
Kepulan debu bertebaran dimana-mana, hembusan angin dari jatuhnya Ular Petir Ungu menerbangkan Anggota house Ironhead dan juga Theo bersama Aria agak jauh.
Setelah kepulan debu mereda, pandangan Theo dan dua orang lainnya di lokasi tersebut akhirnya menjadi jelas. Dihadapan mereka saat ini, Ular Petir Ungu terlihat sedang menatap kearah mereka. Tatapannya sangat mengerikan, ular ini juga terus menerus menjulurkan lidahnya. Mengeluarkan suara mendesis yang dibarengin dengan aliran listrik ungu. Semakin membuatnya tampak seperti ular yang sangat keji.
Ular ini juga terus menerus mengeluarkan aura yang sangat kuat, membuat Theo yang sedang terluka parah memuntahkan darah segar beberapa kali.
"Ini gawat..!!!!" Master Estro yang melihat situasi Aria sedang dalam bahaya, segera menjadi khawatir.
Dia beberapa kali mencoba untuk mendekat ke arah nona mudanya, berharap bisa menyelamatkannya. Namun, berapa kalipun dia mencoba, tetua dari house Ironhead terus menghadangnya. Hal ini membuatnya sangat frustasi.
"Kuperingatkan kau, bila sesuatu terjadi dengan nona muda, bisa kupastikan house Ironheadmu akan rata dengan tanah!" Teriak Master Estro, terlihat sangat marah.
"Hahahha kau pikir aku peduli? Asal kau dan wanita muda itu mati disini, siapapun dia dan setinggi apapun identitasnya, tak akan menjadi masalah."
"Aku hanya cukup membunuhmu disini, dan membiarkan ular itu menghabisi mereka semua. Haahhahhaha…!" Tetua house Ironhead tertawa lantang.
"Kauuu…!!!!" Master Estro semakin marah. Dengan segenap tenaga dia kemudian maju menerjang kearah tetua House Ironhead.
Berharap bisa membunuhnya dengan cepat dan segera pergi menyelamatkan nona muda nya. Namun harapan hanyalah harapan, kekuatan nya dan tetua house Ironhead yang tengah dia hadapi adalah berimbang. Akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan pertarungan dan menentukan siapa pemenangnya.
Sementara di posisi lain, Theo saat ini sedang berfikir keras untuk menemukan solusi dari situasi buruk yang sedang ia hadapi. Dia terus melihat sekeliling, berharap ada suatu cara atau peluang untuk keluar dari situasi ini.
Sementara Aria dan anggota house Ironhead yang sebelumnya berusaha menyerang dirinya dan Theo kini hanya terpaku, melihat Ular Petir Ungu dengan tatapan ngeri.
"Masih ada peluang, berfikirlah dengan tenang, jernihkan pikiranmu." Tiba-tiba suara Tiankong terdengar di dalam kepala Theo.
Suara Masternya yang mengatakan masih ada peluang, entah kenapa membuat pikiran Theo menjadi sedikit lebih tenang, dengan cepat dia mulai berfikir sambil terus mengamati lingkungan di sekitarnya. Sampai akhirnya dia mendapatkan suatu ide.
"Aria, heeiii Aria.. sadarlah..!!!" Theo berusaha menyadarkan Aria yang masih terpaku menatap Ular Petir Ungu. Namun, berapa kalipun Theo berteriak, tak ada respon dari Aria.
"Hahhh.. Snow!!" Theo segera mengeksekusi Teknik Snownya. Butiran salju segera keluar diatas kepala Aria. Teknik ini bekerja dengan cepat, mulai menyadarkan Aria dan menenangkannya.
"Ahhhh…" Aria yang tersadar, menatap kearah Theo.
__ADS_1
"Tak ada waktu, dengarkan aku baik-baik. Serang sekuat tenaga orang itu dengan serangan jarak jauh terkuatmu!" Kata Theo.
Mendengar kata-kata Theo, Aria yang masih sedikit bingung, tak bisa memikirkan hal lain. Dia segera menuruti intruksi Theo.
"Ice Ball..!!!" Aria segera mengeksekusi tekniknya.
Bola Es raksasa keluar dari kedua telapak tangannya. Meluncur dengan cepat kearah anggota House Ironhead yang masih terpaku melihat Ular Petir Ungu.
Booooommmmm….!!!! Ledakan keras terjadi, melempar Knight tersebut dengan kencang.
Melihat adanya pergerakan, Ular Petir Ungu segera menerjang kearah anggota house Ironhead yang sedang terlempar.
Tssaaaahhhhhhh…. Bbbzzzzttt…. Bzzzzzttt…
Suara desisan disertai deru listrik menggema bersamaan dengan gerakan Ular Petir Ungu.
