
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Wilayah tebing, pertahanan kemah besar kelompok Bandit Serigala sisi utara)
"Hmmmm… Akhirnya kita berhasil menuruni lereng bukit yang curam ini!" Ucap Boss Besar Bandit Duri Kematian.
"Boss! Kita langsung melancarkan serangan atau menunggu dan membiarkan dua kelompok lain yang bergerak dari sisi selatan dan belakang memulai serangan terlebih dahulu?" Tanya salah satu wakil pemimpin Bandit Duri Kematian.
"Apa perlu di tanyakan? Tentu saja kita tunggu dahulu!"
"Kenapa juga mengambil resiko untuk melakukan langkah pertama! Biarkan dua kelompok yang lain menjadi martir! Kita akan bergerak setelah kekacauan terjadi! Itu akan mengurangi jumlah kerugian yang di terima kelompok kita!" Jawab nenek tua Boss Besar Bandit Duri Kematian.
"Hehhee…! Seperti biasa! Begitu lebih baik!" Jawab wakil pemimpin Bandit Duri Kematian.
"Sejujurnya, aku benar-benar tak menyangka bahwa si konyol Drani itu, punya otak yang agak berguna! Dengan kombinasi serangan dadakan dari 3 arah tak terduga ini, sementara pertahanan mereka terfokus pada serangan yang ada di bagian depan, hampir bisa dipastikan, riwayat kelompok Bandit Serigala telah habis!" Ucap Boss Besar Bandit Duri Kematian.
"Baiklah! Kau atur pasukan untuk bersiap dan membentuk formasi! Kita akan istirahat sejenak! Sembari menunggu ada tanda-tanda dua kelompok lain telah melancarkan serangan dari dua sisi berbeda!"
__ADS_1
"Menuruni daerah perbukitan itu dengan tenaga fisik agar tak menarik perhatian, ternyata cukup menguras tenaga!" Tutup Boss Besar Bandit Duri Kematian, kemudian mulai akan mencari tempat nyaman untuk mengistirahatkan kaki-kaki tuanya.
Namun, tepat ketika ia melihat satu tempat yang tampaknya cukup nyaman untuk di pakai istirahat, Boss Besar Bandit Duri Kematian yang hendak akan mengarahkan kakinya menuju tempat tersebut, segera menghentikan langkah saat mata tuanya tiba-tiba menangkap ada satu suasana ganjil.
"Sialan! Bagaimana bisa!" Gumam Boss Besar Bandit Duri Kematian, dengan ekspresi wajah terkejut.
*Klik…
*Dentang…!!!
Bersamaan dengan gumamannya, satu suara mekanis aneh, mulai terdengar pada sisi-sisi tebing tak jauh di hadapannya. Tempat dimana menjadi jalur satu-satunya untuk menuju perkemahan besar kelompok Bandit Serigala.
*Baaammmm….!!!
Suara mekanis aneh yang segera menjadi pusat perhatian setiap anggota aliansi kelompok Bandit Duri Kematian, bertahan dan terdengar untuk beberapa saat, sampai kemudian, berakhir ketika satu suara berdebam keras terdengar dari sisi-sisi tebing, yang tiba-tiba terbuka.
"Jebakan? Sialan! Drani sialan! Kau tikus keparat!" Bentak Boss Besar Bandit Duri Kematian, dengan pengalamannya yang sudah begitu lama bergelut dalam dunia perbanditan yang keras, nenek tua ini bisa segera menangkap apa yang sedang terjadi.
"Hmmm… Sudah terlambat! Bagaimana rasanya di tipu oleh tikus kecil itu?" Ucap Meirin. Ia adalah satu dari tiga orang bersama Drani dan Feizel yang memahami sepenuhnya strategi Theo dalam pertempuran kali ini, sehingga tak terlalu terkejut.
"Hahhaha…! Boss Besar memang sesuatu! Bisa-bisanya memainkan 4 Boss Besar Bandit sekaligus! Membuat mereka merasa dirinya pintar! Padahal hanya sekumpulan badut konyol yang sedang menari-nari dengan riang di telapak tangannya!" Ucap Sanir. Dengan senyum lebar, tak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi wajah nenek tua Boss Besar kelompok Bandit Duri Kematian.
"Baiklah! Cukup basa-basinya! Kalian sekarang telah sepenuhnya terkepung! Jalan kabur satu-satunya dari lereng perbukitan ini, hanya dengan kembali naik keatas!" Ucap Sanir.
