Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Perubahan Rencana


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Orang itu.. orang keji yang telah mencelakai ibu… " Tubuh Kalina terus bergetar setelah mengatakan itu.


Ekspresi Theo menjadi serius ketika mendengar apa yang dikatakan Kalina. Kemudian dia melihat orang yang ditunjuk Kalina dengan seksama. Dia ingin mengingat wajah pria tersebut dengan baik, berniat mencari nya lagi suatu saat.


Namun, ketika Theo menoleh lagi dan hendak menenangkan Kalina agar bisa segera pergi. Dia tiba-tiba bisa merasakan suhu udara mulai meningkat. Theo melihat aliran mana di tubuh Jasia berfluktuasi dengan liar. Ekspresi Jasia terlihat sangat marah, dia menatap pria yang ditunjuk oleh Kalina dengan tajam, mana api terus bergejolak keluar dari tubuhnya, Jasia terlihat tak bisa mengendalikan dirinya.


Melihat hal ini berkembang menjadi tidak baik, Theo segera mendekati Jasia kemudian meletakkan tangannya diatas kepala Jasia.


"Snow!"


Theo bergumam lirih, setelah tangannya menyentuh kepala Jasia. Tak lama kemudian, butir-butir salju segera keluar di sekitar Jasia. Butiran salju yang indah dan menenangkan ini segera menyadarkan Jasia kembali. Menjadikannya lebih tenang.


"Tuan muda.. !"


Jasia kehabisan kata-kata melihat butiran salju indah yang berterbangan di sekitarnya. Sungguh menenangkan.


"Sudah, diam dulu!" Setelah berkata demikian, Theo mengibaskan tangan nya.


"Ice projection!" Theo kembali bergumam.


Kali ini pelindung es transparan berbentuk kubah terbentuk dan menyelubungi ketiganya.

__ADS_1


Bertepatan dengan Theo selesai membentuk kubah es. Seorang anggota house Ironhead yang posisinya paling dekat dengan mereka, melihat kearah Theo dan yang lainnya.


"Hmmm.. apa hanya perasaanku saja?" Kata orang tersebut.


Anggota house Ironhead ini tadi sempat merasakan adanya fluktuasi mana yang tiba-tiba muncul dari arah tersebut. Tapi ketika dia menoleh, dia hanya melihat pepohonan pinus kosong. Setelah memperhatikan lagi beberapa saat, dan memastikan memang tak ada siapapun yang menyelinap dibelakang kelompoknya. Dia kembali fokus pada pertempuran di depannya.


"Hahhh… itu tadi berbahaya, tenangkan dirimu!" Kata Theo, setelah merasa situasi sudah terkendali lagi.


"Un.. " Jasia yang sudah kembali tenang. Hanya bisa mengangguk. Dia segera merasa bersalah karena hampir menempatkan kelompok mereka dalam bahaya.


Jasia juga sadar. Dengan kekuatannya sekarang, dia tak akan mampu menghadapi sekelompok Immortal bumi, jangankan Immortal bumi, sebelumnya bahkan dia dan adiknya hampir celaka ketika berhadapan dengan sekelompok Immortal tahap awal.


"Masih ada lain waktu, berlatih dengan giat! Kau akan mendapatkan pembalasanmu ketika waktunya tiba. Aku berjanji, itu tak akan lama!" Kata Theo setelah melihat Jasia sudah kembali tenang.


"Belajar kendalikan dirimu, ingat kau punya adik yang harus kau lindungi! Jangan di butakan amarah dan berakhir seperti ayahmu!" Kata Theo lagi.


Meskipun terdengar agak kejam, Jasia tahu Theo hanya berusaha mengingatkannya. Fakta bahwa ayahnya memang bertindak tanpa berfikir, menyebabkan Jasia dan Kalina kehilangan kedua orang tuanya pada saat yang hampir bersamaan. Menyeret Jasia kedalam situasi pelik. Meskipun memang tidak menyalahkan ayahnya. Di dalam hatinya yang terdalam, Jasia menyesalkan tindakan yang di lakukan sang ayah.


"Hahhh... Sudahlah, sebaiknya kau tenangkan adikmu. Setelah ini kita cari kesempatan untuk pergi dari sini dengan tenang" Kata Theo.


Setelah mendengar kata-kata Theo, Jasia baru menyadari, adiknya masih belum bisa tenang, terus menatap pria yang menyelakai ibunya, tubuhnya terus bergetar. Jasia segera mendekati Kalina, kemudian memeluknya dengan erat. Berusaha menenangkan Kalina.


