Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Cara Dunia Bekerja


__ADS_3

EVENT KHUSUS MINGGU INI : POPULARITAS 800K BUKA GEMBOK DAN PUBLISH SECARA UMUM CHAPTER SPIN OFF…!


Caranya mudah, cukup sempatkan beri like serta komentar di tiap chapternya novel Seven Deadly Child ini. Atau sempatkan buka chapter2 sebelumnya yang belum sempat di like untuk sekedar memberi like atau komentar.


Event 800k Popularitas untuk Spin Off (Arthur Wild : Putra kegelapan) Dimulai…!


Periode event : Minggu 28 Juni - Sabtu 04 Juli 2020.


Sekian, selamat menikmati Chapter terbaru ^^


------------


"Asmodeus!"


Setelah menitipkan Arthur kepada Cassio, Theo tanpa menunda segera memanggil Asmodeus keluar.


Dengan pedang kembar Asmodeus ditangan, dia kini menatap tajam kearah dua bersaudara pembunuh bayaran yang sedang mengincarnya.


"Hmmm… dari mana sumber kepercayaan diri bocah ini?" Gumam Sang adik dari Assassin bersaudara. Ketika melihat sorot mata penuh ketajaman milik Theo.


"Lupakan saja! Dia hanya tuan muda dari House besar yang tak tahu batasannya sendiri!" Kata sang kakak menanggapi. Diriingi dengan hawa membunuh pekat yang keluar liar dari dalam tubuhnya


"Kalau kau menganggap bahwa dirimu adalah aktor utama dunia ini, dan semua hal di dunia hanya berputar disekitarmu! Maka, bersiaplah untuk kecewa!"


"Akan kutunjukkan padamu, bagaimana cara dunia yang kejam ini bekerja!"


Bersamaan dengan sang kakak menyelesaikan kata-katanya, dengan gerakan cepat yang merupakan ciri khas dari seorang Assassin, dia berubah menjadi sekelebat bayangan hitam. Maju menerjang kearah Theo.


Dan dalam sekejap, dia yang awalnya berada jauh dari posisi Theo, kini muncul kembali tepat di belakang Theo.


"Mati!" Gumam Sang kakak pelan, seraya menebas leher Theo dengan pedang kecil miliknya.


Namun, sepersekian detik sebelum tebasan tersebut mengenai targetnya, sebuah mata pedang berwarna ungu yang sangat indah, keluar dari dalam dadanya, menembus dada tersebut dengan sangat halus. Tanpa mengeluarkan darah sedikitpun.


"Apa?"


Pembunuh bayaran ini segera berseru kaget ketika mendapati pergantian peristiwa yang tiba-tiba ini. Dia bahkan tak tahu dari mana serangan tersebut datang. Sementara Theo yang detik sebelumnya tepat berada di hadapannya, kini telah menghilang.


"Kau mau mengajariku bagaimana cara dunia kejam ini bekerja?"


Disaat sang pembunuh bayaran masih shock, suara Theo terdengar tepat di sebelah telinganya. Kemudian dengan gerakan ringan, Theo mencabut Asmodeus dari dada pembunuh bayaran tersebut.


"Untuk ukuran orang yang hendak mengajari bagaimana cara dunia kejam ini bekerja, kau terlalu ceroboh!"


"Meremehkan lawanmu hanya karena dia memiliki kelas lebih rendah darimu? Sehingga hanya maju menyerang dengan gerakan satu arah dan tak mempersiapkan langkah alternatif lain apapun bila seranganmu ini gagal?"


"Apa kau merasa dirimu adalah orang terhebat di dunia ini? Apa kau merasa bahwa kau adalah aktor utama dunia, dan seluruh hal di dunia ini berputar di sekitarmu?"


"Sungguh konyol!"

__ADS_1


"Di dunia yang kejam ini, satu titik kecerobohan, bisa mengantarkanmu ke pintu gerbang kematian!"


"Ingat nasehatku itu baik-baik, jadikan pedoman di kehidupanmu selanjutnya!" Kata Theo, menutup kalimatnya. Kemudian dengan ringan menebas leher pembunuh bayaran itu.


*Dugg…dugg..


Bersamaan dengan tebasan Theo, kepala sang pembunuh bayaran terjatuh berguling ketanah.


"Kakaaaakkkkk….!!!!"


Melihat itu, sang adik segera berteriak marah. Dan tanpa berfikir lagi maju menerjang kearah Theo dengan segenap kekuatannya.


*Wooshhhhh…..


Dengan bersenjatakan pedang kecil seperti kakaknya, dia dengan gesit menyerang Theo. Namun, segesit apapun gerakan miliknya, dia sama sekali tak bisa menyentuh tubuh Theo.


Theo dengan lihai menghindari semua serangan, sepersekian detik sebelum serangan itu mendarat di tubuhnya.


"Aaaarrgggghhhh…..!!! Kau harus mati!"


Degan frustasi, sang adik berteriak marah setiap kali serangannya dihindari Theo.


"Hmmm… teknik langkah siputmu mengalami kemajuan yang cukup signifikan!"


Dalam kondisi konsentrasi penuh menghindari setiap serangan, suara Tiankong tiba-tiba terdengar di dalam kepala Theo.


Sang kakak yang meremehkan Theo, sama sekali tak menduga Theo bisa menghindari serangannya, berakhir mati konyol tanpa perlawanan berarti. Sementara sang adik, menyerang Theo dalam kondisi penuh amarah, berakhir membuat banyak celah dalam setiap serangannya, membuat Theo dapat dengan mudah bergerak menghindari setiap serangan tersebut.


