
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Kedatangan tiba-tiba dua kelompok Bandit besar lain, yakni Bandit Haus Darah dan Bandit Wajah Iblis dimana bersama seluruh pasukan aliansinya melakukan serangan menyergap dari arah belakang. Tentu saja mengubah sepenuhnya jalannya pertempuran.
Dengan langkah tersembunyi yang disiapkan Theo tersebut, kelompok Bandit Serigala akhirnya berhasil menaklukkan dua kelompok Bandit Besar wilayah Gurun Kematian lain. Bandit Tangan Besi dan Bandit Pasir Merah dalam sekali jalan.
Boss Besar Bandit Tangan Besi, Shadex. Setelah kalah dalam pertarungan melawan Theo, memutuskan untuk tunduk pada kelompok Bandit Serigala.
Sementara Boss Besar Bandit Pasir merah, hanya mau memutuskan pilihan setelah bertemu langsung dengan Boss Besar Bandit Serigala, Theo. Menyebabkan ia bersama seluruh anggota aliansi yang masih bertahan, berakhir menjadi tahanan kelompok Bandit Serigala.
Darsa, Zota, dan Sanir, menggiring ribuan pasukan lawan ini untuk bergerak perlahan kembali menuju kemah besar kelompok Bandit Serigala, sebagai tawanan perang yang dirantai. Nasib mereka selanjutnya akan di tentukan setelah Boss Besarnya selesai melakukan pembicaraan langsung dengan Theo.
Ikatan persatuan dari aliansi kelompok Bandit Pasir Merah sendiri, tampak sangat solid, hal ini bisa dilihat dari tak adanya satupun dari anggota aliansi mereka yang memilih berkhianat dengan memutuskan untuk membelot bergabung dengan kelompok Bandit Serigala terlebih dahulu. Menyerahkan semua keputusan, hidup dan mati mereka, kepada Boss Besar Bandit Pasir Merah.
***
(Beberapa hari kemudian, salah satu sudut padang pasir gersang wilayah Gurun Kematian)
Informasi tentang kelompok Bandit Serigala yang telah berhasil menaklukkan 5 kelompok Bandit besar wilayah Gurun Kematian, yakni Bandit Langit Hitam, Bandit Haus Darah, Bandit Wajah Iblis, serta dua terakhir Bandit Tangan Besi dan Bandit Pasir Merah, segera dengan cepat menyebar di kalangan kelompok Bandit wilayah Gurun tersebut.
__ADS_1
Informasi ini tentu saja membuat kelompok Bandit besar lain yang tersisa, menjadi gusar. Kemudian akhirnya kelima Boss Besar Bandit, memutuskan untuk melakukan pertemuan tertutup.
"Hmmmm…. Benar-benar tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku bahwa akan ada waktu dimana kita harus berada di dalam satu lingkaran seperti ini! Situasi yang sedikit membuatku tak nyaman!" Ucap Boss Besar kelompok Bandit Duri Kematian. Ia merupakan seorang nenek tua.
"Hmmm... Kau pikir hanya dirimu yang merasa tak nyaman? Sejujurnya, aroma bau tanah yang keluar dari tubuhmu, semakin lama menjadi semakin menyengat! Kenapa kau tak segera mati saja?" Dengus Boss Besar kelompok Bandit Racun Abadi. Seorang wanita muda dengan paras yang sangat cantik. Namun memiliki tubuh layaknya anak kecil.
"Mulut yang tajam! Tunggu sampai aku menjahitnya!" Jawab Boss Besar kelompok Bandit Duri Kematian. Dengan ekpsresi wajah datar.
"Tak bisakah kalian diam? Ocehan wanita selalu saja membuatku ingin membunuh seseorang!"
Ketika perseteruan antara Boss Besar Bandit Duri Kematian dan Boss Besar Bandit Racun Abadi mulai memanas, seorang pria dengan tubuh kekar ikut memberi keluhan. Pria ini tak lain adalah Boss Besar kelompok Bandit Elang Merah.
Sementara itu, saat situasi di dalam tempat yang tampak seperti kemah darurat tersebut mulai menjadi berhawa berat disebabkan oleh aura membunuh pekat yang kini dikeluarkan tiga Boss Besar kelompok Bandit yang sedang berseteru, satu orang lain yang berada di dalam kemah, tampak masih memasang ekspresi wajah tenang.
Orang ini adalah pemuda yang sepertinya memiliki usia sama dengan Theo, berada dalam generasi yang sama. Tak lain adalah Boss Besar kelompok Bandit Sisik Ular. Pemuda tersebut tampak tak memperdulikan keributan yang sedang terjadi. Hanya melamun menatap pintu keluar, dimana langit berbintang sedang cerah-cerahnya.