"Kakak.. orang ituuu.. orang ituuu… "


Namun, meskipun Jasia sudah memeluk adiknya, dan berusaha menenangkannya, tubuh Kalina masih saja terus bergetar hebat, berguman dan menunjuk orang yang ada tak jauh di hadapannya. Melihat kondisi Kalina, Jasia hanya bisa mulai menangis, sambil terus berusaha menenangkannya.


Sementara Theo hanya bisa menghela nafas panjang, dia bisa membayangkan kejadian yang dialami Kalina di umur nya yang masih sangat kecil, pasti meninggalkan trauma yang hebat dalam jiwanya. Trauma semacam ini akan sangat sulit di sembuhkan.


"Tuan muda…" Jasia yang berurai air mata, mulai menatap Theo dengan tatapan memohon. Dia tak tega melihat kondisi adiknya, hatinya sangat sakit. Di lain sisi, dia juga tak tau harus berbuat apa. Dan entah kenapa, ia mendapat dorongan dalam hatinya untuk meminta tolong kepada Theo. Meskipun ia sendiri juga tak tahu harus meminta tolong untuk apa.


Melihat tatapan memelas berurai air mata itu, Theo menjadi tidak tega. "Hahhh… master, apa aku benar-benar bukan tandingan mereka?"


"Hmm.. aku tak pernah bilang kau bukan tandingan mereka. Di pertarungan satu lawan satu, peluangmu 50:50. Namun, bila mereka bekerja sama melawanmu, kau tak punya peluang menang."

__ADS_1


"Saat ini kau masihlah seorang Pioner tahap puncak, bagaimanapun juga, perbedaan kelas adalah jarak yang sangat jauh. Sudah luar biasa kau bisa mengalahkan Immortal bumi dalam pertarungan satu lawan satu karena kelebihanmu dalam kualitas, dan kuantitas jumlah mana Element seed tipe netral."


"Namun, akan berbeda ceritanya bila kau sudah menjadi seorang Immortal. Dalam kelas yang sama, kau akan bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Meskipun mereka semua bekerja sama." Tiankong menutup penjelasannya.


Setelah mendengar penjelasan dari masternya, Theo terlihat berfikir sejenak.


"Dari penjelasanmu, dapat kusimpulkan bahwa aku bisa mengalahkan mereka, asal menggunakan beberapa trik." Kata Theo.


"Hahahaha… aku tak pernah bilang begitu, tapi bila kau ingin mencobanya, aku juga tak masalah. Tapi ini akan menjadi pertarungan hidup dan mati."


"Bila kau salah perhitungan sedikit saja, nyawamu bisa melayang." Jawab Tiankong, kemudian mulai menatap Theo dengan tajam, senyuman di wajahnya menghilang.


"Hmm.. aku akan mencobanya. Aku sudah memiliki beberapa ide." Kata Theo.


Mendengar itu, Tiankong mulai tertawa lagi. "Hahahhahhaha… terserah padamu bocah! Pertarungan hidup dan mati juga salah satu cara cepat untuk menjadi kuat, itu akan mendorong semua potensimu secara paksa."


Tiankong juga merasa ini merupakan kesempatan bagus untuk mendorong potensi Theo. Sebelumnya dia tak melihat adanya alasan bagi Theo untuk mengambil resiko, oleh karena itu dia menyarankan untuk segera pergi saja. Namun setelah mendapat alasan yang kuat karena kedua gadis itu, ditambah Tiankong bisa melihat keteguhan dan ketajaman di mata Theo. Tak ada alasan baginya untuk menolak kesempatan ini.


Setelah berdiskusi sebentar dan mendapatkan ijin dari masternya. Theo kemudian menatap Jasia dengan tajam.


"Apa kau sungguh ingin balas dendam?" Tanya Theo.


Jasia tertegun mendengar pertanyaan tiba-tiba Theo. Dia sedikit terkejut, karena belum lama tadi Theo masih menasehatinya untuk menahan diri.


"Kalau kau memang ingin balas dendam, aku punya beberapa ide dan bisa membantumu, tapi sebelumnya, aku perlu tahu apakah kau siap dalam pertarungan hidup dan mati?" Tanya Theo lagi, ketika melihat Jasia tak menjawabnya.


Jasia masih tertegun beberapa saat, hanya tersadar ketika merasakan tubuh adiknya mulai bergetar lagi. Dia melihat adiknya yang dalam kondisi sangat memprihatinkan. Sebelum akhirnya menguatkan tekad. Jasia mulai mengusap air matanya, menatap kearah Theo.


"Tuan muda, aku siap!" Jawab Jasia.


"Baiklah, jadi begini…"


Setelah mendengar jawaban dan tatapan penuh tekad Jasia, Theo mulai menjelaskan rencananya.

__ADS_1


__ADS_2