"Jadi, pilihannya cukup sederhana! Menyerah, atau silahkan mencoba kabur dengan kembali naik keatas! Jika memilih opsi kedua, kami dengan senang hati akan menemani bermain!"
Mendengar kata-kata Sanir, nenek tua Boss Besar Bandit Duri Kematian segera memasang ekspresi wajah sengit. Percampuran antara marah, kesal, dan malu karena harus berakhir jatuh pada perangkap konyol para generasi muda.
__ADS_1
"Menyerah? Jangan konyol! Kelompok aliansi! Dengarkan aku! Kami tak akan menjual kalian! Jadi, sementara anggota Bandit Duri Kematian menahan mereka, silahkan pergi dari tempat ini! Panjat kembali keatas!" Ucap Boss Besar Bandit Duri Kematian.
Kalimat yang diucapkan oleh sang nenek tua, segera disambut oleh anggukan mendalam para Boss Besar Bandit anggota aliansinya, merasa sangat terkesan dengan sikap Boss Besar Bandit Duri Kematian tersebut. Tanpa menunda, setelah memberi salam tangan, puluhan Boss Besar anggota kelompok aliansi Bandit ini memimpin anggotanya masing-masing untuk bergerak cepat, berusaha menaiki lagi sisi tebing tempat mereka tadi datang.
Perkembangan situasi yang terjadi, membuat Sanir dan Meirin yang juga melihatnya, kini tampak memasang ekspresi terkesan yang sama di wajah mereka sambil menatap kearah Boss Besar Bandit Duri Kematian.
Namun, alasan terkesan keduanya berbeda dengan para Boss Besar Bandit anggota aliansi Bandit Duri Kematian. Jika para Boss Besar terkesan karena menganggap sang nenek tua sangat heroik dengan mengorbankan kelompoknya untuk anggota aliansi, duo Sanir dan Meirin, menjadi terkesan karena kelicikan sang nenek tua.
"Hmmmm… Ayahku pernah bilang, jangan pernah percaya pada Knight tua yang telah bertahan hingga hari senja dari ganasnya persaingan wilayah Gurun East Region!" Ucap Sanir. Sambil mulai melihat kearah atas tebing. Tempat dimana kelompok aliansi Bandit Duri Kematian saat ini sedang berusaha mendaki.
"Hahhahaha…! Harus kuakui, ia sangat kejam!" Ucap Meirin, seraya membuat satu tanda dengan tangannya.
Bersamaan dengan tanda yang di buat oleh Meirin, beberapa anggota kelompok Bandit Serigala yang ada di lokasi, segera membuat segel tangan cepat, kemudian mengaktifkan formasi yang terpasang pada sisi-sisi tebing di samping mereka.
Dan tepat ketika formasi telah selesai diaktifkan, dari arah puncak tebing, gambar formasi raksasa tiba-tiba menyala terang, menjalar pada seluruh sisi-sisi puncak tebing yang sedang di daki oleh kelompok aliansi Bandit Duri Kematian.
Cahaya formasi bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian, getaran hebat mulai mendera seluruh tebing. Diakhiri dengan satu ledakan dahsyat yang menghancurkan seluruh tebing. Dengan ledakan tersebut, deretan tebing yang curam, hancur berantakan seketika, membuat hampir seluruh anggota kelompok aliansi Bandit Duri Kematian yang tadi berusaha mendaki naik, terkubur hidup-hidup dalam kondisi tubuh penuh luka imbas terkena ledakan dahsyat.
"Nenek tua! Kau terlalu kejam! Sudah menduga ada jebakan diatas sana, tapi untuk memastikan, kau seolah bersikap heroik dan mengumpankan aliansi Banditmu hanya untuk sekedar memastikan!"
"Sebagai sesama wanita, harus kuakui, aku cukup terkesan dengan otak licikmu itu! Tak heran kau bisa bertahan hidup sampai usia senja! Hahhaha…!" Ucap Sanir.
"Hmmmm… Cukup basa-basinya! Jadi apa sekarang? Kau akan membunuhku?" Ucap Boss Besar Bandit Duri Kematian. Setelah memastikan diatas tebing benar-benar terpasang mekanisme jebakan, kini ia merasa sudah tak ada jalan keluar lagi bagi kelompoknya.
"Membunuhmu atau tidak, itu bukan aku yang akan memutuskan!" Jawab Sanir.
Selesai Sanir memberi jawaban, Meirin yang ada di sebelahnya, segera melempar rantai besi khusus ciptaan Theo kearah Boss Besar Bandit Duri Kematian.
__ADS_1
"Jangan merepotkan kami! Ikat dirimu sendiri!" Ucap Meirin.