Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
307 - Masalah Tanggung Jawab


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Tak seperti yang dibayangkan Theo, dimana ia menduga kedua gadis muda yang bersamanya akan bereaksi keras akibat peristiwa sebelumnya ketika keduanya bangun dari tidur, dalam kenyataan, saat Gerel dan Hella terbangun, mereka hanya lebih sering terdiam. Menyebabkan perjalanan menyusuri lorong lain yang ditemukan Theo bersama keduanya kini menjadi sangat hening dan canggung.


"Kalian tak lapar?"


Theo yang tentu saja merasa sedikit tak enak hati, segera mengajukan pertanyaan basa-basi.


Pertanyaan Theo, disambut oleh gelengan singkat Hella. Ia dari tadi tampak hanya menundukkan wajah.


"Diam! Jangan bicara lagi!"


Sementara Gerel, segera memberi balasan dengan bentakan ketus.


"Hmmm… Yasudah!" Jawab Theo singkat. Kemudian kembali fokus pada jalan lorong di hadapannya.


Keheningan total kembali tercipta. Theo masih tampak memasang wajah tak peduli untuk beberapa saat sampai kemudian merasa tak tahan lagi dengan sikap diam kedua gadis yang sedang bersamanya.


"Jika ingin mengatakan sesuatu, katakan saja! Jangan diam!" Ucap Theo. Merasa gerah dengan situasi yang terjadi. Itu lebih baik baginya bila kedua gadis ini memaki atau menyerang dirinya. Dari pada hanya diam saja. Membuatnya sungguh menjadi canggung untuk melakukan apapun.


"Jika kau adalah lelaki sejati, seharusnya itu kau yang harus memulai terlebih dahulu membuat pernyataan atau membuka obrolan!" Dengus Gerel.


"Kali ini aku setuju dengannya!" Tambah Hella, masih dengan wajah tertunduk.


Mendengar jawaban Gerel dan Hella, Theo segera menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik untuk melihat kedua wanita itu.


"Apa yang kau katakan! Kau seolah ingin menyebutku lelaki yang tak bertanggung jawab!" Ucap Theo.


"Bukankah memang begitu! Kau adalah orang yang paling mendapat keuntungan dalam peristiwa sebelumnnya! Satu lelaki, bersama dengan dua gadis! Dasar br3ngsek!" Dengus Gerel.


Kata-kata Gerel, segera membuat telinga Theo menjadi panas.

__ADS_1


"Kau…! Memangnya apa salahku! Kau pikir aku menginginkannya! Jelas-jelas kita bertiga secara bersama di pengaruhi oleh serbuk aneh itu! Jadi ini bukan sepenuhnya salahku sendiri!" Jawab Theo.


"Bagaimana bukan salahmu! Kau adalah lelaki! Dan kami adalah wanita! Jelas-jelas itu salahmu!" Bentak Gerel.


"Bahhh…! Apa hubungannya dengan menjadi lelaki dan wanita! Pernyataan yang benar-benar tak mendasar dan di buat-buat!"


"Kau bilang itu aku yang paling mendapat keuntungan? Bagaimana bisa? Jelas-jelas kalian duluan yang dengan ceroboh terkena efek dari serbuk tersebut!" Dengus Theo balik.


"Berhenti menyangkal! Kau bisa saja mencari cara untuk menghindar, tapi malah ikut menghirup serbuk! Jelas-jelas kau ingin mengambil keuntungan dengan situasi kami!" Bentak Gerel lagi.


"Bahhh…! Aku sudah menahan nafas sekuat yang kubisa! Tapi kalian malah terus menggoda! Jadi itu bukan salahku sebagai lelaki normal bila melayani!" Dengus Theo.


Mendengar jawaban Theo. Wajah Gerel segera memerah. Antara malu dan marah. Ia kemudian mulai mengeluarkan senjata cakram kembar miliknya.


"Jadi, langsung saja! Kau tak mau tanggung jawab?" Tanya Gerel.


"Tanggung jawab seperti apa?" Dengus Theo.


"B3debah! Kau adalah lelaki pertama yang…!" Gerel hendak kembali memaki sampai kemudian tak mampu meneruskan kalimatnya. Air mata mulai jatuh pada salah satu sudut matanya.


Melihat itu, Theo yang kini benar-benar tak tau harus bersikap seperti apa, hanya bisa menghela nafas panjang.


"Baiklah cukup! Bertanggung jawab? Aku akan bertanggung jawab!" Ucap Theo.


"Aku ingin menjadi istri pertama!" Ucap Gerel tiba-tiba.


Kata-kata Gerel, segera membuat Hella yang dari tadi diam, dengan cepat menoleh kearahnya.


"Apa katamu? Kenapa itu harus kau yang memutuskan?" Ucap Hella. Menatap tajam kearah Gerel.


"Sudah kubilang dia adalah lelaki pertama yang telah melakukan itu padaku! Jadi aku akan menjadi istri pertama dan kau istri kedua! Cukup itu saja!" Dengus Gerel.


"Diam kau! Kalau itu alasanmu! Maka permintaanmu tak berlaku! Karena dia juga menjadi yang pertama bagiku!" Dengus Hella balik.


