
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Perkemahan Bandit Serigala, sekitar pintu masuk celah perbukitan)
"Matahari sudah mulai naik! Kenapa Boss belum kembali juga?" Tanya Zota dengan ekspresi wajah cemas.
"Saudaraku! Bukankah sudah kubilang untuk sedikit bersikap tenang dan tak perlu merisaukan segalanya?" Tanya Oscana. Mencoba menenangkan Zota dengan kalimat candaan.
Namun, meskipun mengatakan agar Zota bersikap tenang, ia sendiri justru tak bisa menyembunyikan ekspresi wajah cemasnya.
"Apakah Boss Besar belum keluar juga?"
Saat kelompok trio Yahuwa, Yaseya, dan Oscana beserta Zota masih memandang kearah celah pintu masuk perbukitan dengan ekspresi wajah sedikit cemas, dari arah belakang Sanir bersama semua anggota divisinya datang mendekat.
"Belum ada tanda-tanda dari Boss Besar!" Jawab Yahuwa.
"Hmmmm… Apa yang dilakukan si bodoh ini? Jangan bilang ia mati konyol di dalam sana! Jika benar terjadi, lihat saja, seluruh keluarganya akan kubantai!" Dengus Gerel, yang kini juga bergerak mendekat. Masih dengan menggunakan topeng penutup identitasnya.
Mendengar kata-kata tajam Gerel, setiap orang yang ada di lokasi segera menoleh kearahnya. Menatap Gerel yang mereka kenal sebagai wanita bernama Ratu Ular dengan tatapan tajam penuh ketidak-sukaan.
"Jaga mulutmu! Jika bukan karena Boss Besar entah kenapa bersikap baik dan menerimamu dalam kelompok, tak ada anggota Bandit Serigala yang akan menerimamu!"
"Sudah minim kontribusi, sekarang malah berani sekali menyumpahi Boss Besar mati!" Dengus Sanir.
"Hmmmm… J*lang rendahan! Kau tak punya kualifikasi apapun untuk mengaturku!" Jawab Gerel.
"Apa katamu? Coba katakan sekali lagi?" Dengus Sanir, kini mulai memasang tatapan dingin penuh niat membunuh.
Mendengar kata-kata Sanir, Gerel tampak akan kembali menyampaikan kalimat provokasi, sampai kemudian Thomas datang dari arah belakang, menghentikan Gerel.
__ADS_1
"Wanita Ular! Sudah jangan buat keributan! Atau akan kuadukan pada Boss Besar!" Ucap Thomas.
"Gendut! Kau berani bersikap kurang ajar padaku?" Jawab Gerel. Kini menatap kearah Thomas dengan ekspresi menyeramkan.
Jika itu orang lain, ia mungkin masih bisa sedikit tahan dan hanya akan membalas dengan kalimat provokasi. Namun, fakta bahwa Thomas adalah satu dari sedikit orang anggota kelompok Bandit Serigala yang mengetahui identitas Gerel sebenarnya, membuat ia merasa kesal ketika si Gendut tetap berani mengancamnya.
Disisi lain, melihat tatapan Gerel, Thomas yang awalnya datang dengan langkah gagah, segera ciut nyalinya. Merasa sangat bodoh karena kepleset lidah menyinggung nona muda Barbarian Tribe.
"Hmmmm… Memang kenapa? Kau sudah memutuskan untuk menjadi Bandit! Sekarang bersikap layaknya Nona muda! Jika tak tahan dengan kelompok, kusarankan untuk pulang saja kerumahmu yang nyaman itu!"
Saat Thomas masih tampak kebingungan memikirkan kalimat yang tepat sebagai jawaban atas pertanyaan Gerel, Hella yang datang bersamanya tiba-tiba mendahului untuk melontarkan kalimat provokasi.
"Hmmmm, teruslah bermimpi! Selamanya aku tak akan pergi terlalu jauh dari si sialan itu dan membiarkan j*lang sepertimu leluasa berada di sekitarnya!" Jawab Gerel.
"Sebut aku dengan j*lang sekali lagi, maka akan kupenuhi seluruh tubuhmu yang murahan itu dengan lubang!" Ucap Hella, kini sudah mengeluarkan Tombak Es miliknya.
"Kau pikir aku takut denganmu?" Jawab Gerel, ikut mengeluarkan Cakram kembarnya.
"Ahhh… Tidak lagi!" Ucap Thomas. Mulai pening saat melihat dua wanita ini kembali akan bertengkar.
"Boss! Kau sungguh sial!" Tambahnya kemudian.
Mendengar kata-kata terakhir Thomas, hampir serentak Hella dan Gerel menoleh kearahnya.
"Bahhh…! Menyebalkan!" Bentak Thomas, sudah mulai tak tahan dengan kelakuan dua Nona muda dihadapannya. Kemudian segera mengeluarkan Gada raksasanya.
"Kakak-kakak! Tolong jangan bertengkar!"
Saat situasi mulai berkembang tak terkendali, suara polos Syakira tiba-tiba terdengar. Ia berjalan mendekat bersama Razak yang saat ini terbebal perban penutup luka diseluruh tubuhnya.
