Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Situasi House Alknight


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Jasia mulai menjelaskan situasi dari house Alknight saat ini. Dia mengatakan, peristiwa yang menimpa Theo dan kedua saudaranya beberapa tahun yang lalu, telah menyebabkan gejolak besar dalam internal house Alknight.


Peristiwa tersebut berhasil mengungkap tentang keberadaan faksi yang selama ini bergerak di dalam bayang-bayang. Faksi yang berencana untuk menggulingkan lord, dan melakukan kudeta.


Situasi berkembang menjadi semakin liar ketika fakta tentang pemimpin faksi tersebut terbongkar. Yang tak lain ternyata tetua kedua, Ivanovic Alknight. Adik tertua dari lord arduric sendiri. Dan, Ketika lord Arduric memerintahkan untuk memburu Ivanovic beserta semua pengikutnya, perintah ini justru membuat gejolak besar dalam internal house, baik itu house utama ataupun cabang.


Ternyata pengaruh faksi yang menginginkan perubahan telah meyebar luas, banyak anggota house yang diam-diam sepemikiran dan sepakat dengan faksi ini. Oleh karena itu, beberapa anggota mulai secara sembunyi-sembunyi meninggalkan house dan bergabung dengan faksi yang menginginkan perubahan. Hal ini membuat perpecahan dalam house Alknight yang sebelumnya masih samar, mulai terlihat dengan nyata.


Sampai puncaknya, setelah merasa kedudukan mereka sama kuat dengan faksi resmi. Faksi yang menginginkan perubahan mengangkat Ivanovic sebagai lord baru. Mereka kemudian menyebut kelompok mereka sebagai House of True Alknight. Menduduki sebagian wilayah hutan pinus beku dan membangun markas mereka.


Kabar mengenai perpecahan house Alknight ini kemudian mulai menyebar dengan cepat. House-house lain segera memanfaatkan situasi dengan mulai merebut sebagian wilayah hutan pinus beku. House Alknight yang disibukkan dengan masalah internal, tak bisa berbuat banyak. Mereka memutuskan hanya mempertahankan beberapa wilayah hutan pinus beku yang mereka anggap paling penting, merelakan wilayah lain di kuasai pihak luar.


Hal ini meyebabkan hutan pinus beku mulai menjadi semacam medan pertempuran, terbagi menjadi beberapa wilayah kekuasan kelompok knight.


"Jadi seperti itu." Kata Theo sambil memijat keningnya.


Setelah mendengarkan penjelasan Jasia, mau tak mau sekarang dia merasakan sedikit sakit kepala, sekaligus mulai mengkhawatirkan keadaan ayahnya. Sebagai lord, ayahnya dalam beberapa tahun ini pasti merasakan tekanan yang berat. Theo tak menyangka peristiwa yang dialaminya beberapa tahun lalu ternyata dapat menyulut gejolak besar seperti ini.


"Dari penjelasanmu, bisa kusimpulkan sekarang kita sedang berada di wilayah yang di kuasai oleh house Ironhead." Kata Theo setelah selesai mencerna situasi.


Jasia hanya mengangguk, menandakan yang di katakan theo tepat.


"Kalau memang seperti itu, kenapa kalian berkeliaran di wilayah musuh?" Tanya Theo.


"Ituuu….." Mendengar pertanyaan Theo, Jasia terlihat ragu untuk menjawab.


"Hahh, lupakan saja bila kau tak ingin menjawabnya." Melihat keraguan di mata Jasia, Theo tak berniat mengejar lebih lanjut.


Mendengar Theo, dermawan yang telah menolongnya tak ingin memaksanya untuk menjawab, Jasia justru terlihat semakin ragu. Setelah berfikir sejenak dia mengambil keputusan untuk menjawab jujur.


"Sebenarnya, aku ingin mmebelot dari faksi resmi dan bergabung dengan faksi yang menginginkan perubahan." Jawab Jasia. Kemudian menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Theo.


