Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
406 - Sisi Selatan


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Wilayah tebing, pertahanan kemah besar kelompok Bandit Serigala sisi selatan)


"Hahhh…!!! Akhirnya sampai juga! Ini benar-benar merepotkan!" Ucap Boss Besar Bandit Racun Abadi. Seorang wanita cantik namun memiliki tubuh layaknya anak kecil. Ia dan seluruh kelompok aliansinya, baru saja sampai pada dasar wilayah perbukitan.


"Boss! Pelankan suaramu! Kita sedang melakukan misi sergapan!" Tanggap salah satu wakil pemimpin Bandit Racun Abadi, merasa suara Boss Besarnya yang terdengar kekanakan, cukup berisik.


"Diam kau! Peduli amat! Dari awal aku sudah meminta agar kelompok Bandit Racun Abadi mengambil posisi belakang dalam strategi ini! Itu akan membuat pergerakan kelompok kita tak terlalu menyusahkan dari pada harus menuruni perbukitan terjal ini!" Dengus Boss Besar Bandit Racun Abadi, sambil memasang ekspresi wajah kesal.


"Jika memang seperti itu, lalu kenapa kita berakhir pada sisi ini?" Tanya wakil pemimpin Bandit Racun Abadi.


"Sudah kubilang diam! Kenapa kau harus mengingatkanku pada kejadian menyebalkan itu!" Bentak Boss Besar Bandit Racun Abadi.


"Ini semua salah si nenek tua k*parat Duri Kematian! Dia sengaja mengarahkan agar kelompok Bandit Rakun Gurun yang mengambil posisi belakang!" Dengus Boss Besar Bandit Racun Abadi.


Meskipun diawal ia seperti tak senang dengan topik pembicaraan ini, namun mulutnya yang cerewet, tanpa sadar menjelaskan apa yang terjadi pada wakil pemimpinnya.


"Ahhh… Jadi seperti itu! Kau kalah dalam pemilihan suara?" Tanya wakil pemimpin sekali lagi.


"Kenapa kau terus bertanya? Tak bisakah kau tutup mulut busukmu itu? Sudah kubilang jangan ingatkan aku lagi!" Bentak Boss Besar Bandit Racun Abadi.

__ADS_1


"Yahh, aku kalah suara! Si nenek sialan itu dengan sengaja memberi suaranya kepada kelompok Bandit Rakun Gurun. Jelas sekali ingin mencoba membuatku kesal!" Dengus Boss Besar Bandit Racun Abadi, sekali lagi tak bisa menahan mulut cerewetnya untuk menjawab pertanyaan. Bertolak belakang dengan suasana hatinya yang tak ingin membahas topik tersebut.


"Hahhahaha….!!! Seperti biasa! Kau sungguh menarik!"


Saat aliansi kelompok Bandit Racun Abadi sedang beristirahat sejenak pada dasar wilayah perbukitan, berencana akan melancarkan serangan kejut pada markas besar Bandit Serigala begitu selesai mengisi tenaga, satu suara lantang tiba-tiba terdengar dari suatu arah.


Mendengar suara tersebut, hampir setiap orang yang sedang beristirahat, segera menoleh untuk melihat kearah sumber suara. Dan begitu menyadari siapa yang baru saja berbicara, raut wajah setiap orang ini segera menjadi buruk.


Yang berbicara tak lain adalah Feizel, mantan Boss Besar kelompok Bandit Wajah Iblis. Bersama dengan Shadex disampingnya, ia saat ini sedang menatap remeh kearah segerombolan besar pasukan aliansi kelompok Bandit Racun Abadi dari atas perbukitan yang berada di sisi paling dekat dengan kemah besar kelompok Bandit Serigala.


"Feizel dan Shadex!" Gumam Boss Besar Bandit Racun Abadi.


Sebagai sesama Boss Besar dari 10 kelompok Bandit terkuat wilayah Gurun Kematian, Boss Besar Bandit Racun Abadi tentu saja tak kesulitan mengenali wajah dua orang ini. Karena memang di masa lalu, ketiga kelompok Bandit yang mereka pimpin, sering terlibat konflik dalam memperebutkan sumberdaya berharga di wilayah Gurun Kematian.


"Harus kuakui, aku cukup sepakat dengan orang berdarah panas di sebelahku ini! Kau adalah wanita yang cukup aneh karena memiliki satu kelainan mental! Antara otak dan mulutmu, tak bisa singkron dengan baik satu sama lain!" Ucap Shadex.


"B*jingan! Apa kau bilang?" Bentak Boss Besar kelompok Bandit Racun Abadi, begitu mendengar kata-kata Shadex.


"Hmmmm… Apa kau tuli? Atau otakmu tak terlalu pintar? Sederhananya, kau memiliki mulut yang begitu cerewet sampai-sampai mendahului otak dalam memberi intruksi! Tipe orang yang berbicara dulu sebelum berfikir!"


