Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
315 - Berubah Pikiran


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Keesokan harinya)


"Aku berubah pikiran!" Ucap Theo. Saat kelompoknya yang telah selesai mengemas barang, hendak melanjutkan perjalanan.


"Hmmm… Apa maksudmu?" Tanya Thomas, merasa tak paham dengan yang baru saja dikatakan Theo.


"Aku memutuskan untuk tak kembali dulu ke perkemahan Bandit Serigala, melainkan kembali ke kota gurun Zordan!" Jawab Theo.


Jawaban Theo, segera membuat setiap orang kini melihat kearahnya, menatap dengan tatapan penuh keheranan.


"Apa yang kau katakan Boss? Jelaskan dengan benar!" Tanggap Thomas.


"Bukan apa-apa! Dan kalian tak perlu khawatir! Hanya saja, kita sudah tertahan di dalam Istana Emas untuk waktu yang relatif lama!"


"Menurut keterangan yang kudapat dari Sasi, ia telah menjebak kita kurang lebih hampir seminggu penuh!"


"Sementara janji yang kubuat dengan Manajer Liu dari Gaia Treasure, itu adalah dua minggu dari sekarang! Aku tak akan sempat bila harus kembali ke perkemahan Bandit Serigala, sebelum melakukan perjalanan balik lagi ke kota gurun Zordan!"


"Jadi, akan lebih baik bila aku kembali ke kota Zordan terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan, agar pihak Gaia Treasure tak merasa kecewa, karena sebagai seorang pedagang, itu adalah hal yang sangat penting untuk menjaga integritas."


"Aku tak ingin kepercayaan yang telah kubangun dengan Gaia Son Paviliun menjadi rusak karena masalah keterlambatan dan ketidaktepatan dalam memenuhi waktu perjanjian!" Lanjut Theo.


"Jadi, sementara aku kembali ke kota Zordan, Kalian bisa kembali dulu ke perkemahan Bandit Serigala, agar kelompok kita tak merasa khawatir!" Ucap Theo.


"Ahh… Jadi seperti itu! Baiklah, aku memahaminya!" Jawab Thomas, si Gendut ini yang merupakan mantan seorang pedagang, tentu saja sangat mengerti dengan apa yang baru saja di sampaikan Theo.


"Bagus, kalau begitu…"


"Aku ikut denganmu!"


Theo hendak menyampaikan kalimat pesan untuk disampaikan Thomas pada anggota Bandit Serigala, sampai tiba-tiba Gerel memotong.

__ADS_1


"Hmmm?" Gumam Theo, sambil melihat kearah Gerel.


"Apa? Aku akan ikut denganmu! Bukankah dari awal sudah kubilang bahwa aku akan selalu mengikuti kemana kau pergi!" Dengus Gerel, begitu melihat tatapan Theo kearahnya.


"Aku juga ikut!"


Theo belum sempat menjawab permintaan Gerel sebelum dengan cepat Hella mengatakan keinginannya untuk ikut juga.


"Aku jelas tak akan membiarkan gadis ini mengikutimu seorang diri! Bagaimanapun juga, kalau kau membawanya, maka aku juga harus ikut!" Tambah Hella, sambil melirik kearah Gerel.


"Mau bertarung sekali lagi?" Ucap Gerel, begitu melihat lirikan tajam yang ditujukan Hella kepadanya.


"Kau pikir aku takut? Kapanpun kau mau, aku akan meladenimu! Itu akan menjadi sebuah hadiah menyenangkan bila secara tak sengaja aku membunuhmu! Atau paling tidak membuat dirimu menjadi cacat!" Dengus Hella.


"J4lang! Jaga mulutmu!" Bentak Gerel.


Hella hendak kembali membalas makian Gerel, namun Theo yang mulai merasa tak tahan dengan kedua gadis tersebut yang tampak akan kembali berseteru, segera menghentikan dengan bentakan keras.


"Kalian berdua diam!" Bentak Theo.


Bentakan yang diiringi dengan ia membocorkan aura miliknya. Membuat setiap orang kini merasa tertekan, seketika diam.


"Gerel dan Hella, kalian ikut aku!" Ucap Theo. Memberi intruksi. Ia yang merasa bahwa tanpa kehadirannya dua gadis ini hanya akan membuat kekacauan di Perkemahan Bandit Serigala, memutuskan untuk membawa Gerel dan Hella untuk ikut bersama dirinya kembali ke kota gurun Zordan.


"Sementara Thomas dan Razak, kalian kembali ke perkemahan!"


"Buka kertas itu setelah sampai di perkemahan, dan bacakan semua intruksi yang tertulis di dalamnya pada semua orang anggota kelompok Bandit Serigala!" Tambah Theo.


"Tak masalah! Akan kulaksanakan segera setelah sampai di perkemahan!" Jawab Thomas.


