
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hahahhaha… Lucius! Menyerah saja! House Braveheart telah berakhir!" Teriak seorang wanita bertangan buntung dan wajah penuh bekas luka bakar.
Wanita ini merupakan salah satu Knight yang memimpin digaris depan dalam pengepungan kastil House Braveheart yang saat ini sudah sepenuhnya terkepung dan hancur di beberapa bagian.
"Bethany! Penampilanmu saat ini benar-benar sangat cocok dengan sifatmu! Keduanya tampak sangat mengerikan!" Jawab Lucius. Ia berdiri disalah satu puncak menara Kastil. Sorot matanya tajam menatap Bethany yang baru saja berbicara.
"Hahahhaha… Kau pikir aku akan terprovokasi oleh lidah tajammu itu? Kita sudah mengenal satu sama lain untuk waktu relatif lama! Sebagai dua orang yang berada di generasi yang sama, apa pernah aku terjatuh dalam tipu muslihat dari lidah tajammu itu? Tak pernah sama sekali!"
"Ditambah dengan kondisi saat ini dimana House Braveheart sudah berada di ujung kehancuran, tak akan ada hal lain yang bisa membuat diriku begitu antusias dan sesenang ini!"
"Membayangkan sebentar lagi kau akan bertekuk lutut dihadapanku, itu susah cukup untuk bahkan melupakan semua bekas luka yang ada di sekujur tubuhku! Hahhaha…!" Jawab Bethany, dengan tawa lantang membahana.
"Aku sudah benar-benar tak sabar! Benar-benar terlalu antusias memikirkan jenis siksaan apa yang nantinya akan kuberikan padamu! Sungguh mendebarkan!" Tutup Bethany. Sambil memasang ekspresi wajah menyeramkan.
Mendengar kata-kata Bethany, Lucius justru menyambutnya dengan senyum tipis. "Jika memang House Braveheart harus berakhir hari ini, akan kupastikan dirimu adalah orang pertama yang akan kubawa bersamaku masuk dan terjatuh kedalam lubang neraka!" Jawab Lucius.
"Hahahaha….! Teruslah bermimpi! Legalus! Serang!" Teriak Bethany kemudian.
Mendengar intruksi dari kakaknya, Legalus Estrabat yang saat ini berada lumayan jauh di belakang Bethany, mulai melakukan gerakan tangan memberi intruksi pada puluhan Knight yang berbaris dihadapannya.
Mendapat intruksi dari Legalus, puluhan Knight anggota House Estrabat mulai meletakkan tangannya pada senjata masing-masing. Mengalirkan Mana mereka pada ukiran formasi yang terletak pada gagang senjata berbentuk Crossbow tersebut.
"Tembak!" Teriak Legalus. Setelah melihat seluruh pasukan telah menyiapkan senjata masing-masing.
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
Suara rentetan anak panah yang dialiri dengan berbagai bentuk atribut Mana, segera terdengar nyaring membelah udara begitu puluhan pasukan jarak jauh melepaskan tembakan.
*Boommmm…!!!
__ADS_1
*Boooommmm….!!!
*Booommmm….!!!
Kejadian selanjutnya, ledakan-ledakan nyaring terdengar membahana saat puluhan anak panah dengan dialiri berbagai jenis atribut Mana tersebut membentur formasi kubah pertahanan kastil House Braveheart.
Langkah menyerang yang di lakukan oleh House Estrabat, segera diikuti oleh kelompok House besar lain yang saat ini ikut mengepung kastil. Puluhan House yang tergabung dalam aliansi penyerangan ini, memerintahkan pasukan jarak jauh masing-masing, untuk melancarkan serangan juga.
Kini, ratusan serangan bertubi-tubi membentur kubah pertahanan House Braveheart yang terlihat membentuk selubung Es transparan. Membuat kubah pertahanan yang pada awalnya tampak sangat kokoh, mulai bergetar hebat.
Pada beberapa sisi bahkan kubah tak mampu bertahan, pecah berantakan membuat serangan dari kelompok pengepung, menghujam keras dinding kastil. Namun, dengan sigap beberapa anggota House Braveheart yang di tugaskan untuk mempertahankan formasi bertahan, segera melakukan langkah perbaikan.
"Tuanku! Jika terus seperti ini, kita tak akan bisa mempertahankan kubah formasi! Para penjaga akan segera kehabisan simpanan Mana!" Ucap salah satu tetua, kepada Lucius.
"Kita tak punya banyak pilihan! Satu-satunya jalan agar bisa keluar dari situasi ini adalah kedatangan para leluhur suci! Jadi tahan sekuatnya!" Jawab Lucius. Dengan ekspresi wajah sangat marah dan kesal disaat bersamaan.
Dalam masa hidupnya, ini adalah pertama kali Lucius menghadapi situasi buntu dimana tak terlintas ide apapun dalam otaknya untuk bisa menemukan jalan keluar lain.
'Lucius! Tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku untuk dapat melihatmu begitu frustasi seperti saat ini!'
Saat Lucius masih memasang wajah frustasi, sebuah suara tak asing tiba-tiba terdengar menggema di dalam kepalanya.
'Hmmm… Tak kusangka, itu adalah kau yang akan pertama datang! Menghilang untuk waktu yang relatif lama selesai pertempuran, kupikir kau telah mati!'
