
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Istana Emas)
Didalam Istana Emas, Theo tampak masih duduk bersila, mematung seperti menyatu dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, bila tidak memperhatikan dengan teliti, siapapun tak akan menyadari keberadaannya.
Suasana sangat hening, sudah lewat dari satu bulan sejak Theo berada dalam posisi duduk bersila, terlihat seperti pohon tua kuno. Sementara Sasi, masih tak beranjak dari tempatnya semula. Dalam diam dan dengan pandangan mata tajam, terus menatap kearah Theo.
Suasana hening masih bertahan untuk beberapa saat sampai kemudian, Theo tiba-tiba membuka mata. Bersamaan dengan itu, cahaya cemerlang menyeruak keluar dari kedua matanya, bersinar dengan sangat terang, disertai dengan desisan suara terbakar di sebelah lengan kirinya. Asap putih kini nampak mengepul dari luka bakar di lengan kiri tersebut.
Ketika asap putih mulai menghilang, sebuah tatto bertuliskan aksara kuno yang sangat misterius, muncul di lengan kirinya, Tatto tersebut masih terlihat mengeluarkan aura kuat, sebelum mulai sedikit mereda. Terukir dengan sempurna melengkapi tiga Tatto sejenis lain yang dari awal sudah berada di lengan kiri Theo.
"Gerbang Kemalasan! Akhirnya aku berhasil menaklukkanmu!" Gumam Theo. Dengan ekspresi wajah sangat puas. Begitu antusias karena baru saja berhasil mencapai kondisi Anata pada Dosa Kemalasan.
"Sasi, berapa lama telah berlalu sejak aku melakukan kultivasi tertutup?" Tanya Theo.
"3 bulan, 24 hari, 18 jam, 5 menit, 7 detik!" Jawab Sasi.
Mendengar jawaban Sasi, Theo mulai mengerutkan keningnya. Ini sudah kedua kali Sasi menjawab pertanyaannya dengan begitu detail. Membuat Theo tentu saja merasa heran.
"Apa kau menghitung setiap detik waktu yang telah kau lewati?" Tanya Theo.
"Apakah itu pertanyaan yang wajib saya jawab?" Tanya Sasi balik dengan ekspresi wajah tak kalah heran.
"Ahh… Tidak juga sih, cuma penasaran saja! Terserah mau kau jawab atau tidak!" Ucap Theo. Kini merasa pertanyaannya memang tak terlalu penting.
"Hmmm… Kami ras Goblin memang terlahir dengan tingkat kecerdasan tinggi! Selain itu kami juga memiliki sifat bawaan yang sulit di hilangkan dalam masalah ketelitian!" Ucap Sasi, memilih menjawab pertanyaan Theo.
"Kecerdasan tinggi yang dikombinasikan dengan ketelitian, cukup masuk akal! Tapi cukup mengherankan juga saat kau memakai dua kombinasi luar biasa tersebut hanya untuk mengingat dan menghitung setiap detik waktu yang telah kau lewati!" Tanggap Theo.
__ADS_1
"Mohon maaf! Itu tradisi dari ras Goblin yang sudah mendarah daging! Akan susah untuk di hilangkan!"
"Terlebih lagi, aku sudah berada di dalam Istana Emas selama ratusan juta tahun! Tak ada lagi hal di dalam Istana ini yang cukup menarik perhatianku! Hanya waktu yang selalu bergerak maju dengan konstan satu-satunya hal yang cukup bisa menghiburku!" Jawab Sasi.
"Baiklah! Mengobrol denganmu sebenarnya cukup menyenangkan, hanya saja, aku sudah terlalu lama berada di sini! Waktunya memeriksa kondisi diluar!" Ucap Theo. Kemudian mulai mengambil posisi berdiri.
Theo hendak meninggalkan Istana Emas dengan segera sebelum Sasi tiba-tiba menghentikannya.
"Tuan! Ada dua orang tertinggal di dalam, apa tak sebaiknya anda mengeluarkan mereka juga?" Tanya Sasi.
"Tertinggal?"
Pertanyaan Sasi, tentu saja membuat Theo merasa sedikit bingung. Sampai kemudian ia mengingat sesuatu.
"Ohhh…! Sebelumnya aku terlalu antusias ingin segera melakukan kultivasi tertutup hingga melupakan mereka! Hahhaha….!" Ucap Theo.
"Dimana mereka sekarang?" Tanya Theo.
"Aku mengatur mereka di ruang sebelah!" Jawab Sasi.
"Baiklah! Tapi sebelum kita kesana, apakah di dalam Istana Emas ini terdapat satu Spirit Beast atau Demonic Beast dengan atribut Besi yang memiliki tingkat pertumbuhan Ancient?" Tanya Theo.
"Antar aku ketempat yang paling ganas dan kuat!" Balas Theo. Dengan senyum lebar di wajahnya.
***
(Beberapa jam kemudian, setelah urusan Theo selesai)
*Boooommmm….!!!
Suara ledakanan keras terdengar nyaring begitu Theo memasuki satu ruangan. Tak jauh dihadapannya, pada salah satu sisi ruangan yang amat luas tersebut, tampak dua orang yang sepertinya tengah melakukan latih tanding.
