
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Kami akan pergi dari sini! Jangan halangi!" Jawab sang bocah. Masih dengan tatapan tajamnya kearah Theo.
Kata-kata sang Bocah, kini segera menarik perhatian anggota Bandit Serigala lain yang sebelumnya masih sibuk merenung. Mereka menatap lekat kearah dua bocah di hadapannya. Sebelum melihat kearah Theo, penasaran apa yang akan di lakukan Boss nya ini kepada bocah yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Pergi dari sini? Apa kau yakin?" Tanya Theo.
"Yakin!" Jawab sang bocah, cepat dan singkat tanpa keraguan.
"Ohhh… Benarkah? Seorang bocah kecil, bersama dengan Gadis kecil lainnya, ingin melakukan perjalanan mengarungi gurun pada malam hari?"
"Kau benar-benar yakin?" Tanya Theo lagi.
Pertanyaan terakhir Theo, segera membuyarkan ekspresi keyakinan pada wajah sang bocah. Seketika ia tampak ragu. Namun, keraguan itu hanya bertahan untuk beberapa saat sampai kemudian kembali diganti dengan ekspresi penuh keyakinan.
"Yakin! Itu lebih baik dari pada harus bersama rombongan Bandit!" Jawab sang bocah.
"Baiklah kalau begitu! Silahkan pergi!" Jawab Theo Singkat. Tampak tak peduli. Kemudian segera mengambil posisi duduk. Kembali meneruskan kegiatan menyalin buku yang tadi sempat terhenti.
Melihat itu, sang bocah tampak sedikit tertegun, benar-benar tak menyangka Theo akan melepaskannya begitu saja. Namun, setelah tertegun untuk beberapa saat. Sang bocah segera menarik gadis kecil untuk meninggalkan tempat. Keduanya berjalan cepat bergandengan tangan tanpa menoleh kebelakang, memasuki kegelapan gurun. Seolah khawatir Theo akan merubah keputusannya.
"Boss! Apa tidak apa-apa? Meskipun bocah itu keturunan Suku Osiris yang legendaris, tapi tetap saja saat ini dia masih terlalu lemah!"
"Sementara gurun dimalam hari adalah tempat yang sangat berbahaya!" Tanya Thomas. Merasa khawatir pada dua bocah kecil yang baru saja pergi.
"Hmmm… Bukankah baru saja kukatakan untuk tak meragukan keputusanku?" Gumam Theo, menjawab pertanyaan Thomas dengan pertanyaan balik.
"Baiklah!" Jawab Thomas singkat. Tak berani bertanya lagi.
***
__ADS_1
(Setengah jam kemudian)
"Hmmm… Kenapa kembali?" Tanya Theo, sambil melirik kearah salah satu sudut gelap Gurun tak jauh di hadapannya.
Pertanyaan tiba-tiba Theo, segera membuat keempat Bandit lain yang sebelumnya sibuk menghitung hasil rampokan, kini ikut melihat kearah yang di lirik Theo.
Tak lama kemudian, dari arah tersebut, bocah kecil yang kini tampak memiliki luka parah pada kaki kirinya, berjalan pincang keluar dari kegelapan sambil menggandeng gadis kecil.
"Kami memutuskan untuk pergi ketika sudah terang!" Jawab sang bocah.
"Ohh… Baiklah! Ambil tempat yang menurutmu nyaman!" Jawab Theo singkat, tanpa menoleh.
"Hmmm…!" Jawab sang bocah. Kemudian mulai mengambil satu langkah kedepan. Tapi belum sempat ia mengambil langkah kedua, tubuhnya tiba-tiba mulai roboh.
Kejadian ini membuat gadis kecil yang sedang berada dalam gandengannya, dengan panik berusaha menopang tubuh sang bocah. Namun usaha untuk membantu kawannya, justru membuat tubuh kecilnya ikut jatuh.
"Hei…!!!"
Thomas yang melihat dua bocah kecil jatuh terjerembab ditanah, segera berseru kaget, tanpa menunda ia mulai berdiri, ingin membantu keduanya.
"Thomas! Lanjutkan saja menghitung harta!"
Namun, Theo dengan cepat memberi intruksi agar Thomas mengabaikan kedua bocah tersebut. Membuat Thomas yang sudah berdiri, kini kembali duduk, sambil tetap memandang khawatir pada bocah kecil yang kini wajahnya mulai memucat.
Mendengar itu, Thomas akhirnya kembali meneruskan menghitung harta. Namun beberapa kali ia menatap kearah sang bocah, dengan tatapan yang seolah berkata agar sang bocah meminta bantuan.
Tatapan peduli Thomas, nyatanya justru disambut dengan tatapan sengit oleh bocah tersebut. Entah kenapa ia tampak bersikeras untuk tak mau meminta bantuan apapun dari orang-orang di hadapannya.