"Sekarang, cepat kita pergi kearah utara!" Teriak Theo ketika melihat Ular Petir Ungu mulai bergerak kearah anggota house Ironhead.
Dengan cepat, Aria menuruti instruksi Theo, dia memapah Theo kearah utara. Theo yang di papah Aria kini juga mulai memakan obat-obatan yang selama ini dia buat dan siapkan untuk kondisi mendesak seperti sekarang, berusaha secepatnya memulihkan luka yang dia derita.
Aria menuruti semua intruksi Theo tanpa bertanya sedikitpun. Dengan sigap dia memapah Theo melompati area yang dimaksudnya tadi.
Lompatan keduanya sangat tinggi menyebabkan mereka berdua mendarat dengan terjatuh bergulung-gulung.
"Uhuukkkk…." Theo kembali terbatuk.
Namun kemudian dia dengan cepat mengambil posisi duduk bersila, kembali memakan obat-obatan, setelah merasa agak sedikit membaik, dia mulai menyerap mutiara mana untuk mengisi mana nya.
"Apa yang kau lakukan? Ayo cepat kita pergi dari sini!" Aria berteriak panik.
Dia bisa melihat Ular Petir Ungu telah menghabisi anggota house Ironhead, dan kini tengah bergerak dengan cepat kearah mereka berdua.
"Tenangkan dirimu." Kata Theo, dia kemudian justru melempar mutiara mana kearah Aria.
__ADS_1
"Dengan cepat pulihkan mana mu sebanyak yang kau bisa." Kata Theo lagi.
Aria yang panik hanya bisa menuruti perintah aneh Theo. Namun baru sebentar Aria menyerap mutiara mana, dia bisa melihat Ular Petir Ungu semakin mendekat.
Booooooommmmm……!!!
Namun, begitu Ular ini mendekat beberapa meter di posisi Theo, sebuah ledakan besar terjadi, membentuk lubang besar yang di dalamnya penuh lumpur pekat, menahan gerakan Ular Petir Ungu yang jatuh di dalamnya.
Beberapa waktu yang lalu, sebelum keluar dan memukul pohon Kuno, Theo telah membuat berbagai formasi perangkap di wilayah sekitar Pohon Kuno. Rencananya diawal adalah memanfaatkan kepanikan kelompok House Ironhead dengan munculnya Ular Petir Ungu agar mereka jatuh kedalam formasi perangkapnya.
Dengan keberadaan Ular Petir Ungu, dan Formasi perangkap yang dia buat, Theo berharap bisa mengacaukan situasi dan membuat kelompok dan makhluk ini bertarung satu sama lain dalam kekacauan.
Theo berencana melihat situasi dan mengambil kesempatan dalam kekacuaan tersebut, namun ternyata rencana Theo tak berjalan lancar. Dia tak menduga ada Knight dengan kemampuan melacak di dalam kelompok House Ironhead.
Kali ini, mmeanfaatkan salah satu Formasi jebakan yang dia buat, dia ingin membeli waktu dan menahan Ular Petir Ungu agar bisa melarikan diri.
"Gunakan semua mana Es yang kau punya, bekukan lumpur di dalam formasi jebakan!" Teriak Theo kepada Aria.
Tanpa menunda, Aria yang mulai menangkap rencana Theo, segera mengeluarkan seluruh simpanan mana es nya, membekukan lubang lumpur. Theo sendiri melakukan hal yang sama.
Lubang es segera membeku dengan cepat, membekukan Ular Petir Ungu yang ada di dalamnya. Ular Petir Ungu sendiri tak diam begitu saja melihat tubuhnya di bekukan. Dia merayap lambat di tengah lumpur dan es, mencoba keluar dari dalam lubang. Ular ini hampir berhasil keluar dari dalam lubang, kepalanya sudah berada dipermukaan ketika seluruh tubuhnya membeku.
"Tttssaaaahhhhhhhh…….!!!"
Ular Petir Ungu mendesis marah ketika merasa tertahan dan tak dapat bergerak.
"Hahhhh… hahhhh… hahhh…. "
Theo bernafas berat, sedikit lega ketika rencananya berjalan dengan lancar. Namun..
Bzzztttt…. Bzzzttt… Bzzztttt…
"Tsssaaaahhhhh…."
__ADS_1
Ular Petir Ungu kembali mendesis, namun kali ini dibarengi dengan cairan ungu yang penuh listrik keluar dari dalam mulutnya. Cairan ini menciprat dengan cepat mengenai seluruh tubuh Aria.
"Ini gawat…" Gumam Theo. Ekspresinya menjadi buruk. Meskipun Theo tak tahu cairan apa itu, namun dia bisa menduga itu bukanlah hal yang baik.