Mendengar jawaban Jasia, Theo segera mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Kau tahu bahwa aku adalah anak lord bukan?"


Theo merasa Jasia ini tak bisa di mengerti, dia tahu fakta bahwa Theo adalah anak lord, yang tentunya akan mendukung faksi resmi, tapi memutuskan tetap jujur.


"Ituuu….." Jasia tak mampu menyelesaikan kata-katanya.


"Kalau kau tak bisa memberiku penjelasan yang tepat, aku tak punya pilihan selain membawamu pulang dan menyerahkanmun pada pihak berwenang." Kata Theo, memberikan dorongan agar gadis ini menjelaskan dengan jujur.


Mendengar kata-kata Theo, Jasia hanya bisa semakin menundukkan kepalanya. Sementara adikknya mulai terlihat panik dan khawatir.


"Tuan muda, tolong ampuni kakakku, sebernarnya dia terpaksa melakukan ini. Aku bersedia di hukum menggantikan kakakku!"

__ADS_1


"Aku mohon padamu jangan hukum kakakku."


Sang adik segera berlutut. Dia terlihat sangat khawatir dan ketakuan, matanya mulai mengeluarkan air mata. Terus memohon untuk kakaknya.


"Adik…" Jasia yang melihat reaksi adiknnya, menjadi khawatir.


"Begitu kah? Kau mau menggantikan kakakmu untuk di hukum? Apa Kau tahu hukuman untuk pengkhianat keluarga?" theo bertanya. Kemudian mulai tersenyum dingin.


Mendengar pertanyaan Theo, Kalina hanya bisa memasang ekspresi bingung, karena memang dia tak tahu apa hukumannya.


"Itu adalah hukuman mati!" Kata Theo. Sambil menatap dingin kearah Kalina.


Mendengar kata-kata Theo, hati Kalina langsung terasa dingin, wajahnya memucat. Tapi, Theo bisa melihat dari ekspresinya, itu bukan ekpsresi takut untuk dirinya sendiri, tapi lebih ke semakin mengkhawatirkan kakaknya. Karena Theo sendiri pernah merasakan hal yang sama, ketika kakaknya Issabela hampir di bunuh oleh anggota Knight penjaga hutan, beberapa tahun yang lalu.


Kalina terlihat akan mengatakan sesuatu, sebelum Jasia segera berlari kedepan adiknya dan mulai berlutut juga.


"Tidak tuan muda, tidak, adikku ini tak tahu apa-apa. Dia mengikuti tanpa sepengetahuanku. Dia tak bersalah!" Kini Jasia mulai berlutut juga di hadapan Theo. Memohon untuk adiknya.


"Tidak kakak! tidakkk! Kau tidak boleh mati! tidak boleh…!! Biar aku saja, aku saja yang dihukum!" Kalina kali ini mulai menangis sesenggukan.


"Adikkk..jangan bodoh!!"


Melihat reaksi kedua gadis di hadapannya. Theo hanya bisa menghela nafas panjang. Sebelumnya, dia memang sengaja bertanya untuk melihat reaksi sang adik, sekaligus mendorong sang kakak untuk berkata jujur. Kini setelah melihat reaksi kedua bersaudara, Theo segera kehilangan minat untuk bermain-main. Dia malah mulai merindukan kedua kakaknya .


"Hahhhh… sudahlah, cepat bangun! Aku berjanji tak akan menyakiti kalian berdua. Hanya, jujur saja padaku kenapa kau ingin membelot?"


"Kau tak terlihat seperti tipe ambisius yang akan memikirkan kekuasaan dan sejenisnya. Jadi apa sebenarnya alasanmu? Harusnya kau memiliki alasan yang kuat."


Mendengar kata-kata Theo, kedua bersaudara menjadi sedikit lega. Entah kenapa mereka merasa Theo adalah orang yang dapat di percaya. Ketika sudah sedikit tenang, Jasia kemudian mulai menjelaskan situasi dan kisahnya.


