
Catatan Penulis :
Selamat malam kawan-kawan. Kali ini, penulis mau sedikit membuat pengumuman. Karena sebentar lagi kita akan menyambut hari raya Idul Fitri, maka untuk merayakannya, dalam satu minggu kedepan, dimulai dari hari ini, tiap harinya penulis akan merilis 2 chapter.
Itu saja pengumumannya, terima kasih ^^
---------
"Jadi, diantara kalian, siapa dulu yang akan maju? Atau kalian berdua bersamaan juga tak masalah!" Kata Theo, senyum menyeringai seperti penjahat jalanan mulai menghiasi wajahnya.
"Dasar sombong!" Bentak Aurega, terlihat sangat geram.
"Aku akan melawanmu lebih dahulu!" Namun sebelum Aurega melanjutkan kata-katanya, Armadilo memotong nya dan maju kedepan dengan sekali loncat.
Aurega yang melihat Armadilo maju mendahuluinya kini terlihat semakin kesal. "Kau, lagi-lagi kau ingin mencuri kejayaanku! Tak akan kubiarkan!" Aurega ikut maju kesamping Armadilo.
"Hmmmm… apa yang coba kau lakukan? Aku yang lebih dahulu maju!" Bentak Armadilo.
"Tutup mulutmu! Aku yang pertama kali mengajukan tantangan!" Aurega membentak balik.
Melihat dua pemuda di hadapannya seperti menganggap Theo adalah makan siang gratis yang bisa di perebutkan begitu saja. Seringai di wajahnya semakin melebar. Auranya mulai sedikit bocor.
Merasakan Aura Theo, Kedua ketua di sampingnya segera melihat kearahnya. "Tuan muda, tolong jangan terlalu berlebihan kepada mereka, bagaimanapun juga, mereka adalah bakat muda yang kedepannya menjadi penopang pondasi desa kami." Kata ketua Arsegio.
"Senior, jangan khawatir, aku mengerti. Kedepan aku ingin menjalin hubungan erat dengan desa kalian." Kata Theo.
"Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran berharga pada dua pemuda ini, untuk bisa lebih menghormati kedua senior yang terhormat." Kata Theo mantap, melanjutkan kalimatnya.
Mendengar jawaban Theo, kedua ketua hanya bisa tersenyum lega mengetahui dia tak memasukkan kedalam hati masalah ini.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih. Jadi siapa dari kedua pemuda ini yang ingin kau lawan terlebih dahulu?" Tanya ketua Aurelas.
Mendapat pertanyaan tersebut, Theo tidak memberi jawaban langsung, melainkan melakukan lompatan tinggi, kemudian mendarat dengan mantap tak jauh di hadapan kedua pemuda penantangnya yang masih terlibat perdebatan.
"Aku akan melawan kalian berdua secara bersamaan!" Kata Theo santai, ketika berada di hadapan kedua pemuda.
Mendengar hal itu, ketua Aurelas menjadi sedikit khawatir. Bagaimanapun juga, kedua pemuda desa mereka ini sama-sama telah mencapai kelas Immortal Bumi juga seperti Theo. Meskipun Theo adalah pemuda yang lebih berbakat, karena lebih muda dua tahun dari kedua pemuda ini, namun tetap saja melawan dua Knight dari kelas yang sama secara bersamaan adalah hal yang sulit.
Ketua Aurelas segera ingin berbicara untuk menghentikan Theo, namun Aria di sebelahnya menghentikannya.
"Biarkan dia melakukannya." Kata Aria singkat.
Berbeda dengan kedua ketua, Aria telah memperhatikan dan bersama Theo sedikit lebih lama, dia sudah beberapa kali melihat Theo mampu melawan Spirit Beast atau Knight yang kelasnya berada diatasnya, dan mampu berada dalam posisi yang tak dirugikan sama sekali.
"Nona muda?" Kali ini ketua Arsegio yang hendak menyanggah. Namun Aria segera memotongnya.
"Knight penjaga desa kalian, yang memiliki Spirit Beast kontrak burung Walet, berada dalam kelas apa dia?" Tanya Aria.
"Hmmm… asal kalian tahu, Theo berhasil menahannya dalam kondisi imbang, ketika masih berada di kelas Pioner tahap akhir." Kata Aria. Dengan ekspresi acuh tak acuh.
Mendengar hal itu, kedua ketua sekarang ingat bahwa Aurelio penjaga yang di maksud oleh Aria, memang pernah menyebut hal ini. Sekarang mereka tahu dari mana sumber kepercayaan diri Theo. Belum lagi fakta bahwa Theo bisa menghadapi tubuh Hydra yang telah membelenggu desa mereka selama ribuan tahun.
