
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Ruang Tunggu peserta Arena Tongkat)
Tak seperti Razak yang menghabiskan waktu dengan melakukan proses kultivasi, Theo saat ini menunggu dengan santai sambil tiduran di salah satu sudut ruang tunggu.
Kondisi ruang tunggu Arena Tongkat sendiri tak terlalu kaku dan suram seperti ruang tunggu Arena Tangan Kosong. Derak tawa saling ejek dan candaan receh, menjadi pengisi suasana di tempat ini.
"Wahhh… Kawan-kawan, lihatlah! Kali ini kita memiliki peserta wanita yang ikut bertarung dalam Arena!" Ucap salah satu peserta, dengan suara yang sengaja di keraskan. Seperti ingin agar setiap orang yang ada di dalam ruangan mendengarnya.
Dan seperti harapan orang tersebut, suara kerasnya tadi segera menarik perhatian setiap orang. Hampir seluruhnya kini menoleh kearah yang di maksud pria itu. Bahkan Theo yang sedang tiduran santai, kini sedikit membuka mata untuk melihat keseruan yang akan terjadi.
"Apa yang kalian lihat? Sebaiknya jangan sampai membuatku kesal!" Ucap peserta wanita yang di maksud pria sebelumnya, sambil memasang wajah ketus. Tampak sedikit tak nyaman begitu mengetahui kini menjadi pusat perhatian setiap orang.
Peserta wanita ini sendiri, berpenampilan mirip lelaki, dengan perangkat armor lengkap terpasang di seluruh tubuhnya. Sementara wajahnya sedikit tertutup oleh helm besi yang sedang ia kenakan. Membuat siapapun yang tak menatapnya dengan teliti, tak akan menyadari bahwa ia adalah seorang wanita.
Sementara di punggung wanita tersebut, sebuah senjata tombak panjang, terpasang dengan gagah. Menyebabkan setiap orang akan segera tau bahwa wanita ini adalah ahli tombak dengan hanya sekilas melihat.
"Wahhh… Cukup galak juga! Hahahaha…!"
"Memang kenapa bila sampai membuatmu kesal? Kau mau apa? Hahahha….!"
__ADS_1
"Ohhh… Dia milikku! Aku suka wanita galak seperti ini!"
"Ohohoh…! Paman sudah tak sabar bermain denganmu di dalam Arena!"
Kata-kata ketus sang gadis yang tadi sempat ia ucapkan saat merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian, bukannya membuat setiap orang yang melihat kearahnya menarik tatatapannya masing-masing, tapi justru membuat suasana ruang tunggu menjadi riuh. Wanita ini secara tak langsung telah menginisiasi setiap orang untuk menjadi tertarik padanya.
Disisi lain, Theo yang saat ini juga telah mengamati wajah wanita tersebut dengan teliti, entah kenapa segera merasa tak asing dengannya. Merasa pernah bertemu dengan wanita ini di suatu tempat.
"Dimana aku pernah bertemu dengan wanita ini?" Gumam Theo.
"Hmmm… Wanita yang sangat menarik! Dia memiliki wajah yang sebenarnya cukup cantik! Dengan bentuk tubuh yang sangat indah! Hanya saja semua keindahan itu harus tertutup oleh rongsokan besi yang ia kenakan!"
Saat Theo masih mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan wanita di hadapannya, suara cabul Ernesto tiba-tiba terdengar dari dalam Sarung tangan kilat merah.
"Bila aku punya kesempatan, aku bersedia menempa armor untuk wanita ini! Akan kubuatkan dia seperangkat armor yang pas dan tak menutupi keindahan tubuhnya! Rongsokan yang sedang ia kenakan benar-benar membuat mataku sakit saja!" Dengus Ernesto. Terdengar kesal-kesal sendiri.
Theo yang mendengar kalimat meracau tak jelas yang diucapkan Ernesto, hendak akan menanggapinya. Tapi sebelum Theo sempat melontarkan kata-kata apapun, Ernesto mendahului berbicara dengannya.
"Nak! Kusarankan untuk menempatkan segel Kontrak Tuan-hamba pada wanita ini! Dia adalah tipe wanita yang tak biasa! Aku yakin di balik wajah tak pedulinya itu, dia akan menjadi wanita yang sangat ganas ketika sedang berada diatas ranjang!"
"Uhukk…!"
Mendengar kata-kata Ernesto, Theo mau tak mau segera tersedak nafasnya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka bahwa di dunia ini ada orang secabul Ernesto.