Jasia adalah seorang anak dari keluarga biasa, orang tuanya merupakan anggota salah satu cabang house Alknight. Dalam house Alknight ada sebuah tradisi yang mewajibkan seorang wanita harus menikah ketika menginjak usia 20 tahun. Tradisi ini yang di kemudian hari membuat Jasia dalam posisi yang sulit.


Petaka mulai mendatangi Jasia ketika di suatu kesempatan dalam akademi, dia bertemu dengan seorang pemuda yang merupakan keturunan anggota inti dari house utama. Melihat paras cantik Jasia, pemuda ini segera tertarik dan mulai mengejarnya.


Pada kondisi umum, biasanya wanita dari keluarga cabang akan senang di kejar-kejar oleh keturunan anggota inti dari house utama.


Namun, pemuda yang mengejar-ngejar Jasia ternyata memiliki reputasi yang buruk. Bermodalkan wajah tampan dan status nya, dia kerap menggunakan pengaruhnya untuk menjerat wanita-wanita muda yang cantik. Dan, setelah puas bermain-main, dia akan mencampakkan mereka, mencari wanita lain lagi.


Jasia yang mengetahui hal tersebut, tentu segera menolak. Dia bersikap dingin dan menghindari pemuda ini, berharap sang pemuda berhenti mengejarnya.


Namun, tidak seperti harapan Jasia, pemuda ini bukanya berhenti mengejar, dia malah menganggap penolakan Jasia sebagai penghinaan. Menyebabkan sang pemuda bertekad untuk mendapatkan Jasia dengan cara apapun, dan akan membalas penghinaan yang ia terima berkali lipat.


Ketika Jasia menginjak usia 20 tahun, pemuda ini menggunakan pengaruh dari keluarga nya, dan memanfaatkan tradisi keluarga untuk mengajukan lamaran resmi ke house cabang Jasia. Dia juga menggunakan pengaruhnya untuk mengancam pemuda lain agar berhenti mengejar dan melupakan keinginan untuk melamar Jasia.


Disisi lain, house cabangnya menganggap ini adalah kesempatan baik untuk meningkatkan kedudukan mereka. Membuka jalan untuk masuk kedalam house utama. Karena alasan ini, pemimpin house cabang mulai menekan orang tua Jasia untuk menerima lamaran tersebut. Namun, kedua orang tua Jasia yang tahu anaknya cuma di jadikan sebagai alat politik, segera menolak. Apalagi mereka juga mendengar desas desus tentang kelakuan pemuda yang melamar anaknya.


Karena penolakan ini, keluarga kecil mereka hidup penuh tekanan. Tekanan yang dialami keluarganya membuat sang ayah akhirnya menyatakan bahwa dia setuju menikahkan Jasia. Namun, dengan syarat, menunggu Jasia lulus dari akademi. Membiarkannya fokus dalam pelatihannya dulu. Ayahnya melakukan ini untuk menunda waktu dan meredakan tekanan. Berharap dalam dua tahun ketika jasia lulus dari akademi, situasinya akan berubah. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa saat, sebelum sebuah tragedi menerpa keluarga mereka.


Suatu hari, seperti biasa ibu Jasia akan mengantar ransum makanan untuk ayah mereka yang sedang mencari sumber daya di pinggiran hutan pinus beku. Dalam perjalanan di pinggiran hutan, Ibu Jasia yang saat itu membawa Kalina bersamanya tak sengaja bertemu dengan sekelompok penyusup dari house Ironhead.


Melihat hal itu, sang ibu yang panik, segera mendorong Kalina kearah semak-semak, sesaat sebelum kelompok penyusup tersebut menyadari keberadaannya. Kejadian selanjutnya, kelompok ini melakukan tindakan keji secara bergantian kepada sang ibu. Sementara Kalina yang ketakutan harus melihat semua tindakan keji itu dari balik semak-semak.


