
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Istana Emas)
"Tuan! Apakah ini sudah cukup?" Tanya Sasi, sembari meletakkan beberapa barang.
"Hmmm… Tambah sedikit lagi!" Ucap Theo.
"Baik!" Jawab Sasi singkat, sebelum sosoknya tiba-tiba menghilang.
*Tang…!!!
*Tangg…!!!
*Tangg…!!!
Tanpa menoleh, Theo kembali meneruskan kegiatannya.
Dalam beberapa hari belakangan, Theo yang sebelumnya tersulut emosi karena merasa perkembangan kultivasi anggota Bandit Serigala benar-benar di bawah standar dan harapannya, akhirnya memilih menghibur diri dengan melakukan salah satu aktivitas favorit yang ia gemari. Yakni proses Forging.
Menggunakan puluhan ton logam surgawi yang saat ini berserakan pada satu ruang yang telah didesain khusus oleh Sasi sebagai tempat penempaan sempurna, Theo tak hentinya menempa dan menempa.
Dengan Logam Surgawi sebagai bahan utama, dicampur dengan bahan-bahan lain yang ia beli dari Gaia Treasure, Theo membuat puluhan patung besi aneh berbentuk Serigala berukuran sedang.
Sementara Sasi, dari tadi sibuk di perintah Theo untuk mencari bahan-bahan tambahan yang berguna dalam meningkatkan rasio kesuksesan proses menempa yang sedang ia lakukan.
Karena tanpa di duga oleh Theo, ketika ia menanyakan pada Sasi tentang item apa saja yang tersimpan di dalam Istana Emas, Sasi segera menjawab dengan rinci seluruh item, dimana beberapa dari item tersebut, ternyata merupakan bahan langka yang sangat sulit ditemukan, beberapa bahkan telah lama punah.
Namun, meskipun sangat tertarik, Theo menolak ketika Sasi menawarkan untuk mengumpulkan serta membawa seluruh item yang tersebar di dalam Istana Emas kepadanya.
__ADS_1
Theo hanya menjawab bahwa kedepannya, ia memiliki rencana tersendiri tentang bagaimana memanfaatkan Istana Emas dan item-item tersebut.
Pada akhirnya, ia hanya menyuruh Sasi mengambil beberapa item yang ia butuhkan untuk membantu proses penempaan.
"Tuan, memang apa yang sedang kau buat? Apakah kau ingin memakai seluruh Logam ini?" Tanya Sasi, begitu selesai mengambil item yang diminta Theo.
Ia tak bisa menutupi pandangan matanya yang sedikit bergetar saat melihat puluhan Ton Logam Surgawi yang dimiliki oleh Theo.
Bagaimanapun juga, bahkan di Realm Utama tempat Sasi berasal, Logam Surgawi adalah Sumberdaya langka. Sangat sulit ditemukan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Tiankong, bahkan jika ada beberapa kilo saja Logam Surgawi yang berhasil ditemukan, itu sudah cukup untuk memicu perang besar dalam memperebutkannya.
Kini, melihat Theo yang merupakan seorang penduduk realm kelas rendah memiliki Logam Surgawi dengan jumlah sebanyak itu untuk dirinya sendiri, mau tak mau Sasi menjadi sangat heran. Sangat heran dengan tingkat keberuntungan pemuda dihadapannya tersebut.
Merasa Theo sangat beruntung karena menemukan berton-ton Logam Surgawi tersebut di Realm kelas rendah yang tak penting. Jauh dari pantauan orang-orang kuat realm yang lebih tinggi.
Rasa heran Sasi semakin menjadi saat ia melihat Theo justru menjadikan tumpukan Logam Surgawi yang sangat berharga, sebagai bahan untuk membuat puluhan patung aneh. Berfikir Theo tak tahu tentang nilai Logam Surgawi, dan ingin memakainya sebagai bahan untuk membuat patung dekorasi tak penting.
Sasi sendiri merasa tak punya kewajiban untuk memberi tahu Theo, dalam benaknya, selama Theo tak bertanya, ia hanya akan diam. Bagaimanapun juga, Sasi belum sepenuhnya rela menganggap Theo sebagai Master. Dalam hati sang Goblin, tuan yang ia ikuti, hanyalah Panglima Cinta-Kasih. Dimana merupakan musuh dari Theo.
"Tidak, itu terlalu banyak! Aku hanya akan memakai sebagian!" Jawab Theo. Tanpa menoleh, masih meneruskan proses penempaan. Membuat patung-patung Serigala.
"Jika aku tak memberimu intruksi, cukup diam saja! Jangan mengganggu!" Tambah Theo kemudian.
***
(Beberapa hari kemudian)
"Akhirnya selesai!" Ucap Theo. Begitu menyelesaikan patung Serigalanya yang kelima puluh.
Ia memandang dengan tatapan bangga kearah patung-patung yang telah ia buat untuk sesaat, sebelum kemudian mengambil selembar kertas dan pena.