Setengil apapun Tiankong, meskipun Tiankong juga sering menggodanya berkaitan dengan wanita, Masternya itu tak akan pernah mengucapkan kata-kata cabul seperti yang baru saja di ucapkan Ernesto. Theo kini benar-benar merasa menyesal dulu sempat mengidolakan Ernesto yang kisahnya sebagai Knight Legendaris, di tuturkan oleh Tiankong dengan sangat heroik.
"Nak, kenapa hanya diam saja? Katakan sesuatu! Kau sepakat dengan sarankku untuk menjadikan wanita itu sebagai koleksimu kan?"
"Seorang pria muda harus memiliki jiwa membara! di usiamu saat ini, kau harus sudah mulai mengumpulkan koleksi wanita!"
"Bahkan aku sudah memiliki lebih dari 20 koleksi wanita saat seusia denganmu!" Kata Ernesto, ketika melihat Theo kini justru terbengong.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Ernesto, sudut-sudut mata Theo segera berkedut.
"Diam kau cabul sialan! Jangan katakan apapun lagi!" Bentak Theo kemudian, entah kenapa merasa sangat kesal dengan Ernesto.
"Hahahha…! Sekarang kau mungkin masih bisa menahannya! Tapi lihat saja nanti! Dengan semua bakatmu, dan dengan semua garis takdir yang selalu berjalan disekitarmu, aku yakin kedepan akan ada banyak wanita yang mengelilingimu!"
"Di masa lalu aku sudah membuktikan hal tersebut! Terlebih kau adalah pewaris dari perangkat Armor kelas Illahi yang telah kutempa dengan sepenuh hati!"
"Dimana tentunya hal tersebut telah menarik salah satu benang takdir yang membelenggu tubuhku! Menyebabkan kita berdua tak akan berbeda terlalu jauh! Berbagi takdir yang sama!" Ucap Ernesto, kini sambil memasang senyum lebar di wajahnya. Dia tampak akan kembali mengoceh, namun dengan cepat Theo memotong.
"Tak berbeda terlalu jauh? Apa maksudmu? Aku dan kau sangat jauh! Jangan samakan aku dengan pria cabul sepertimu! Aku tak sudi!"
"Lagipula aku telah menaklukkan gerbang nafsu! Mencapai kondisi Anata pada Nafsu! Jadi semua yang kau ucapkan tadi hanyalah omong kosong!" Dengus Theo.
"Gerbang Nafsu? Kondisi Anata?" Tanya Ernesto cepat, tampak tak memahami kata-kata terakhir yang diucapkan Theo.
"Lupakan! Percuma juga aku menjelaskan! Kau tak akan paham! Lagipula kenapa juga aku harus menjawab pertanyaanmu!" Dengus Theo.
"Hmmm… Tak masalah! Aku juga tak terlalu tertarik!" Ucap Ernesto. Sebelum ekspresi wajahnya yang sempat tampak penasaran, kini kembali menjadi mesum.
"Jadi bagaimana? Turuti saja apa yang tadi kukatakan padamu! Jadikan dia salah satu koleksi! Kupastikan kau tak akan menyesal! Malah kedepan akan berterima kasih padaku!" Kata Ernesto, dengan tiba-tiba mengembalikan topik pembicaraan seperti diawal ia mulai bicara tadi.
"Diam kau bed3bah cabul! Aku sama sekali tak tertarik pada hal semacam itu! Koleksi koleksi terus yang kau katakan dari tadi! Koleksi kepalamu!" Bentak Theo. Kini benar-benar tak bisa menahan kekesalannya.
"Cihh…! Dasar keras kepala! Kepala batu! Generasi muda yang tak asik! Benar-benar lembek!" Dengus Ernesto.
Mendengarnya, Theo segera akan kembali memberi makian. Tapi kata-kata makian yang akan ia ucapkan, segera ia telan kembali saat mendengar suara keras pengumuman yang meminta agar semua peserta pertarungan di ruang tunggu, untuk segera memasuki Arena.
"Percuma berdebat denganmu! Cara terbaik menghadapi orang-orang sinting sepertimu adalah dengan mengabaikan kalian!" Dengus Theo, seraya mulai berdiri, bersama peserta yang lain, berjalan kearah pintu masuk Arena.
----
__ADS_1
Note :
Mohon maaf masih agak sibuk. Hari ini masih tetap satu chapter, namun sebagai permohonan maaf. Saya kasih buka Spin Off ^^