'Sekarang, setelah kau ada disini, maka aku akan menagih janjimu!' Ucap Lucius.
***
Disebuah bukit kecil tak jauh dari lokasi kastil House Braveheart, Theo yang di temani oleh Gerel dan Hella di belakangnya, saat ini menatap tajam pada kerumunan pasukan yang sedang mengepung kastil.
"Seperti kataku sebelumnya, segera lakukan serangan setelah aku melakukan langkah pembuka! Fokuskan hanya pada sisi barat!" Ucap Theo.
"Tuan muda, apakah itu tak masalah hanya kalian bertiga di sisi Timur?" Tanya Belladona, tiba-tiba keluar entah dari mana. Mengambil posisi tepat disebelah Theo.
Bersamaan dengan munculnya Belladona, ratusan Assassin Dark Guild berpakaian serba hitam kini mulai ikut bermunculan disekitar bukit kecil.
"Tak masalah! Ikuti saja intruksiku! Habisi semua orang yang ada di sisi barat!" Jawab Theo. Kemudian tanpa menunggu balasan dari Belladona, segera melompat turun dari bukit, menerjang cepat kearah timur diikuti oleh Hella dan Gerel.
Melihat itu, Belladona kembali menghilang dari lokasinya berdiri, berubah menjadi sekelebat bayangan hitam bersama ratusan Assassin Dark Guild lainnya.
***
(Sisi timur)
"Hahhaha….! Lanjutkan seperti ini! Jika House Braveheart benar-benar hancur! Maka kita akan mendapat imbalan besar dari House Estrabat!" Teriak salah satu pemimpin pasukan House yang tergabung dalam aliansi penyerangan.
__ADS_1
"Tetua! Apa itu diatas langit?"
Namun, saat kelompok ini masih sibuk melancarkan serangan kearah kastil, sebuah aura atribut Tanah intens, mulai terfokus diatas langit tempat mereka berada.
"Siapa itu?" Ucap pemimpin pasukan, saat melihat seorang pemuda berambut putih saat ini tengah jatuh perlahan diatas langit.
"Teknik kedua dosa kerakusan!"
Bersamaan dengan pertanyaan pemimpin pasukan, sang pemuda yang tak lain adalah Theo, kini mulai mengeksekusi teknik dosa miliknya. Ia terlihat mengarahkan tongkat logam Baal ditangannya yang sedang bergetar hebat kearah bawah.
*Wuuungggg….!
Dengan suara mendengung keras, tongkat logam yang masih bergetar hebat, tanpa basa-basi dilepaskan Theo kearah kelompok pasukan yang ada di bawahnya.
*Graaakkkk… graaakkk... Graakkk….
Hampir berbarengan dengan suara mendengung keras dari tongkat logam, setiap tanah yang ada di sekitar pasukan mulai terangkat naik. Membentuk bukit-bukit kecil baru yang tampak memiliki kontur rapuh.
*Boommmm….!!
Tak lama kemudian, tongkat logam akhirnya mendarat dengan sangat keras pada tanah di lokasi pusat para pasukan sedang berudiri. Masih dalam kondisi bergetar hebat, tongkat logam Baal mulai mengacaukan setiap energi elemen Tanah yang ada di sekitarnya.
"Sikap Memakan Dunia!" Gumam Theo pelan, Mengarahkan ujung jarinya kearah tongkat yang telah mendarat di bawah. Dengan gesture menarik ujung jari, ia memanggil kembali Baal.
*Wuuuungggg…!
Bersamaan dengan itu, Sambil mengeluarkan dengungan keras, tongkat logam terangkat naik sekali lagi, melepas segala energi elemen Tanah yang dari tadi ditahannya.
*Boooommmm….!!!
Hal ini membuat bukit-bukit kecil yang tadi tercipta secara instan, hancur berantakan dalam seketika. Mengubur para pasukan yang masih ada di lokasi tersebut.
"Apa itu? Serangan menyelinap! Hati-hati!" Teriak pasukan House lain yang berada tak jauh dari lokasi.
Namun, saat kelompok pasukan House lain ini masih memfokuskan pandangannya pada lokasi dimana ratusan pasukan terkubur hidup-hidup, dua serangan dahsyat menerjang dengan cepat.
*Booommm….!!!!
*Booommmm….!!!
Satu serangan beratribut Es yang segera membekukan sebagian besar wilayah pertempuran bersama puluhan pasukan di dalamnya, sementara serangan lain memiliki atribut Lumpur yang meledakkan tanah pijakan dan menghisap puluhan pasukan lain dilokasi berbeda.
Pada pusat dua serangan, Hella dan Gerel kini berdiri menatap tajam ratusan pasukan. Hella menggenggam Tombak Es ditangannya yang masih berselimut aliran Mana Es intens, ditemani White Fang.
Disisi lain, Gerel yang telah dalam bentuk Meridian Knight, manusia setengah Ular Derik coklat, berdiri anggun diatas kepala Guardian Beast Grey Snakenya, Nagini.
__ADS_1
Sementara itu, Theo yang kini telah mendarat di tanah, menarik kembali Baal kedalam Tatto segel, ganti mengeluarkan dua pedang kembar Asmodeus.
"Asmodeus, saatnya melakukan pembantaian!" Gumam Theo. Dengan seringai lebar di wajahnya.