Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
205 - Situasi Jasia


__ADS_3

Catatan penulis :


Selamat malam, dalam catatan kali ini, penulis cuma kembali sedikit mengingatkan, bahwa sabtu besok, bersamaan dengan rilis chapter terbaru, akan saya umumkan pemenang dari event Spin Off.


Pemenangnya adalah 3 besar vote tertinggi (Yang telah memfollow back saya, untuk keperluan komunikasi) dan juga 3 pembaca beruntung yang saya pilih dari kolom komentar.


Spin off yang tersedia ada enam, pemenang event bisa memilih satu diantaranya :


Issabela Alknight : Bertambah kuat.


Jasia : Petualangan di Jurang Misterius. (1)


Jasia : Petualangan di Jurang Misterius. (2)


Desa Tersembunyi : Tim Penjelajah


Dark Guild : Keputusan Santiago


Issabela Alknight : Roh item (1)


Spin off yang penulis buat, akan selalu berhubung dengan cerita utama, jadi mereka yang memenangkan event, secara eksklusif akan bisa menikmati beberapa kisah yang tak sempat penulis jabarkan di alur utama. ^^


Sekian catatan kali ini, selamat membaca chapter terbaru ^^


------


(Medan tempur Barat, House Alknight+Bubu dan kawanannya V.S Kelompok Elite House Estrabat)


"Baj1ngan tengik! Kalau aku tercela, lalu apa sebutan yang pantas bagi kalian berdua!" Bentak Bethany marah.


"Ohh… apa yang salah? Kenapa begitu marah?" Tanya Lord Bernard, dengan ekspresi wajah polos yang di buat-buat.


"Masih berani bertanya? Kalian dua pria tua tak tahu malu! Menyerang seorang gadis dengan serangan kombinasi menyelinap dari arah belakang!"


"Dan setelah melakukan itu! Masih berani mengataiku sebagai orang tercela? Kau adalah sumber semua kegercelaan di dunia!" Bentak Bethany lagi. Terlihat semakin kesal dengan sikap sok polos yang ditunjukkan Lord Bernard.


"Hahhahaha… wanita muda! Aku adalah Bernard Wild! Seorang pria yang tak memandang ukuran gender pria dan wanita dalam sebuah pertarungan!"


"Bagiku pria atau wanita sama saja! Begitu mereka menjadi lawanku! Maka akan kukerahkan semua yang kupunya dalam pertarungan tersebut!"

__ADS_1


"Tapi ada satu hal yang paling kubenci! Itu adalah seorang Knight yang bermain-main dengan lawannya!"


"Bila memang kau merasa lebih kuat dari lawanmu! Maka seharusnya kau habisi dia dengan cepat! Tak perlu menyiksa apalagi mempermalukannya seperti itu! Tindakanmu barusan sungguh tercela dimataku!" Kata Lord Bernard, menutup kata-katanya dengan intonasi nada penuh kemarahan pada setiap kalimatnya.


Namun, berlainan dengan intonasi nadanya yang terdengar marah, ekspresi wajahnya justru menunjukkan seringai lebar. Kombinasi dari ekspresi diri yang sangat aneh, cenderung eksentrik.


"Pria tua yang aneh! Dengan prinsip hidup yang aneh pula!" Dengus Bethany. Kemudian mulai merilis aura kelas King miliknya.


"Itu terserah padaku bagaimana harus memperlakukan lawan-lawan yang telah kukalahkan!Didunia ini! Yang kuat bebas melakukan apapun kepada mereka yang lebih lemah!"


"Jadi, berhenti bersikap sok senior di hadapanku! Bagiku, umur hanyalah angka! Bila kau lebih lemah dariku! Maka semua kata-kata yang kau ucapkan hanyalah sekumpulan sampah!"


"Hanya seorang General tahap surga! Berani sok kuasa di hadapanku yang seorang King? Sekarang biar kuajarkan padamu, bagaimana prinsip dunia ini bekerja!" Dengus Bethany. Sambil membuat segel tangan cepat.


*Buuuufffff…..!!!!


Bersamaan dengan selesainya segel tangan yang di buat Bethany, kepulan asap putih mulai menyebar di lokasi yang berada tak jauh di hadapannya. Dan begitu kepulan asap ini mereda, sosok Siput Cangkang Besi Beracun, Spirit Beast kontrak milik Bethany yang awalnya berada di lokasi berbeda medan pertempuran, muncul di hadapan Lord Bernard dan juga Lord Arduric.


"Bubu?"


Melihat Spirit Beast raksasa ini muncul di hadapannya lagi, terlebih terlihat masih dalam keadaan cukup bugar tanpa luka, Jasia langsung merasa cemas dengan Bubu dan kawanannya yang sebelumnya menghadapi Siput tersebut.


Dengan cepat ia kemudian menoleh kearah lokasi pertempuran Bubu dan sang Siput sebelumnya.


Jasia segera berteriak parau saat pandangannya sampai pada tubuh raksasa Bubu yang saat ini sudah berhenti mengeluarkan aliran Mana api ganas pada bulu-bulunya.


Bubu terkapar penuh luka berwarna hijau. Bulu lebatnya yang sebelumnya berwarna merah membara, sangat mempesona, sekarang terlihat hampir seluruhnya melepuh. Ditambah dengan nafasnya yang putus-putus, terlihat bisa meregang nyawa kapan saja bila tak segera mendapat perawatan, kondisi kera ini tampak sangat mengenaskan.


