Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
258 - Ledakan


__ADS_3

"Aura kuno?" Tanya Theo.


"Ya, aura kuno, hanya saja, aura ini tertahan oleh suatu segel yang ada di dalam Element Seednya. Sehingga tak bisa keluar!"


"Dan bila dalam kondisi tersegel saja aku masih bisa samar-samar merasakannya, kurasa aura kuno ini bukanlah sesuatu yang sembarangan!" Kata Ernesto.


Mendengar penjelasan Ernesto, Theo entah kenapa tiba-tiba teringat dengan Kalina, ia merasa kondisi antara si Gendut dan juga Kalina, memiliki kemiripan tertentu.


"Hahh…! Pikirkan itu nanti saja, sekarang lebih baik mencari cara untuk bisa keluar dari sini!" Kata Theo.


"Hei, leluhur kuno cabul, bukankah menara ini di kendalikan olehmu? Tak bisakah kau memberi saran? Apa mungkin ada jalan rahasia untuk bisa keluar dari sini?" Tanya Theo.


"Hmmm… Asal kau tahu, aku bukan pemilik sebenarnya dari menara kuno ini! Menara ini lebih misterius dari yang kau bayangkan!"


"Fatamorgana mistis dan menara ini, sudah ada sejak zamanku. Dan sepertinya berasal dari jaman yang lebih kuno lagi!"


"Ketika pertama kali masuk kesini, aku yang merasa cocok dengan kondisi menara, memutuskan menyegel salah satu perangkat Armorku di tempat ini! Jadi bukan aku pemilik sebenarnya, aku hanya sedikit menambah dekorasi pada lingkungan menara dengan menempatkan segel dan beberapa penjaga!" Kata Ernesto.


"Hmmm… Dasar tak berguna!" Gumam Theo.


"Hahahha… Kesal saja padaku! Itu malah membuat ku terhibur! Entah kenapa wajah kesalmu itu malah membuat moodku menjadi baik!" Jawab Ernesto.


"Diam! Jadi kau benar-benar tak tahu jalan keluar dari sini?" Tanya Theo lagi. Memastikan.


"Ohh… Kalau jalan keluar aku tahu!" Jawab Ernesto cepat.


"B4jingan! Katamu tadi tak tahu!" Sergah Theo, tampak makin kesal.

__ADS_1


"Hahahhah… Terus pasang ekspresi kesalmu itu!" Kata Ernesto, sambil tertawa lantang.


"Sudah berhenti bermain-main, katakan dimana jalan keluarnya!" Bentak Theo.


"Kau bodoh ya? Kalau kau mau keluar, ya turuni saja tangga menuju kelantai ini! Terus turun sampai lantai pertama, disana akan ada pintu masuk awal yang akan bisa kau gunakan untuk keluar!" Jawab Ernesto. Sambil mencoba memasang wajah serius, menahan agar tidak tertawa.


"B4jingan! Kalau jalan keluar yang itu aku juga tau! Semua orang juga tau!" Bentak Theo. Benar-benar kesal sekarang.


"Hahhahahahhaha…. Hahahhahah…! Kau terakhir cuma bertanya pada ku apakah aku tahu jalan keluar! Kenapa sekarang malah marah saat aku menjawabnya!" Kata Ernesto, sambil tertawa lantang, ekspresi wajahnya tampak sangat puas saat melihat reaksi Theo.


"Ohhh dewa! Kenapa kau selalu mempertemukanku dengan orang-orang macam ini?" Gumam Theo, dalam kekesalannya. Sekarang ia merasa tengah mengalami deja vu.


*Boooommmm….!!!


Saat Theo masih terjebak dengan kalimat basa-basi kosong yang di lontarkan Ernesto padanya. Sebuah suara ledakan keras kini tiba-tiba terdengar. Pertarungan antar Guardian Beast dihadapannya, semakin lama menjadi semakin sengit. Silver Turtle melawan Grey Snake. Sebuah pertarungan epic yang membius setiap orang yang ada di lokasi.


Sementara ketika semua orang masih terbius dengan pertarungan tersebut. Theo kini memandang lurus kearah tetua kedelapan Barbarian Tribe. Orang inilah satu-satunya Knight di ruangan yang akan sulit dilewati oleh Theo.


Jalan satu-satunya adalah menghindari pertarungan dan mencoba membuat celah untuk bisa kabur. Hal sama yang di lakukan Theo pada pertemuan pertama dengan pria tua ini di lantai pertama menara.


