
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmmmm… berhenti memasang ekspresi seperti itu! segera periksa gua yang ada disana! Seperti yang kau duga, di dalam pasti ada bunga Udumbara Embun yang legendaris!" Kata Tiankong.
"Aku tau itu, tapi aku perlu mempelajari pola dari keluarnya Kabut yang ada di dalam sana." Jawab Theo.
"Dari tadi kau ngapain? Sudah jelas itu keluar tiap 30 menit kan!" Dengus Tiankong.
"Benarkah? Hahaha.. aku baru saja mau mempelajari polanya setelah ini." Jawab Theo canggung. Ternyata dari tadi, sambil mengamati, Tiankong sudah sekalian mempelajari polanya.
"Kalian berdua, tunggu disini sebentar, aku akan memeriksa kedepan!" Kata Theo kemudian, kepada Aria dan Arthur.
"Tidak, aku ikut denganmu!" Jawab Aria singkat, menolak intruksi Theo.
"Boss, aku juga ikut! Apa kau masih berfikir aku takut?" Dengus Arthur, tak puas disuruh hanya menunggu.
"Hahh… terserah kalian saja! Namun ingat, kalau sesuatu terjadi diluar kendali, jangan ada yang berpisah, tetap merapatkan diri!" Kata Theo kemudian.
Bagaimanapun juga, masalah utamanya adalah Kabut Mistis Abadi yang keluar dari dalam gua, kalau sampai salah satu dari mereka terbawa kabut. Itu akan sangat menyusahkan.
Oleh karena itulah, Theo sebenarnya ingin pergi seorang diri saja. Dia merasa akan lebih mudah bergerak secara leluasa bila seorang diri. Namun karena kedua orang ini bersikeras tidak mau tinggal, dia tak punya pilihan lain. Lagi pula, percuma berdebat lebih lanjut, karena dia tau dua orang ini sangat keras kepala.
Theo kemudian secara ringkas menjelaskan bagaimana pola keluarnya kabut di dalam gua tersebut kepada Aria dan Arthur. Dan setelah merasa keduanya telah siap, dia menunggu sebentar sampai gelombang kabut berikutnya keluar.
**
"Baik, sekarang saatnya, bergerak secepat yang kalian bisa, waktu kita cuma kurang dari 30 menit untuk memeriksa!" Kata Theo, kemudian tanpa menunda lagi bergerak cepat memasuki gua, diikuti Aria dan Arthur setelahnya.
Meskipun memang ada jeda 30 menit untuk setiap gelombang kabut yang keluar dari dalam gua, kedalamanan gua sendiri masihlah belum diketahui. Jadi, Theo belum bisa memastikan, apakah waktu 30 menit itu cukup untuk masuk dan menemukan bunga Udumbara Embun yang ia cari. Itupun juga belum dihitung waktu untuk keluar dari dalam gua lagi, sampai gelombang kabut berikutnya datang.
"Boss gua ini lumayan dalam, dan benar-benar sempit!" Kata Arthur, setelah beberapa menit bergerak memasuki gua.
Seperti kata Arthur, gua ini ternyata bukanlah gua yang dangkal, dan tak seperti gua-gua pada umumnya yang akan melebar serta memiliki beberapa cabang di bagian dalamnya, gua ini sendiri memiliki ukuran ruang yang secara konstan tetap sama seperti bagian pintu masuknya.
__ADS_1
"Hmmm… sepertinya memang tak akan sempat!" Kata Theo, setelah hampir 30 menit bergerak menyusuri gua, namun belum juga sampai di ujung gua tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi gelombang kabut itu akan datang lagi!" Kata Aria.
"Hmmm….." Theo terlihat berfikir sejenak, namun belum sempat dia menyampaikan idenya, gelombang kabut yang mereka khawatirkan, mulai terlihat di hadapan mereka.
"Boss… itu datang, itu datang! Cepat lakukan sesuatu!" Teriak Arthur ketika melihat gelombang kabut merambat dengan cepat kearah kelompok mereka.
"Hahh…." Theo mendengus sebentar, sebelum mulai mengetuk ujung sepatunya ke tanah beberapa kali.
*Dugg… dug.. dug..
*Bzzztt…. Bzzztt… bzzztt..
Listrik merah menyalah terang di kedua sepatunya. Dan sesaat sebelum gelombang kabut menerpa kelompoknya, dia meraih Arthur dan Aria. Kemudian menggunakan sepatu kelas Illahinya untuk bergerak sangat cepat keluar dari dalam gua.