Selain Bubu, hampir seluruh kawanan kera kecil anak buahnya, sekarang juga sedang dalam kondisi yang sama.


"Sialan! Kau bedebah!" Teriak Jasia penuh kemarahan kearah Bethany, sebagai pemilik dari Spirit Beast Siput Cangkang Besi Beracun, Jasia tentu hanya bisa meluapkan semua amarahnya akibat kondisi mengenaskan Bubu, pada wanita tersebut.


Meskipun Jasia dan Bubu tak kenal terlalu lama, tapi gadis ini sudah menganggap Bubu serta kawanannya sebagai teman, sahabat, bahkan saudara. Bagaimanapun juga, kera-kera ini telah menemaninya dalam beberapa peristiwa genting yang berbahaya ketika Jasia sedang melakukan pelatihan tertutup di Jurang Misterius.


Di tambah dengan bagaimana para kera terus memberinya pisang merah darah, yang berperan penting dalam proses latihannya, dimana dengan sumber daya ini pula yang akhirnya membuat Jasia bisa naik dengan cepat dari kelas Immortal ke kelas General dalam waktu singkat. Sehingga ia mampu mencapai target yang di berikan oleh tuan mudanya.


Semua hal tersebut, membuat Jasia telah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tak akan melupakan jasa para kera ini. Dia berusaha memberikan pertemanan tulus pada mereka, menganggap kawanan kera bukanlah Spirit Beast liar. Hal ini pula yang menyebabkan Jasia tak bisa menolak, atau mengusir para kera, saat mereka mengikuti Jasia keluar dari dalam Jurang Misterius.


Kini, melihat teman-teman yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, berakhir dalam kondisi sangat menggenaskan, Jasia menjadi marah besar. Rasa marah yang tak tertahankan tersebut, menyebabkan aliran Mana api liar, tiba-tiba mulai meletup-letup dari dalam tubuh Jasia secara tak terkendali.

__ADS_1


"Aaaarrrrggggg……!!!!"


Bersamaan dengan mulai menyala dengan liarnya aliran Mana api yang ada di dalam tubuh Jasia, gadis ini juga mulai berteriak lantang.


"Hmmm… gadis muda?" Seru Lord Bernard dengan nada cemas, saat melihat kondisi tak stabil yang terjadi pada tubuh Jasia.


"Jasia! Apa yang terjadi? Tenangkan dirimu!" Lord Arduric yang juga melihat kondisi Jasia, ikut berteriak cemas.


Namun, belum sempat keduanya melakukan langkah untuk memeriksa kondisi gadis muda di hadapan mereka….


"Siput Cangkang Besi! Lendir beracun!"


Bethany yang dari tadi sudah siap melakukan serangan, tanpa menunda waktu terlalu lama lagi, akhirnya benar-benar mengambil langkah pertama untuk menyerang lebih dahulu.


"Guuuhhhhhh….!!!"


Siput Cangkang Besi Beracun yang mendengar intruksi dari Bethany, tampak bergumam untuk beberapa saat, sebelum mulai menyemburkan lendir beracun berwarna hijau dari dalam mulutnya. Menyiprat keberbagai arah dengan liar.


*Sprooouuttt….!!!


*Sprooouuuttt …!!!


*Sprroooouuuttt…!!


Namun, begitu lendir beracun terlempar keluar dari dalam mulut sang siput, tanpa ada seorangpun yang menduga, Jasia yang sebelumnya sudah dalam kondisi terluka parah karena efek dari racun yang ia terima dari Bethany, kini justru mulai berdiri tegap.


Dengan tubuh yang terbakar oleh api memebara, Jasia kemudian melakukan lompatan besar, maju menerjang kedepan, menyambut datangnya lendir hijau beracun.


Melihat hal itu, Lord Bernard serta Lord Arduric yang benar-benar tak menduga bahwa situasi akan berubah menjadi rumit seperti ini, menjadi bingung, harus bertindak seperti apa.


Mereka harus berfikir cepat dalam hitungan detik, menentukan bagaimana menghindari lendir beracun, sekaligus menyelamatkan Jasia yang sedang dalam kondisi tak terkendali.


Karena waktu terbatas yang mereka miliki, kedua Lord ini akhirnya memilih untuk melakukan gerakan mundur menghindari lendir beracun, tak bisa memikirkan langkah apapun untuk menyelamatkan gadis muda di hadapan mereka yang tengah menggila dengan Mana api liarnya yang ganas.


"Hmmm… situasi yang benar-benar tak terduga!" Dengus Lord Bernard.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini! Aku seperti merasa bahwa aura Mana api liar yang tiba-tiba keluar dari tubuhnya itu, adalah sesuatu yang familiar!" Kata Lord Arduric.


"Hmmm… jadi kita memikirkan hal yang sama! Tapi itu sungguh tak mungkin bukan?" Tanya Lord Bernard.

__ADS_1


"Yahh… itu tak mungkin! Bagaimana bisa seorang manusia jatuh kedalam kondisi Berserk?" Jawab Lord Arduric. Sambil menatap aneh kearah Jasia.


Menurut pandangan dua Lord tua ini, kondisi Jasia adalah sesuatu yang mirip dengan situasi Berserk yang hanya dimiliki oleh Spirit Beast maupun Demonic Beast. Dimana mereka mengeluarkan seluruh energi kehidupannya untuk melakukan serangan pamungkas ketika sedang dalam kondisi terdesak dan tak punya harapan lagi.


__ADS_2