"Hmmmm… Dari pada kalian terus ribut tanpa alasan yang jelas, lebih baik segera mulai saja pertemuannya! Aku tak ingin waktu senduku diganggu terlalu lama!" Gumam pemuda Boss Besar Bandit Sisik Ular pada akhirnya.
"Bunuh saja begitu ia menampakkan batang hidungnya! Sudah dari lama aku tak suka dengan perilaku kelompok Bandit Rakun Gurun miliknya!" Jawab Boss Besar Bandit Racun Abadi.
"Sekali lagi, mulut yang tajam! Apa perlu kujahit sekarang juga?" Tanggap Boss Besar Bandit Duri Kematian.
"Nenek bau tanah sialan! Tutup mulut busukmu itu! Atau akan kuracun mulutmu itu sehingga tak bisa lagi terbuka untuk selamanya!" Bentak Boss Besar Bandit Racun Abadi.
"Hahhh…! Malah ribut lagi! Terserah!" Gumam Boss Besar Bandit Sisik Ular. Kembali tak peduli dan meneruskan aktivitas melamunnya.
"Hahhaha…!!! Maaf agak telat! Ada satu urusan penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu!"
Saat situasi kembali akan berkembang kacau, satu suara terdengar dari arah pintu masuk kemah darurat. Dilanjutkan dengan satu sosok melangkah masuk. Tak lain adalah Drani, Boss Besar Bandit Rakun Gurun. Orang yang menjadi inisiator pertemuan terbatas antar Boss Besar kali ini.
__ADS_1
Dan begitu Drani memasuki kemah, hawa dingin intens segera mengalir dipunggungnya saat tatapan penuh nafsu membunuh, secara bersamaan ditampilkan dari setiap orang yang ada di dalam kemah darurat, terfokus kearahnya.
"Urusan penting macam apa, sampai membuat kami harus menunggumu?" Ucap nenek tua Boss Besar Bandit Duri Kematian.
"Sudah menyiapkan surat wasiat?" Tambah Boss Besar Elang Merah.
"Hahahha…! Ayolah! Kenapa begitu serius? Aku hanya telat beberapa menit! Tak sampai 10 menit!" Balas Drani.
"Masih bisa tertawa? Kau pikir kami bercanda?" Dengus Boss Besar Bandit Racun Abadi.
"Hahhh….!!! Sudah! Kalian semua! Diam! Kita segera mulai saja pertemuannya!" Ucap Boss Besar Bandit Sisik Ular secara tiba-tiba. Setelah dari tadi hanya diam. Bersamaan dengan ucapannya. Aliran Mana Es intens, menyeruak keluar dari dalam tubuhnya. Segera menekan seluruh orang yang ada di dalam kemah darurat.
'Hmmmmm… Dia cukup berbahaya!' Gumam Boss Besar Bandit Duri Kematian dalam hati. Satu gumaman, yang mana juga terlintas dalam benak setiap orang.
Bagaimanapun juga, kelompok Bandit Sisik Ular, adalah kelompok besar paling muda diantara kelompok besar lainnya. Mereka muncul beberapa tahun yang lalu, dipimpin oleh Boss Besar yang cukup misterius dimana jarang muncul di depan umum, kelompok ini mengalami perkembangan yang cukup siginifikan. Dengan cepat menggeser salah satu kelompok besar lama untuk menduduki satu dari 10 kelompok Bandit terbesar wilayah Gurun Kematian.
Sebelum eksistensi kelompok Bandit Serigala akhir-akhir ini, Bandit Sisik Ular dianggap ancaman bersama oleh kelompok Bandit besar yang lain.
"Baiklah! Karena aku yang mengundang kalian, maka biar kupimpin pertemuan terbatas ini!" Ucap Drani, memecah situasi tegang.
"Kalian semua tentu sudah mendengar kabar terbaru dari pergerakan kelompok Bandit Serigala! Mereka telah menaklukkan 5 kelompok Bandit besar di wilayah Gurun Kematian ini!"
"Jadi, dengan jumlah pasukan mereka, tak akan ada kesempatan bagi setiap kelompok Bandit besar lain yang tersisa untuk dapat bertahan jika menjadi target selanjutnya!"
"Jika dibiarkan, hanya masalah waktu sampai Bandit Serigala sepenuhnya menaklukan seluruh kelompok Bandit di wilayah Gurun Kematian!"
"Dari fakta tersebut, seharusnya kalian sudah memahami maksud dari pertemuan yang kusarankan kali ini! Tak lain adalah, untuk membentuk aliansi sementara dari 5 kelompok Bandit besar, guna membendung dan menumpas kelompok Bandit Serigala yang meresahkan!"
"Itu satu-satunya jalan yang bisa kita ambil untuk mempertahankan eksistensi kelompok masing-masing!" Tutup Drani.
__ADS_1
Dan begitu Drani menutup kalimatnya, keheningan total segera terjadi. Setiap Boss Besar kelompok Bandit, jatuh kedalam pemikiran mendalam.