
"Apakah kalian sudah bisa tenang sekarang?"
"Dan, Jasia, tenangkan dirimu juga!"
Saat ini, Theo sedang menggunakan Teknik Medan Gravitasinya. Meskipun menurut Theo teknik ini masih tidak terlalu efektif dalam pertarungan nyata, karena terlalu boros menghabiskan Mana gravitasi, namun Theo tak melihat ada cara lain untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang sedang dihadapinya. Dia tak ingin melukai para penjaga ini karena memang mereka hanya menjalankan tugasnya, di lain sisi Theo juga tak ingin para penjaga ini membuat takut Kalina.
Setelah melihat situasi sedikit tenang, Theo menarik lagi tekniknya. Kemudian melempar sesuatu kearah penjaga tua sebelumnya.
"Kulihat, dari semua orang yang ada disini, kau adalah satu-satunya yang bisa melihat sesuatu lebih bijak, jadi kuharap token itu dapat menyelesaikan kesalahpahaman ini."
Pria tua yang menerima token dari Theo menjadi gemetar tangannya ketika menyadari yang ada di tangannya adalah token keluarga resmi Lord, token itu berwarna perak, dengan simbol keluarga terpahat didalamnya, diatas simbol ada tulisan angka tiga, dan kini tengah menyala dengan terang, yang menandakan pemilik token ini adalah benar tuan muda ketiga house mereka.
Token keluarga biasanya di bagi kedalam tiga macam jenis. Pertama adalah token emas, yang hanya di miliki Lord dan saudara-saudaranya. Selanjutnya ada token perak, yang menunjukkan pemiliknya adalah anak-anak langsung dari Lord. Dan terakhir ada token perunggu yang menandakan sebagai keuarga jauh Lord, biasanya di miliki oleh para tetua.
Sementara angka diatas lambang hanya ada pada token emas dan perak, yang menandakan urutan kelahiran sang pemilik token. Token keluarga sendiri tak bisa di palsukan, karena token ini dibuat dengan menggunakan metode khusus yang terikat dengan garis darah, cukup meneteskan darah diatasnya, maka token itu akan menyala, mengkonfirmasi kebenaran darah sang pemilik.
"Maafkan keteledoran saya tuan muda, saya tak dapat mengatur dengan baik rekan-rekan saya!"
Menyadari yang ada di hadapannya adalah benar tuan muda ketiga mereka, penjaga gerbang tua segera bersujud minta maaf. Dan kemudian diikuti seluruh satuan penjaga gerbang yang lain.
Sementara penjaga muda yang sebelumnya membentak Theo, bereaksi lebih keras. Menyadari dia telah menyinggung tuan muda housenya, dia menjadi ketakutan dan segera maju kedepan bersujud di bawah kaki Theo.
"Tuan muda, maafkan pria kecil yang buta ini, tak bisa melihat sesuatu dengan benar! Tolong maafkan hamba!" Tangannya gemetar memegang kaki Theo.
"Hmmmm… kau tahu kesalahanmu sekarang hahh??" Dengus Jasia, terlihat sangat puas.
"Jasia, sudah hentikan, semua kesalahpahaman ini juga sedikit banyak di sebabkan karena sikapmu yang terlalu eksplosif." Theo kembali memijat keningnya melihat sikap Jasia.
__ADS_1
"Tapi tuan muda, aku hanya.."
"Sudahlahh, sudahhh... Yang penting semua kesalahpahaman ini sudah di luruskan, aku juga salah tak menunjukkan token dari awal." Theo memotong Jasia yang terlihat masih ingin protes.
"Dan kau, cepat berdiri, kalian semua juga cepat berdiri. Lebih baik segera kembali ke pos masing-masing. Masalah ini selesai sampai sini, aku tau kalian hanya menjalankan tugas." Theo menyuruh pemuda di hadapannya dan seluruh petugas untuk berdiri. Tak mau memperpanjang masalah.
"Namun, lain kali lebih hati-hati lagi. Kalian bahkan menakuti seorang gadis kecil!"