Ketua Aurelas sekarang mulai memasang senyum hangat lagi, ini adalah kesempatan yang bagus menurutnya untuk memberi pelajaran bagi dua orang bocah nakal desa mereka, yang memang sering membuat kekacauan ini. Kesempatan yang bagus untuk memberi tahu mereka, diatas langit masih ada langit.
Sejurus kemudian dia melompat ketempat Theo serta kedua pemuda berdiri, mendarat sebentar, dan tanpa berkata-kata mulai membentuk segel tangan. Formasi besar segera muncul begitu dia selesai membentuk segel tangan. Menyingkirkan setiap orang yang berada di radius beberapa meter dari lokasi.
"Arena sudah di bentuk, aku yang akan bertugas sebagai wasit. Dengan ini, aku sebagai salah satu ketua Klan, memberi persetujuan untuk diadakannya tradisi tantangan. Dua lawan satu, antara Theodoric Alknight dari House of Alknight, melawan Aurega dan Armadilo dari Klan Arsega dan Klan Asura!" Kata ketua Aurelas lantang, memecah keheningan.
Bersamaan dengan pengumuman ketua Aurelas, suasana segera menjadi riuh kembali, tabuhan gong, gendang, dan suara melengking dari sangkakala besar terbuat dari bambu yang awalnya digunakan untuk alat musik pesta, menggema kembali. Kali ini untuk mengiringi pertarungan.
__ADS_1
"Seenaknya sendiri memutuskan!" Aurega tampak tak puas dengan pertarungan dua lawan satu. Ia ingin pertarungan adil satu lawan satu.
"Sebaiknya kau tidak mengganngu! Bocah ini milikku!" Armadilo di sebelah Aurega ikut berkomentar.
Theo yang melihat dua pemuda ini kembali berdebat, mulai memasang seringai penjahat jalanannya lagi, dan tanpa peringatan segera mengeluarkan Medan Gravitasi.
Kedua pemuda yang terjangkau oleh area Medan Gravitasi, dalam sekejap merasa suatu tekanan besar yang sangat berat menimpa tubuh mereka. Seketika mereka kesusahan menahan tubuh mereka untuk tetap berdiri tegak.
"Apa ini?" Aurega mengerutkan wajahnya, ekspresinya berubah buruk.
"Kurang ajar, trik apa yang kau gunakan?" Armadilo ikut berkomentar. Berteriak kearah Theo.
Setelah memasuki kelas Immortal Bumi, Theo sekarang memiliki kendali yang lebih baik dalam menggunakan Mana Gravitasinya, membuat Area Medan Gravitais semakin meluas dan mampu bertahan lebih lama.
"Hahahhaa.… Trik? Yah bisa dibilang ini memang trik, terus kenapa? Pelajaran pertama yang akan kuberikan pada kalian! Semakin banyak trik yang dimiliki seorang Knight dalam lengan bajunya. Semakin tak terduga pula kemampuan Knight tersebut." Kata Theo, dia mulai berjalan santai dan perlahan mendekati Aurega dan Armadilo.
Ketika Theo semakin mendekati keduanya, Aurega dan Armadilo merasa tekanan yang menimpa mereka juga semakin berat. Hal ini bukan hanya mengejutkan kedua pemuda, ketua Aurelas yang juga berada di lokasi, sedikit banyak merasakan tekanan yang sama. Namun dia masih mampu menahannya. Kini dia semakin melihat Theo dalam cahaya baru, penuh kekaguman.
"Sungguh pemuda yang penuh kejutan." Komentar ketua Aurelas.
Berbeda dengan sang ketua, Aurega dan Armadilo justru sekarang memasang wajah ngeri melihat Theo yang berjalan semakin dekat kearah mereka.
Dan ketika Theo sudah benar-benar berada di hadapan mereka, aura tekanan yang bertambah berkali lipat membuat mereka tak mampu lagi menahan kakinya, mereka jatuh berlutut di hadapan Theo.
Pemandangan dua pemuda paling berbakat di desa yang tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Theo, segera membuat suasana riuh kembali hening.
Dalam keheningan yang tiba-tiba terjadi, kali ini Theo memandang kedua pemuda yang berlutut dihadapannya dengan tatapan penuh ketajaman, seringainya menghilang.
"Dengarkan aku, pelajaran kedua. Sebelum benar-benar meninjau dan mengukur kekuatan lawanmu dengan benar, jangan sekali-kali meremehkannya."
__ADS_1
"Aku, makan siang gratis yang sebelumnya kalian perebutkan, sekarang bahkan bisa mengalahkan kalian berdua tanpa menggunakan ujung jariku sama sekali." Kata Theo dingin.
"Pelajaran terakhir. Kedepan bila kalian keluar dari desa ini untuk pertama kalinya, dan secara tak sengaja bertemu dengan Serigala penyendiri. Jangan berfikir untuk mempermainkannya!" Theo menutup kata-katanya dengan sorot mata cemerlang penuh ketajaman.