Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
245 - Adu Fisik


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Padahal seorang pria, tapi kenapa begitu suka mengoceh? Seperti wanita saja!" Kata Theo. Sambil memasang ekspresi kesal kearah kelompok Bandit gurun.


"Baj1ngan! Jangan sombong hanya karena berhasil melancarkan serangan menyelinap! Jika saja aku siap dari awal, kau tak akan bisa menyerangku!" Bentak Bandit yang baru saja di pukul Theo begitu ia keluar dari reruntuhan tebing. Kini sudah dalam mode Meridian Knightnya.


"Ohhh… Tak kusangka keras juga tubuhmu itu!" Gumam Theo, tampak sedikit terkejut.


Bila itu adalah Knight lain yang berasal dari Glaire Empire, mendapat pukulan keras dari Theo seperti tadi ketika belum berada dalam Mode Knightnya, mereka bisa di pastikan sudah tak sadarkan diri secara instan.


"Tunggu apa lagi? Habisi bocah tengik ini!" Teriak sang Bandit, memberi arahan kepada kawan-kawannya.


"Hahhhaah... Tak usah berteriak begitu, itu salahmu sendiri menjadi tak siaga sehingga berakhir di permalukan oleh bocah ini!" Jawab salah satu Bandit lain, sambil memasang ekspresi mencela, merasa malas di perintah sesamanya.


*Woooshhhh….!!!


Namun, belum sempat satu tarikan nafas dari saat Bandit terakhir menyelesaikan kata-katanya. Theo kembali menjadi sekelebat bayangan, menerjang cepat tanpa peringatan apapun kearah sang Bandit. Dan kemudian sama seperti kawannya, ia melancarkan pukulan keras yang mendarat dengan tepat pada wajah lawannya.


*Boooommm….!!!


Pukulan ini segera membuat sang Bandit terpental jauh, menabrak dinding batu tepat di sebelah kawan yang baru saja ia ejek.


"Gahhhh…! Bocah sialan! Beraninya kau!" Bentak sang Bandit, saat keluar dari reruntuhan tebing. Mukanya memerah menahan malu.


"Hahhahha… Bagaimana rasanya?" Tanya kawan yang baru saja ia ejek di sebelahnya.


"Diam! Habisi bocah sialan ini!" Bentaknya lagi dengan wajah memerah. Kemudian berubah kedalam Mode Meridian Knightnya.


Bersamaan dengan bentakan sang Bandit tersebut, kawan-kawannya yang tadi masih tertawa lantang melihat kejadian konyol dari Bandit terakhir, segera ikut berubah kedalam Mode Knightnya masing-masing.


Dan ketika semua Bandit sudah berubah, Theo kini bisa melihat, ternyata kelompok Bandit yang terdiri dari 11 orang ini, semuanya adalah seorang Meridian Knight.

__ADS_1


"Hmmm… Orang-orang ini memiliki kekuatan fisik yang tak biasa!" Gumam Theo, saat menyadari Bandit kedua yang juga menerima pukulan telak darinya ketika belum berubah dalam mode Knightnya, terlihat dalam kondisi sama baik dengan Bandit pertama.


Namun, meskipun menyadari lawan-lawannya memiliki tubuh fisik yang tak biasa, Theo yang saat ini melihat kelompok Bandit sudah menerjang maju kearahnya secara bersamaan, bukannya tampak takut, tapi justru mulai memasang seringai lebar penjahat jalanan. Seringai khas milik keluarga Alknight.


"Hehhee… Ini bagus juga! Kapan lagi aku bisa menemukan lawan sebanding untuk kembali menempa tubuh fisikku!" Gumam Theo, seraya mulai mengaktifkan teknik Iron Body nya. Melapisi seluruh tubuh dengan aliran Mana besi kuno yang sangat pekat.


*Kraaakkk….!!!


*Kraaakkkk….!!!


"Kraaaakkk….!!!


Suara berderit yang terdengar sangat menggangu bagi siapapun yang mendengarnya, kini mulai terdengar nyaring dari tubuh Theo, efek dari saling bergeseknya tulang-tulang yang ada di dalam tubuhnya. Tulang-tulang ini seolah berusaha keras menahan bobot tubuh fisik Theo yang saat ini tiba-tiba menjadi ribuan kali lebih berat begitu selesai di lapisi Mana Besi kuno.


"Datanglah! Cepat!" Teriak Theo kemudian, sambil masih memasang seringai lebar di wajahnya.


Melihat ekspresi meremahkan di wajah Theo, serta mendengar kata-kata provokasi yang di teriakkan olehnya, para Bandit menjadi semakin murka, bergerak lebih cepat kearah Theo sambil menghimpun tenaga fisik masing-masing, berniat memberi pukulan terkeras yang mereka miliki kepada pemuda sombong dihadapannya.


*BOOOOOOOOMMMMMMMMM…..!!!!