Namun, Theo tahu bahwa kali ini tak akan mudah menjebak pria tua ini. Belajar dari pertemuan pertama, ia pasti telah menjadi lebih waspada. Bahkan untuk tak lagi jatuh ke dalam trik Theo, ia rela tak mendebat nona mudanya, membiarkan sang nona muda menghadapi Theo seorang diri. Ia hanya melihat di samping, sambil terus mengawasi setiap gerak-gerik Theo.


"Hmmmm… Sepertinya aku harus menggunakan itu!" Gumam Theo, seraya mengeluarkan sesuatu berbentuk bola dari dalam Gelang ruang-waktu.


Theo tampak melirik kearah pria tua tersebut sekali lagi, sampai kemudian mengalihkan pandangannya pada Gerel Khan.


Disisi lain, tetua kedelapan Barbarian Tribe yang melihat Theo mengeluarkan sesuatu, dilanjutkan dengan memandang kearahnya untuk beberapa saat sebelum ganti melihat nona mudanya, tampak segera memasang ekspresi waspada.

__ADS_1


"Apa yang bocah tengik ini rencanakan?" Gumam sang tetua.


Namun, bersamaan dengan gumamannya tersebut, Theo tiba-tiba membuat gerakan, sambil menggenggam erat sebuah bola yang memiliki banyak ukiran formasi ditangan kanannya. Theo bergerak menuju punggung cangkang Joy kecil.


"Gruuu?"


Joy kecil yang menyadari kehadiran Theo, segera bergumam. Seperti sedang bertanya apa yang sedang coba di lakukan Masternya. Tapi gumaman tak mengerti ini hanya bertahan untuk beberapa saat. Sampai Joy kecil yang pikirannya tersambung dengan pikiran Theo, mulai memahami apa yang direncanakan Theo.


Dan begitu Theo sudah sampai diatas cangkangnya. Berdiri gagah dengan sorot mata penuh ketajaman memandang rendah kearah Gerel Khan. Joy kecil tanpa menunda segera membuat aura pelindung transparan disekitar tubuh Theo. Melindungi Masternya dari serangan semburan Mana Lumpur kuno yang secara cepat di semburkan Grey Snake saat melihat Theo berada di jangkauan serangannya.


Saat semburat Aliran Lumpur ganas masih menyelimuti aura pelindung, suara tengil Theo tiba-tiba terdengar dari dalamnya.


"Hehhehe…! Pak tua! Jika jadi kau, aku akan segera bergerak melindungi nona mudamu!" Kata Theo.


Bersamaan dengan kata-kata Theo, aura racun pekat, mulai menyebar luas dari tempatnya berdiri.


*Wooooshhhh…!!!


Kejadian selanjutnya, Theo melempar bola yang dari tadi ia pegang, dimana ternyata merupakan asal dari aura racun pekat yang baru saja menyebar ganas di sekitar lokasi. Tepat kearah Gerel Khan berdiri.


Melihat itu, tetua kedelapan Barbarian Tribe yang bisa merasakan aura racun ini bukanlah aura biasa karena memiliki kepadatan yang benar-benar tak masuk akal serta sangat ganas. Segera berubah buruk ekspresi wajahnya. Tanpa menunda ia kemudian bergegas menuju kearah nona mudanya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Grey Snake. Insting nya yang tajam sebagai Guardian Beast, segera bisa menangkap bahwa bola yang di lemparkan Theo adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Mengancam keselamatan Masternya. Tanpa menunda ia segera melilit tubuh Gerel.


Theo sendiri, segera bergerak cepat kearah lain sambil menunggangi Joy kecil. Memanfaatkan Mana Gravitasi untuk meringankan tubuh Joy kecil. Ia memberi satu dorongan kuat pada tubuh Joy kecil. Bergerak kearah tangga keluar lantai lima.


*Booooommmm….!!!

__ADS_1


Hembusan ledakan keras, menggema menggetarkan seluruh ruangan saat bola yang dilemparkan Theo, tiba-tiba meledak. Di barengi dengan menyeruaknya racun berwarna hijau pekat dari dalam ledakan tersebut.


Hembusan ledakan ini, membuat Theo yang berada diatas cangkang dan terlindungi oleh aura besi Joy kecil, mendapat dorongan tambahan yang membuat nya terlempar keras kearah ruangan tangga lantai 5, jatuh kelantai 4.


__ADS_2