
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Jamuan makan masih berlangsung meriah sampai kemudian seorang penjaga berjalan dengan langkah kaki bergegas memasuki aula.
"Tuanku!" Ucap sang penjaga.
"Hmmm… Ada apa? Bukankah sudah kubilang jangan ada yang mengganggu acara perjamuan?" Ucap Lucius.
"Maafkan saya! Namun, situasinya sedang mendesak! Kami tak tahu harus berbuat apa!"
"Ada beberapa utusan dari House of Asgard yang saat ini berada di depan pintu gerbang! Mereka memaksa masuk untuk bertemu dengan anda!" Kata sang penjaga.
Kata-kata dari sang penjaga, segera membuat Hella yang mendengar hal tersebut, seketika menolehkan wajah. Sedikit memasang ekspresi cemas.
Disisi lain, Theo yang menyadari perubahan ekspresi tiba-tiba Hella, kini mulai mengerutkan kening, merasa bahwa situasi saat ini berhubungan dengannya.
"Utusan dari House Asgard?" Gumam Lucius, sambil melirik kearah Hella. Kemudian ganti melihat kearah Theo.
Mendapat tatapan Lucius, Theo hanya mengangguk singkat, memberi tanda agar Lucius menerima kedatangan orang-orang ini.
***
(Beberapa saat kemudian)
"Salam pada Lord Lucius!" Ucap pemimpin utusan House Asgard, sambil berlutut di hadapan Lucius yang sedang duduk diatas singgasana.
"Silahkan berdiri!" Jawab Lucius singkat.
"Tuanku! Perkenalkan, nama saya adalah Baldur Asgard! Tetua kelima dari House of Asgard!"
"Atas perintah dari Lord Odin, tujuan saya datang kesini adalah untuk menjemput nona muda Hella agar ikut pulang dengan kami kembali ke House!" Ucap tetua kelima, memperkenalkan dirinya sekaligus juga tujuan ia datang berkunjung.
"Aku tak akan ikut denganmu! Aku tak akan pulang!"
Sebelum Lucius sempat memberi tanggapan apapun, Hella yang mendengar kata-kata Baldur, segera menolaknya.
"Nona muda! Ini adalah perintah langsung dari ayah anda! Beliau dan juga ketiga saudara anda, begitu merindukanmu, sehingga ingin anda pulang!" Jawab Baldur.
"Omong kosong! Kalian hanya ingin aku menikahi sampah itu bukan? Aku tak akan pernah menikah dengannya! Sampaikan pada si tua bangka Odin, jangan pernah berharap untuk bertemu lagi denganku!"
"Suruh ia membuat anak perempuan lain yang bisa ia nikahkan secara sembarangan!" Bentak Hella.
Mendengar kata-kata makian Hella, salah satu utusan yang datang bersama Baldur, segera menatapnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Hella! Jaga mulutmu! Sekali lagi kau menghina Lord Odin, aku sendiri yang akan memberimu pelajaran!" Dengus sang utusan.
Ia adalah seorang wanita muda dimana tampak hanya sedikit lebih tua dari Hella. Diseluruh tubuh wanita ini sendiri, terpasang lengkap seperangkat Armor berbentuk emas.
"Freya! Semenjak jadi anj!ng peliharaan tua bangka itu, kau telah benar-benar berubah menjadi sosok yang menyedihkan!"
"Jadi, berhenti bersikap seolah kau lebih kuat dariku! Bila ingin bertarung, maka maju sekarang juga! Kita lihat siapa diantara kita yang akan memberi dan diberi pelajaran!" Dengus Hella. Kini berdiri dari posisi duduknya.
"Kau…"
Mendengar kalimat provokasi Hella, gadis yang dipanggil Freya tanpa menunda segera mengeluarkan senjata berbentuk Tombak Emas dari dalam Spacial Ringnya.
"Freya, diam ditempat!"
Namun, belum sempat Freya yang tampak sudah sangat emosi mengambil langkah pertama, Baldur menghentikannya.
"Tetua! Dia sudah keterlaluan!" Dengus Freya.
"Biar aku yang menyelesaikan masalah ini!" Ucap Baldur seraya kemudian mulai menatap tajam kearah Hella.
Bersamaan dengan tatapan tajamnya tersebut, bola mata Baldur yang semula berwarna coklat, kini berubah menjadi sepenuhnya putih. Diiringi dengan hawa dingin intens menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.
*Kraakkkk….!!!
Tak lama kemudian, Hella yang menjadi target utama tatapan mata sang tetua, tiba-tiba terkurung dalam balok Es yang entah bagaimana dengan sekejap tercipta dari udara kosong.
"Waktunya pulang! Urusan kita telah selesai!" Ucap Baldur, begitu selesai mengurung Hella.
*Bammm…!!!
*Baaammmm…!!!
Sementara Hella yang terjebak, beberapa kali menggedor balok Es yang mengurungnya tersebut dari dalam.
Namun, berapa kalipun dan seberapa keraspun Hella berusaha, ia tak mampu memecahkannya. Hanya ekspresi wajah marah Hella yang kini dapat dilihat setiap orang. Suara teriakan kerasnya begitu membahana. Terlihat benar-benar tak terima.