"Hmmmm… Cepat berdiri! Dasar tak berguna!" Bentak satu dari dua orang yang sedang bertarung. Ia tak lain adalah Gerel.
Dengan masih memakai topeng penutup wajah, Gerel memandang rendah lawan latih tandingnya dimana sekarang sedang berlutut sambil meringis kesakitan memegang dadanya di sudut ruangan.
Pria malang ini merupakan satu dari 8 anggota Bandit Serigala yang sebelumnya di lemparkan Theo memasuki Istana Emas. Tampaknya, dari 8 orang yang menerima hukuman, hanya ia satu-satunya yang mampu bertahan hidup.
"Nona, mohon maaf, ini sudah batasku! Lagipula sudah beberapa hari yang lalu stok makanan yang di berikan makhluk penjaga Istana telah habis. Perutku benar-benar sedang sangat lapar!" Jawab sang Bandit.
__ADS_1
"Berhenti mengeluh! Aku akan mati bosan di dalam sini bila tak melakukan apapun! Atau, kau mau kujadikan santapan untuk Beast kontrakku?"
"Itu pasti akan cukup menghibur!" Dengus Gerel, dengan sorot mata menyeramkan.
"Ahhh… Tidak! Jangan keluarkan ular raksasa menyeramkan itu lagi! Aku mohon padamu!" Jawab sang Bandit. Ekspresi wajahnya berubah sangat takut begitu mendengar Gerel menyebut tentang Beast kontraknya.
"Menyeramkan? Kau bilang Nagini yang menawan dan cantik menyeramkan?" Tanya Gerel, sorot mata menyeramkannya kini semakin menjadi.
Mendengar kata-kata Gerel, tubuh sang Bandit kini mulai bergetar ketakutan, tak berani lagi memberi jawaban apapun. Karena dalam beberapa hari belakangan, sejak ia memasuki ruangan ini dan bertemu dengan Gerel, setiap apapun itu kata yang ia ucapkan, selalu saja bisa dijadikan alasan untuk Gerel memulai pertarungan.
"Hahahhahha….!!! Sudah! Jangan permainkan dia lagi! Kenapa kau begitu kejam!"
Saat situasi berkembang menjadi sedikit hening karena sang Bandit tak memberi tanggapan apapun, atau lebih tepatnya terlalu takut untuk memberi tanggapan apapun, Theo yang dari tadi mengamati di pintu masuk, memecah keheningan.
Menyebabkan Gerel yang masih sibuk memikirkan tindakan apa yang selanjutnya akan ia lakukan pada anggota Bandit untuk mengisi waktu luang, ataupun sang Bandit yang dengan tatapan was-was menatap kearah Gerel memikirkan hal apa lagi yang akan dilakukan wanita tersebut padanya, kini dengan cepat menoleh kearah Theo. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing sampai tak menyadari kedatangannya.
"Boss Besar! Selamatkan aku!" Seru anggota Bandit Serigala, begitu melihat sosok Theo. Tanpa berkedip ia segera berlari menuju kearah dimana Theo berada. Bersembunyi di belakang punggungnya.
"Kau br*ngsek! Dari mana saja selama ini! Jika memang ingin melakukan pelatihan tertutup atau apapun itu! Setidaknya keluarkan aku dulu dari Istana sialan ini!" Bentak Gerel.
Tak seperti anggota Bandit Serigala yang memasang ekspresi wajah bahagia saat melihat Theo, Gerel sebaliknya justru segera memaki marah.
"Ohhh… Dan makhluk di sebelahmu itu! Sebenarnya sudah sangat lama aku ingin menanyakan ini, apakah sebagai penjaga Istana Emas, dia juga yang mengendalikan setiap permainan didalamnya?" Tanya Gerel kemudian, saat pandangan matanya menangkap sosok Sasi.
"Bisa dibilang begitu!" Jawab Theo singkat.
"Permainan jerat nafsu duniawi! Jadi itu dia yang mengaturnya?" Tanya Gerel lagi. Kini dengan tatapan dingin penuh nafsu membunuh.
Tampaknya ia masih sangat dendam dengan kejadian yang dialaminya ketika pertama kali terjebak di dalam Istana Emas bersama dengan Theo dan Hella.
"Aku memang penjaga Istana Emas ini! Namun semua permainan sudah terbentuk dari segel khusus yang diletakkan oleh pencipta Istana Emas. Sementara aku, hanya bertugas mengawasi!"
"Jadi bila yang kau maksud adalah suara-suara dimana terdengar setiap permainan dimulai, itu bukan aku, melainkan kesadaran dari pemilik asli Istana Emas ini!" Tutup Sasi.
"Dan kau pikir aku akan percaya begitu saja?" Dengus Gerel, kemudian tanpa banyak bicara lagi menerjang maju kearah sang Goblin.
"Membuang waktu saja! Tuan, aku permisi dulu!" Ucap Sasi, sebelum sosoknya dengan cepat menghilang.
Meninggalkan Gerel yang kini menebas udara kosong sambil memasang ekspresi wajah sangat kesal.
__ADS_1