Setelah puas, kelompok tersebut ternyata tidak melepaskan sang ibu begitu saja. Melainkan dengan kejam membunuhnya. Melihat sang ibu terbunuh di hadapannya dengan keji, Kalina berteriak parau dari balik semak-semak. Hingga akhirnya, sekelompok Knight patroli house Alknight yang kebetulan lewat, mendengar teriakan Kalina. Mereka segera bergegas ke lokasi kejadian. Sementara penyusup dari house Ironhead telah melarikan diri dengan cepat.


Ayah mereka yang mendengar berita tersebut, menjadi sangat marah. Dibutakan kemarahan, dia pergi kewilayah house Ironhead untuk membalas dendam. Nahasnya, setelah kepergiannya, sang ayah tak pernah kembali. Orang-orang mulai menganggap sang ayah mati di wilayah house Ironhead. Hal ini menambah nestapa bagi keluarga Jasia.


Setelah kejadian tersebut, Jasia segera pulang dari akademi untuk melihat keadaan adiknya. Sudah tak ada niatan baginya untuk kembali ke akademi. Dia ingin merawat adiknya yang masih trauma. Namun, pihak keluarga cabang bukannya prihatin, malah memanfaatkan situasi dengan mendorong Jasia segera menerima lamaran. Mereka beralasan ini untuk menjaga tradisi keluarga.

__ADS_1


Di tengah rasa frustasi Jasia, seorang dari faksi pemberontak mendatanginya, ia menceritakan bahwa banyak gadis lain yang juga bernasib sama sepeeti Jasia, di manfaatkan sebagai alat kepentingan politik atas nama tradisi keluarga. Orang tersebut kemudian menawarkan pada Jasia untuk bergabung dalam faksi pemberontak, dan bersama-sama melakukan gerakan perubahan menentang tradisi lama. Jasia akhirnya memutuskan menerima tawaran tersebut.


Karena perjalanan menuju markas faksi pemberontak terlalu berbahaya, harus melewati wilayah milik house Ironhead. Dia memilih tak membawa sang adik. Menitipkannya kepada salah satu keluarga yang bisa ia percaya. kemudian segera melakukan perjalanan.


Namun, tanpa dia duga, sang adik malah kabur dan mengikutinya. Ketika Jasia mengetahui sang adik mengikutinya, posisi mereka sudah berada dalam wilayah house Ironhead, tapi masih jauh dari markas faksi pemberontak. Sehingga Jasia memutuskan untuk mengantarkan adiknya kembali. Kejadian selanjutnya seperti yang di ketahui oleh Theo.


Setelah mendengar keseluruhan cerita kedua bersaudara, Theo merasa sakit kepala nya semakin bertambah.


"Hahhh…. Masalah ini ternyata lebih rumit dari yang terlihat." Gumamnya sambil memijat keningnya.


Dia sekarang mengerti, gejolak besar ini tak terjadi hanya karena masalah pengelolahan sumber daya. Namun juga merambat ke aspek-aspek lain yang seharusnya tak berhubungan. Theo sekarang bisa menyimpulkan, titik masalahnya ada pada tradisi lama. Meskipun banyak tradisi lama yang memang menurut Theo bagus, salah satunya menjaga kelestarian hutan hutan pinus beku. Tapi ada juga beberapa tradisi lama yang memang terlalu berlebihan.


Salah satunya adalah tradisi mendiskriminasi anggota house cabang, tradisi ini menurut Theo sebenarnya yang lebih berpengaruh kepada kasus-kasus seperti Jasia. Karena tradisi ini akan menimbulkan kecemburuan dan hasrat untuk dapat menjadi anggota house utama. Menggunakan tradisi umur pernikahan merupakan kedok saja sebagai alat politik.


Setelah berfikir sejenak untuk mencerna semua situasi, dan mencari ide yang tepat untuk membantu kedua gadis malang di hadapannya. Theo kemudian mulai berdiri.