Mendengar suara Syakira, secara mengejutkan baik itu Hella dan Gerel segera menarik kembali senjata masing-masing.
"Syakira, lebih baik kau kembali ke kemahmu! Disini terlalu ribut!" Ucap Gerel. Dengan tatapan lembut kearah Syakira.
"Hmmm... Kali ini aku sepakat dengannya! Jangan terlalu dekat Thomas! Dia hanya akan memberi pengaruh buruk!" Tambah Hella.
Kedua gadis ini memang dalam beberapa waktu belakangan, sangat sering menghabiskan waktu bersama dengan Syakira. Bergantian mengajari gadis kecil tersebut manual teknik mereka masing-masing. Terlihat sedang bersaing untuk menjadi mentor Syakira.
"Hmmmm… Oscana! Apa Boss Besar belum keluar juga?" Tanya Razak tiba-tiba. Bocah ini terlihat tak begitu peduli pada situasi sekitar, menganggapnya tak penting. Dengan polos mengembalikan topik pembahasan utama.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Razak, Oscana hendak akan memberi jawaban, sampai kemudian beberapa suara keras terdengar dari arah dalam celah pintu masuk daerah perbukitan.
Suara-suara tersebut, tentu saja segera menarik perhatian setiap orang yang ada dilokasi, serentak mereka melupakan segalanya dan memfokuskan pandangan kearah celah masuk perbukitan. Menatap dengan tatapan cemas.
Beberapa saat kemudian, ratusan Serigala yang tampak memiliki bentuk bulu kecoklatan, mulai muncul. Keluar dari dalam celah masuk perbukitan dengan suara-suara lolongan liar. Bergerak cepat menuju kearah perkemahan Bandit Serigala berada.
"Tidak mungkin! Apakah Boss Besar benar-benar bernasib buruk?" Gumam Zota, saat melihat ciri-ciri dari kawanan Serigala yang baru keluar tersebut, sangat mirip dengan Serigala Gurun Liar. Meskipun memang juga tampak sedikit berbeda di beberapa bagian.
"Tutup mulutmu! Itu tak mungkin terjadi!" Bentak Gerel. Kini ikut memasang ekspresi wajah cemas.
"Sialan! Ini bukan waktunya berdebat! Semuanya, bersiap untuk melakukan pertempuran!" Teriak Oscana. Merasa kawanan Serigala yang saat ini bergerak cepat kearah perkemahan Bandit Serigala adalah musuh.
"Hmmm… Tunggu dulu!" Ucap Thomas tiba-tiba. Saat kelompok Bandit Serigala yang ada disekitar sudah mulai bersiap dan berubah kedalam mode Knight masing-masing.
Tak seperti setiap orang yang tampak mulai panik dan cemas, Thomas saat ini justru memandang lekat kearah bagian dalam wilayah perbukitan. Selain Thomas, hanya Razak yang juga memiliki sikap dan reaksi sama, menatap kearah bagian dalam wilayah perbukitan.
"Hahahha…! Sudah kuduga!" Ucap Thomas kemudian. Ekspresi wajahnya kini berubah santai.
"Boss…! Akhirnya kau keluar!"
Disisi lain, Razak juga mulai berseru lantang dengan wajah antusias. Dilanjutkan dengan berlari cepat kearah pintu masuk celah perbukitan. Menerobos balik arus gelombang ratusan Serigala.
Beberapa detik kemudian, setiap orang yang mendengar kata-kata Thomas dan Razak, akhirnya ikut melihat dengan seksama kearah yang sama.
Dari dalam celah pintu masuk perbukitan, satu sosok Serigala berukuran besar, berjalan keluar. Sementara di punggung Serigala tersebut, Theo sedang menunggang dengan ekspresi wajah santai.
Yang tak disadari setiap orang adalah, ratusan Serigala yang baru saja keluar dari dalam wilayah perbukitan, bukanlah kawanan Serigala Gurun Liar. Melainkan Serigala metalik milik Theo yang baru saja selesai bermutasi setelah pada malam sebelumnya, memakan roh dari kawanan Serigala Gurun yang berhasil dikalahkan Theo.
"Boss! Makhluk apa itu yang sedang kau tunggangi? Sungguh tampak berbeda dengan Serigala metalik biasanya!" Tanya Razak, begitu sampai di hadapan Theo.
"Hahaha…! Mulai sekarang, sebut yang satu ini dengan nama Raja Serigala Hitam!" Jawab Theo.
"Ohhh… Itu terdengar bagus!" Sahut Razak.
"Begitukah? Kalau kau mau, aku akan memberi
kendali yang satu ini padamu!" Ucap Theo.
"Ahhh…! Tak perlu! Aku bisa menjaga diri sendiri!" Jawab Razak singkat.
__ADS_1
"Jika kau tak keberatan, beri saja pada Syakira!" Tambah Razak, dengan intonasi nada polos.
"Hmmmm… Anak baik!" Balas Theo. Senyum hangat kini menghiasi wajahnya.