Dan bersamaan dengan Theo menghindari serangan, dia juga beberapa kali secara diam-diam melancarkan tebasan-tebasan dari posisi tak terduga yang tak dapat dihindari lawannya. Membuat sang lawan menderita luka sayatan serius di sekujur tubuhnya.


Namun, ketika Tiankong tiba-tiba memberi komentar, konsentrasi Theo langsung pecah, hal ini menyebabkan satu tebasan dari lawannya mendarat dengan telak di area dada Theo.


"Master kau sialan!" Sergah Theo dalam hati, kemudian melompat mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya yang terus mengucurkan darah segar.


"Hahhaha… konsentrasimu saja yang masih buruk!" Jawab Tiankong singkat.


"Sudah, habisi saja sampah ini secepatnya!" Tambahnya kemudian.


Melihat lawan Theo sudah berlumuran darah penuh luka, Tiankong memberi perintah untuk segera mengakhiri pertempuran.


"Kau harus mati!"


Namun, sebelum Theo membuat langkah, sang pembunuh bayaran yang masih terbawa emosi dan merasa telah berhasil mendaratkan luka serius di tubuh Theo, maju menerjang lebih dahulu.


"Ohh… kau mencari kematian!"


Theo yang melihat lawannya ini mengambil langkah gegabah menyerang langsung lurus kedepan, dengan gerakan penuh celah, mulai tersenyum licik.


"Mati!" Gumam sang pembunuh bayaran, seraya menebas leher Theo.

__ADS_1


Namun seperti kejadian sang kakak, sepersekian detik sebelum pedang tersebut mendarat, Theo kembali menggunakan langkah siputnya untuk menghindar dan mengambil posisi di belakang lawannya.


"Setelah aku melihatnya, kau pikir bisa menggunakan teknik yang sama berulang kali?"


Sambil berteriak, sang pembunuh bayaran yang tahu dimana lokasi Theo menghindar, membuat gerakan berputar cepat, sambil menebaskan pedangnya. Pergantian gerakan tiba-tiba ini jelas akan sangat sulit dihindari, sehingga dia merasa kemenangan sudah ada di tangannya.


Melihat hal itu, senyum Theo justru menjadi semakin lebar. "Oh, siapa yang bilang aku akan menggunakan teknik yang sama?"


*Nguunggg…


Beberapa saat sebelum pedang sang lawan kembali mengenai tubuhnya, Theo merubah Mana gravitasinya. Dari meringankan tubuh, menjadi medan Gravitasi yang memperberat tekanan area sekitarnya.


Merasakan perubahan tersebut, Sang lawan yang sudah terlanjur melakukan gerakan berputar, sama sekali tak bisa merubah arah serangannya, seketika tubuhnya menjadi berat dan sedikit melambat.


Dengan melambatnya gerakan dari lawan di hadapannya, hanya menggunakan langkah mundur sederhana, Theo menghindari serangan tersebut.


"Sampaikan salamku pada kakakmu!" Kata Theo. Kemudian dengan gerakan cepat dia menusuk leher pembunuh bayaran tersebut.


"Guhhhh…."


Sang pembunuh bayaran, terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun dengan leher tertusuk, dia tak bisa membuat suara.


"Katakan padanya untuk mengingat pesan terakhir yang tadi kuberikan, dikehidupan selanjutnya!"


Bersamaan dengan Theo menyelesaikan kata-katanya, dia mengayunkan pedang kearah atas, membelah kepala sang pembunuh bayaran.


*Gedebuk.


Dengan kepala terbelah, tubuh sang lawan jatuh bersimpuh dihadapan Theo. Pertempuranpun berakhir dalam waktu yang tak terlalu lama.


Hal ini membuat Cassio yang dari tadi memperhatikan, tampak sangat terkejut, tak bisa memberi tanggapan apapun, hanya mulai menatap Theo dengan tatapan penuh ketertarikan.


'Remehkan lawanmu! Dan kau akan mendapat kejutan tak menyenangkan darinya!'


'Sungguh pemuda yang menarik, membunuh lawannya tanpa berkedip sedikitpun!' Gumam Cassio dalam hati.


Sebenarnya, selain menganggap Theo adalah pemuda yang menarik, Cassio juga sedikit merasa merinding ketika melihat sorot mata Theo yang tajam. Sorot mata yang biasanya hanya dimiliki pembunuh bayaran kelas tinggi, dimana telah melakukan banyak sekali pembunuhan.


'Apakah dia benar-benar hanya seorang pemuda berusia belasan tahun?' Gumam Cassio lagi.


***


Sementara itu, tak jauh di lokasi Theo berada, dibalik bayangan sebuah pohon besar, sekelompok orang yang terlihat dipimpin oleh dua orang berpakaian pengemis, dari tadi juga ikut mengamati pertempuran.


Dua orang yang memimpin ini adalah prajurit bayaran yang sebelumnya diperintahkan oleh Liang Fu, Manajer dari Gaia Mercenaries untuk melindungi Theo.


Ketika mendapat informasi bahwa Theo malah memasuki wilayah milik Dark Guild, Liang Fu segera mengirim beberapa tentara bayaran tambahan untuk berjaga-jaga. Namun, kejadian berikutnya sungguh membuat kelompok prajurit bayaran ini terkejut.


"Apakah pemuda ini benar-benar membutuhkan perlindungan kita?"

__ADS_1


__ADS_2