*Bzzztt….
Dengan bunyi derakan ringan listrik merah, kelompok mereka dalam sekejap mata, kembali ke posisi awal sebelum memasuki gua.
"Hoeeekk…..!!!!"
Arthur segera mual dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya, begitu Theo melepaskan tangannya. Sementara Aria, juga tak terlihat begitu baik, dia tampak linglung beberapa saat, kemudian jatuh terduduk ditanah.
"Hoeeekkk…..!!!" Arthur kembali memuntahkan sisa makanannya setelah berkata demikian.
Berbeda dengan Arthur, Aria yang biasanya cerewet dan suka mengeluh, hanya diam saja. Dia tampak masih linglung dengan bibir putih memucat.
"Kenapa kalian ini?" Theo yang merasa aneh dengan kondisi kedua orang dihadapannya, bertanya heran.
"Itu normal, mereka cuma punya tubuh manusia biasa, tak seperti tubuhmu yang telah di tempa oleh baptisan ribuan Petir Ungu, serta di lebur oleh Mana Besi Kuno."
"Oleh karena itu, bergerak dengan kecepatan seperti tadi, pasti membebani tubuh mereka!" Kata Tiankong.
"Hmmm... Lalu kenapa senior Alejandro tak memiliki kondisi seperti mereka?" Tanya Theo heran, sebelumnya juga dia membawa Alejandro dengan teknik gerakan sepatu kelas Illahinya.
"Kau bodoh atau apa? Jangan samakan tubuh seorang dengan kelas King dengan tubuh mereka berdua!"
"Idiot..!!" Tiankong memaki Theo kesal, karena memberi pertanyaan bodoh.
"Hehehe.. Master, santai sedikit, bagaimana bisa aku tahu, aku kan belum mencapai tahap seorang King!" Jawab Theo polos, sambil menggaruk kepalanya.
"Hahh.. lupakan! Setelah ini bergerak sendiri saja! Mereka benar-benar membebanimu!" Dengus Tiankong.
__ADS_1
"Baik!" Jawab Theo singkat, kemudian mulai mengambil posisi duduk dan mengeluarkan beberapa Mutiara Mana. Dia mulai mengisi simpanan Mananya lagi yang terserap habis dalam seketika karena menggunakan sepatu kelas Illahinya.
***
(Pagi hari, keesokannya)
Theo yang telah selesai mengisi seluruh simpanan Mananya, kini tampak bersiap kembali memasuki gua.
"Kali ini aku akan benar-benar bergerak sendiri, jangan ada yang ikut!" Kata Theo. Kepada Aria dan Arthur yang masih tampak tak sehat, dengan kulit wajah memucat dihadapannya.
Tak seperti sebelumnya, Arthur dan Aria sama sekali tak protes. Saat ini, bahkan bila Theo memaksa mereka ikut, mereka pasti akan menolaknya mentah-mentah. Keduanya tak berniat sama sekali merasakan sensasi dibawah Theo bergerak sangat cepat menggunakan sepatu Illahinya lagi.
"Hmmm…." Mendengar tak ada jawaban, Theo hanya mendengus ringan, kemudian mulai bergerak cepat kedalam gua.
***
(30 Menit kemudian)
*Bzzzttt…..
Listrik merah kembali berderak. Theo muncul lagi di hadapan Arthur dan Aria dengan tangan kosong.
"Sialan, masih juga tak sempat! Padahal aku sudah melihat pintu masuk gua lainnya!" Dengus Theo kesal.
Dia kemudian kembali mengambil posisi bersila, mengeluarkan beberapa simpanan Mutiara Mana Perak, kembali mengisi Mananya.
***
(Keesokan harinya lagi)
"Boss.. apa kau akan terus mencobanya?" Tanya Arthur, saat melihat Theo bersiap akan memasuki gua lagi. Kondisinya kini terlihat sudah membaik.
"Yahh… aku tak mau melepaskan kesempatan ini! Itu adalah bunga Udumbara Embun yang legendaris, kapan lagi kau akan mendepatkan kesempatan seperti ini!" Kata Theo.
Setelah berkata demikian, dia kembali bergerak cepat memasuki gua.
**
(30 menit kemudian)
*Bzzzztt….
"Sialan…!!! Kenapa aku merasa teknik gerakanku sangat tak berguna!" Teriak Theo kesal, ketika kembali gagal mencapai kemajuan dalam percobaannya.
__ADS_1
Tanpa menunda, dia kembali mengambil posisi untuk mengisi simpanan Mana di Element Seednya.