"Lagipula aku benar-benar meragukan kata-katamu itu! Melihat cara berpakaian yang kau kenakan, tak mungkin ini adalah yang pertama bagimu! Gadis cabul sepertimu, jujur saja kau pasti sudah pernah melakukannya dengan lelaki lain!" Lanjut Hella, tatapan matanya kini semakin tajam menatap kearah Gerel.


"Tutup mulutmu kau j4lang sialan!" Bentak Gerel. Kini mulai maju satu langkah.


Melihat itu, Hella dengan sigap mengeluarkan Tombak Es miliknya. Bersiap menyambut serangan.


Namun, saat kedua gadis yang sebelumnya hanya diam kini mulai kembali berseteru, Theo dengan cepat bergerak menengahi.

__ADS_1


"Sudah-sudah! Berhenti bertengkar! Kalian benar-benar membuatku pusing!" Ucap Theo, sambil beberapa kali memijit keningnya.


Dia sama sekali tak menduga, situasi akan berkembang menjadi semakin pelik seperti saat ini. Dalam kondisi normal saja dua wanita ini sudah saling tak akur, bertikai sepanjang waktu, kini ditambah dengan peristiwa sebelumnya, tentu saja akan membuat situasi berkembang menjadi lebih tak terkendali lagi.


Dan bila sebelumnnya Theo bisa bersikap tak peduli, meninggalkan dua wanita ini, kali ini jelas akan berbeda. Bisa di bilang ketiganya kini telah terikat satu sama lain.


"Tentukan sekarang juga siapa yang akan menjadi istri pertama!" Bentak Gerel.


"Tapi bila kau tak memilihku, maka lebih baik aku membunuh wanita itu! Hanya aku yang boleh menjadi istri pertama!" Ucap Gerel.


"Apa katamu! Kau pikir mampu melakukannya! Aku akan membunuhmu lebih dahulu!" Bentak Hella. Tampak sangat marah sekarang.


"Sudah kubilang diam!"


*Woooshhhh….!!!


Theo kembali mengatakan agar dua wanita tersebut diam, namun kali ini dengan nada dingin dan aura berat yang begitu intens menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.


"Bunuh dan bunuh! Sekali lagi aku mendengar kalian berniat saling bunuh, maka aku sendiri yang akan membunuh kalian berdua! Dengan begitu masalah akan selesai!" Ucap Theo. Masih dengan nada dingin yang sekarang justru terasa semakin mencekam. Aura liar juga mulai semakin intens keluar dari dalam tubuhnya. Segera menekan Hella dan Gerel yang berada di dua sisi kanan kirinya.


"Urggghh….!!!"


'Dia kuat! Bagaimana mungkin seorang Knight dengan kelas General yang sama denganku mengeluarkan aura yang seharusnya hanya bisa dimiliki oleh Knight dengan kelas King!' Ucap Gerel dalam hati.


Gadis ini menatap Theo dengan pandangan bergetar sambil kesusahan bernafas. Tertekan sepenuhnya oleh aura yang di keluarkan oleh Theo.


Sementara disisi lain, Hella yang saat ini juga kesusahan mengambil nafas, kini justru mulai menatap Theo dengan tatapan penuh pemujaan. Gadis ini benar-benar terpukau oleh aura yang keluar dari dalam tubuh Theo.


"Aku memang akan bertanggung jawab! Tapi aku benar-benar tak mempunyai niat untuk menikah dalam waktu dekat!"


Saat Gerel dan Hella masih menatapnya dengan pandangan masing-masing, Theo kembali menyampaikan sesuatu.


"Aku masih mempunyai tujuan besar yang harus dicapai! Jadi sebelum aku bisa mewujudkannya, aku tak akan menikah! Kalian cukup tunggu saja sampai saatnya tiba!" Ucap Theo. Kemudian mulai menarik lagi auranya. Menyebabkan Hella dan Gerel yang kini kembali bisa bernafas dengan bebas, segera terduduk pada lantai lorong. Masih menatap Theo dengan pandangan bergetar.


Dari cara bicara Theo yang begitu dingin, mereka bisa tahu bahwa ia benar-benar tak bercanda dengan apa yang sebelumnya ia katakan tentang membunuh mereka berdua bila terus melanjutkan pertikaian.


Situasi kemudian menjadi hening karena Theo tak kembali menyampaikan sesuatu setelah kalimat terakhirnya tadi. Sementara Hella dan Gerel, masih termenung menatap kearahnya, kesusahan menahan goncangan yang menerjang Element Seed masing-masing ketika sebelumnnya menerima hujaman keras aura yang dikeluarkan Theo.


Situasi hening hanya terpercah saat suara langkah kaki dari arah lorong berlawanan yang sebelumnya sedang di tuju Theo, terdengar dengan langkah kaki bergegas, bergerak kearah posisinya dan dua wanita tersebut.


"Boss! Itu benar-benar kau!"

__ADS_1


Dalam kegelapan lorong, sosok gendut Thomas muncul, bersama dengan Razak di belakangnya.


__ADS_2