
"Hahahha… Selamat datang! Aku telah menunggumu selama ratusan ribu tahun!"
Begitu Theo memasuki ruang lantai enam, suara serak nan berat yang tadi sempat ia dengar. Kini berganti menjadi suara riang seorang lelaki dewasa.
"Hmmm… Kau adalah?" Tanya Theo, saat melihat sosok transparan di hadapannya.
Sosok ini memiliki wajah tampan dengan sebuah bekas luka sayatan pada keningnya. Rambut panjangnya yang berwarna pirang, diikat kuncir kuda. Sementara pakaian yang ia kenakan, hanyalah sutra tipis sederhana. Tampak hampir sama dengan yang di pakai Tiankong. Masternya.
"Masih bertanya? Bukankah semenjak melihat formasi ku di lantai pertama, kau sudah bisa menduga siapa aku?" Ucap sosok transparan. Senyum tipis kini menghiasi wajahnya. Ia menjawab pertanyaan Theo dengan pertanyaan lain.
"Knight Legendaris dalam Legenda!" Jawab Theo.
"Hahhaha…! Benar sekali! Itulah aku!" Jawab sosok transparan. Diiringi dengan tawa lantang.
"Sebenarnya sebutan Knight Legendaris agak terlalu berlebihan. Pada masaku dulu, aku lebih sering di panggil dengan Ernesto Guevara sang Kilat merah!"
"Jadi, kedepan panggil saja aku Ernesto!" Kata Knight Legendaris, memperkenalkan nama aslinya pada Theo.
"Baiklah, Junior memberi salam pada Master Ernesto!" Jawab Theo, seraya memberi salam tangan hormat.
"Hmmmm… Attidute yang bagus! Tapi membosankan! Aku tak suka sesuatu yang formal seperti itu!"
"Lebih baik menjadi generasi muda yang eksplosif dan menggebu-nggebu! Penuh dengan jiwa pemberontak!" Kata Ernesto, tatapan menggelora kini tampak pada kedua matanya saat mengatakan hal tersebut.
Mendengar itu, sudut-sudut mata Theo segera mulai berkedut. 'Kenapa roh orang kuat yang kutemui selalu saja memiliki sifat eksentrik yang aneh? Cenderung sinting?' Gumam Theo dalam hati. Memandang dengan tatapan penuh keraguan pada sosok di hadapannya. Ernesto ini mengingatkan Theo pada Masternya Tiankong.
"Ngomong-ngomong, sepatu petir merah itu terlihat sangat cocok kau gunakan!" Kata Ernesto. Kini tiba-tiba terbang melayang dengan cepat. Berhenti tepat di hadapan Theo, sambil menunduk memperhatikan sepatu petir merah buatannya yang saat ini di kenakan oleh Theo.
Theo sendiri, yang tentu saja kaget dengan gerakan maju tiba-tiba Ernesto, secara reflek mengambil satu langkah mundur kebelakang.
Melihat itu, senyum aneh mulai muncul di wajah Ernesto, yang kemudian tiba-tiba mengeluarkan aliran liar listrik merah dari dalam tubuhnya. Menyebarkan listrik merah liar tersebut kearah Theo.
Rasa kaget Theo yang belum sepenuhnya mereda dari tindakan maju Ernesto sebelumnnya, kini semakin menjadi saat melihat listrik merah bergerak liar kearahnya. Membuat Theo yang gugup, segera terjatuh duduk di lantai sambil mengarahkan kedua tangan kedepan, berusaha menghalau listrik merah.
Namun, sepersekian detik sebelum listrik merah akan mencapai tubuhnya…
__ADS_1
*Plok…!!!
Suara tepukan tangan ringan tiba-tiba terdengar, bersamaan dengan suara tepukan tersebut, listrik merah yang hampir mencapai tubuh Theo, dalam sekejap menghilang.
"Hahahaha…!!! Hahhahahha….!!! Ekspresi wajahmu itu benar-benar sesuatu!"
Tepat saat listrik merah telah menghilang, menyisahkan Theo yang sekarang sedang dalam kondisi terduduk sambil menatap kedepan dengan ekspresi wajah konyol, suara tawa lantang terdengar keras. Dilanjutkan dengan kalimat meledek diakhir tawa tersebut.
Di hadapan Theo, saat ini Ernesto tampak memegangi perutnya sambil terus berguling pada lantai ruangan, tertawa lantang dengan sangat puas.
Theo yang kini menyadari bahwa ia baru saja dikerjai oleh Roh di hadapannya. Segera mulai kembali berkedut ujung sudut matanya.
'B4jingan! Bahkan sikap jail mereka juga mirip!' Dengus Theo, memaki dalam hati. Benar-benar kesal dengan tingkah laku Ernesto.
'Padahal ini adalah pertemuan pertama, tapi kenapa sudah begitu menyebalkan!' Lanjut Theo, sambil tetap memandang kearah Ernesto dengan wajah kesal.
'Tapi kali ini setidaknya ia tak bisa membaca pikiranku! Dan seharusnya ia akan tetap menjaga menara ini, sehingga aku tak perlu repot diikuti oleh roh sinting ini!'