"Freya, bawa nona muda!" Ucap tetua Baldur. Tampak tak peduli dengan teriakan keras Hella.
Mendapat perintah sang tetua, gadis bernama Freya hendak melangkah kedepan untuk melaksanakannya. Sampai kemudian, suara Theo menghentikan.
"Bila jadi kau, aku tak akan melangkah lebih jauh lagi!" Ucap Theo, dengan nada dingin. Aliran Mana Es intens, kini mulai menyeruak keluar dari dalam tubuhnya. Menekan balik aura milik tetua Baldur.
Aura serta tatapan tajam Theo, entah kenapa menginisiasi rasa takut tersembunyi di dalam hati Freya. Wanita yang tadi tampak mudah tersulut emosi ini, tiba-tiba merasa dingin di punggungnya. Tak berani meneruskan langkah kakinya.
"Keputusan yang bijak! Insting bertahan hidupmu benar-benar berfungsi dengan baik!" Gumam Theo. Begitu melihat langkah Freya terhenti. Kemudian mulai berdiri dan menyentuh Balok Es yang mengurung Hella dengan ujung jari telunjuknya.
"Harus kuakui, ini adalah segel yang cukup menarik!" Ucap Theo. Sebelum mulai menarik semua aliran Mana Es yang tadi sempat ia keluarkan, dalam sekejap menggantinya dengan aliran Mana Listrik.
*Bzzzzzttt…!!!
*Bzzzzzttt….!!!
Percikan Mana Listrik berwana biru terang, mulai menyala dan berderak pada ujung jari Theo. Sebelum kemudian percikan Mana listrik berubah semakin intens, menggelora keluar dari ujung jarinya. Bergerak cepat menyelimuti seluruh balok Es dengan suara derakan keras.
__ADS_1
*Blaaazzztttt…!!!!
*Krakk…!!!
*Kraaakkkk…!!!
*Kraaakkkk….!!!
*Pyaar….!!!
Dalam hitungan detik setelah dialiri dengan derakan listrik, balok Es mulai retak di beberapa bagian, berakhir pecah berantakan.
"Hahh…! Hahhh…! Hahh…! Terimakasih!" Ucap Hella, begitu terbebas dari kekangan Balok Es dengan nafas berat.
"Anak muda! Aku tak tahu siapa dirimu! Namun, kuperingatkan padamu, itu benar-benar tak bijak mencampuri urusan orang lain!" Ucap tetua Baldur. Menatap kearah Theo dengan kelopak mata masih sepenuhnya putih. Aura Mana Es juga semakin intens menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.
"Yang kau katakan itu sepenuhnya benar! Aku juga sependapat!"
"Namun, mohon maaf, Hella telah menyatakan untuk bergabung dengan kelompok yang kubentuk! Jadi, ini bukan lagi urusan orang lain, tapi urusanku juga!" Jawab Theo.
"Lancang! Freya, bawah nona muda pergi dari sini sekarang juga! Aku akan mengurus pemuda tak tahu diri itu!" Ucap tetua Baldur, dalam sekejap berubah menjadi kabut Es. Menghilang dari lokasi berdirinya semula.
*Bammm…!!!
Namun, hanya sesaat tetua Baldur menghilang, sosoknya sudah muncul kembali saat sebuah serangan menerjang.
"Hmmm… Master Estro!" Gumam tetua Baldur, begitu melihat sosok yang baru saja menyerangnya.
"Salam Master Baldur! Lama tak jumpa!" Jawab Master Estro.
"Freya!"
Melihat situasi berkembang menjadi tak menentu, tetua Baldur kembali berteriak, memerintahkan Freya untuk segera membawa pergi Hella yang tampak masih lemah setelah keluar dari balok Es.
Freya yang mendengarnya, dengan sigap mulai menerjang kearah Hella sambil melakukan segel tangan, tampak akan melakukan sebuah teknik rahasia.
*Baammmm….!!!
Namun, lagi-lagi langkah dari utusan House Asgard terhenti saat seseorang tiba-tiba menyerang Freya dengan tendangan keras.
"Calon suamiku menginginkan wanita ini tetap tinggal!" Ucap Gerel. Setelah melancarkan serangan pada Freya. Menatapnya dengan tatapan angkuh.
Bersamaan dengan kalimat yang diucapkan Gerel, seluruh anggota House Braveheart yang berada di aula utama kini mulai mengambil posisi berdiri. Mengunci aura masing-masing pada kelompok utusan House Asgard.
"Lord Lucius! Apa maksud semua ini?" Kata tetua Baldur. Dengan ekspresi wajah sangat marah.
"Masih bertanya tentang maksud? Kami House Braveheart tengah mengadakan jamuan penting! Sampai kemudian kalian datang secara tiba-tiba dan memaksa untuk bertemu!"
"Ketika aku mempersilahkan masuk, kalian justru membuat keributan di rumahku!"
"Dan yang paling kurang ajar! Orang-orang yang kalian serang adalah tamu terpenting kami dimana merupakan alasan utama House Braveheart melakukan jamuan kali ini!"
"Masih perlu penjelasan lebih?" Ucap Lucius, dengan nada yang sangat dingin serta tatapan tajam.
__ADS_1
"Selama berada di wilayah House Braveheart, tak akan ada yang bisa menyentuh tamu kami!"