"Jadi, apalagi yang akan kubuat? Kali ini harus yang berukuran besar!" Ucap Theo.
Ia masih tampak berfikir menentukan obyek sketsa yang akan kembali ditempa, sampai kemudian, tatapnya jatuh pada salah satu lukisan kuno yang terpajang pada dinding ruang Istana Emas tak jauh dihadapannya.
Didalam lukisan tersebut, terabadikan satu peristiwa ikonik yang tampak sangat mengagumkan. Dimana dalam sebuah hutan belantara, seekor makhluk berkulit penuh sisik warna kelabu, dengan empat kaki dan sepasang sayap raksasa dipunggungnya, sedang menatap rendah kawanan Spirit Beast penghuni hutan.
Sorot mata sang makhluk tampak begitu mendominasi, seolah mengatakan bahwa ia adalah raja dari segalanya.
"Itu dia!" Gumam Theo. Kemudian tanpa menunda, segera menggores pena yang ia pegang pada permukaan kertas.
__ADS_1
Dengan menjadikan makhluk yang ada di dalam lukisan sebagai model utama, ia mulai menggambar sketsa. Tak berapa lama, sketsa yang ia kerjakan akhirnya selesai.
Theo tak meniru sepenuhnya makhluk yang ada di dalam lukisan, ia sedikit memodifikasi dengan menambahkan beberapa corak lain yang membuat gambar makhluk yang ada di dalam sketsanya, terlihat lebih gagah, menyeramkan, dan mendominasi dari gambar asli yang ada di dalam lukisan.
Melihat hasil gambarannya, Theo mulai memasang senyum lebar penuh kebanggan. Merasa telah berhasil membuat satu mahakarya besar. Jari-jarinya kini sudah mulai gatal untuk kembali menempa. Ia tak sabar untuk segera menjadikan gambar di sketsa tersebut kedalam bentuk nyata.
*Tang….!!!
*Taangg…!!!
*Tangg….!!!
Dengan wajah antusias, Theo kembali melakukan proses penempaan.
***
(Satu Minggu kemudian)
"Hahhahha….! Benar-benar mahakarya!" Ucap Theo, begitu menyelesaikan proses menempa.
Dihadapannya saat ini, berdiri gagah patung raksasa yang tampak sama dengan yang berada di dalam lukisan. Hanya saja, patung ciptaan Theo, memiliki dua tanduk raksasa dikepalanya. Sementara sayapnya yang kini membentang lebar, dipenuhi dengan duri-duri tajam.
Merasa belum cukup, ujung ekor dari patung ciptaannya, dibentuk sama persis dengan kepala Gada raksasa milik Thomas. Sementara perbedaan paling mencolok, ada pada warna, bila di dalam lukisan makhluk ini berwarna kelabu, ciptaan Theo berwarna sepenuhnya hitam pekat.
"Hehehe…!!! Baiklah! Karena semua patung telah siap, sekarang proses selanjutnya!" Ucap Theo, seraya mengeluarkan gulungan kuno dari dalam Gelang ruang-waktu.
"Hmmm.. Seperti ini?" Gumam Theo, sembari membaca manual teknik yang ia pegang. Kini ia mulai menyalurkan aliran Mana Cahaya pada ujung jari telunjuknya.
Theo tampak memadatkan dengan intens aliran Mana cahaya tersebut untuk beberapa saat, sebelum mulai menggambar diudara kosong menggunakan aliran Mana Cahaya pada ujung jari telunjuknya.
Yang di gambar Theo sendiri adalah sesosok makhluk berbentuk Serigala yang terbuat dari Cahaya. Proses menggambar ini berlangsung untuk waktu yang cukup lama, sampai kemudian gambar Serigala cahaya buatan Theo sepenuhnya selesai.
Dan ketika gambar telah selesai di buat, Theo segera melakukan segel tangan rumit. Diakhiri dengan ia menggigit jari, menempelkan ujung jari telunjuknya yang berdarah pada lukisan Serigala cahaya.
Formasi segel aneh mulai terbentuk, bergerak menyelimuti seluruh tubuh Serigala cahaya begitu Theo menggoreskan darahnya. Kejadian selanjutnya, Serigala Cahaya yang telah sepenuhnya diselimuti ukiran formasi segel, kini mulai bergerak. Menjadi hidup.
"Ohhh… Berhasil pada percobaan pertama!" Ucap Theo. Saat melihat Serigala Cahaya bergerak terbang ringan memutari tubuhnya.
"Hehe... Bagus! Sekarang masuk!" Seru Theo, mengarahkan ujung jarinya kearah salah satu patung Serigala. Dengan cepat, gambar cahaya terbang menuju patung yang ditunjuk Theo. Masuk meresap kedalam patung tersebut.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Teknik kedua Segel kehidupan! Boneka bernyawa?" Gumam Sasi, dengan ekspresi wajah dan tatapan mata bergetar saat melihat apa yang dilakukan Theo.