"Bagus!" Tanggap Theo, sebelum mulai melepas Spacial Ring yang berada di jari telunjuk tangan kanannya. Dilanjutkan dengan ia melihat kearah Razak.


"Razak, didalam sini tersimpan beberapa sumberdaya berharga, meskipun aku belum sempat melakukan proses meracik obat, tapi ada beberapa bahan obat yang bisa dikonsumsi secara langsung asal dengan takaran yang tepat."


"Aku akan mempercayakan sumberdaya ini kepadamu!" Ucap Theo, sebelum melempar Spacial Ring kepada Razak.


"Semua intruksi dan cara penggunaan bahan obat yang bisa di pakai, sudah kutulis pada kertas yang tersimpan di dalam Spacial Ring! Jadi, ketika sudah sampai di perkemahan, ikuti intruksi yang sudah kutulis tersebut!"


"Baik!" Jawab Razak tanpa keraguan sama sekali.


Disisi lain, Thomas yang melihat sumberdaya berharga justru di percayakan pada Razak, segera memasang ekspresi wajah masam.


"Boss! Dia masih bocah! Kenapa justru mempercayakan sumberdaya yang begitu penting kepadanya!" Ucap Thomas.

__ADS_1


"Hmmm… Itu akan lebih aman di tangan Razak dari pada di tanganmu!" Dengus Theo.


"Dan Razak, dengarkan ini baik-baik! Jangan sekali-kali kau memberikan Spacial Ring tersebut pada si Gendut! Alasan apapun tak di terima! Prioritas utamamu adalah menjauhkannya dari tangan Thomas!" Lanjut Theo.


"Dimengerti!" Jawab Razak singkat.


"Bagus!"


Obrolan antara Razak dan Theo, mau tak mau membuat Thomas semakin memasang ekspresi wajah masam. Sedikit memonyongkan bibir berlemaknya.


Dengan pengaturan Theo, kelompoknya berakhir terbagi menjadi dua, kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing.


***


(Dua minggu kemudian, Gaia Treasure cabang kota Zordan)


"Tuan muda! Selamat datang!" Ucap Manajer Liu. Menyambut kedatangan Theo.


"Salam tetua Liu!" Ucap Theo, sambil memberi salam tangan sederhana.


"Anda datang tepat waktu! Semua bahan yang anda pesan, baru saja selesai disiapkan. Sebentar lagi beberapa pelayan akan mengantar kesini, jadi harap sedikit bersabar!" Ucap tetua Liu.


"Tak masalah!" Jawab Theo.


"Hmmm… Ngomong-ngomong, kawan perjalanan yang menemanimu kini tampak berbeda!" Ucap tetua Liu, sambil melirik kearah Gerel dan Hella.


"Bisa membawa dua orang nona muda dari 10 Biggest Knight Group sebagai kawan perjalanan, harus kuakui, anda benar-benar sesuatu!"


"Pria tua ini sungguh terkesan! Hahhahah….!" Ucap Tetua Liu, memilih menghabiskan waktu menunggu dengan mengomentari kehadiran Hella dan Gerel. Dimana identitas kedua gadis ini tampak sudah di ketahui olehnya.


"Anda terlalu berlebihan! Itu bukan hal yang patut di banggakan!" Jawab Theo.


"Dari pada membahas masalah ini, bagaimana dengan surat yang sebelumnya kutitipkan untuk di sampaikan pada Manajer Xiao Shiu!" Tanya Theo.


"Ohh.. Masalah itu, kebetulan sekali tadi pagi seorang kurir Gaia Inn cabang Ice Lotus City sampai di kota Zordan!" Jawab tetua Liu, seraya menyerahkan gulungan kertas surat kepada Theo.


"Manajer Xiao tampaknya sungguh menaruh banyak perhatian pada anda, dia begitu tanggap dan cekatan bila sudah menyangkut tentang anda!"


"Anda benar-benar beruntung, meskipun dia jauh lebih tua, namun Manajer Xiao sangat cantik dan telah di usia matang, pria tua ini sedikit merekomendasikan bila anda tertarik padanya!" Ucap tetua Liu.


Kata-kata yang di sampaikan tetua Liu, segera disambut tatapan tajam berhawa membunuh intens dari Hella dan Gerel.


"Hohoho… Sungguh menakutkan!" Ucap tetua Liu, sambil memandang balik kearah Gerel dan Hella. Pria tua ini bukannya merasa takut dengan tatapan mematikan kedua gadis tersebut, justru malah memasang ekspresi wajah tengil.

__ADS_1


Disisi lain, Theo kini mulai membaca surat balasan dari Xiao Shiu. Ekspresi wajahnya tampak biasa dan cukup puas ketika membaca bagian awal dan tengah surat. Namun, ketika sampai di bagian akhir surat. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi buruk.


"Rencana penyerangan dan penghancuran total House Braveheart?" Gumam Theo.


__ADS_2