Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Katak Dalam Tempurung


__ADS_3

"Jadi Boss… kita akan masuk lantai berapa?" Tanya Arthur.


"Hmmm… Apa yang kau tanyakan? Sudah jelas kita akan makan di lantai tiga, dan menginap di lantai enam." Jawab Theo.


"Bukankah dari penjelasanmu tadi itu adalah lantai kelas istimewa? Pasti sangat mahal!" Tanya Arthur lagi, dengan ekspresi polos.


"Hahahhaha… kau pikir Bossmu ini miskin atau apa? Sudah ayo kita masuk!" Tanpa menunggu jawaban dari Arthur lagi, Theo mulai melangkah masuk.


*Ngaaaakkk…


Suara khas berderak ringan, dari sebuah pintu yang terbuka, terdengar begitu Theo memasuki Gaia Inn. Bersamaan dengan terbukanya pintu, keramaian lantai pertama yang memiliki banyak meja kecil menjadi pemandangan pertama bagi kelompok Theo.


"Benar bukan, lebih baik di lantai atas, disini terlalu ramai!" Kata Theo. Kemudian mulai melangkah menuju tangga lantai dua.


Namun, beberapa pelayan yang melihat kelompok Theo akan menaiki lantai dua, segera menghentikan mereka.


"Anak muda, kalian mau kemana?" Kata salah satu pelayan.


"Asal kalian tahu, lantai dua adalah lantai kelas atas! Bocah-bocah seperti kalian sebaiknya di lantai satu saja!" Pelayan lain ikut menambahi.


"Yah, bocah-bocah seperti kalian hanya akan merusak pemandangan di lantai dua!" Sahut pelayan lainnya lagi.


"Siapa yang kalian sebut bocah!" Arthur yang mendengar kata bocah, segera tersulut emosi.


Sementara Aria, yang dari tadi hanya diam saja, kini mulai mengangkat wajahnya. Sudut-sudut matanya mulai berkedut mendengar pelayan rendahan berani meremehkannya.


Namun, sebelum Aria sempat mengatakan apapun, Theo yang tahu gadis ini sedang dalam kondisi hati tidak baik, segera melemparkan sebuah bungkusan kearah para pelayan.


"Apakah itu cukup agar kami bisa ke lantai tiga? Sebaiknya kalian berhenti mencari masalah, atau gadis ini akan benar-benar membunuh kalian!" Kata Theo.


"Lantai tiga?" Pelayan yang menangkap bungkusan dari Theo sedikit terkejut mendengar kata-kata Theo.


"Apa aku tak salah dengar? Bocah-bocah seperti kalian sebaiknya berhenti bermain-main dan segera keluar dari sini!" Bentak pelayan tersebut.


"Boss... Aku mendengar kata bocah lagi!" Gumam Arthur. Bersamaan dengan itu, aura kegelapan mulai merembes keluar dari dalam tubuhnya.


"Kalian pelayan rendahan berani mengusirku?" Aria ikut berbicara, kini dua pisau kecil sudah berada di tangannya, aura Immortal bumi juga mulai merembes keluar dari dalam tubuh gadis ini.


Seketika itu juga, suasana restoran menjadi hening, para pelanggan yang awalnya riuh menikmati hidangannya masing-masing sambil mengobrol, kini mulai terfokus memperhatikan kelompok Theo.

__ADS_1


"Hahhh….!!!"


Theo yang merasa kesal karena hal sederhana seperti naik ke lantai atas dapat berakhir runyam seperti ini, hanya bisa menghela nafas.


Sementara tiga pelayan yang menghalangi kelompok Theo, kini mulai bergetar ketakutan ketika merasakan aura kuat yang keluar dari tubuh Aria dan Arthur. Bagaimanapun juga, para pelayan ini hanyalah manusia biasa.


"Anak muda, tenangkan diri kalian!"


Ketika situasi sudah mulai lepas kendali, suara berat seorang pria tua terdengar dari arah meja kasir restoran. Sejurus kemudian, pria ini melangkah keluar menghadang Aria dan Arthur.


"Diam! Bukan kami yang mencari gara-gara disini! Sekarang coba katakan! Siapa yang bocah?" Bentak Arthur, terlihat tak peduli.


"Hmmm… aku tanya sekali lagi, kalian pelayan rendahan berani mengusirku?" Aria ikut berbicara. Juga tampak tak peduli dengan pria tua ini.


Berbeda dengan keduanya, Theo yang masih lebih tenang, mulai mencoba mengukur kekuatan pria tua ini, dan ketika dia tak bisa merasakan kelas dari orang ini, yang menandakan dia setidaknya berada di kelas General keatas, Theo mulai sedikit waspada.


"Tetua Chu… tolong usir berandal-berandal ini! Mereka berniat mengacau di tempat kita!" Salah satu pelayan mulai mengadu kepada pria tua tersebut.


