Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Mulai Menyusun Bidak


__ADS_3

Catatan penulis :


Selamat malam, dalam catatan kali ini, penulis cuma mau sedikit mengingatkan, bahwa besok malam, bersamaan dengan rilis chapter terbaru, akan saya umumkan pemenang dari event Spin Off.


Pemenangnya adalah 3 besar vote tertinggi (Yang telah memfollow back saya, untuk keperluan komunikasi) dan juga 3 pembaca beruntung yang saya pilih dari kolom komentar.


Mengenai batas waktunya, untuk 3 besar vote tertinggi akan saya sabtu sore, pukul 15.00.


Spin off yang tersedia ada tiga :


Gregoric Alknight : Sang Perkasa.


Arthur Wild : Putra Kegelapan.


Issabela Alknight : Bertambah kuat.


Sekian catatan kali ini, selamat membaca chapter terbaru ^^


-------


(Kediaman Theo, 2 hari kemudian)


"Bagaimana perkembangan latihanmu selama ini?" Tanya Theo kepada Jasia.


Saat ini, Theo dan Jasia terlihat sedang duduk berhadapan di meja batu, yang terletak di halaman milik Theo.


"Berkat semua sumber daya yang anda berikan sebelumnya, saat ini, aku sudah mencapai Immortal bumi tahap awal tuan muda." Kata Jasia.


"Dan sesuai intruksi dari anda, aku juga sudah mulai menguasai teknik rahasia dari Angsa Nafas Api yang telah kuserap."


"Itu sungguh teknik yang luar biasa, kalau boleh tahu, bagaimana anda bisa memahami teknik rahasia ini?" Tanya Jasia.


"Anggap saja aku pernah membaca tentang teknik itu dari beberapa buku kuno." Jawab Theo.


Mendengar Theo tak mau menjawab apa adanya, Jasia memutuskan untuk tak mendesak lebih lanjut, dia hanya memberi anggukan singkat.


"Yang jelas, terus kembangkan kemampuan khusus tersebut, Angsa Nafas Api yang telah kau serap, adalah Spirit Beast yang penuh potensi." Theo kembali mulai menjelaskan.


"Meskipun bukan dari golongan Ancient Beast, hanya memiliki garis keturunan kelas Spesial, namun Spirit Beast ini merupakan makhluk yang sangat unik."


"Dari beberapa catatan kuno yang pernah kubaca, bahkan dikatakan Angsa Nafas Api, masih memiliki hubungan darah dengan Golden Crow yang legendaris. Salah satu eksistensi puncak dari golongan Ancient Beast. Meskipun memang, hubungan garis darah ini sangat tipis." Tutup Theo.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Jasia tak bisa menutupi ekspresi terkejutnya. "Tuan muda, apa kau serius? Golden Crow yang legendaris?" Tanya Jasia.


"Hmmm… apa aku pernah berbohong padamu sebelumnya?" Tanya Theo balik.


"Bu… bukan begitu, aku hanya sedikit terkejut." Jawab Jasia gugup.


Melihat Jasia mulai salah tingkah, Theo segera mengalihkan topik pembicaraan.


"Ngomong-ngomong Jasia, kedepan, aku mempunyai sebuah rencana yang bisa di katakan sangat besar."


"Dan rencana ini akan menentukan masa depan House kita. Jadi, ketika waktunya tiba, kuharap, aku bisa meminta bantuanmu!" Kata Theo. Dengan ekspresi serius.


Mendengar hal itu, dan menyadari ekspresi serius Theo. Jasia segera memberi jawaban cepat tanpa berfikir. "Tuan muda, apapun itu, aku akan selalu mendukungmu!" Kata Jasia dengan mantap, tanpa keraguan sedikitpun.


"Jangan terlalu cepat memutuskan, ketika saatnya tiba, aku akan menyampaikan rencana ini, dan bila kau merasa rencana ini memberatkanmu, kau punya hak untuk menolak." Kata Theo, sesaat setelah Jasia memberi jawaban.


"Sudah kubilang dari awal, disini kau adalah tamu, bukan pelayanku, kau bisa memutuskan langkah apapun yang ingin kau ambil." Theo menutup kalimatnya. Kemudian mulai menyeduh teh yang ada diatas meja batu.


"Tuan muda, sudah kubilang, aku akan selamanya mengikutimu!"


"Setelah semua yang kau lakukan padaku, setelah semua yang telah kau berikan padaku, aku sudah memutuskan, tujuan hidupku adalah cuma satu, aku ingin mengabdi kepadamu!" Kata Jasia, dengan ekspresi sangat serius.


"Uhukkk…"


"Apa yang kau katakan, mengabdi padaku? Kenapa kau seolah memposisikan dirimu adalah seorang budak?"


"Aku tak suka mendengar hal itu, jangan pernah mengatakan sesuatu seperti itu lagi!" Dengus Theo.


"Tapi tuan muda…"


"Sudah diam, jangan membantah!" Kata Theo, sedikit membentak.


"Baik, saya mengerti!" Jawab Jasia singkat, dengan sikap menunduk sopan.


Theo yang melihat sikap Jasia, bukannya senang malah merasa ada yang salah.


"Kau.. sudah kubilang jangan posisikan dirimu sebagai seorang budak, kenapa malah sikapmu seakan kau adalah seorang budak!" Bentak Theo. Mulai kesal.