Sambil mempertahankan tatapan sengit kearah kelompok di depannya, sang bocah kemudian mulai kembali berusaha berdiri. Dibantu oleh gadis kecil.
Dan setelah dengan usaha keras, sang bocah akhirnya berhasil berdiri, ia tampak akan kembali melangkah kedepan, namun justru berakhir dengan sekali lagi terjungkal ketanah. Kali ini menarik gadis kecil yang menopangnya, untuk ikut jatuh bersamanya dengan cukup keras.
"Biarkan aku memberimu sedikit saran! Berhenti mencoba berdiri sekali lagi! Atau itu akan membuat racun di tubuhmu menyebar lebih cepat!" Kata Theo. Masih tanpa menoleh kearah sang bocah. Sibuk menyalin buku.
Mendengar kata-kata Theo, meskipun sang bocah lelaki masih memasang ekspresi tak peduli, itu berbeda dengan bocah perempuan yang bersamanya, kini ia tampak menjadi semakin panik.
"Tuan Bandit! Apakah kau bisa menolong temanku ini?"
Dalam kepanikannya, sang gadis kecil akhirnya meminta pertolongan pada Theo.
"Itu tergantung, disini aku tak mendengar bocah itu meminta bantuan! Jadi tak ada alasan bagiku untuk ikut campur urusan kalian!" Jawab Theo.
__ADS_1
"Kau dengar itu! Dia bisa membantumu!" Seru gadis kecil pada temannya.
"Hmmmm….!"
Namun, seruan sang gadis kecil, hanya dijawab dengan dengusan singkat oleh kawannya. Tampak tak mau meminta bantuan apapun pada Theo.
"Kenapa begitu keras kepala! Apapun itu tujuanmu yang membuat kau begitu keras kepala, semua akan sia-sia bila kau mati! Bukankah kau masih ingin balas dendam?" Bentak gadis kecil.
Mendengar kata-kata gadis kecil, sang bocah tampak ragu sejenak, sebelum kembali menatap sengit kearah Theo.
"Berhenti bersikap keras kepala kau bodoh!"
Melihat tatapan sang bocah, kini sang gadis kecil bukan hanya membentak, tapi mulai menangis tersedu-sedu sambil memukul pundak kawannya berkali-kali.
Tangisan gadis kecil, membuat sang bocah yang awalnya tampak masih teguh dengan pendiriannya untuk tak meminta bantuan, kini mulai memasang ekspresi wajah khawatir.
"Jangan menangis!" Kata sang bocah.
"Kalau begitu cepat minta bantuan! Kau bilang akan selalu melindungiku! Bagaimana akan melindungi ku bila kau mati!" Kata sang gadis. Masih dengan linangan air mata.
"Tolong!" Kata sang bocah kemudian, sangat lirih. Tanpa menoleh kearah Theo.
Mendengar sang bocah akhirnya meminta bantuan, Thomas yang dari tadi sudah tak tahan, kini segera berdiri. Diikuti oleh tiga orang Bandit lainnya. Namun…
"Aku tak mendengarnya!" Ucap Theo tiba-tiba.
Ucapan Theo ini, seketika membuat langkah Thomas dan yang lainnya kembali terhenti.
"Bocah sialan! Berhenti besikap keras kepala! Minta bantuan dengan benar sekarang juga!" Bentak Thomas, sudah tak tahan lagi dengan situasi menggemaskan di hadapannya.
Mendengar itu, sang bocah tampak menggertakkan gigi dengan keras. Sebelum mulai melihat kearah Theo.
"TOLONG AKU!" Bentak sang bocah.
Bentakan sang bocah, segera membuat Theo meletakkan penanya. Ia menatap sang bocah sebentar, sebelum mulai berjalan kearahnya.
"Menjaga harga diri adalah hal yang baik, aku yakin ada alasan yang membuatmu begitu keras kepala! Dan sejujurnya, aku menyukai bocah sepertimu!" Kata Theo, begitu sampai di hadapan sang bocah. Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi, tiba-tiba mendaratkan tendangan pada perut sang bocah. Membuatnya seketika kehilangan kesadaran.
"Boss…! Apa yang kau lakukan!" Teriak Thomas, benar-benar terkejut oleh apa yang di lakukan Theo.
Sementara gadis kecil yang saat ini berada di sebelah sang bocah, segera memasang ekspresi marah. Memandang sengit kearah Theo sambil membekap tubuh kawannya.
__ADS_1
"Gadis kecil, tendangan yang baru saja kulakukan, itu diperlukan untuk menyebarkan racun yang sudah menumpuk di dalam perutnya! Jadi, sekarang apa bisa kau minggir sebentar! Aku akan merawat temanmu setelah ini!
"Paman-paman yang ada disana akan memberimu makanan! Aku tau kau saat ini sedang sangat kelaparan!" Kata Theo.