"Diam!" Bukannya membela, pria tua yang disebut tetua Chu ini malah membentak pelayan tersebut.


"Hmmm… tetua, kurasa kau adalah yang berwenang dilantai ini! Junior ini benar-benar tak ada niat mencari masalah!" Kata Theo sopan.


"Namun, aku hanya sedikit heran, apa ini benar-benar cara Gaia Inn, yang sering di sebut sebagai penginapan terbaik di seluruh Gaia Land, memperlakukan pelanggan mereka?"


"Kalau memang benar begitu! Aku sungguh sangat kecewa! Orang-orang dari Gaia Son Paviliun, ternyata benar-benar tak memiliki etika yang bagus!" Theo menutup kata-katanya dengan sorot mata tajam tanpa rasa takut. Sambil melihat sekeliling.


Dan, begitu Theo selesai dengan kata-katanya.…


*Braaakkkk…


*Braaakkkk…..


*Braaakkkkk…..


Suara meja hancur terdengar dimana-mana, sekelompok Knight yang awalnya hanya diam memperhatikan, kini terlihat sangat marah dan menghancurkan meja di hadapannya.


"Anak muda tak tau sopan santun! Berani sekali menghina Gaia Son Paviliun!"


"Yahh… katakan padaku! Berandal dari mana kau!"

__ADS_1


"Katak dalam tempurung! Kau baru saja keluar dari rumahmu yang nyaman? Sehingga tak tahu siapa yang kau hadapi!"


Suara-suara celaan mulai terdengar dari berbagai arah, diiringi juga dengan bocornya berbagai aura dari Knight-Knight tersebut.


"Katak dalam tempurung?" Theo mulai mengulang kata celaan terakhir yang di ucapkan kepadanya.


"Hahhahahhaa… hahhahahah… hahhaha… " sejurus kemudian dia mulai tertawa keras.


Bersamaan dengan tawanya, aura berat mulai merembes keluar dari dalam tubuhnya.


Aura ini segera menekan setiap orang yang ada diruangan, termasuk Aria dan Arthur yang ada di sampingnya.


"Boss….!!" Arthur yang tak bisa menahan aura berat dari Theo, kini mulai jatuh tersujud.


Diiringi oleh Aria dan hampir seluruh Knight yang ada diruangan. Secara bersamaan, mereka semua mulai jatuh bersujud.


Bahkan lebih buruk lagi, orang-orang biasa yang bukan Knight, kini jatuh tengkurap, tak bisa mengangkat kepala mereka.


Saat ini, hanya pria tua di hadapan Theo yang tampak masih bisa berdiri tegak. Namun kakinya sudah sedikit bergetar. Melihat itu, Theo kini tahu bahwa pria tua ini paling tidak hanyalah seorang General tahap awal.


"Sekelompok Immortal tak tahu diri! Sekarang siapa katak dalam tempurung itu! Katakan sekali lagi!" Dengus Theo.


"Anak muda! Kau bilang tak ingin mencari masalah?" Kata tetua Chu. Kini menatap Theo dengan tatapan penuh kewaspadaan.


"Senior, dari awal aku memang tak ada niat mencari masalah sama sekali! Aku bahkan sudah membayar untuk naik ke lantai atas!"


"Tapi bahkan sebelum membuka bungkusan Mutiara Mana yang telah kuserahkan, para pelayanmu dengan kurang ajar sudah ingin mengusirku!"


"Aku bukanlah orang yang mudah tersinggung, tapi aku juga bukan orang yang akan membiarkan orang lain merendahkanku!"


"Dan lihatlah orang-orang tak tahu diri di dalam ruangan ini! Kalian pikir kalian hebat? Sekelompok pria tua berusaha menindas kelompok Junior dengan jumlah!"


"Sungguh memalukan!" Bentak Theo.


Kemudian dia semakin menambah daya tarik medan gravitasinya. Membuat setiap Knight yang tersujud diatas lutut mereka, kini mulai menggunakan kedua tangannya untuk menahan agar tak jatuh dalam posisi tengkurap yang memalukan.


"Boss….!!!!" Arthur yang telah jatuh tengkurap mulai berseru lagi kepada Theo dengan susah payah.


Keadaan ini bertahan untuk beberapa saat, sampai akhirnya sebuah aura kuat lain merembes keluar dari tangga lantai dua.

__ADS_1


Sesosok wanita berpakaian serba putih, dengan rambut hitam panjang yang terurai, tampak melompat keluar dari lantai dua, mendarat tepat di samping Theo.


"Tuan muda, sudah cukup! Kau sudah sangat mempermalukan mereka!" Kata wanita tersebut, dengan senyum hangat, sambil menepuk pundak Theo.


__ADS_2