"Apa kau percaya padaku?" Tanya Theo kepada Jasia tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan tiba-tiba Theo, Jasia tak memberi jawaban, hanya menatapnya dengan tatapan bingung.


"Jika kau percaya kepadaku, ikut aku kembali ke house. Kau bisa tinggal di tempatku untuk sementara waktu bersama adikmu, aku akan memikirkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah kalian."


"Dan aku berjanji, tak akan ada yang bisa memaksa ataupun menyakiti kalian di tempatku. Kalian akan di perlakukan dengan baik." Kata Theo.


Kedua gadis masih tak menjawab, bingung harus berkata apa.


"Namun, aku juga bisa mengerti bila kau tidak percaya kepadaku."


Setelah berkata demikian, Theo mengeluarkan beberapa buah bercahaya, dan seluruh barang rampasan milik anggota house Ironhead dari pertarungan sebelumnya.


"Bila kau tak mempercayaiku, ambil barang-barang ini untuk kau jadikan bekal meneruskan perjalananmu, aku akan mengawal adikmu kembali ke house dari sini." Kata Theo sambil menatap Jasia.


"Tuan muda.. ini..."


Jasia kehabisan kata-kata, tak tahu harus bersikap seperti apa, semakin dilematis. Dia bisa melihat Theo ini berbeda dengan anggota keluarga inti pada umumnya. Setiap sikap, tindakan, dan kata-kata theo selalu mengejutkan dan membuatnya terpana dari waktu ke waktu. Ada perasaan di dalam hatinya yang entah kenapa mendorongnya untuk percaya kepada Theo.


"Kakak, aku percaya pada tuan muda ketiga."


Ketika Jasia masih bingung harus memutuskan, suara sang adik membangunkannya dari renungannya. Dia segera melihat kearah adiknya. Sementara sang adik, menatapnya dengan tatapan penuh harap. Tatapannya seolah memohon agar Jasia tetap tinggal.


Melihat tatapan adiknya, keraguan Jasia segera sirna. Dia tersenyum kepada adiknya. Kemudian segera berlutut dihadapan Theo.


"Tuan muda ketiga, aku percaya kepadamu, dan berjanji akan melayanimu dengan baik." Kata Jasia.


Mendengar tindakan dan kata-kata Jasia, Theo segera memijat keningnya lagi. Kemudian segera maju dan memapah gadis tersebut untuk berdiri.


"Kapan aku pernah bilang akan menjadikanmu pelayan? Maksudku tinggal ditempatku adalah sebagai tamu.!"


"Tuan muda…" Jasia lagi-lagi dibuat terpana oleh Theo.


"Hahhh… dan apa maksudmu dengan melayaniku dengan baik? Kau pikir aku ini adalah pria yang cabul?" Dengus Theo. Dia masih terpengaruh oleh permainan masternya.


"Tuan muda... Bu.. bukann begitu maksudku…" menyadari kata-katanya tadi memang terkesan ambigu, Jasia segera salah tingkah. Mukanya memerah malu, kemudian mulai menundukkan kepalanya sangat dalam. Tak berani mengangkat mukanya yang merah padam.


"Hahahhahaha…. Gadis ini mengatakan tidak, tapi hatinya mengatakan sebaliknya!"


"Dasar kau bocah cabul sialan! Kau mempunyai pesona berbahaya yang mampu menarik perhatian gadis-gadis secara alami. Bahkan gadis yang jauh lebih tua darimu! Hahahhaah…" Tiankong muncul lagi dan kembali mulai tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


Belajar dari kejadian sebelumnya, kali ini Theo tak terpancing untuk menangapi kata-kata masternya. Dia tak mau terlihat seperti orang gila lagi. Theo hanya melirik Tiankong sebentar, memasang ekspresi sedikit mencibir, kemudian mengabaikannya.


"Ahhahhahahahhahhaha……" melihat ekpsresi Theo yang tak terpancing, entah kenapa Tiankong malah mulai tertawa lagi.


__ADS_2