"Hmmm... Maaf… maafkan aku! Hahhh… hahh… hahhh…!" Kata Ernesto, setelah puas tertawa lantang. Kini mulai mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Sudah ratusan ribu tahun aku berada di menara ini, menyegel diriku sendiri, jadi normal bila aku butuh hiburan!" Lanjut Ernesto.
"Tidak masalah Senior! Junior bisa memahaminya!"
Namun, meskipun kesal, Theo tak berani mengungkapkannya langsung, berusaha tetap menjaga sikap sopan pada Ernesto. Lagipula, ia masih belum mendapatkan item utama yang berada di lantai enam, yang seharusnya adalah item terbaik dalam menara. Jadi, ia tetap harus menjaga kesabaran.
"Ahhh… Sungguh membosankan! Kau terlalu sopan! Apa kusetrum sungguhan saja dirimu dengan listrik merahku!" Jawab Ernesto.
Mendengar itu, sudut-sudut mata Theo kembali berkedut, tampak mulai tak bisa menahan kekesalannya.
"Kenapa diam? Apa itu tanda kesopanan dari pemuda Masa kini? Kau benar-benar mau kusetrum?" Tanya Ernesto, mulai melebarkan senyumnya. Aliran listrik merah juga mulai menyala pada ujung jarinya.
"B3debah! Roh sinting sialan! Siapa juga yang mau kau setrum!" Bentak Theo, kini tak bisa lagi menahan kesabaran.
Mendengar bentakan serta makian Theo, Ernesto terlihat mengerutkan keningnya untuk beberapa saat. Sebelum tiba-tiba kembali tertawa keras begitu lantang.
__ADS_1
"Hhaahha….! Hahahhaha…! Benar begitu! Sikap eksplosif penuh pemberontakan yang tak takut apapun! Pemuda harusnya seperti itu! Bagus! Bagus! Bagus!" Kata Ernesto. Sambil menatap Theo penuh kebanggan, seolah ayah yang memandang anaknya.
"Apa-apaan dengan kata-katamu itu! Dan berhenti menatapku dengan cara seperti itu! Kau pikir aku anakmu!" Bentak Theo lagi. Saat melihat cara menatap Ernesto yang tampak dibuat-buat seolah ia sangat bangga padanya.
"Hahahhahaha….!!!"
Kalimat makian Theo barusan, kembali di sambut tawa lantang oleh Ernesto.
***
(Beberapa saat kemudian, setelah Ernesto puas tertawa)
"Hmmmm… Aku akan serius saat ini, jadi langsung saja! Karena kau adalah pewarisku yang telah mendapatkan satu bagian dari set Armor legendaris tempaanku! Maka tak akan ada ujian bagimu di lantai enam ini! Cukup ambil saja bagian set Armor lain yang ada disana!" Kata Ernesto, sambil menunjuk altar batu yang berada tak jauh di hadapannya.
Mendengar itu, Theo segera menoleh kearah altar yang di tunjuk Ernesto, dimana pada bagian atas altar, terdapat sepasang sarung tangan logam berwarna merah darah.
"Ohhh… Bagus!" Seru Theo antusias, begitu melihat sarung tangan diatas altar. Tanpa menunda segera bergerak kearah Altar dan meraih sepasang sarung tangan tersebut.
Setelah mendapatkannya, Theo tampak hanya memandang secara antusias sepasang sarung tangan yang saat ini digenggamnya untuk sementara waktu, sebelum mulai memakainya.
Jika sepasang sepatu listrik merah saja sudah memberi ia kemampuan luar biasa, maka dengan set tambahan sarung tangan ini, pasti akan memberi lebih banyak kemampuan berguna baginya.
*Bbbzzzzttt…!!!
*Blaaazzztttt…!!!
Bersamaan dengan Theo mengenakan sarung tangan, aliran listrik merah segera menyeruak keluar dari dalamnya. Aliran listrik yang begitu luar biasa ini, membuat dada Theo berdebar liar. Benar-benar bersemangat.
"Bagus, dengan sepasang set sepatu dan sarung tangan yang telah kau miliki saat ini, maka Kontrak secara resmi terjalin, kau akan terikat kontrak dengan set Armor legendaris milikku, dan memiliki kewajiban untuk menemukan 2 lainnya yang tersisa!" Kata Ernesto.
Mendengar kata-kata tersebut, Theo yang awalnya masih tampak bersemangat, sekarang mulai mengerutkan keningnya.
"Kontrak item? Bukankah itu hanya akan bisa terjadi bila item tersebut memiliki roh item di dalamnya?" Tanya Theo.
"Jangan bilang bahwa…" Lanjutnya lagi, kini tak mampu meneruskan kalimat yang akan ia ucapkan. Tatapan ngeri juga mulai nampak di wajahnya.
__ADS_1
"Itu benar, akulah roh item dari Armor legendaris! Hahahhahaha….!!" Jawab Ernesto.
"B4jingan! Tidak! Batalkan kontrak!" Maki Theo keras, setelah mendengar jawaban Ernesto.