"Saking t*lolnya, kau bahkan masih sempat terus mengoceh, padahal jelas situasi kelompok yang sedang kau pimpin saat ini, sedang tak begitu baik!" Tutup Shadex. Bersamaan dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan, pasukan Bandit Serigala berjumlah sangat besar, mulai menampakkan diri di atas tebing. Berjejer rapi dalam satu barisan panjang menyusuri puncak perbukitan yang memanjang.


"Hmmm…. Jadi ini jebakan?" Gumam Boss Besar Bandit Racun Abadi, begitu melihat kelompoknya kini telah sepenuhnya terkepung.


Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Boss Besar Bandit Racun Abadi, entah kenapa secara tiba-tiba ekspresi wajah Shadex berubah suram.


"Orang dengan daya fikir lambat sepertimu, benar-benar membuatku jijik! Bagaimana bisa kau menjadi seorang Boss Besar Bandit!" Ucap Shadex. Sambil memasang sorot mata penuh kebencian. Memandang tajam kearah Boss Besar Bandit Racun Abadi.


"Sekarang juga! Habisi mereka semua!" Seru Shadex, kemudian mulai berubah kedalam mode Soul Knightnya.


Dengan aliran Mana Besi pekat berbentuk Spirit Beast belalang sembah, Shadex yang baru saja memberi intruksi untuk melancarkan serangan, tanpa menunda melepaskan serangan pertama. Melempar aliran Mana Besi berbentuk pedang-pedang tipis, kearah Boss Besar Bandit Racun Abadi.

__ADS_1


Langkah Shadex tersebut, tentu saja segera diikuti oleh pasukan Bandit Serigala yang lain. Dari atas perbukitan, mereka secara serentak melancarkan serangan-serangan dahsyat pada kelompok lawan yang sedang berada di dasar perbukitan.


Dengan posisi tak menguntungkan tersebut, tentu saja menyebabkan pihak aliansi Bandit Racun Abadi yang ada di dasar, harus rela menjadi sasaran empuk pihak kelompok Bandit Serigala.


Sama sekali tak menduga bahwa situasi akan berkembang sedemikian rupa begitu sesaat mereka telah sampai di dasar perbukitan. Kelompok aliansi Bandit Racun Abadi yang berniat melakukan sergapan pada markas lawan, justru harus menerima kenyataan disergap balik oleh pihak kelompok Bandit Serigala yang menjadi target mereka.


Situasi aliansi kelompok Bandit Racun Abadi menjadi lebih pelik lagi saat mereka yang berniat melancarkan serangan balik, harus terpukul mundur kembali kedasar jurang ketika mekanisme formasi pertahanan solid yang terpasang pada sisi-sisi tebing, kini mulai aktif. Dengan sempurna memberi perlindungan pada setiap anggota Bandit Serigala yang ada dipuncak tebing.


"Hahhh….!!! Ini benar-benar menyebalkan! Benar-benar menyebalkan!" Bentak Boss Besar Bandit Racun Abadi.


Ia yang telah berubah kedalam Mode Meridian Knightnya, dimana menjadi manusia setengah Kelabang, kini tampak sangat marah saat setiap serangan racun yang ia lontarkan, sama sekali tak bisa mencapai targetnya.


Sementara disisi lain, serangan-serangan aliran Mana Besi berbentuk pedang tipis yang tanpa henti dilempar oleh Shadex, beberapa kali mengenai tubuhnya. Menyebabkan tubuh Boss Besar Bandit Racun Abadi, saat ini penuh dengan bekas luka sayatan.


"Mati saja! Mati!"


Diatas tebing, Shadex yang benar-benar berada dalam posisi sepenuhnya diatas angin, tanpa henti terus melancarkan serangan. Seperti orang gila.


"Hei…! Ada apa denganmu?" Bentak Feizel, saat menyadari perubahan sikap aneh Shadex.


"Jangan terlalu berlebihan! Tahan dirimu! Ingat kita di beri intruksi untuk membuat mereka tunduk sebagai opsi pertama! Jika terus begini, kau justru akan menghabisi mereka semua tanpa tersisa!" Bentak Feizel sekali lagi. Mulai merasa Shadex adalah seorang psikopat gila.


"Semuanya! Hentikan serangan!" Seru Feizel lantang, memberi intruksi agar pasukan menghentikan serangan saat melihat kelompok lawan yang ada di dasar, telah benar-benar porak poranda.


Boss Besar Bandit Racun Abadi sendiri, saat ini telah dalam kondisi terkapar dengan tubuh penuh genangan darah.


"Mati!" Usap Shadex. Terlihat akan kembali melancarkan serangan pada Boss Besar Bandit Racun Abadi yang telah tak sadarkan diri.


Namun, belum sempat ia melempar aliran Mana Besi berbentuk pedang tipis yang ada ditangannya….


*Boooommmm….!!!!

__ADS_1


Satu tendangan keras dengan atribut Besi yang sama, mendarat tepat pada dadanya. Menyebabkan Shadex sedikit terdorong mundur kebelakang.


"Sudah kubilang hentikan itu!" Gumam Feizel, kini telah berubah kedalam mode Meridian Knightnya. Menjadi Manusia setengah Kadal metalik.


__ADS_2