"Tuan muda… " Jasia sendiri kini malah merasa bingung, dia tak tahu harus bersikap seperti apa. Padahal dia merasa sudah menuruti semua yang Theo katakan dengan tak membantah.


Melihat Jasia terlihat bingung. Theo segera menjelaskan. "Begini, kau bukan seorang budak, jadi bersikaplah layaknya orang normal." Kata Theo.

__ADS_1


"Baik tuan muda! Saya akan melaksanakan sesuai intruksi tuan muda." Jawab Jasia reflek, masih dengan sikap penuh kesopanannya.


"Kau… Arrggggghhh…. Lupakan ! Terserah kau saja!" Theo yang melihat Jasia tetap saja bersikap seperti layaknya seorang pelayan, hanya bisa berdecak kesal. Tak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa.


Dia kemudian mulai mengambil cangkir tehnya, meminumnya dengan cepat dalam sekali tegukan.


"Baik, kalau kau memang ingin membantuku, kau harus meningkatkan kekuatanmu lagi dalam beberapa bulan kedepan. Karena kau yang sekarang, masihlah terlalu lemah untuk masuk kedalam rencana ini." Kata Theo, sejurus kemudian menaruh cangkir tehnya diatas meja batu.


"Kau harus mampu mencapai kelas General dalam beberapa bulan, kalau itu terlalu sulit, paling tidak kau harus mencapai kelas Immortal tahap surga. Dengan begitu, baru aku bisa mengijinkanmu masuk dalam rencana." Lanjut Theo.


"General dalam beberapa bulan?" Tanya Jasia dengan ekspresi terkejut, setelah mendengar penjelasan Theo.


Jasia yang merupakan mantan murid Akademi surga kekaisaran, sangat memahami kesulitan menaikkan kelas seorang Knight. Sudah sangat bagus ada generasi muda seusianya yang mampu naik beberapa tingkat dari Immortal tahap awal ke Immortal tahap bumi hanya dalam beberapa bulan. Itupun berkat semua sumberdaya berharga yang sebelumnya diberikan Theo kepadanya.


Namun untuk naik kelas dari Immortal ke General dalam beberapa bulan? Itu bisa di bilang adalah hal yang mustahil. Karena berusaha naik ke kelas selanjutnya, akan sangat berbeda kesusahannya dari pada harus naik tingkat dalam satu kelas yang sama. Belum lagi, kesusahan tiap naik dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya di kelas yang sama, akan bertambah beberapa kali lipat tiap tingkatnya.


Sebagai contoh, ketika Knight kelas Immortal tingkat satu naik ke Immortal tingkat dua mungkin kesusahannya tidak akan terlalu berat, namun ketika dari tingkat dua naik ke tingkat tiga, atau Immortal tahap awal, naik ke Immortal tahap bumi, maka kesusahannya akan bertambah berkali lipat. Begitu seterusnya, kesusahan akan terus bertambah tiap naik tingkatan, dari Immortal bumi ke immortal langit, dari Immortal langit ke Immortal Surga.


Jadi bila naik tingkat sudah merupakan jalan yang sangat terjal, bisa di bayangkan bagaimana kesusahan seorang Knight harus naik dari satu kelas ke kelas lainnya. Normalnya untuk naik kelas, mereka akan membutuhkan usaha selama bertahun-tahun, bahkan banyak kasus, seorang Knight terjebak puluhan tahun di kelas yang sama, tak mampu untuk menerobos.


Dan saat ini, Theo mengatakan Jasia harus mampu menerobos dari kelas Immortal Bumi, ke kelas General tahap awal dalam beberapa bulan. Hal inilah yang membuat Jasia sangat tercengang.


"Hmmm… kenapa terkejut begitu? Kau bisa lihat, aku yang beberapa hari lalu masih Pioner tahap akhir, sekarang sudah mencapai Immortal bumi."


"Jadi bila aku mampu melakukannya, kenapa kau tidak?" Tanya Theo, ketika melihat ekspresi terkejut Jasia.


"Tuan muda, jangan samakan aku denganmu! Kau berbeda…"


Jasia ingin menyanggah kalimat motivasi Theo, namun Theo dengan cepat memotongnya.


"Dengarkan aku, bila kubilang kau mampu, maka kau akan mampu. Yang jelas aku tak akan berpangku tangan, aku akan membantumu mencapainya." Kata Theo. Sejurus kemudian dia mengayunkan tangan, sebuah gulungan muncul dihadapannya.


"Namun, meskipun aku membantumu, semua akan kembali kepadamu, kau harus bekerja keras dengan usahamu sendiri untuk mencapainya." Theo menutup penjelasannya dan melempar gulungan kertas kearah Jasia.


"Tuan muda, ini?" Jasia yang masih belum mengerti, segera kembali bertanya.


"Itu adalah peta dari Jurang Misterius, aku telah menandai beberapa tempat yang bisa kau gunakan untuk berlatih."


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, semua akan kembali kepadamu, apakah kau mampu atau tidak, karena meskipun telah kutandai, tetap saja, Jurang Misterius adalah tempat yang sangat berbahaya."


"Sekarang aku bertanya padamu, apa kau berani mengambil resiko untuk masuk dan berlatih di sana?" Tanya Theo.

__ADS_1


__ADS_2