat ini telah berhasil memporak-porandakan barisan musuh. Tanpa henti terus membunuh lawan-lawannya, menyebabkan jumlah pasukan aliansi di sisi timur semakin lama semakin berkurang.
Menyadari apa yang di maksud Theo, Bethany masih mempertahankan senyumnya. "Kau pikir hanya karena bisa melemahkan sisi timur, itu akan cukup membuat kekuatan pasukan aliansi menjadi goyah? Sungguh konyol! Pasukan di sisi ini hanyalah kumpulan bidak tak penting!"
__ADS_1
"Mereka hanyalah House-house tingkat menengah yang memang telah tiga House besar siapkan untuk menjadi martir penghancur tak penting! Ditakdirkan untuk musnah dalam rencana penyerangan ini! Jikapun mereka bisa bertahan, pada akhirnya kami akan memusnahkan mereka! Hahhaha…!" Ucap Bethany. Menutup kalimatnya dengan tawa lantang membahana yang mengerikan.
"Kau pikir aku peduli?" Tanya Theo.
"Bukankah aku cuma bilang ini hanya masalah waktu!" Ucap Theo, sambil kembali melihat sekitar.
Bersamaan dengan lirikan menyapu sekitar yang dilakukan Theo untuk kedua kalinya, sekelompok pasukan berpakaian baju perang dengan simbol House Braveheart. Mulai bergerak maju memasuki lokasi pertempuran.
Melihat hal itu, ekspresi dan senyum di wajah Bethany seketika menghilang.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka disini?" Ucap Bethany, merasa heran dengan langkah yang di lakukan kelompok House Braveheart. Mereka yang seharusnya dalam posisi bertahan total, saat ini justru mulai maju meninggalkan kastil.
Rasa heran Bethany belum terjawab sampai kemudian ia merasakan 5 aura kuat tiba-tiba hadir di sekitar. Terbang cepat dan mendarat pada puncak-puncak menara Kastil House Braveheart.
"Tidak mungkin! Kenapa mereka ada disini? Bukankah para leluhur menahan orang-orang ini?" Gumam Bethany, ekspresi ngeri kini mulai menghiasi wajahnya.
"Akhirnya datang juga! Baiklah! Main-mainnya selesai!" Ucap Theo. Tanpa menunda segera melempar enam pisau Mammon kearah langit.
Merasa Theo melakukan pergerakan, Bethany yang sebenarnya sudah memikirkan langkah mundur, berniat kabur dari lokasi pertempuran begitu melihat kehadiran lima orang yang tak lain adalah Leluhur suci House Braveheart, kini ganti menatap keatas langit dimana Enam pisau lempar Mammon mulai bergetar hebat diselimuti aliran Mana intens pada masing-masing dari keenamnya.
Melihat hal itu, Bethany baru sadar, bahwa Theo dari tadi hanya bermain-main dengannya. Menunggu saat yang tepat untuk mengeksekusi teknik terkuatnya.
Bethany masih menatap dengan tatapan ngeri saat menyadari intensitas dari perputaran Mana di setiap pisau semakin menggelora. Sampai kemudian….
"Teknik pertama dosa Keserakahan!"
"Sikap menginginkan segala bentuk tubuh!" Gumam Theo.
*Booommmm….!!!
*Boooommmm….!!!
*Boooommmm….!!!
*Boooommmm….!!!
*Boooommmm….!!!
__ADS_1
*Boooommmm….!!!
Menjadikan Bethany sebagai pusatnya, ledakanan dahsyat gabungan dari enam atribut Mana menggema keras.
Dengan kehadiran para leluhur suci, Theo tanpa ragu menggunakan teknik pamungkas miliknya. Meskipun pada akhirnya ia akan kehilangan seluruh simpanan Mana, namun dengan adanya pada Monster tua ini yang seluruhnya adalah seorang Emperor. Tak akan ada yang bisa melukai Theo meskipun telah kehabisan simpanan Mana.
Kepulan debu masih membumbung tinggi begitu ledakan dahsyat selesai. Dengan gerakan tangan ringan, Theo menarik kembali keenam pisau lempar Mammon kedalam tatto segel. Kemudian mulai berjalan perlahan kearah pusat bekas ledakan.
Saat ini, ketika kepulan debu mulai menghilang, ditengah pusat ledakanan yang membentuk sebuah kawah besar, Theo bisa melihat Siput Cangkang Hijau Berlendir telah mati dengan tubuh tak berbentuk. Potongan tubuhnya berceceran di segala tempat. Hanya menyisakan satu gumpalan daging besar yang kini sedikit berdenyut di tengah kawah raksasa.
Theo masih berjalan perlahan menuju gumpalan daging, sampai kemudian daging mulai terbelah dan mengeluarkan sesosok tubuh dari dalamnya. Sosok tubuh ini tak lain adalah Bethany yang kini sedang terluka sangat parah. Pada saat terakhir sebelum ledakan dahsyat terjadi, tampaknya dia melakukan satu teknik yang mengorbankan Spirit Beastnya agar ia bisa selamat dari ledakan tersebut.
"Gouuhhhggg….!!!" Bethany jatuh ketanah sambil memuntahkan banyak darah segar.
"Syukurlah kau masih bertahan hidup! Itu akan sangat di sayangkan bila kau mati terlalu cepat seperti halnya adikmu Lagor!" Ucap Theo. Saat telah sampai di hadapan Bethany.
"Kau akan menerima balasan dari semua ini! Ayahku dan seluruh House Estrabat tak akan melepaskanmu! Seluruh House Alknight akan binasa!" Gumam Bethany, dengan tatapan penuh kebencian.
"Ohhh… Sungguh menyeramkan!" Jawab Theo.
"Tapi, satu hal yang harus kau tau! Bukan hanya kalian yang bisa melakukan serangan mendadak pada House yang tengah melemah!"
"Hmmm… Apa maksudmu?" Tanya Bethany.
"Bagaimana ya, karena sebentar lagi kau akan mati, ada satu kabar baik untukmu!" Ucap Theo.
"Ketika kau mati! Seluruh anggota Housemu mungkin sudah akan menunggumu di alam baka!" Kata Theo, seringai lebar kini menghiasi wajahnya.
"Kau… Apa yang…" Bethany hendak akan kembali bertanya. Sampai kemudian kata-katanya tercekat.
"Itu benar! Kau cukup pintar! Yang ada dipikiranmu adalah benar! Kalian terlalu sombong sampai menaruh hampir semua kekuatan tempur pada penyerangan kali ini!" Ucap Theo.
"Pergi terlalu jauh dari rumah, membiarkan rumah kalian kosong!"
"Tidak mungkin!" Jawab Bethany, dengan ekspresi wajah kacau.
Tatapan matanya seketika kosong. Merasa kematiannya tak akan terbalaskan. Terlebih merasa sangat menyesal karena rencana penyerangan yang ia tawarkan justru berakhir menjadi malapetaka besar bagi Housenya.
__ADS_1
"Hehehe… Inilah ekspresi wajah putus asa yang kutunggu-tunggu! Kau boleh mati sekarang!" Ucap Theo. Seraya menaruh tangannya diatas kepala Bethany. Mencengkram erat kepala Bethany yang sudah kehilangan semangat hidup. Berakhir memecahkan kepala wanita tersebut.
Bethany Estrabat. Mati tanpa kepala utuh dalam usaha memenuhi ambisinya untuk menjadikan House Estrabat kepuncak tertinggi Gaia Land. Satu dari 10 Biggest Knight Group.