Tak lama kemudian, suara keras dari hasil mendaratnya pukulan dari 11 Bandit secara bersamaan pada tubuh Theo, menggema begitu keras. Diiringi dengan getaran hebat yang mengguncang daerah sekitar. Saking kerasnya efek dari kombinasi pukulan para Bandit ini, tanah pijakan yang ada di bawah kaki Theo, kini hancur berantakan. Membentuk sebuah kubah kawah raksasa.


"Aaarrggghhhh….!!!"


"Aaarrggghhhh….!!!"


Tapi, ketika kepulan debu pasir yang bertebaran belum sepenuhnya mereda, berbagai teriakan kesakitan mulai terdengar dari dalamnya. Dan dari sekian banyak teriakan ini, tak terdengar sama sekali suara Theo dari salah satu orang yang berteriak.


Hal ini membuat pria gendut yang pada awalnya sibuk mengumpulkan barang dagangan miliknya yang bertebaran diatas tanah, tampak tak terganggu dan tak memperdulikan pertempuran yang sedang berlangsung, dengan cepat menoleh kearah kepulan debu. Memasang ekspresi heran di wajahnya.


"Hmmm… Tidak mungkin! Seorang ahli beratribut besi?" Kata pria gendut, begitu merasakan aliran Mana besi Theo yang bertebaran karena hasil menahan puluhan pukulan pada tubuhnya.


"Hahahhahah… lumayan! Kalian benar-benar kuat!"


Ketika kepulan debu sudah mulai mereda, pemandangan mengejutkan segera hinggap di mata sang pria gendut, dimana ia saat ini menyaksikan Theo yang menjadi target puluhan pukulan dahsyat, masih berdiri tegak di posisi semula meskipun tanah di sekitarnya hancur berantakan.


Theo memang tampak mengeluarkan darah segar menetes dari dalam mulutnya. Tapi, kondisi Theo bisa dibilang sangat baik bila di bandingkan dengan lawan-lawan yang baru saja menyerangnya. Dimana setiap anggota Bandit, saat ini sedang menggeliat di tanah, mengerang kesakitan sambil memegang tangan mereka yang patah.


"Luar biasa! adalah keberuntungan bagi gendut ini bertemu seorang ahli di tempat antah berantah seperti ini! Sepertinya dewa sedang menyayangi ku! Aku harus mengambil kesempatan emas ini!" Kata pria gendut. Dengan ekspresi wajah antusias.


Ketika pria gendut masih memandang Theo dengan tatapan penuh kekaguman, sosok yang ia pandang, saat ini mulai melangkah kedepan, mendekati kelompok Bandit yang masih terkapar di tanah.

__ADS_1


Satu langkah.


*Booommm….!!!


Dua langkah.


*Booommm…!!!


Tiga langkah.


*Booommm….!!!


Langkah kaki Theo yang masih mempertahankan teknik Iron Body nya, menyebabkan suara getaran keras setiap ia melakukan satu langkah kedepan. Membuat kelompok Bandit yang kini memandang kearah Theo, segera memasang ekspresi ngeri pada wajahnya masing-masing.


"Hehehe… Jadi bagaimana? Aku adalah bocah yang bermain terlalu jauh dari rumah?" Kata Theo. Masih dengan seringai lebar penjahat jalanannya.


"Iblis!"


"Monster!"


"Setan!"


"Ibu tolong aku!"


Teriak para Bandit, dengan teriakan kata acak yang terlintas di dalam otak mereka masing-masing. Para Bandit kini mulai melihat Theo yang menyeringai kearah mereka, bagaikan iblis kejam. Sungguh menakutkan.


"Hehehhe… Kakak besar! Kakak besar! Tunggu sebentar!"


Saat Theo hendak melancarkan serangan penutup, pria gendut yang dari tadi hanya menyaksikan jalannya pertempuran. Tiba-tiba berseru kearahnya. Sambil berlari tergesa. Dengan badan gendut nya, cara lari tergesa pria ini sungguh lucu.


"Hmmm?"


Melihat penampilan pria gendut yang sedang mendekatinya tersebut, Theo yang dapat menduga bahwa ia bukanlah bagian dari kelompok Bandit, hanya mendengus singkat. Memastikan apa yang diinginkan pria ini dengan menghentikannya.


"Kakak besar! Akan di sayangkan bila kau hanya membunuh para Bandit ini begitu saja!" Kata sang pria gendut, begitu sampai di hadapan Theo.


"Kalau kau ingin aku memaksa mereka menyerahkan harta bendanya, itu bisa kulakukan setelah membunuh mereka semua, lagi pula mayat tak akan bisa menyembunyikan apapun!" Jawab Theo.


Mendengar itu, tubuh kawanan Bandit semakin bergetar ketakutan, sorot mata yang di tunjukkan Theo, serta kata-kata santainya barusan, merupakan kata-kata yang biasa diucapkan oleh kelompok Bandit.


Kini mereka mulai menyesal telah menyinggung pemuda di hadapannya ini. Merasa Theo mungkin adalah salah satu tuan muda dari kelompok Bandit besar. Sungguh bodoh untuk tak memastikan dulu identitas lawan yang tengah di hadapi.

__ADS_1


__ADS_2