Setelah mendengar kata-kata Theo, semua penjaga menjadi lega, dan segera patuh kembali ke pos masing-masing. Hanya menyisahkan penjaga tua yang memang sebelumnya di perintahkan Theo untuk tetap tinggal.
"Karena sudah tenang, tolong jelaskan apa yang terjadi dengan benar. Kenapa kota di tutup? Tanya Theo kepada penjaga tua.
"Masalah itu, sebenarnya…" pria tua mulai menjelaskan situasi yang terjadi.
Menurut keterangan penjaga ini, beberapa jam yang lalu, telah terjadi serangan mendadak yang di lakukan oleh beberapa penyusup. Para penyusup ini berhasil masuk kedalam kastil utama dan melukai Lord menggunakan senjata rahasia yang telah di lumuri racun. Meskipun identitas para penyusup ini belum bisa di ketahui, banyak yang menduga bahwa mereka adalah orang-orang dari faksi pemberontak.
Raut wajah Theo segera menjadi buruk ketika penjaga tua menyelesaikan penjelasannya.
"Ayahku terkena racun? Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Theo, terlihat sangat Khawatir.
"Ituuu…."
"Ahh sudah lupakan, aku akan melihatnya sendiri." Sebelum penjaga tua memberi penjelasan, Theo memotongnya. Dia paham tak akan mendapatkan informasi terlalu bagus mengenai kondisi ayahnya dari penjaga tua ini.
"Jasia, aku akan bergerak cepat dari sini, kau temani adikmu untuk menyusul, kita bertemu lagi di kastil utama." Kata Theo.
"Baik tuan muda." Jasia segera menjawab.
__ADS_1
Tanpa menunda waktu, Theo melompat melewati gerbang, dan segera bergerak cepat meloncat dari satu atap ke atap lainnya menyusuri bangunan-bangunan kota. Dia menggunakan Mana Gravitasinya untuk meringankan tubuhnya.
***
"Aku pulang.."
Theo termenung ketika sampai di depan gerbang utama kastil keluarganya. Sudah 4 tahun atau tepatnya 400 tahun bila menghitung dunia ilusi juga. Sudah sangat lama Theo meninggalkan rumah.
Theo baru tersadar dari lamunannya ketika para penjaga kastil berteriak menanyakan identitasnya. Tapi begitu mereka dapat melihat wajah Theo lebih jelas. Mereka segera terkejut.
"Tuan muda ketiga? Itu benar-benar kau?"
Salah satu penjaga kastil segera mengenali wajah Theo. Para penjaga ini telah bekerja untuk menjaga kastil keluarga Lord selama hampir separuh hidupnya. Jadi mereka segera bisa mengenali Theo tanpa dia harus mengeluarkan token nya.
"Bagaimana bisa… bukankah kau…"
"Lupakan itu saat ini, sekarang cepat bawa aku ketempat ayahku!" Theo memotong kata-kata penjaga tersebut, dia ingin bergegas melihat kondisi ayahnya.
"Ahhh.. baik! Tolong lewat sini tuan muda!" Tanpa menunda penjaga tersebut menunjukkan jalan.
Setelah berjalan beberapa saat, Theo sampai di depan ruang perawatan tempat ayahnya di rawat. Dia ragu untuk membuka pintu dihadapannya untuk sesaat. Yang ada di dalam ruangan adalah ayahnya, salah satu orang paling penting di dalam hidupnya, yang sudah sangat lama tak dia temui. Hal ini membuat hatinya berdebar, ada sedikit takut di hatinya. Namun, di dorong rasa khawatir, dia memberanikan diri membuka pintu tersebut.
"Sudah kubilang, jangan ada yang masuk kedalam ruangan terlebih dahulu!"
Baru selangkah Theo memasuki ruangan, dia di bentak oleh seorang tetua. Theo mengenali tetua ini, dia adalah tetua ke 7, pria sepuh yang juga merupakan dokter keluarga, pemimpin divisi pengembangan ilmu Alchemy dalam house.
"Ahhhh…. Tidak mungkin..!!!"
__ADS_1
Namun setelah sang tetua menoleh dan melihat orang yang membuka pintu, ekspresinya segera berubah terkejut. Seperti sedang melihat hantu.